BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Da'wah dan amar ma'ruf nahi
munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan menyajikan
ajaran Islam secara sempurna. Metode yang di terapkan dalam menyampaikan amar
ma'ruf nahi munkar tersebut sebenarnya akan terus
berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi para
da'i. Amar ma'ruf dan nahi munkar tidak
bertujuan memperkosa fitrah seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti
tanpa mengetahui hujjah yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi
dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan
yang dimiliki.
Ketegasan dalam menyampaikan amar
ma'ruf dan nahi munkar bukan berarti menghalalkan
cara-cara yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan
menggunakan metode tadarruj(bertahap) agar tidak menimbulkan
permusuhan dan keresahan di masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar
ma'ruf nahi munkar harus mempertimbangkan kondisi sosial
masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan kecil dalam
menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar justru
mengakibatkan kerusakan dalam satu umat dengan social cost yang
tinggi. Dan Makalah ini akan sedikit memberikan penafsiran ayat dakwah dari
surat Al-Maidah ayat 79.
B. Rumusan Masalah
1.
Surat Al-Maidah Ayat 79 dan Terjemahannya
2.
Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 79
BAB II
PEMBAHASAN
A. Surat
Al-Maidah Ayat 79 dan Terjemahannya
(#qçR$2 w cöqyd$uZoKt `tã 9x6YB çnqè=yèsù 4 [ø¤Î6s9 $tB (#qçR$2 cqè=yèøÿt ÇÐÒÈ
Artinya:
“Mereka satu sama lain selalu tidak
melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa
yang selalu mereka perbuat itu.”[1] (Q. S Al-Maidah Ayat 79)
B. Tafsir
Surat Al-Maidah Ayat 79
Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia
Ayat ini menerangkan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi yaitu
membiarkan kemungkaran-kemungkaran terjadi di hadapan mereka disebabkan mereka
tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Demikianlah buruknya perbuatan
mereka itu sehingga menjadi sebab adanya kutukan Allah pada mereka. Dalam
hubungan ayat ini Nabi Muhammad bersabda:
Awal mula kekurangan yang menimpa Bani Israel adalah
pertemuan seorang lelaki dengan lelaki lain (yang salah seorang membuat
kemungkaran). Maka berkata (laki-laki yang tidak mengerjakan mungkar),
"Hai kawanku, takutlah kepada Allah dan tinggalkan perbuatanmu karena
perbuatanmu itu tidak halal bagimu." Kemudian hari berikutnya (laki-laki
yang menegur) berjumpa lagi dengan lelaki itu sedang membuat kemungkaran
seperti biasanya, maka tidak dicegahnya lagi malahan dijadikan teman makannya,
teman minumnya dan teman duduknya. Maka setelah perbuatan mungkar tersebut
merata di kalangan umum, Allah menjadikan mereka bergontok-gontokkan. Kemudian
Nabi membacakan ayat 78 (kepada kaum mukminin) dalam surat ini. Kemudian Nabi
bersabda, "Sekali-kali tidak, demi Allah kamu semua hendaknya menegakkan
amar makruf dan nahi mungkar kemudian hendaklah kamu mencegah perbuatan orang
yang lalim dan hendaklah kamu memaksakan kepadanya menerima kebenaran itu jika
tidak, niscaya Allah akan menjadikan kamu saling bergontok-gontokkan kemudian
Allah akan mengutukmu sebagaimana mengutuk orang-orang Yahudi."
(H.R. Abu Daud dan Tirmizi dari Ibnu Mas'ud)[2]
(H.R. Abu Daud dan Tirmizi dari Ibnu Mas'ud)[2]
Meskipun
para nabi merupakan penyebab turunnya rahmat dan petunjuk Allah Swt
itu, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang rasialis dan nasionalis,
sehingga tidak mempedulikan kejahatan kaumnya sendiri. Mereka tidak diam
melihat kejahatan kaumnya itu yang berarti setuju bahkan
mendukungnya.
