BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan dasar manusia untuk memulai
hidup, sehingga menjadi komitmen bersama bahwa pendidikan sangat mempunyai
peran yang luhur dan agung. Sifat yang agung ini ditunjukkan dari peran
pendidikan yang dipahamai sebagai pemberian bekal peserta didik untuk
menghadapi masa depannya. Dalam lagu kebangsaan Indoneisia Raya salah satu
lirik lagunya menekankan “bangunlah jiwanya, bangunlah raganya” ini terbukti
secara komsuntif pendidikan sangant dibuthkan.
Pendidikan merupakan
peroses untuk mendewasakan manusia atau kata lain pendidikan merupakan untuk
“memanusiakan manusia” Melalui pendidikan manusia dapat tumbuh dan berkembang
secara normal dan sempurna sehingga dapat melaksanakan tugasnya sebagai
manusia.
Pendidikan dapat mengubah manusia dari tidak tahu
menjadi tahu, dari perilaku buruk menjadi tabiat yang baik,
pendidikan mengubah semuanya. Begitu penting Pendidikan dalam Islam, sehingga
menjadi kewajiban perorangan.
Pendidikan membutuhkan suatu sistem agar tujuan mulia
dari pendidikan itu tercapai. Dan makalah ini akan mencoba menjelaskan sistem
dalam pendidikan itu.
B.
Rumusan Masalah
1.
Pengertian Sistem
2.
Ciri-ciri Sebuah Sistem dan Komponen-komponen
3.
Pendekatan Sistem
4.
Model Perumusan Sistem
Pendidikan
5.
Perbedaan Sistem Pendidikan
Islam dan Non Islam
6.
Prinsip-prinsip Pendidikan
Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sistem
Sistem
berasal dari bahasa Yunani ( sistema ) yang berarti sehimpunan bagian atau
komponen yang saing berhubungan secara teratur dan merupakan siatu keseluruhan. Menurut D.G. Ryans sistem adalah sejumlah elemen (
obyek, orang, aktivitas, rekaman, informasi dan lain-lain ) yang saling
berkaitan dengan proses dan struktur secara teratur dan merupakan kesatuan
organisasi yang berfungsi untuk mewujudkan hasil yang dapat diamati ( dapat
dikenal wujudnya ) sedangkan tujuan yang tercapai. Menurut Sanafiah Faisal
istilah sistem munuju kepada totalitas yang bertujuan dan tersusun dari
rangkaian unsur dari komponen.
J.W. Getzel
and E.G. Guba mengemukakan pada umumnya
sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Terdiri
dari unsur-unsur yang berkaitan anatara satu sama lainnya.
2.
Berorientasi pad tujuan ( goal oriented ) yang telah ditetapkan.
3.
Didalamnya terdapat peraturan – peraturan tata tertib berbagai kegiatan
sebagainya.[1]
Istilah
sistem dipakai untuk menunjuk beberapa pengertian sebagaimana dicontohkan oleh
Fuad Ihsan misalnya[2] :
Diapakai
untuk menunjuk adanya suatu himpunan bagian-bagian yang saling berkaitan secara
alamiah maupun oleh budidaya manusia sehingga menjadi suatu kesatuan yang bulat
terpadu. Misalnya sistem tata surya.
Sistem
dapat menunjuk adanya alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara
khusus memberikan andil terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit
namun amat vital. Misalnya sistem syaraf.
Sistem
dapat dipakai untuk menunjuk sehimpunan gagasan atau ide yang bersusun dan
terorganisasi sehingga membentuk suatu kesatuan yang logis. Misalnya sistem pemerintahan
demokratis.
Sistem dapat digunakan untuk menunjuk suatu hipotesis atau uraian suatu teori. Misalnya pendidikan sistematis.
Sistem dapat digunakan untuk menunjuk suatu hipotesis atau uraian suatu teori. Misalnya pendidikan sistematis.
