BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Surat Al-Fatihah yang merupakan surat pertama
dalam Al Qur’an dan terdiri dari 7 ayat adalah masuk kelompok surat Makkiyyah,
yakni surat yang diturunkan saat Nabi Muhammad di kota Mekah. Dinamakan
Al-Fatihah, lantaran letaknya berada pada urutan pertama dari 114 surat dalam
Al Qur’an. Para ulama bersepakat bahwa surat yang diturunkan lengkap ini
merupakan intisari dari seluruh kandungan Al Qur’an yang kemudian dirinci oleh
surat-surat sesudahnya. Surat Al-Fatihah adalah surat Makkiyyah, yaitu
surat yang diturunkan di Mekkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Surat
ini berada di urutan pertama dari surat-surat dalam Al-Qur’an dan terdiri dari
tujuh ayat. Tema-tema besar Al Qur’an seperti masalah tauhid, keimanan, janji
dan kabar gembira bagi orang beriman, ancaman dan peringatan bagi orang-orang
kafir serta pelaku kejahatan, tentang ibadah, kisah orang-orang yang beruntung
karena taat kepada Allah dan sengsara karena mengingkari-Nya, semua itu
tercermin dalam surat Al Fatihah.
Kedudukan surat Al-Fatihah di dalam Al-Qur’an adalah sebagai
sumber ajaran Islam yang mencakup semua isi Al-Qur’an. Dari Abu Hurairah
Radhiallahu ‘Anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW: “Al-Hamdulillah
(Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, As-Sab’ul Matsaani dan
Al-Qur’anul Adhim.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih). Dinamakan dengan
Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, yaitu induk Al-Qur’an, karena di dalamnya
mencakup inti ajaran Al-Quran.
B. Rumusan Masalah
1.
Surat Al-Fatihah Dan Terjemahannya
2.
Penjelasan Umum Surat
Al-Fatihah
3.
Tafsir Surat Al-Fatihah
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Surat Al-Fatihah dan
Terjemahannya
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ
الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا
الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة : 1 - 7]
- Dengan menyebut nama Allah yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
- Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam;
- Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang;
- Yang menguasai Hari Pembalasan.
- Hanya Engkaulah yang Kami
sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
- Tunjukkanlah kami jalan yang
lurus;
- (yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
B.
Penjelasan Umum Surat Al-Fatihah
Al-Fatihah
terdiri dari tujuh ayat dan menurut mayoritas ulama diturunkan di Mekkah.[1]Namun
menurut pendapat sebagian ulama, seperti Mujahid, surat ini diturunkan di
Madinah. Menurut pendapat lain lagi, surat ini diturunkan dua kali, sekali di
Mekkah, sekali di Madinah.[2]
Ia merupakan surat pertama dalam daftar surat Al-Qur’an. Meski demikian, ia
bukanlah surat yang pertama kali diturunkan, karena surah yang pertama kali
diturunkan adalah Surah al-Alaq.[3]
Surat ini
dinamakan al-fatihah (pembuka) karena secara tekstual ia
memang merupakan surat yang membuka atau mengawali Al-Qur’an, dan sebagai
bacaan yang mengawali dibacanya surah lain dalam shalat.[4]
Selain al-Fatihah, surat ini juga dinamakan oleh mayoritas ulama
dengan Ummul Kitab. Namun nama ini tidak disukai oleh Anas,
al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Menurut mereka, nama Ummul Kitab adalah
sebutan untuk al-Lauh al-Mahfuzh.[5] Selain kedua nama itu di atas,
menurut as-Suyuthi memiliki lebih dari dua puluh nama, di antaranya
adalah al-Wafiyah (yang mencakup),[6]
asy-Syafiyah (yang menyembuhkan),[7] dan as-Sab’ul
Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).[8]
C.
Tafsir
Surat Al-Fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة : 1]
Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Kalimat
basmalah tersebut bermakna: “Aku memulai bacaanku ini seraya memohon berkah
dengan menyebut seluruh nama Allah.” Idiom “nama Allah” berarti mencakup semua
nama di dalam Asmaul Husna. Seorang hamba harus memohon pertolongan kepada
Tuhannya. Dalam permohonannya itu, ia bisa menggunakan salah satu nama Allah
yang seusai dengan permohonannya. Permohonan pertolongan yang paling agung
adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan yang paling utama lagi adalah
dalam rangka membaca kalam-Nya, memahami makna kalam-Nya, dan meminta
petunjuk-Nya melalui kalam-Nya.[9]
Allah
adalah Dzat yang harus disembah. Hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa
takut, pengharapan, dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah
memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya
hanya beribadah dan menyembah kepada-Nya.[10]
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) [الفاتحة : 2]
Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam.
