Thursday, 2 October 2014

KONSEP MANUSIA DI DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Falsafah pendidikan islam adalah aplikasi dari pandangan falsafah dan kaidah islam dalam bidang pengalaman manusia muslim yang disebut pendidikan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pendidikan islam bertujuan untuk menjadikan manusia menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.
Fitrah yang terlahir sejak terciptanya manusia merupakan modal dasar manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk hidup lainnya. Potensi yang berupa fitrah ini tidak akan berkembang jika tidak dibimbing dan dibina sedemikian rupa. Oleh karena itu, melalui mediasi pendidikanlah potensi yang sudah terlahir itu akan terbina dan akan berkembang.
Keberadaan manusia sebenarnya sudah tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an, berita mengenai manusia, proses penciptaan manusia sampai tatanan kehidupan manusia pun sudah diatur di dalam al-Qur’an. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa pendidikan islam merupakan cara yang paling sempurna dalam mengembangkan potensi fitrah yang sudah ada sejak jaman azali. Pendidikan islam akan memberikan bimbingan bagaimana menjadikan manusia beriman sekaligus sebagai khalifah yang bertanggung jawab.

B.     Rumusan Masalah
1.      Konsep Manusia
2.      Penciptaan Manusia
3.      Tujuan, Kedudukan, Tugas Manusia
4.      Potensi Manusia
5.      Implikasi Manusia Terhadap Pendidikan Islam



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Manusia
Manusia dalam bahasa inggris disebut man (asal kata dari bahasa Anglo-Saxon). Arti dasar dari kata ini tidak jelas tetapi pada dasarnya dapat dikaitkan dengan mens (bahasa latin) yang berarti “ada yang berpikir”. Demikian halnya arti kata anthropos (bahasa Yunani) tidak begitu jelas. Semula, kata anthropos berarti “seseorang yang melihat ke atas”. Sekarang kata ini dipakai untuk mengartikan “wajah manusia”. Akhirnya, kata homo dalam bahasa Latin memiliki arti “orang yang dilahirkan di atas bumi”
Alexis Carrel (peletak dasar ilmu hmaniora di Barat) sebagaimana dikutip dalam Abudin Nata, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang misterius. Karena, derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatiannya yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di luar dirinya.[1]
Dalam hakikat manusia, ada empat aliran yang sering dikemukakan, yaitu:
1.      Aliran Serba Zat
Aliran ini mengatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Zat atau materi itulah hakikat segala sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi, dan manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu hakikat dari manusia itu adalah zat atau materi. Manusia sebagai makhluk materi, maka pertumbuhannya berproses dari materi juga. Sel telur dari sang ibu bergabubg dengan sperma dari sang ayah, tumbuh menjadi janin, yang akhirnya ke dunia sebagai manusia. Adapun apa yang disebut sebagai ruh atau jiwa pikiran, perasaan tanggapan, kemauan, kesadaran, ingatan, khayalan, asosiasi, penghayatan dan sebagainya) dari zat atau materi yaitu sel-sel tubuh. Oleh karena itu, manusia sebagai materi, maka keperluan-keperluannya juga bersifat materi, ia mendapatkan kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya juga dari materi maka terbentuklah suatu sikap pandangan yang materialistis.
2.      Aliran Serba Ruh
Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu di dalam dunia ini adalah “ruh”. Juga hakikat manusia adalah “ruh”. Adapun zat itu adalah manifestasi ruh di atas dunia ini. Ruh adalah sesuatu yang tidak menempati ruang, sehingga tidak dapat disentuh atau dilihat oleh panca indra. Jadi berlawanan dengan zat  yang menempati ruang betapapun kecilnya zat itu. Dasar pikiran dari aliran ini ialah bahwa ruh itu lebih berharga, lebih tinggi nilainya dari pada materi. Hal ini dapat kita buktikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Misalya seorang pria atau wanita yang kita cintai, kita tak mau pisah dengannya. Tetapi kalau ruh dari wanita atau pria yang kita cintai tadi tidak ada pada badannya, berarti dia meninggal dunia, maka mau tak mau kita harus melepaskan dia untuk dikuburkan. Kecantikan, kejelitaan, kemolekan, kebagusan yang dimiliki oleh wanita atau pria tadi tidak ada artinya tanpa ruh.
3.      Aliran Dualisme
Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan rohani, badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi  badan tidak berasal dari ruh juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan.[2]
4.      Aliran Eksistensialisme
Aliran ini merupakan aliran filsafat modern yang memandang hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi inti hakikat manusia  adalah apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Manusia tidak dipandang dari sudut serba zat atau serba ruh atau dualisme dari dua aliran itu, tetapi memandangnya dari segi eksistensi manusia itu sendiri di dunia ini.[3]
Al-Qur’an memperkenalkan istilah-istilah yang digunakan untuk menunjukkan pengertian manusia, yaitu:
1.      Kata al-Nas disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali yang tersebar dalam 53 surat sebagai nama jenis untuk keturunan  Adam, yaitu spesies di alam semesta. Kata al-Nas menunjukkan pada hakekat manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan, baik beriman maupun kafir. Kata al-Nas digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan labil. Meskipun manusia diberikan berbagai potensi untuk mengenal Tuhan-Nya, namun hanya sebagian manusia saja yang mengikuti ajaran Tuhan. Sedangkan sebagian manusia tidak mempergunakannya, bahkan sebagian manusia justru menentang kekuasaan Tuhan.[4] Dengan demikian, manusia dapat dikatakan berdimensi ganda, yaitu sebagai makhluk yang mulia dan tercela.
2.      Kata al-Insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali yang  disebut dalam 43 surat. Kata al-Insan dapat menunjukkan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan Adam maupun proses manusia yang bertahap secara dinamis dan sempurna di dalam rahim. Kata al-Insan tidak hanya menunjuk pada dimensi mental tetapi juga dimensi fisik.[5] Jika itu ditinju lebih jauh dan dianalisis secara mendalam, maka penggunaan kata al-Insan mengandung dua dimensi yaitu dimensi tubuh (dengan berbagai unsurnya) dan dimensi spiritual (ditiupkan roh-Nya kepada manusia).
3.      Kata al-Ins serumpun dengan kata al-Insan dihubungkan dengan kemampuan manusia untuk menembus ruang angkasa,[6] dan dalam hubungannya dengan tantangan untuk membuat serupa al-Qur’an.[7]
4.      Akar kata lainnya adalah al-Unasi. Kata ini dalam al-Qur’an digunakan untuk menjelaskan pengetahuan manusia tentang air minumnya.[8]
5.      Kata al-Basyar yang semakna dengan Basyarah bermakna permukaan kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Pemakaian kata Basyar dalam al-Qur’an seluruhnya memberi pengertian bahwa yang dimaksud dengan kata tersebut adalah anak Adam yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasr persamaan. Dengan demikian kata Basyar selalu mengacu kepada manusia dari aspek biologis seperti mempunyai bentuk tubuh, makan dan minum, kebutuhan seks, mengalami penuaan dan mati. Kata Basyar ditunjukkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Hal ini mengisyaratkan bahwa nabi dan rasul pun memiliki dimensi al-Basyar.[9]
6.      Kata Bani Adam digunakan karena manusia merupakan keturunan Nabi Adam as. Manusia dan nabi pertama yang diciptakan Allah swt, Adam as dijuluki sebagai Abu Basyar (nenek moyang manusia). Menurut Thabathaba’i sebagaimana dikutip oleh Ramayulis, penggunaan kata Bani Adam menunnjukkan pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini, setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai ketentuan Allah, diantaranya berpakaian guna menutup aurat. Kedua, mengingatkan keturunan Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu syeitan yang mengajak pada keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan mentauhidkan-Nya.