Sistem
dapat digunakan untuk menunjuk pada suatu cara atau metode. Misalnya sistem
mengetik sepuluh jari, system belajar jarak jauh, system modul dalam
pengajaran. Sistem
adalah suatu kesatuan dari komponen-komponen yang masing-masing berdiri sendiri
tetapi saling terkait satu dengan yang lain, sehingga terbentuk suatu kebulatan
yang utuh dalam mencapai tujuan yang dinginkan.[3]
Lebih
tegas Ramayulis menyatakan bahwa sistem adalah sejumlah elemen (obyek,orang,aktivitas,rekaman,informasi
dan lain-lain) yang saling berkaitan dengan proses dan struktur secara teratur
dan merupakan kesatuan organisasi yang berfungsi untuk mewujudkan hasil yang
diamati (dapat dikenal wujudnya) sedangkan tujuan tercapai.
Dari
keterangan diatas dapat dikatakan bahwa sistem merupakan hal penting yang harus
dibangun untuk menjalankan/menggerakan maksud dari sebuah cita-cita atau sebuah
pekerjaan yang akan kita lakukan.
Pendidikan
merupakan system tersendiri di antara berbagai system di dunia ini, kendatipun
ada perinciannya dan unsure-unsurnya yang bersamaan. Dia merupakan system
tersendiri, baik tentang cakupannya maupun tentang kesadarannya terhadap
detak-detak jantung, goresan hati, karsa dan rasa manusia.[4]
Dari
berbagai literature tampaknya Pendidikan Islam sebagai suatu sistem tidaklah
sama dengan system pendidikan kontemporer pada umumnya. Hal ini juga disinyalir
oleh Ramayulis “ pendidikan Islam memiliki system yang berbeda dengan system
pendidikan lain.[5] Namun pendidikan Islam yang didasrkan
pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi tidak menyebutkan secara spesifik tentang system
pendidikan
Pendidikan
Islam yang akan mencorakkan masyarakat Islam bukanlah sistem pendidikan yang
berasaskan sesuatu yang asing dari pada Islam, diimport dari Barat atau yang
telah disempurnakan dengan memasukkan beberapa unsur Islam ke dalamnya kerana
sebagai contoh kebanyakan sistem yang ada gersang akan aspek-aspek kerohanian
B.
Ciri-ciri Sebuah Sistem dan Komponen-Komponen
Komponen atau ciri-ciri sistem
adalah bagian yang membentuk sebuah sistem, diantaranya:
1.
Objek, merupakan bagian, elemen atau
variabel. Ia dapat berupa benda fisik, abstrak atau keduanya.
2.
Atribut, merupakan penentu kualitas
atau sifat kepemilikian sistem dan objeknya.
3.
Hubungan internal, merupakan
penghubungan diantara objek-objej yang terdapat dalam sebuah sistem.
4.
Lingkungan, merupakan tempat dimana
sistem berada.
5.
Tujuan, Setiap sistem memiliki
tujuan dan tujuan inilah yang menjadi motivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa
tujuan, sistem menjadi tidak terkendali. Tentu tujuan antara satu sistem dengan
sistem yang lain berbeda.
6.
Masukan, adalah sesuatu yang
masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan untuk diproses. Masukan
tersebut dapat berupa hal-hal yang tampak fisik (bahan mentah) atau yang tidak
tampak (jasa).
·
Masukan Instrumental (instrumental input).
Masukan intrumental dari sistem pendidikan terdiri atas tujuan pendidikan,
kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, ideologi, serta
pengelolaan, penilaian, pengawasan, dan peran serta masyarakat.
·
Masukan Lingkungan (enviromental input).
Masukan lingkungan sistem pendidikan terdiri dari geografi,
demografi/lingkungan fisik, agama, fasilitas dan budaya, politik, ekonomi,
sosial, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan.
7.
Proses, adalah bagian yang melakukan
perubahan dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai (informasi)
atau yang tidak berguna (limbah). Proses
dalam sistem pendidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang diberikan kepada
siswa yang menjadi input dunia pendidikan, sampai siswa tersebut tamat dari
suatu tingkat pendidikan.
8.
Keluaran, adalah hasil dari proses.
Pada sistem informasi berupa informasi atau laporan, dan sebagainya. Keluaran dari sistem pendidikan
adalah siswa yang telah memperoleh proses pembelajaran dalam masa waktu
tertentu dan telah dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan pendidikan ke
tingkat yang lebih tinggi, atau terjun ke dunia kerja.
9.
Batas, adalah pemisah antara sistem
dan daerah luar sistem. Batas disini menentukan konfigurasi, ruang lingkup atau
kemampuan sistem. Batas juga dapat diubah atau dimodifikai sehingga dapat
merubah perilaku sistem.
