BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini dalam
Islam banyak berbeda-beda, antara lain. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi
dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dikatakan bahwa Zahid[1] dan sufi Islam meninggalkan dunia,
memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah pengaruh cara hidup
rahib-rahib Kristen.
Falsafat Mistik pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia
bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan
penjara bagi roh. Kesenangan roh adalah di alam samawi untuk memproleh hidup
senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup
materi, yaitu Zuhud. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi
berkontlemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang yang mempengaruhi
timbulya Zuhud san Sufisme dalam Islam.
Falsafat amanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar
dari Zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada
Tuhan. Tetapi dengan masuknya kealam materi , roh jadi kotor, dan untuk dapat
kembali keasalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah
dengan menjauhi dunia dan mendekati Tuhan dengan sedekat mungkin. Dikatkakan
pula bahwa falsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum Zahid dan
Sufi dalam Islam.
Ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana,
orang harus bisa meninggalkan Dunia dan memasuki hidup Kontemplasi. Faham Fana
yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham Nirwana.
Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk
meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan
Brahman.
Inilah beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya
mempengaruhi timbul dan munculya sufisme dikalangan umat Islam. [2]
Penyelidikan ahli-ahli pengetahuan tentang
asal-usul dan pengambilan tasauf islami, yang menganjurkan hidup kerohanian
itu, sampai sekarang masih saja belum selesai. Berbagai pendapat telah
dikemukakan, setengahnya mengatakan bahwa sumber pengambilannya adalah
semata-mata agama islam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan banyak pula orientalis
Barat berpendapat bahwa pokok pengambilannya ialah ajaran Persia,
Hindu, Agama Nasrani atau filsafat Yunani. Dan ada yang berpendapat, sumber Tasawuf islami
ialah dari semuanya itu. Tetapi Prof. Nickolson sangat keras membantah pendapat
yang mengatakan bahwa mazhab Tasawuf itu ajaran lain yang termasuk ke dalam
islam.[3] Kita memperhatikan dengan
seksama bahwa sejak lahirnya agama islam kehidupan Tasawuf itu telah
timbul dalam kalangan muslimin sendiri karena membaca Al-Qur’an dan
Al-Hadits. Oleh karena itu penulis akan membahas permasalahan tentang sumber-sumber
tasawuf. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1. Kontak kebudayaan Nasrani
2. Kontak kebudayaan Hindu
3. Kontak kebudayaan Budha
4. Kontak kebudayaan Persia
5. Kontak kebudayaan Yunani
6. Kontak kebudayaan Arab
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sumber Tasawuf Dalam Islam
Tasawuf pada
awal pembentukannya adalah akhlak atau keagamaan dan moral keagamaan yang
banyak di atur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jelaslah bahwa sumber pertamanya
adalah ajaran ajaran islam, sebab tasawuf di timba dari Al-Qur’an, Al-Hadits,
dan amalan amalan serta ucapan para sahabat. Amalan serta amalan para sahabat
itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan
begitu, justru dua sumber utama Tasawuf adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits.[4]
Jadi
Sumber sumber dalam islam yaitu :
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an
merupakan kitab Allah SWT yang di dalamnya terkandung muatan muatan ajaran
Islam, baik akidah, syariah maupun muamalah. Ketiga muatan tersebut banyak
tercermin dalam ayat ayat yang termasuk dalam Al-Qur’an. Di satu
sisi memang ada yang perlu di pahami secara lahiriah tetapi di sisi lain ada
juga yang perlu dipahami secara rohaniah. Sebab, jika di pahami secara lahiriah
ayat ayat Al-Qur’an akan terasa kaku, kurang dinamis dan tidak mustahil akan di
temukan persoalan yang tidak dapat di terima secara psikis. Beberapa contoh
pengambilan :
“Tidaklah
engkau yang melempar ketika engkau melempar itu, Melainkan Allah-lah yang melempar.”