Dalam
riwayat-riwayat sejarah disebutkan, sewaktu Bani Israil tidak mengabaikan
ketetapan Allah Swt mengenai libur hari Sabtu, maka mereka terkena kutukan
dan cacian Nabi Dawud as. Begitu juga sewaktu para pembesar mereka meminta
kepada Nabi Isa as agar diturunkan hidangan dari langit dan
Isa as mengangkat tangannya untuk memanjatkan doa, sehingga turunlah
hidangan dari langit. Akan tetapi sebagian dari mereka tidak mengakui kebenaran
mukjizat Ilahi ini, maka Nabi Isa as pun mengutuk mereka. Lanjutan
ayat tersebut menyinggung sebuah poin penting mengenai hubungan kemasyarakatan
dan mengatakan, bukan hanya orang-orang jahat yang berbuat dosa, akan
tetapi orang-orang yang baik pun turut berdosa dengan bersikap bungkam dan
tidak berbuat apa-apa untuk mencegah kejahatan para penjahat itu. Sikap diam
mereka inilah yang membuat para penjahat itu merasa mendapat peluang untuk
berbuat dosa.
Dari dua ayat
tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:
1.
Para nabi selain merupakan manifestasi kasih
sayang, kadang-kadang juga menunjukkan sikap benci, marah dan tidak menolerir
orang-orang yang melanggar batas-batas hukum Allah.
2.
Melanggar dan merusak hukum merupakan watak Bani Israil
sepanjang sejarah.
3.
Mereka yang memberikan peluang kepada para pendosa
dengan sikap diam dan senyuman juga terhitung berbuat dosa dan mendapat murka
Allah.
4.
Nahi mungkar atau pencegahan kemungkaran merupakan
tugas sosial setiap orang mukmin.
Da'wah Secara lughawi berasal
dari bahasa Arab, da'wah yang artinya seruan, panggilan,
undangan. Secara istilah, kata da'wah berarti menyeru atau mengajak manusia
untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan
melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan rasul-Nya agar
manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Syaikh Ali Mahfuzh -murid Syaikh
Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu da'wah
memberi batasan mengenai da'wah sebagai: "Membangkitkan kesadaran
manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma'ruf dan maencegah
dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan
di dunia dan di akhirat."
Da'wah adalah usaha penyebaran
pemerataan ajaran agama di samping amar ma'ruf dan nahi
munkar. Terhadap umat Islam yang telah melaksanakan risalah Nabi lewat tiga
macam metode yang paling pokok yakni da'wah, amar ma'ruf, dan nahi
munkar, Allah memberi mereka predikat sebagai umat yang berbahagia atau
umat yang menang .
Adapun mengenai tujuan da'wah,
yaitu: pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di
sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari da'wah adalah menyadarkan
manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur
saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua,
mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan
dalam firman Allah: "Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin
Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji."(QS. Ibrahim:
1)
Dalam Al-Qur'an dijumpai lafadz "amar
ma'ruf nahi munkar" pada beberapa tempat. Sebagai contoh dalam QS. Ali
Imran: 104: "Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung". Hasbi
Ash Siddieqy menafsirkan ayat ini: "Hendaklah ada di antara kamu suatu
golongan yang menyelesaikan urusan dawah, menyuruh ma'ruf (segala yang
dipandang baik oleh syara` dan akal) dan mencegah yang munkar (segala yang
dipandang tidak baik oleh syara` dan akal) mereka itulah orang yang
beruntung."
Dalam ayat lain disebutkan "Kalian
adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah" (QS.
Ali Imran: 110). Lafadz amar ma'ruf dan nahi munkar tersebut
juga bisa ditemukan dalam QS. Al Maidah: 78-79
Bila dicermati, ayat-ayat di atas
menyiratkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar merupakan
perkara yang benar-benar urgen dan harus diimplementasikan dalam realitas
kehidupan masyarakat. Secara global ayat-ayat tersebut menganjurkan
terbentuknya suatu kelompok atau segolongan umat yang intens mengajak kepada
kebaikan dan mencegah dari kejelekan. Kelompok tersebut bisa berupa sebuah
organisasi, badan hukum, partai ataupun hanya sekedar kumpulan
individu-individu yang sevisi. Anjuran tersebut juga dikuatkan dengan hadits
Rasulullah: "Jika kamu melihat umatku takut berkata kepada orang
dzhalim, 'Hai dzhalim!', maka ucapkan selamat tinggal untuknya."