10.
Mekanisme pengendalian dan umpan
balik, digunakan untuk mengendalikan masukan atau proses. Tujuannya untuk
mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.
C.
Pendekatan Sistem
1.
Usaha Persiapan
·
Memandang perusahaan
sebagai suatu sistem.
·
Mengenal sistem
lingkungan.
·
Mengidentifikasi
subsistem perusahaan.
2.
Usaha Definisi
·
Bergerak dari tingkat
sistem ke subsistem.
Tujuannya : – mengidentifikasi tingkat sistem tempat persoalan berada.
- Menganalisis bagian-bagian sistem dalam suatu urutan tertentu.
Tujuannya : – mengidentifikasi tingkat sistem tempat persoalan berada.
- Menganalisis bagian-bagian sistem dalam suatu urutan tertentu.
·
Mengevaluasi standar.
·
Membandingkan output
dengan standar.
·
Mengevaluasi manajemen.
·
Mengevaluasi pemroses
informasi.
·
Mengevaluasi input dan
sumber daya input.
·
Mengevaluasi proses.
·
Mengevaluasi sumber
daya output.
3.
Usaha Pemecahan
·
Pertimbangan alternatif
yang layak.
·
Mengevaluasi berbagai
solusi alternatif.
·
Memilih solusi terbaik.
·
Menerapkan solusi.
·
Memastikan bahwa solusi
tersebut efektif.
D.
Model Perumusan Sistem Pendidikan
1.
Sosial Demand Approach. Pendekatan
perencanaan pendidikan ini lebih berorientasi kepada kebutuhan dan tuntutan
masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan itu sendiri dan sebagai pengguna
lulusan lembaga pendidikan.
2.
Man Power Approach. Pendekatan ini lebih
menekankan kepada bagaimana menghasilkan lulusan yang mampu memenuhi kebutuhan
dunia kerja akan tenaga kerja. Hal ini berkaitan erat dengan kualitas dan
kuantitas dari lulusan. Oleh sebab itu, perencanaan pendidikan lebih diarahkan
kepada peningkatan kualitas dan kuantitas lulusan.
3.
Rate of Return Approach. Pendekatan rate of
return dalam perencanaan pendidikan didasarkan pada model ekonomi. Pendekatan
ini lebih berorientasi kepada keuntungan. Ini terlihat jelas dengan adanya
kemungkinan untuk memperbandingkan secara ekonomis antara investasi yang
diberikan pada sistem pendidikan dengan investasi yang diberikan kepada
sektor-sektor ekonomi lainnya.
4.
Systems Approach. Pendidikan sebagai suatu
sistem, terdiri atas komponen-komponen yang saling berkaitan dan saling
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Interaksi tersebut terjadi dalam
rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Komponen-komponen pendidikan
secara umum terbagi atas input, proses dan output. Perencanaan pendidikan
dengan pendekatan sistem terpadu, melihat pendidikan sebagai suatu sistem.
Pendekatan ini lebih berorientasi kepada keseimbangan aspek input, proses,
maupun output dari dunia pendidikan. Pendekatan sistem dalam perencanaan pendidikan
memadukan tiga pendekatan yang sebelumnya. Jika pendekatan-pendekatan
sebelumnya bersifat parsial dan cenderung mengabaikan hal-hal yang bukan
merupakan fokusnya, maka pendekatan sistem terpadu ini lebih bersifat sistemik
yang memandang pendidikan itu sebagai suatu sistem. Dan perencanaan pendidikan
lebih diarahkan kepada keseimbangan di antara komponen-komponen yang ada pada
sistem tersebut. Kelebihan lain dari pendekatan ini adalah adanya nuansa ”job & service satisfaction” dan“quality product” . Kedua hal tersebut menjadi perhatian
dalam pendekatan sistem terpadu ini. Adanya kedua hal tersebut pada gilirannya
nanti mampu meningkatkan kualitas proses dan output pendidikan.
E.