(Al-Anfaal, ayat 17)
Menurut
pendapat kaum sufi, ayat ini adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup
kerohanian. Beberapa soal besar dalam tingkat-tingkat perjuangan kehidupan
dapat di simpulkan ke dalam ayat ini. Yang“melempar”bukanlah muhammad,
melainkan Tuhan. Gerak dan gerik tidaklah ada pada kita melainkan dari Allah
semata-mata. Kita bergerak dalam kehidupan ini hanyalah pada lahir belaka.
Tidak ada yang terjadi kalau tidak izin Allah. Seorang hamba Allah dengan
Tuhanya hanyalah laksana sebuah Qalam dalam tangan seorang penulis. Menulis di
gerakan saja. Yang di tuliskan tidak lain dari pada kehendak si penulis.
Pada dasarnya merupakan objek
tasawuf, berlandaskan al- Qur’an dan berikut ini beberapa ayat al-Qur’an yang
menjadi landasan sebagian tingkatan dan keadaan para sufi:
1) Penggemblengan
jiwa
dan orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kamitunjukkan kepada mereka
jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar besertaorang-orang yang
berbuat baik. (QS. al-Ankabut : 69)
2) Tingkatan
Asketis
….. Katakanlah: "Kesenangan di dunia
ini
hanya sebentar dan akhirat itu lebih
baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya
sedikitpun”. (QS. an-Nisa’ :77)
3) Tingkatan Tawakal
…. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan) nya... (QS. at-Thalaq : 3)
4) T ingkatan Syukur
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamubersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)
5) T ingkatan Sabar
bersabarlah (hai Muhammad) dan
Tiadalah kesabaranmu itu melainkan denganpertolongan Allah dan janganlah kamu
bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit
dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. An-Nahl :127).
6) Tingkatan
Rela
Allah berfirman: "Ini adalah
suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benarkebenaran mereka. bagi
mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; merekakekal di dalamnya
selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya[457]. Itulah keberuntunganyang paling
besar". (QS. Al-Maidah : 119)
7) Tingkatan
Malu
2. Al-Hadits
Hadits adalah
segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi
Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama
Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an,
Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum
kedua setelah Al-Qur'an.[4] Dasar yang kedua ialah hadits Nabi
terutama Hadits Qudsi, yaitu suatu hadits istimewa yang diterima oleh Nabi
Muhammad, seakan-akan Tuhan sendiri yang bercakap dengan dia, sedang orang
Islam biasa dapatlah membedakan bunyi Al-Quran, Hadits biasa atau Hadits Qudsi
jika didengarnya.
Berikut ini
ada beberapa muatan hadist yang dapat di pahami dengan pendekatan tasawuf :
‘’Barang siapa yang mengenal
dirinya sendiri maka akan mengenal Tuhanya”
Hadist ini
disamping melukiskan kedekatan hubungan antara Tuhan dan manusia, sekaligus
mengisyaratkan arti bahwa manusia dan tuhan adalah satu. Oleh sebab itu ,
barang siapa yang ingin mengenal Tuhan cukup merenung perihal dirinya sendiri.[6]
Dalam sebuah Hadits qudsi (Hadist
berasal dari Nabi Muhammad SAW) sebagai berikut :
Dari Abu
Hurairah r.a , Rosulullah SAW. Bersabda bahwa Allah AWT berfirman . “Barang
siapa yang memusuhi seseorang wali-Ku, maka aku mengumumkan permusuhan-Ku
terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih
kusukai dari pada pengalaman segala yang ku fardhukan atasnya . Kemudian,
Hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal
amal sunnah, maka aku senantiasa mencintainya. Bila aku telah cinta kepadanya,
jadilah aku pendengarnaya yang denganya ia mendengar, aku penglihatanya yang
denganya ia melihat, aku tanganya yang denganya ia memukul dan aku kakinya yang
dengan itu ia berjalan. Jika ia memohon, jika ia meminta perlindungan, ia
kulindungi”.[7]
Hadist ini
memberi petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat bersatu Diri manusia
dapat lebur dari diri Tuhan, yang di kenal dengan istilah fana’, yaitu fana’nya
makhluk sebagai yang mencintai Tuhan sebagai yang di cintainya. Istilah
‘’lebur’’ atau “fana”. Menurut kami harus di pertegas bahwa antara
Tuhan dan Manusia tetap ada jarak/pemisah, sehingga tetap berbeda antara Tuhan
dan Hamba-hamba-Nya. Istilah ini hanya menunjukan keakraban antara makhluk dan
khalifnya.
