BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Evaluasi merupakan proses yang
menetukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dicapai. Defenisi ini menerangkan
secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur
derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan
suatu proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu
informasi bagi keperluan pengambilan keputusan.
Dalam evaluasi selalu mengandung
proses. Proses evaluasi harus tepat terhadap tipe tujuan yang biasanya
dinyatakan dalam bahasa perilaku. Dikarenakan tidak semua perilaku dapat
dinyatakan dengan alat evaluasi yang sama, maka evaluasi menjadi salah satu hal
yang sulit dan menantang, yang harus disadari oleh para guru.
Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 Ayat
(1), evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara
nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan, diantaranya terhadap peserta didik, lembaga,
dan program pendidikan.[1]
B.
Rumusan Masalah
1.
Pengertian
Evaluasi Pendidikan?
2.
Bagaimana
Evaluasi Tekhnik Tes?
3.
Bagaimana
Evaluasi Tekhnik Non Tes?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi
Evaluasi
merupakan bagian dari proses belajar mengajar yang secara keseluruhan tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Evaluasi merupakan proses
penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar mengajar. Pencapaian
perkembangan siswa perlu diukur, baik posisi siswa sebagai individu maupun
posisinya didalam kegiatan kelompok. Hal yang demikian perlu disadari oleh guru
karena pada umumnya siswa masuk kelas dengan kemampuan yang bervariasi.
Kegiatan
evaluasi dapat mencakup deskripsi tingkah laku, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Data kuantutatif dilemgkapi dengan pengukuran, yang digunakan untuk
menetukan perkembangan dan pertumbuhan siswa. Di samping itu, evaluasi
kualitatif juga diperlukan untuk menempatkan posisi seorang siswa dalam
kelompok atau kelasnya.[2]
Evaluasi
minimal mempunyai tujuh prinsip yaitu:
1. Terpadu,
2. Menganut cara belajar siswa aktif,
3. Kontinuitas,
4. Koherensi dan tujuan,
5. Menyeluruh,
6. Membedakan (diskriminasi),
7. Pedagogis.[3]
Evaluasi
atau disebut juga tekhnik penilaian. Istilah tekhnik diartikan sebagai “alat”.
Jadi, dalam istilah tekhnik evaluasi hasil belajar mengandung arti alat-alat
(yang digunakan dalam rangka melakukan) evaluasi hasil belajar. Dalam konteks
evaluasi hasil belajar, dikenal adanya dua macam tekhnik, yaitu tekhnik tes dan
tekhnik non tes. Dengan tekhnik tes, maka evaluasi hasil belajar itu dilakukan
dengan jalan menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan tekhnik non tes maka
evaluasi hasil belajar dilakukan tanpa menguji peserta didik.
B. Tekhnik Tes
1. Pengertian Tes
Tes
secara harfiah berasal dari bahasa perncis kuno “testum” artinya piring untuk
menisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian tugas berupa pertanyaan
atau latihan atau perintah-perintah yang digunakan untuk mengukur keterampilan,
pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh seseorang
atau kelompok.[4]
Ada
beberapa istilah yang memrlukan penjelasan sehubungan dengan uraian di atas,
yaitu istilah tes, testing, tester, dan testee yang
masing-masing punya pengertian berbeda. Tes adalah alat atau prosedur
yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Testing berarti
saat yang dilaksanakan atau peristiwa berlangsungnya pengukuran atau penilaian.
Tester berarti orang yang melaksanakan tes atau pembuat tes atau eksperimentor
(orang yang melakukan percobaan), sedangkan testee (mufrad) atau testees
(jamak) adalah pihak yang sedang dikenai tes (peserta tes, peserta ujian) atau
pihak yang dikenai percobaan (tercoba).
Berdasarkan
definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang
berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang
ada dalam seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk
pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan
kemampuan objek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan maka
tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok
orang.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan
penilaian berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan
oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah
laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat
menunjukkan tingkat pencapaian tujuan instruksional pembelajaran atau tingkat
penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses
pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan
dalam kelompoknya.
Dalam
kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes
minimal mempunyai dua fungsi yaitu:
1)
Untuk
mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian
terhadap seperangkat tujuan tertentu. Artinya tes sebagai alat ukur
keberhasilan program belajar, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui
seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan tersebut telah dapat
dicapai.
2)
Untuk
menetukan kedudukan-kedudukan atau peringkat siswa dalam kelompok, tentang
penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu. Artinya, tes
berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh
peserta didik setelah mereka mempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu
tertentu.