Perbedaan Sistem Pendidikan Islam dan Non Islam
Islam
dengan ajarannya yang universal memiliki sistem yang berbeda secara mendasar
dengan sistem non Islam. Sesuai dengan namanya (Islam dan Non-Islam), dalam
kontek pendidikan perbedaan keduanya menurut Ramayulis terletak pada :[6]
1. Sistem
Idiologi
Islam
memiliki idiologi al-Tauhid yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan
non-Islam memiliki berbagai macam ideologi yang bersumberkan dari isme-isme
materialis, komunis, ateis, sosialis,kapitalis dan sebagainya. Dengan begitu
maka perbedaan kedua sistem tersebut adalah muatan ideologinya yang ingin
dicapai.
Apabila ide pokok ideologi Islam harus berdasarkan al-Tauhid pula. Makna tauhid bukan hanya mengesakan Tuhan seperti yang dipahami oleh kaum monoteis, melainkan juga meyakinkan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of menkind), kesatuan tuntutan hidup (unity of purpose of lifea), Dengan kerangka dasar al-Tauhid ini maka pendidikan Islam tidak akan ditemui tindakan yang dualisme, dikotomi bahkan sekularis. Sistem pendidikan Islam (mencakup: pendidik, peserta didik, kurikulum, metode, tujuan, media dan sebagainya) menghendaki adanya integralisme yang menyatukan kebutuhan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani dan system kehidupan lainnya. Jadi, dibidang ideology sastem pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan non-Islam, tetapi dibidang teknik-operasional barangkali keduanya sama.
Apabila ide pokok ideologi Islam harus berdasarkan al-Tauhid pula. Makna tauhid bukan hanya mengesakan Tuhan seperti yang dipahami oleh kaum monoteis, melainkan juga meyakinkan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of menkind), kesatuan tuntutan hidup (unity of purpose of lifea), Dengan kerangka dasar al-Tauhid ini maka pendidikan Islam tidak akan ditemui tindakan yang dualisme, dikotomi bahkan sekularis. Sistem pendidikan Islam (mencakup: pendidik, peserta didik, kurikulum, metode, tujuan, media dan sebagainya) menghendaki adanya integralisme yang menyatukan kebutuhan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani dan system kehidupan lainnya. Jadi, dibidang ideology sastem pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan non-Islam, tetapi dibidang teknik-operasional barangkali keduanya sama.
2. Sistem
Nilai
Pendidikan
Islam bersumber dari nilai Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan pendidikan non-Islam
bersumberkan dari nilai yang lain. Formulasi ini relevan dengan kesimpulan di
atas, sebab dalam ideologi Islam itu bermuatan nilai-nilai dasar Al-Qur’an dan
Sunnah, sebagai sumber asal dan ijtihad sebagai sumber tambahan. Pendidikan
non-Islam sebenarnya ada juga sumber nilainya, namun sumber nilainya hanya dari
hasil pemikiran, hasil penelitian para ahli, dan adat kebiasaan masyarakat. Ketiga nilai tersebut
yang dipindahkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
3. Orientasi
Pendidikan
Pendidikan
Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi, sedangkan pendidikan
non-Islam,orientasinya duniawi semata. Di dalam Islam antara dunia dan akhirat merupakan
kelanjutan dari dunia, bahkan suatu mutu akhirat konsekwensi dari mutu
kehidupan dunia. Segala perbuatan muslim dalam bidang apapun memiliki kaitan
dengan akhirat.
Islam sebagai agama yang bersifat universal berisi ajaran-ajaran yang dapat membimbing manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Untuk ini Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjalin hubungan yang erat dengan Allah dan sesama manusia.
Islam sebagai agama yang bersifat universal berisi ajaran-ajaran yang dapat membimbing manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Untuk ini Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjalin hubungan yang erat dengan Allah dan sesama manusia.
Sistem
pendidikan sekularistik seperti, ekonomi kapitalistik, pendidikan
materialistik, gaya hidup individualistic, budaya hedonoistik adalah merupakan
akar dari pada permasalahan dengan sistem pendidikannya.
Namun
Islam memberikan solusi yang sangat fundamental terhadap perubahan dan
tantangan yang tengah dialami umat manusia, dalam hal ini dapat dilihat dari
sistem pendidikan Islam yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.