B.
Kontak Kebudayaan Nasrani
(Kristen), Hindu, Budha, Persia, Yunani dan Arab
Tasawuf yang
sering kita temui dalam khazanah dunia islam, dari segi sumber perkembangannya,
ternyata muncullah pro dan kontra, baik dikalangan muslim maupun dikalangan non
muslim. Mereka yang kontra menganggap bahwa tasawuf islam merupakan sebuah
faham yang bersumber dari agama-agama lain. Pandangan ini kebanyakan diwakili
oleh para orientalis dan orang-orang yang banyak terpengaruh oleh kalangan
orientalis ini.
Dengan tidak
bermaksud untuk tidak melibatkan diri pada persoalan pro dan kontra itu, dalam
tulisan ini, kami akan mempertengahkan paham tasawuf dalam tinjauan yang lebih
universal karena tentang asal usul atau ajaran tasawuf, kini semakin banyak
orang menelitinya. Kesimpulannya perbedaan paham itu disebabkan pada asal
usul tasawuf tersebut. Sebagian beranggapan bahwa tasawuf berasal dari masehi
(Kristen), sebagian lagi mengatakan dari unsur Hindu-Budha, Persia, Yunani,
Arab, dan sebagainya. Untuk itulah, kami akan menguraikan asal usul tasawuf
dalam konteks kebudayaan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah
tasawuf yang ada di dunia islam terpengaruhi dengan konteks kebudayaan tersebut
atau tidak.
1.
Unsur Nasrani (Kristen)
Bagi
mereka yang beranggapan bahwa tasawuf berasal dari unsur Nasrani, mendasarkan
argumennya pada dua hal. Pertama, adanya interaksi antara orang Arab dan kaum
Nasrani pada masa jahiliyah maupun zaman islam. Kedua adanya segi-segi kesamaan
antara kehidupan para asketis atau sufi dalam hal ajaran cara mereka
melatih jiwa dan mengasingkan diri dengan kehidupan Al-masih dan
ajaran-ajarannya, serta dengan para rahib ketika sembahyang dan berpakaian.[8]
Orang
Arab sangat menyukai cara kependetaan ketika mereka melakukan latihan (Riadhah)
dan ibadah. Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf merupakan buah keNasranian
pada zaman jahilliyah. Sementara itu, Goldziher berpandapat bahwa sikap Fakir
dalam islam merupakan pengaruh dari Agama Nasrani. Goldziher membagi tasawuf
menjadi dua : Pertama, asketisme. Menurutnya sekali pun telah
terpengaruh oleh kependetaan kristen aliran ini lebih mengakar pada semangat Islam
dan para ahli sunnah. Kedua, Tasawuf dalam arti lebih jauh lagi, seperti
pengenalan kepada Tuhan (Ma’rifat), pendakian batin (Hal),
intuisi (Wijdan) dan rasa (dzauq), yang terpengaruh oleh Agama
Hindu disamping Neo-Platonisme.[9]
Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf
merupakan buah kenasranian pada zaman jahiliah. Sementara itu, Goldziher
berpendapat bahwa sikap fakir dalam Islam merupakan pengaruh dari agama
Nasrani. Goldziher membagi tasawuf menjadi dua: Pertama, asketisme. Menurutnya,
sekalipun telah terpengaruh oleh kependetaan Kristen, aliran ini, lebih
mengakar pada semangat Islam dan para Ahli Sunnah. Kedua, tasawuf dalam arti
lebih jauh lagi, seperti pengenalan kepada Tuhan (Ma’rifat), pendakian batin
(hal), intuisi (wijdah), dan rasa (dzauq), yang terpengaruh oleh agama Hindu
disamping Neo-Platonisme.