Ayat
ini merupakan pujian kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan
dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin; serta
baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Di dalam ayat itu pula, terkandung
perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah
satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk
di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang
memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan. Kepada
makhluk tertentu yang terpilih, Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal
saleh.[11]
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) [الفاتحة : 3]
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Kedua kata
tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu ar-rahmah.
Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang
mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk
menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk
menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita
tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat
kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.[12]
Banyak
para ulama yang membedakan antara makna ar-Rahmandan ar-Rahim. Sifat ar-Rahman merupakan
sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya.
Sedangkan sifat ar-Rahim adalah sifat kasih sayang-Nya yang
memberikan kenikmatan secara khusus untuk orang-orang mukmin saja. Sebagian
ulama lain menyatakan bahwa sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah
yang memberikan kenikmatan yang bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rahim
merupakan sifat kasih Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat khusus.[13]
Menurut
Syekh Thanthawi Jauhari, kata ar-Rahman merupakan sifat kasih
sayang Allah yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Allah merupakan sumber kasih
sayang dan kebaikan. Sedangkan kata ar-Rahim adalah sifat
kasih sayang Allah yang berkaitan dengan perbuatan, yaitu bagaimana sampainya
kasih sayang dan kebaikan Allah kepada para hamba-Nya yang diberi kenikmatan.[14]
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) [الفاتحة : 4]
Yang menguasai di hari Pembalasan
Dalam ayat
ini, terdapat dua macam qiraat. Ashim, al-Kisa’i, dan Ya’qub membacanya
dengan huruf mim dibaca panjang (mad). Sedangkan para
qari yang lain membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Meski
bisa dibaca dengan dua cara, kata tersebut memiliki makna yang sama. Sebagian
ulama menyatakan bahwa kata al-Maalik atau al-Malik bermakna
Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi
ada. Tidak ada yang mampu melakukan hal itu kecuali Allah SWT.[15]
Menurut
Ibnu Abbas, Muqatil, dan as-Sadi, ayat tersebut berarti “yang memutuskan di
hari perhitungan.” Menurut Qatadah, kata ad-din (الدين) berarti pembalasan. Dalam hal ini,
pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Sedangkan menurut
Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ayat tersebut bermakna “yang menguasai hari ketika
tak ada lagi yang bermanfaat kecuali agama.” Menurut pendapat lain, kata ad-din berarti
ketaatan. Dengan demikian, yaum ad-din berarti hari
ketaatan. [16] Saat
itu, hanya ketaatan hamba kepada Tuhan yang menyelamatkannya dari siksaan
neraka.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة : 5]
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah
kami meminta pertolongan.
Dengan
kalimat hanya kepada-Mu kami menyembah (إِيَّاكَ
نَعْبُدُ), Allah
membatasi penyembahan atau ibadah hanya kepada Diri-Nya semata. Dengan ayat
tersebut, kita pun harus memutuskan bahwa ibadah hanyalah satu-satunya kepada
Allah. Tidak boleh ibadah tersebut dikait-kaitkan dengan selain Allah. Ibadah
juga merupakan bentuk ketundukan manusia kepada Allah untuk mengikuti berbagai
perintah dan larangan-Nya.[17]
Shalat
merupakan bentuk ibadah yang paling dasar (asasi). Dalam hal ini, sujud
merupakan bentuk ketundukan yang paling tinggi kepada Allah. Hal ini karena
dalam bersujud, orang menundukkan wajahnya yang notabene merupakan bagian tubuh
yang paling dimuliakan. Saat bersujud, orang menempelkan wajahnya di atas
lantai yang notabene merupakan tempat yang biasa diinjak-injak oleh kaki.