Baik dalam mengahadapi masalah ekonomi, social, politik, budaya, pendidikan,
maka system pendidikan islam harus terkait dan saling bersinergi yaitu
kehidupan masyarakat, sekolah dan keluarga. Allah berfirman dalam
Surah Syura ayat:13 Artinya
: “ Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa
yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu
seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya)”.[7] FirmanNya
lagi dalam surah al-Rum: 30 Artinya
: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui[8]
F. Prinsip-prinsip Pendidikan
Islam
Dalam prespektif pendidikan Islam, tujuan hidup
seorang muslim pada hakekatnya adalah mengabdi kepada Allah. Pengabdian kepada
Allah sebagai realisasi dari keimanan yang diwujudkan dalam amal, tidak lain
untuk mencapai derajat yang bertaqwa disisinya. Beriman dan beramal soleh
merupakan dua aspek kepribadian yang dicita-citakan dalam pendidikan Islam.
Sedangkan tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan yang memiliki
dimensi religious dan berkemampuan ilmiah.[9]
Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut seorang
pendidik bertanggungjawab mengantarkan peserta didik kearah tujuan tersebut,
yaitu dengan menjadikan sifat-sifat Allah menjadi sebagian karakteristik
kepribadiannya. Untuk itu, keberadaan pendidik dalam dunia pendidikan sangat
krusial.
Hal ini disebabkan kewajibannya tidak hanya
mentransfer pengetahuan belaka, akan tetapi juga untuk merealisasikan
nilai-nilai pada peserta didik. Bentuk nilai yang ditransfer dan
disosialisasikan paling tidak meliputi nilai etis, nilai pragmatis dan nilai
religious. Secara factual, pelaksanaan pengajaran dan pemberian pengetahuan
dibidang agama Islam dan untuk merealisasikan nilai pada peserta didik
merupakan tugas yang cukup berat ditengah kehidupan masyarakat yang kompleks,
apalagi pada masa sekarang yaitu pada masa perkembangan era globalisasi dan
informasi.[10]
Secara lebih filosofis Muhammad Natsir dalam tulisan”
ideology pendidikan Islam” menyatakan ; “Yang dinamakan pendidikan, ialah suatu
pimpinan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan atau kemanusiaan
dengan arti sesungguhnya”[11]
Prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam adalah
aspek-aspek fundamental yang menggambarkan dasar dan tujuan pendidikan Islam
sehingga ia membedakannya dengan pendidikan non-Islam. Prinsip¬prinsip dasar
pendidikan Islam itu meliputi:
• Pendidikan
Islam adalah bagian dari proses rububiyah Tuhan
• Pendidikan
Islam berusaha membentuk manusia seutuhnya
• Pendidikan
Islam selalu berkaitan dengan agama
• Pendidikan
Islam merupakan pendidikan terbuka.
Hasan Langgulung merumuskan “pendidikan Islam sebagai
suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan memindahkan
pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk
beramal didunia dan memetik hasilnya diakhirat”.[12]
1. Prinsip
Integral dan Seimbang
a. Prinsip
Integral
Pendidikan
Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Keduanya harus
terintegrasi secara harmonis. Dalam ajaran Islam, Allah adalah pencipta alam
semesta termasuk manusia. Allah pula yang menurunkan hukum-hukum untuk
mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai alam fisik disebut
sunatullah, sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia
telah ditentukan pula dalam ajaran agama yang disebut dinullah yang mencakup
akidah dan syariah.
b. Prinsip
Seimbang
Pendidikan
Islam selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai aspek yang meliputi
keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, urusan hubungan
dengan Allah dan sesama manusia, hak dan kewajiban.
2. Prinsip
Bagian dari Proses Rububiyah
Al-Qur’an
menggambarkan bahwa Allah adalah Al-Khaliq, dan Rabb Al-Amin (pemelihara
semesta alam). Dalam proses penciptaan alam semesta termasuk manusia. Allah
menampakan proses yang memperlihatkan konsistensi dan keteraturan. Hal demikian
kemudian dikenal sebagai aturan-aturan yang diterpakan Allah atau disebut
Sunnatullah. Sebagai
khalifah, manusia juga mengemban fungsi rubbubiyah Allah terhadap alam semesta
termasuk diri manusia sendiri. Dengan perimbangan tersebut dapat dikatakan
bahwa karakter hakiki pendidikan Isam pada intinya terletak pada fungsi
rubbubiyah Allah secara praktis dikuasakan atau diwakilkan kepada manusia.