Abu Bakar Aceh, sebagaimana dikutip
Abdul Qadir Zaelani, pernah menulis bahwa agama Yahudi dan agama Kristen
mempengaruhi pula cara berfikir dalam Islam.
Pokok-pokok ajaran tasawuf yang diklaim
berasal dari agama Nasrani antara lain adalah:
a.
Sikap fakir. Al-Masih
adalah fakir. Injil disampaikan kepada orang fakir sebagaimana kata Isa dalam
Injil Matius, “Berntunglah kamu orang-orang miskin karena bagi kamulah kerajaan
Allah… Beruntunglah kamu orang yang lapar karena kamu akan kenyang.”
b.
Tawakal kepada Allah
dalam soal penghidupan. Para pendeta telah mengamalkan dalam sejarah hidupnya,
sebagaimana dikatan dalam Injil, “Perhatikan burung-burung dilangit, dia tidak
menanam, dia tidak mengetam dan tidak duka cita pada waktu susah. Bapak kamu
dari langit memberi kekutan kepadanya. Bukankah kamu lebih mulia daripada
burung?”
c.
Peranan Syeikh yang
menyerupai pendeta. Perbedaanya pendeta dapat menghapuskan dosa.
d.
Selibasi, yaitu
menahan diri tidak menikah karena menikah dianggap dapat mengalihkan diri dari
Tuhan.
e.
Penyaksian, bahwa
syufi menyaksikan hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah. Injil pun
telah menerangkan terjadinya hubungan langsung dengan Tuhan.[10]
2.
Unsur Hindu-Budha
Tasawuf dan
system kepercayaan agama Hindu memiliki persamaan, seperti sikap fakir. Darwis
Al-Birawi mencatat adanya persamaan cara ibadah dan mujahadah pada
tasawuf dan ajaran hindu. Demikian juga pada paham reinkarnasi,
cara pelepasan dari dunia versi Hindu-Budha dengan persatuan diri dengan jalan
mengingat Allah.
Salah satu maqamat
sufiyah, yaitu al-Fana’ memiliki persamaan dengan
ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu. Menurut Harun Nasution, ajaran nirwana agama
Budha mengajarkan umatnya untuk meninggalakan dunia dan memasuki hidup kontemplatif.
Faham fana’yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham nirwana.[11] Goldziher
mengatakan bahwa ada hubungan persamaan antara tokoh Budha Sidharta Gautama
dengan Ibrahim bin Adham, tokoh sufi yang muncul dalam sejarah umat Islam
sebagai seorang putra mahkota dari Balkh yang kemudian mencampakkan mahkotanya
dan hidup sebagai darwish. Goldziher menambahkan, para sufi belajar
menggunakan tasbih sebagaimana yang dipakai oleh para pendeta
Budha. Dan tanpa memasuki ke bagian-bagiannya yang terkecil, dapat dinyatakan
bahwa metode-metode seperti budaya diri yang etis, meditasi asketis dan
abstraksi intelektual merupakan pinjaman dari Budhisme.[12] Juga
dalam ajaran Hinduisme ada perintah untuk meninggalkan dunia
dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.[13]
3.
Unsur Yunani
Kebudayaan
Yunani seperti Filsafat, telah masuk ke dunia islam pada akhir Daulah Amawiyah
dan puncaknya pada masa Daulah Abbasiyah ketika berlangsung zaman penerjemahan
filsafat Yunani.
Ajaran-ajaran
tasawuf itu dimasuki oleh paham pemikiran Yunani. Misalnya, perkataan, “Apabila
sudah baik, seseorang hanya memerlukan sedikit makan. Dan apabila sudah baik,
hati manusia hanya memerlukan sedikit hikmat.” Ahli-ahli sejarah, seperti
Syaufan menerangkan bahwa banyak bagian dari cerita “Seribu Satu Malam” berasal
dari Yahudi. Orang-orang Yahudi meskipun menyerahkan dirinya sebagai orang
Islam, mereka tidak mau meninggalakan agamanya, bahkan berusaha menarik
orang-orang Islam untuk memeluk agamanya.