Dari ayat-ayat di muka dapat
ditangkap bahwa amar ma'ruf dan nahi munkar merupakan
salah satu parameter yang digunakan oleh Allah dalam menilai kualitas suatu
umat. Ketika mengangkat kualitas derajat suatu kaum ke dalam tingkatan yang
tertinggi Allah berfirman: "Kalian adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk umat manusia." Kemudian Allah menjelaskan alasan
kebaikan itu pada kelanjutan ayat: "Menyuruh kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar." (QS. Ali Imran: 110). Demikian
juga dalam mengklasifikasikan suatu umat ke dalam derajat yang
serendah-rendahnya, Allah menggunakan eksistensi amar ma'ruf nahi
munkar sebagai parameter utama. Allah Swt. berfirman: "Telah
dila'nati orang-orang kafir dari Bani Isra'il melalui lisan Daud dan Isa putera
Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu tidak melarang
tindakan munkar yang mereka perbuat." (QS. Al Maidah 78-79). Dari
sinipun sebenarnya sudah bisa dipahami sejauh mana tingkat urgensitas amar
ma'ruf nahi munkar.
Bila kandungan ayat-ayat amar
ma'ruf nahi munkar dicermati, -terutama ayat 104 dari QS.
Ali Imran- dapat diketahui bahwa lafadz amar ma'ruf dan nahi
munkar lebih didahulukan dari lafadz iman, padahal iman
adalah sumber dari segala rupa taat. Hal ini dikarenakan amar ma'ruf
nahi munkaradalah bentengnya iman, dan hanya dengannya iman akan
terpelihara. Di samping itu, keimanan adalah perbuatan individual yang akibat
langsungnya hanya kembali kepada diri si pelaku, sedangkanamar ma'ruf nahi
munkar adalah perbuatan yang berdimensi sosial yang dampaknya akan
mengenai seluruh masyarakat dan juga merupakan hak bagi seluruh masyarakat.
Hamka berpendapat bahwa pokok
dari amar ma'ruf adalah mentauhidkan Allah, Tuhan semesta
alam. Sedangkan pokok dari nahi munkar adalah mencegah syirik
kepada Allah. Implementasi amar ma'rufnahi munkar ini pada
dasarnya sejalan dengan pendapat khalayak yang dalam bahasa umumnya disebut
dengan public opinion, sebab al ma'ruf adalah
apa-apa yang disukai dan diingini oleh khalayak, sedang al munkar adalah
segala apa yang tidak diingini oleh khalayak. Namun kelalaian dalam ber-amar
ma'ruf telah memberikan kesempatan bagi timbulnya opini yang salah,
sehingga yang ma'ruf terlihat sebagai kemunkaran dan yang munkar tampak sebagai
hal yang ma'ruf.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsisnten dalam ber-amar ma'ruf nahi
munkar adalah sangat penting dan merupakan suatu keharusan, sebab jika
ditinggalkan oleh semua individu dalam sebuah masyarakat akan berakibat fatal
yang ujung-ujungnya berakhir dengan hancurnya sistem dan tatanan masyarakat itu
sendiri.
Suatu kaum yang senantiasa berpegang
teguh pada prinsip ber-amar ma'ruf nahi munkar akan
mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Swt. yang antara lain berupa:
- Ditinggikan
derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS. Ali Imran: 110).
- Terhindar
dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir'aun beserta orang-orang
yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya.
- Mendapatkan
pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi Saw.:"Barangsiapa
yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan
pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi
pahala mereka sedikitpun".
- Terhindar
dari laknat Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani Isra'il karena
keengganan mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS. Al-Maidah: 78-79).
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Agama RI, al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. Semarang: Karya Toha Putra. 1995.
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=5 diakses pada Rabu, 1 Mei 2013.
[1] Departemen Agama RI, al-Qur’an
Al-Karim dan Terjemahannya (Semarang:
Karya Toha Putra, 1995), hlm. 174.
[2]http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=5 diakses pada Rabu, 1 Mei 2013.







tulisan arabnya kok gak kelihatan?
ReplyDelete