Dengakn kata lain, pendidikan Islam tidak lain adalah keseluruhan proses dan
fungsi rubbubiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses penciptaan samspai
dewasa dan sempurna.
3. Prinsip
Membentuk Manusia yang Seutuhnya
Manusia yang
menjadi objek pendidikan Islam ialah manusia yang telah tergambar dan terangkum
dalam Al-Qur’an dan hadist. Potret manusia dalam pendidikan sekuler diserhakan
pada orang-orang tertentu dalam msyarakat atau pada seorang individu karena
kekuasaanya, yang berarti diserahkan kepada angan-angan seseorang atau
sekelompok orang semata. Prinsip ini
harus direalisasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik harus
mengembangkan baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual secara
simultan.
4. Prinsip
Selalu Berkaitan dengan Agama
Pendidikan
Islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan memantapkan
kecendrungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia. Agama menjadi petunjuk
dan penuntun ke arah itu. Oleh karena itu, pendidikan Islam selalu
menyelenggrakan pendidikan agama. Namun, agama di sini lebih kepada fungsinya
sebagai sumebr moral nilai.
5. Prinsip
Terbuka
Dalam Islam
diakui adanya perbedaam manusia. Akan tetapi, perbedaan hakiki ditentukan oleh
amal perbuatan manusia (QS, Al-Mulk : 2), atau ketakwaan (QS, Al-Hujrat : 13).
oleh karena itu, pendidikan Islam pada dasarnya bersifat terbuka, demokratis,
dan universal.
6. Menjaga
Perbedaan Individual
Perbedaan-perbedaan
yang dimiliki manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang
akan berbuat sesuai dengan keadaanya masing-masing. Menurut Asy-Syaibani yang
dikutip oleh Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa pendidikan Islam
sepanjangs sejarahnya telah memlihara perbedaan individual yang dimilki oleh
peserta didik.
7. Prinsip
Pendidikan Islam adalah Dinamis
Pendidikan
Islam menganut prinsip dinamis yang tidak beku dalam tujuan-tujuan, kurikulum
dan metode-metodenya, tetapi berupaya untuk selalu memperbaharuhi diri dan
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan Islam seyogyanya mampu
memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan zaman dan tempat dan tuntutan
perkembangan dan perubahan social. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan
Islam yang memotivasi untuk hidup dinamis.[13]
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Sisitem pendidikan Islam sangat relevan dengan sistem kehidupan
yang berlandaskan kepada al-qur’an dan hadits Nabi s.a.w., dalam mencapai
tujuannya yang hakiki. Sistem pendidikan Islam sangat memandang nilai-nilai
kemanuaan dengan berbagai kondisi, tantangan serta perubahan zaman yang sangat
cepat menggerogoti nilai-nilai kemanusaiaan itu sendiri.
B. Saran
Sudah seyogiyanya sistem pendidikan mengacu kepada sistem
kehidupan Islam secara universal, karena system pendidikan Islam penenkanannya
sangat substasial untuk mencapai suatu tujuan dan tujuan yang akan dipai dan
diusahankan juga sangat jelas, memiliki implikasi potif masa depan kehidupan
hakiki.
DAFTAR PUSTAKA
Azra,
Azyumardi. Pendidikan Islam; Tradisidan Moderenisasi Menuju Milinium Baru. Jakarta : Kalimah.
Ihsan,
Fuad. Dasar-Dasar Kependidikan., Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2005.
Muslihah, Eneg. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta :
Diadit Media. 2010.
Quthb,
Muhammad. Sistem Pendidikan Islam Terjemahan Drs. Salaman Harun. Bandung:
Ramayulis
dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009. h
Ramayulis,
Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002., h. 4
[4] Muhammad Quthb,
Sistem Pendidikan Islam Terjemahan Drs. Salaman Harun, Bandung: PT.Alma’arif.,
h. 14
[7] Al-Qur’an Digital :
1340]. Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman
kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati
segala perintah dan larangan-Nya.
[8] Al-Qur’an Digital :
[1168]. Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah
mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama
tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah
lantara pengaruh lingkungan.
[11] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam;
Tradisidan Moderenisasi Menuju Milinium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001. H. 4
[13]
Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam
Mulia, 2009. hlm : 100-104







0 comments:
Post a Comment