Suatu
tes dapat dikatakan baik bila tes tersebut memiliki persyaratan yang didasarkan
atas dua hal, yaitu:
a)
Menyangkut
mutu tes
Seorang guru dalam menyusun sebuah
tes harus sejelas mungkin dan secermat mungkin agar testee dapat menjawab
dengan baik.
b)
Menyangkut
penadministrasian dalam pelaksanaan.
Sebuah
tes yang disusun oleh guru dengan baik, maka yang tinggal diperhatikan adalah
administriasi dalam pelaksanaannya, baik waktu, tempat, nilai, dan biaya.
Walaupun dalam melaksanakan tes sudah diusahakan mengikuti aturan tentang
suasana, cara, prosedur, yang telah ditentukan namun tes itu sendiri mengandung
kelemahan-kelemahan antara lain:
a. Dapat menyinggung pribadi seseorang
karena jika seorang siswa mengikuti kompetensi yang pemilihannya melalui tes,
mau tidak mau tentu ada pihak-pihak yang harus dikalahkan dan tentu mereka itu
akan tersinggung pribadinya.
b. Tes menimbulkan kecemasan sehingga
mempengaruhi hasil belajar yang murni.
c. Tes mengkatagorikan siswa secara
tetap.
d. Tes tidak mendukung kecemasan dan
daya kreasi siswa.
e. Tes hanya mengukur aspek kognitif
(pengetahuan).
2.
Fungsi
Tes
Secara
umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
a.
Sebagai
alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur
tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik
setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
b.
Sebagai
alat pengukur keberhasilan program pengajaran sebab melaluai tes tersebut akan
dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan,
telah dapat dicapai.
3.
Penggolongan
Tes
Sebagai
alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan,
tergantung dari segi mana atau dengan apa penggolongan tes itu dilakukan.
a.
Penggolongan
Tes Berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur Perkembangan, Kemajuan Belajar
Peserta Didik.
Ditinjau
dari segi fungsi yang dimiliki oleh tes sebagai alat pengukur perkembangan
peserta didik, tes dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu:
1.
Tes
seleksi
Tes seleksi sering dikenal dengan
istilah ujian saringan atau ujian masuk.
2.
Tes
awal
Tes awal sering dikenal dengan
istilah Pre test.
Fungsi pre test antara lain:
·
Untuk
menyiapkan peserta didik dalam proses belajar.
·
Untuk
mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran
yang dilakukan.
·
Untuk
mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan
ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.
·
Untuk
mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai.[5]
3.
Tes
akhir
Tes akhir sering disebut Post test.
Fungsi post test antara lain:
·
Untuk
mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi dasar yang
telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok.
·
Untuk
mengetahui kompetensi dasar dan tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik.
·
Untuk
mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial dan yang
perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan
dalam mengerjakan modul (kesulitan belajar).
·
Sebagai
bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap komponen-komponen pembelajaran
(modul) dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.[6]
4.
Tes
diagnostik
Adalah tes yang dilaksanakan untuk
menentukan secara cepat, jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik
dalam suatu mata pelajaran tertentu.
5.
Tes
formatif
Adalah tes hasil belajar yang
bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah
terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan).
6.
Tes
sumatif
Adalah tes hasil beklajar yang
dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan.
b.
Penggolongan
Tes Berdasarkan Aspek Psikis yang Ingin Diungkapkan
Ditilik dari segi aspek kejiwaan
yang ingin diungkap, tes setidaknya dapat dibedakan menjadi lima golongan,
yaitu:
1)
Tes
intelegensi
Adalah tes yang dilakukan dengan
tujuan untuk mengungkapkan atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
2)
Tes
kemampuan
Adalah tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkapkan kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh
testee.
3)
Tes
sikap
Adalah salah satu jenis tes yang
dipergunakan untuk mengungkap predisposisi atau kecendrungan seseorang untuk
melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa
individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.
4)
Tes
kepribadian
Adalah tes yang dilaksanakan dengan
tujuan mengungkapkan ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya
bersifat lahiriyah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau
kesenangan, dan lain-lain.
5)
Tes
hasil belajar
Adalah tes yang biasa digunakan
untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar.
c.
Penggolongan
Lain-lain
Ditilik
dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua
golongan, yaitu:
1.
Tes individual, dimana tester hanya berhadapan
dengan satu orang testee saja.
2.
Tes
kelompok, dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee.
Ditilik
dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes, tes dapat
dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.
Power
test, yakni tes dimana waktu yang
disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi, dan ;
2.
Speed
test, yakni tes dimana waktu yang
disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Ditilik
dari segi bentuk reponnya, tas dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.
Verbal
test, yakni suatu tes yang menghendaki
respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat,
baik secara lisan maupun secara tulisan.
2.