Apalagi di dalam shalat, terutama shalat berjamaah, ketundukan seseorang kepada
Allah juga dipertontonkan kepada semua orang.[18]
Ditempatkannya
kalimat “permintaan tolong” (نَسْتَعِينُ)
setelah kalimat “penyembahan” (نَعْبُدُ) juga merupakan bentuk pengajaran Allah
kepada manusia tentang sopan santun. Allah memerintahkan kita untuk beribadah
kepada-Nya terlebih dahulu. Setelah kita beribadah kepada-Nya, barulah kita
pantas untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan kata lain, sudah
selayaknya, orang meminta sesuatu setelah ia terlebih dahulu mengerjakan apa
yang diperintahkan. Sangat tidak pantas jika seseorang meminta segala sesuatu
terlebih dahulu padahal ia belum melaksanakan apa yang diperintahkan.[19]
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) [الفاتحة :
6]
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus,
Menurut
Ibnu Abbas, kata “tunjukkanlah kami” (اهْدِنَا) berarti “berilah kami ilham.” Sedangkan
“jalan yang lurus” (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) berarti kitab Allah. Dalam riwayat lain
“jalan yang lurus” itu adalah agama Islam. Selain itu, ada juga riwayat yang
menyatakan bahwa ia berarti “al-haqq” (kebenaran). Dengan demikian, menurut
Ibnu Abbas lagi, kalimat “tunjukkan kami jalan yang benar” berarti “berilah
kami ilham tentang agama-Mu yang benar, yaitu tiada tuhan selain Allah
satu-satunya; serta tiada sekutu bagi-Nya.”[20]
Kata
ash-shirath (الصِّرَاطَ)
dalam ayat di atas mempunyai tiga macam cara membaca (qiraat). Pertama, mayoritas qari,
membacanya dengan dengan huruf shad, sebagaimana yang tercantum
dalam mushaf Utsmani.Kedua, sebagian lain membacanya dengan
huruf siin, sehingga menjadi (السِرَاط). Ketiga, dibaca
dengan huruf zay (ز),
sehingga menjadi (الزِراَط).[21]
Sedangkan menurut bahasa, seperti
dikatakan at-Thabari, kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) berarti jalan yang jelas dan tidak
bengkok.[22]
Kataاهْدِنَا berasal dari akar kata hidayah (هداية). Menurut al-Qasimi, hidayah berarti
petunjuk –baik yang berupa perkataan maupun perbuatan– kepada kebaikan. Hidayah
tersebut diberikan Allah kepada hamba-Nya secara berurutan. Hidayah pertama diberikan
Allah kepada manusia melalui kekuatan dasar yang dimiliki manusia, seperti
pancaindra dan kekuatan berpikir. Dengan kekuatan inilah, manusia bisa
memperoleh petunjuk untuk mengetahui kebaikan dan keburukan. Hidayah kedua adalah
melalui diutusnya para Nabi. Macam hidayah ini terkadang disandarkan kepada
Allah, para rasul-Nya, atau Alquran. Hidayah tingkatan ketiga adalah
hidayah yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya yang karena perbuatan
baik mereka. Hidayah keempat adalah hidayah yang telah ditetapkan
oleh Allah di alam keabadian. Dalam pengertian hidayah keempat inilah, maka
Nabi Muhammad tidak berhasil mengajak sang paman, Abi Thalib, untuk masuk
Islam.[23]
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة : 7]
(yaitu)
jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Ayat ini
merupakan penjelasan dan tafsir dari ayat sebelumnya tentang apa yang dimaksud
dengan “jalan yang lurus” (الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ ).
Jadi, yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” adalah “jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”. Sedangkan
yang dimaksud dengan “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada
mereka”adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri anugerah kepada
mereka, lalu Allah pun menjaga hati mereka dalam Islam, sehingga mereka mati
tetap dalam keadaan Islam. Mereka itu adalah para nabi, orang-orang suci, dan
para wali. Sedangkan, menurut Rafi’ bin Mahran, seorang tabi’in yang juga
dikenal dengan nama Abu al-Aliyah, yang dimaksud dengan “orang-orang
yang Engkau beri nikmat itu” adalah Nabi Muhammad dan kedua sahabat
beliau, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.[24]
Selanjutnya,
yang dimaksud dengan “bukan jalan mereka yang dimurkai” (غير المغضوب
عليهم) adalah jalan
yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai oleh Allah dan
mendapatkan kehinaan karena melakukan berbagai kemaksiatan. Sedangkan yang
dimaksud dengan orang-orang yang sesat (الضالين)
pada lanjutan ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Tafsir bahwa
orang-orang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang sesat adalah Nasrani sudah
disepakati oleh banyak para ulama dan diuraikan di dalam beberapa hadis dan
ayat-ayat Alquran sendiri.[25]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Surat Al-Fatihah bukan semata-mata bacaan untuk beribadah
saja, tetapi juga mengandung bimbingan untuk membentuk pandangan hidup setiap
muslim.
Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dalam ayat,
“Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran
pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan
sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka. Kemudian
pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” menunjukkan bahwa ibadah tidak
boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan
dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada
Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus
melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk mengharap ridha Allah yang disertai
kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah SAW. Sedangkan kalimat yang kedua
menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam
mengatasi segala urusan agama dan dunianya kecuali kepada Allah. Dan pada ayat,
“Ihdinash shirathal mustaqim” yang merupakan doa yang termasuk jenis ibadah.