4.
Unsur Persia
Sebenarnya
Arab dan Persia memiliki hubungan sejak lama, yaitu pada bidang politik,
pemikiran, kemasyarakatan dan sastra. Namun belum ditemukan argumentasi kuat
yang menyatakan bahwa kehidupan kerohanian Arab masuk ke Persia hingga
orang-orang Persia itu terkenal sebagai ahli-ahli tasawuf. Barangkali ada
persamaan antara istilah zuhud di Arab dengan zuhud menurut agama manu danmazdaq;
antara istilah hakikat Muhammad dan paham Hormuz dalam
agama Zarathustra.[14]
Sejak zaman
klasik. Bahkan hingga saat ini. Terkenal dengan wilayah yang melahirkan
sufi-sufi ternama. Dalam konsep ke-fana-an diri dalam universalitas.
misalnya, salah seorang dari penganjurnya adalah seorang ahli mistik dari
Persia yakni Bayazid dari bistam yang telah menerima dari gurunya. Abu Ali
(dari Sind).[15]
5.
Unsur Arab
Untuk
melihat bagaimana tasawuf dari dunia Islam, pelacakan terhadap sejarah
munculnya tasawuf dapat di jadikan dasar argumentasi munculnya tasawuf di dunia
Islam. Untuk itulah, berikut ini di ketengahkan sejarah tumbuh dan
berkembangnya Tasawuf di dunia Islam. Namun, mengingat kehadiran Islam bermula
dari daratan Arab maka uraian tentang sejarah Tasawuf ini pun bermula dari
tanah Arab.
Untuk melacakan
sejarah perkembangan tasawuf, tidak hanya memperhatikan ketika tasawuf mulai
dikaji sebagai sebuah ilmu, melainkan sejak zaman Rosulullah. Memang pada masa
Rosulullah dan masa sebelum datangnya Agama Islam, Istilah “tasawuf” itu belum
ada.[16]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
beberapa keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa sumber sumber tasawuf
dalam islam dapat di lihat dari Al-Qur’an, Hadits Nabi, perbuatan Nabi dan
pandangan hidup serta praktek hidup dari sahabat-sahabat dan orang-orang Ulama
dalam Islam. Al-Qur’an merupakan kitab Allah SWT yang di dalamnya
terkandung muatan muatan ajaran Islam, baik akidah, syariah maupun muamalah. Hadits adalah
segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi
Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama
Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an,
Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum
kedua setelah Al-Qur'an.Tasawuf yang sering kita temui dalam khazanah dunia
islam, dari segi sumber perkembangannya, ternyata muncullah pro dan kontra,
baik dikalangan muslim maupun dikalangan non muslim.
Dilihat dari
referensi yang kami temukan, bahwa ajaran tasawuf tidak hanya
bersumber dari sumber keIslaman saja, namun dipengaruhi juga oleh ajaran luar
Islam, antara lain ajaran Agama Hindu Budha, Agama Persia-Arab, ajaran Agama
Masehi, Pemikiran filsafat Yunani.