B.     Penciptaan Manusia
Al-Qur’an menggambarkan manusia diciptakan dari diri yang satu, Adam as. Lalu Allah menciptakan permpuan, yaitu Hawa, dan dari keduanya berkembang biaklah manusia.[10] Selanjutnya al-Qur’an juga menginformasikan bahwa ada dua macam proses penciptaan manusia yaitu penciptaan manusia secara primordial, yaitu berkaitan dengan penciptaan manusia pertama, yakni Adam a.s.,[11] dan proses penciptaan seluruh manusia sebagai generasi Adam as.[12]
Allah berfirman:
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ
Artinya: “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(Q. S. Al-Mu’minun: 12-14)
Musa Asy’arie menyebutkan ada empat tahap proses penciptaan manusia. Pertama, tahap jasad. Permulaan penciptaan manusia adalah dari tanah (turab),[13] yaitu tanah berdebu. Al-Qur’an menyebut tanah ini terkadang dengan istilah thin[14]dan tsalsal[15]. Namun yang pasti, yang dimaksud dengan tanah ini adalah sari patinya atau sulalah.[16]
Kedua, tahap hayat. Awal mula kehidupan manusia adalah air, sebagaimana kehidupan tumbuhan dan binatang[17]. Maksud air kehidupan di sini adalah air sperma[18]. Sperma inilah yang merupakan awal mula kehidupan seorang manusia.
Ketiga, tahap ruh. Ruh di sini adalah sesuatu yang ditiupkan Tuhan dalam diri manusia dan kemudian menjadi bagian dari diri manusia. Pada saat yang sama, Tuhan juga menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan, dan hati.[19] Adanya proses peniupan ruh yang ditiupkan Tuhan dalam diri manusia dan kemudia diiringi dengan pemberian pendengaran, penglihatan dan hati ini merupakan bukti bahwa yang menjadi pimpinan dalam diri manusia adalah ruh.
Keempat, tahap nafs. Kata nafs dalam al-Qur’an mempunyai empat pengertian, yaitu nafsu, nafas, jiwa dan diri (keakuan). Dari keempat pengertian ini, al-Qur’an lebih sering menggunakan kata nafs untuk pengertian diri. Diri atau keakuan adalah kesatuan dinamis dari jasad, hayat dan ruh. Dinamikanya terletak pada aksi atau kegiatannya. Kesatuannya bersifat spiritual yang tercermin dalam aktivitas kehidupan manusia.[20]