Doa ini merupakan permintaan seorang hamba untuk mendapatkan petunjuk menuju
jalan lurus.
Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam
ayat, “Rabbil ‘alamin.” Hal itu disebabkan Allah adalah rabb bagi segala
sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Pada ayat “Maliki yaumiddin” Allah
adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi
serta apapun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dialah Raja yang
menguasai dunia dan akhirat.
Sedangkan tauhid asma’ wa shifat, maka sesungguhnya ayat
kedua telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah Allah dan
Rabb sebagaimana di dalam ayat, “Rabbil ‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘alamin adalah
segala makhluk selain Allah. Allah dengan dzat-Nya, nama-nama-Nya,
sifat-sifat-Nya, maka Dialah Sang Pencipta. Sedangkan semua selain diri-Nya
adalah makhluk.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Abdul Muhsin
at-Turki, at-Tafsir al-Muyassar.
Abdurrahman bin al-Kamal Jalaluddin as-Sayuthi, ad-Durr
al-Mantsur, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993).
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir
al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an, (Saudi Arabia: Wizarah
asy-Syu’un al-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah
al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H).
Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad
al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi.
Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin
al-Mughirah al-Ja’fi al-Bukhari, Al-Jami’ al-Musnad ash-Shahih
al-Mukhtashar,(Beirut: Dar ath-Thauq an-Najah, 1422 H).
Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim
as-Samarqandi,Bahr al-Ulum, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.).
Abu al-Qasim Mahmud bin ‘Umar Az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf
‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta’wil, (Beirut:
Dar at-Turats al-Arabi, tt.).
Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim
at-Tanzil, (Riyadh: Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997).
Alauddin Ali bin Muhammad bin
Ibrahim al-Baghdadi (al-Khazin),Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1979).
Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih
al-Ghaib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000).
Ibnu Abi Hatim ar-Razi, Tafsir
Ibnu Abi Hatim.
Ibnu Jazi, at-Tashil fi Ulum
at-Tanzil.
Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi
ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Beirut: Dar al-Fikr,
1994).
Ismail Haqqi bin Musthafa al-Istambuli, Tafsir
Ruh al-Bayan, (Kairo: Dar at-Turats al-Arabi, tt).
Jalaludin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum
al-Qur’an, (Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab,
1974)
Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi, Ruh
al-Ma’ani fi Tafsir al-Quran wa as-Sab’i al-Matsani.
Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, Adhwa
al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Muhammad ath-Thahir bin Muhammad bin bin Muhammad
at-Thahir bin Asyur at-Tunisi, at-Tahrir wa at-Tanwir.
Muhammad bin Bahadur bin Abdullah
az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah,
1391 H).
Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim, Shahih
Ibn Hibban,(Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1993).
Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir
bin Ghalib al-Amali Abu Ja’far ath-Thabari, Jami’
al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Riyadh: Muassasah ar-Risalah,
2000).
Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin
at-Ta’wil, kitab digital dalam Program al-Maktabah asy-Syamilah versi
3.13.
[2]
‘Alauddin Ali
bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi (al-Khazin), Lubab at-Ta’wil fi
Ma’ani at-Tanzil, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), juz 1, hal. 15.
[3]
Muhammad bin
Bahadur bin Abdullah az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an,
(Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1391 H), juz 1, hal. 206.
[4]
Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi
ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim,(Beirut: Dar al-Fikr, 1994),
juz 1, hal. 101.
[6]
Jalaludin as-Suyuthi, al-Itqan
fi Ulum al-Qur’an, (Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li
al-Kitab, 1974), juz 1, hal. 190.
[8]
Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, Adhwa
al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz
2, ha. 315.
[9]
Abdurrahman bin Nashir bin
as-Sa’di, Taisir al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an,
(Saudi Arabia: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa
al-Irsyad al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H), hal. 10.
[15]
Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud
al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, (Riyadh: Dar ath-Thayyibah li
an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997), juz 1, hal. 53.
[22]
Muhammad bin Jarir bin
Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali Abu Ja’far ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Riyadh: Muassasah ar-Risalah,
2000), juz 1, hal. 170.
[23]
Lihat, Muhammad Jamaluddin
al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil, kitab digital dalam Program
al-Maktabah asy-Syamilah versi 3.13.
[24] Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim
as-Samarqandi, Bahr al-Ulum, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), juz 1,
hal.43.







al fatihah AYAT KE 2
ReplyDelete