B. Saran
Di sarankan
kepada pembaca, supaya lebih memahami tentang sejarah
perkembangan tasawuf agar lebih baik mencari
referensi lain selain makalah ini. Karena makalah ini jauh dari kata Sempurna
untuk di jadikan sebuah buku pedoman dalam system pembelajaran.Dan
penulis mengharapkan saran dan kritik dari bapak dosen untuk perbaikan
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Tasauf
Perkembangan Dan Pemurniaanya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hlm. 36
Lihat Abi Nashr as-Siraj Ath-Thusi,Al-Luma’,Ditahqiq
oleh Abdul Halim Mahmud dan Thaha Abd Baqi Surur,Mesir:Dar Al-Kutub Al-Haditsah
dan Maktabah Al-Mutsana Baghdad, 2960,hlm. 6
Anwar, Rosihin Anwar, akhlak tasawuf (Bandung:Pustaka
Setia,2010) hlm.159
H.R. Bukhari, No Hadist 6021
Lihat, Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani, Madkhal
Ila at-Tashawuf Al-Islam, ter. Ahmad rofi’ ‘Utsmani, “Sufi dari Zaman ke
Zaman”, Pustaka, Bandung, 1985, 22-34
Lihat Ibid, hlm. 4; Abdul
Qadir Al-Jaelani, Koreksi terhadap ajaran Tasawuf, Gema Insani Press, Jakarta, 1996,
hlm. 17
Muhammad Ghalab, At-Tashawwuf
al-Maqarin, Maktabah
An-Nahdlah, Mesir, t.t., hlm 42; Zaelani, op.
cit., hal. 25
Usman. Said. Ibid. hlm 26
A. Nicholson, Reynoldv A. Nicholson, The Mystics of Islam, terj A. Munir Budiman, “Tasawuf
Menguak Cinta Ilahi”, Raja Grafindo. Jakarta, 1993. Hlm. 16
Nasution, loc. cit
Said. Op.
cit. hlm 27-28
A.Nicholoson, Reynold, The Mystic of Islam, trans.
A.Nashir Pudiman,“tasawuf Menguat Cinta Ilahi”, RajaGrafindo. Jakarta, 1993, hlm. 16.
Syarf, Muhammad Yasir, Harakat At-Tashawwuf Al-Islam, damsyik,
Al-Hai’at Al-Mishariyyah Al-Amanah Li Al-Kitab, 1986, hlm 4
[2] Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir : Kamus Arab – Indonesia, PP.
Al-Munawiwir, Yogyakarta, 1984, hlm. 626.
[3] Hamka, Tasauf
Perkembangan Dan Pemurniaanya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hlm. 36
[4] Abi Nashr as-Siraj
Ath-Thusi,Al-Luma’, Ditahqiq oleh Abdul Halim Mahmud dan Thaha Abd Baqi
Surur,Mesir:Dar Al-Kutub Al-Haditsah dan Maktabah Al-Mutsana Baghdad, hlm. 6
[5] http://www.scribd.com/doc/97144411/Sumber-Tasawuf-Dalam-Islam, Diakses pada 16 Maret 2014, 9.10 WIB.
[6] http://islamic.net63.net/pendahuluan/pengertian_hadits.htm Diakses pada 16 Maret 2014, 9.
11 WIB
[8] Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani,
Madkhal Ila at-Tashawuf Al-Islam, ter. Ahmad rofi’ ‘Utsmani, “Sufi dari Zaman
ke Zaman”, Pustaka, Bandung, 1985, hlm. 22-34
[9] Abdul Qadir Al-Jaelani, Koreksi terhadap
ajaran Tasawuf, Gema Insani Press,
Jakarta, 1996, hlm.
[10] http://halamanbelakank.blogspot.com/2012/09/tasawuf-kontak-kebudayaan-hindu-persi.html diakses pada 16 Maret 2014, 9.28
WIB
[11] Muhammad Ghalab, At-Tashawwuf al-Maqarin,Maktabah
An-Nahdlah, Mesir, t.t., hlm 42; Zaelani, op.
cit., hal. 25
[13] ReynoldvA. Nicholson, The Mystics of Islam, terj A. Munir Budiman, “Tasawuf Menguak
Cinta Ilahi”, Raja Grafindo. Jakarta, 1993. Hlm. 16
[14] Nasution, loc. cit
[15] Said. Op.
cit. hlm 27-28
[16] Reynold A.Nicholoson, The Mystic of Islam, trans.
A.Nashir Pudiman, “tasawuf
Menguat Cinta Ilahi”, RajaGrafindo.
Jakarta, 1993, hlm. 16.







0 comments:
Post a Comment