Nonverbal
test, yakni tes yang menghendaki respon
(jawaban) dari testee bukan merupakan ungkapan kata-kata atau kalimat,
melainkan berupa tindakan atau tingkah laku; jadi respon yang dihendaki muncul
dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan tertentu.
Akhirnya,
apabila ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan
jawaban, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.
Tes
tertulis, yakni jenis tes dimana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan
atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawaban juga
secara tertulis.
2.
Tes
lisan, yakni tes dimana tester didalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau
soalnya dilakukan secara lisan, dan testee memberikan jawaban secara lisan
pula.[7]
C. Tekhnik Non Tes
1.
Pengertian
Tekhnik Non Tes
Tekhnik
penilaian non tes berarti melakukan penilaian dengan tidak menggunakan tes.
Tekhnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh
meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan
lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik
secara individu maupun secara berkelompok.[8]
Tekhnik
ini hanya bersifat mendeskripsikan atau memberikan gambaran, hasilnya adalah
suatu deskripsi atau gambaran. Terhadap gambaranr-gambaran yang diperoleh dapat
dibuat interpelasi, penyimpulan-penyimpulan bahkan dengan kualifikasi tertentu.
Untuk memudahkan pemahaman terhadap non tes akan dibahas beberapa jenis non
tes, yaitu:
2.
Jenis
Non Tes
a. Kuesioner/Angket
Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang
harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).[9]
b. Wawancara/interview
Wawancara
adalah suatu tekhnik penilaian yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog)
baik secara langsung (face to face realition) secara langsung apabila wawancara
itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuanya atau kepada
temannya.
c. Pengamatan/Observasi
Observasi
merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah
lakunya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun keterangan (data) yang
dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan.[10]
Kelebihan
pengamatan/observasi antara lain:
·
Data
observasi itu diperoleh secara langsung di lapangan, yakni dengan jalan melihat
dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik di dalam melakukan sesuatu
sehingga dengan demikian data tersebut dapat lebih bersifat objektif dalam
melukiskan aspek-aspek kepribadian peserta didik menurut keadaan yang senyatanya.
·
Data
hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian masing-masing
individu peserta didik, dengan demikian maka di dalam pengolahannya tidak berat
sebelah atau hanya menekankan pada salah satu segi saja dari kecakapan atau
prestasi belajar mereka.
Adapun sisi
kelemahannya antara lain:
· Observasi sebagi salah satu alat
evaluasi hasil belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh
para pengajar. Guru yang tidak atau kurang memiliki kecakapan atau keterampilan
dalam melakukan observasi, maka hasil observasinya menjadi kurang dapat
diyakini kebenarannya.
· Kepribadian (personality)
dari observer atau evaluator juga acap kali mewarnai atau menyelinap masuk ke
dalam penilaian yang dilakukan dengan cara observasi. Prasangka-prasangka yang
mungkin melekat pada diri observer dapat mengakibatkan sulit dipisahkannya
secara tegas mengenai tingkah laku peserta didik yang diamatinya.
· Data yang diperoleh dari kegiatan
observasi umumnya baru dapat mengungkap “kulit luar” nya saja. Adapun apa-apa
yang sesungguhnya terjadi di balik hasil pengamatan itu belum dapat diungkapkan
secara tuntas hanya dengan melakukan observasi saja.[11]
d. Pemeriksaan Dokumen/Documentary analisys
Evaluasi
mengenai kemajuan, perkembangan atau non-tes juga dapat dilengkapi atau
diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen: misalnya
dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup seseorang.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa tekhnik tes
adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian berbentuk suatu tugas
atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa
sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut.
Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan
instruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi
yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan
kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.
Sedangkan tekhnik penilaian non tes
berarti melakukan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tekhnik penilaian ini
umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap,
tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang
berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu
maupun secara berkelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta. 2001.
Mulyasa. Implementasi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.
Slamela. Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Bina Aksara.1988.
Slameto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara. 2001.
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008.
Sukardi. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan
Operasionalnya. Yogyakarta : Bumi Aksara.
Sutomo, Tekhnik Penilaian Pendidikan. Surabaya:
Bina Ilmu. 1985.
http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/
[1] Sukardi, Evaluasi
Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Yogyakarta : Bumi Aksara, 2008), h.
1.
[3] Slameto, Evaluasi
Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 16.
[5] Mulyasa, Implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.217.
[6] Mulyasa, Op
Cit, h. 218-219.
[8] Sutomo, Tekhnik
Penilaian Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1985), h. 25.
[9] Daryanto, Evaluasi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), h. 30.
[10] Slamela, Evaluasi
Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 134.
[11] Anas Sudijono,
Op Cit, h. 81-82







0 comments:
Post a Comment