C.    Tujuan, Kedudukan dan Tugas Manusia
1.      Tujuan Penciptaan Manusia
Allah berfirman:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(Q. S. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat di atas menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah. Ibadah di sini tidaklah dipahami dalam pengertian yang sempit, tetapi dalam pengertiannya yang luas. Seluruh aktivitas manusia dalam kehidupan ini adalah ibadah, manakala aktivitas tersebut ditujukan semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah Swt.[21]
2.      Kedudukan Manusia Di Muka Bumi
·         Menjadi Khalifah
Islam menempatkan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah. Kata khalifah bermakna sebagai pemimpin yang hakikatnya sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan titah-Nya di muka bumi ini.[22]  Selain itu makna khalifah juga dapat dimaknai sebagai pemimpin yang diberi tugas untuk memimpin diri sendiri dan makhluk lainnya. Kepemimpinan yang harus dilaksanakan manusia sebagai khalifah adalah untuk menjaga, merawat, memelihara, mendayagunakan serta memakmurkan alam semesta guna kepentingan manusia secara keseluruhan.[23]
Tujuan manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam terlahir kedunia ini tidak lain adalah untuk menjadi pemimpin atau khalifah, hal ini telah ditegaskan dalam Firman allah dalam surat Hud ayat 61:
* 4n<Î)ur yŠqßJrO öNèd%s{r& $[sÎ=»|¹ 4 tA$s% ÉQöqs)»tƒ (#rßç6ôã$# ©!$# $tB /ä3s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ¼çnçŽöxî ( uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚöF{$# óOä.tyJ÷ètGó$#ur $pkŽÏù çnrãÏÿøótFó$$sù ¢OèO (#þqç/qè? Ïmøs9Î) 4 ¨bÎ) În1u Ò=ƒÌs% Ò=ÅgC ÇÏÊÈ
Artinya: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[24], Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.
Dari keterangan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Allah swt telah memberikan mandat kepada manusia untuk menjadi penguasa yang mengatur tatanan bumi dan segala isinya. Inilah kekuasaan yang bersifat umum yang diberikan Allah kepada manusia sebagai khalifah yakni untuk memakmurkan kehidupan di bumi.[25]
·         Mengabdi Kepada Allah
Dalam Al-quran telah ditegaskan bahwa manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada sang khaliq yaitu Allah swt. Hal ini sebagaimana firman Allah:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Q. S Adz-Dzariyat: 56)
Dari keterangan ayat diatas menyatakan bahwa apa yang harus dilakukan manusia ketika terlahir kepermukaan bumi ini adalah hanya untuk mengabdi kepada allah. Dalam konteks ibadah dapat dimaknai bahwa segala aktifitas yang dilakukan manusia dalam keseharianya harus disandarkan dengan tujuan ibadah. Segala bentuk pengabdian harus disertai dengan niat dan tujuan hanya karena allah.
Makna ibadah tidak saja dapat diartikan dalam bentuk ritual keagamaan yang bersifat wajib saja, namun secara mendalam, konteks ibadah merupakan bentuk perlakuan dan perbuatan manusia yang disandarkan dengan niat dan tujuan hanya untuk mengabdi kepada allah semata.
3.      Tugas Manusia
Sebagai Khalifah di muka bumi, maka tugas manusia adalah memakmurkan kehidupan di muka bumi.[26]

D.    Potensi Manusia
1.      Fitrah (sifat alamiah):
a.       Fitrah agama. Manusia sejak dilahirkan memiliki naluri beragama, yang mengakui adanya zat Maha Pencipta yaitu Allah Swt.
b.      Fitrah intelek adalh potensi manusia untuk memperoleh pengetahuan untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.
c.       Fitrah sosial adalah kecendruangan manusia untuk hidup bermasyarakat.
d.      Fitrah susila adalah kemampuan manusia untuk mempertahankan diri dari sifat-sifat amoral.
e.       Fitrah ekonomi adalah fitrah manusia untuk mempertahankan hidup.
f.       Fitrah seni adalah kemampuan manusia untuk menimbulkan daya estetika dalam pendidikan.
g.      Fitrah kemajuan, keadilan, kemerdekaan, kesamaan, ingin dihormati, menikah, cinta tanah air, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya.
2.      Struktur Manusia
Struktur adalah suatu organisasi permanen, pola atau kumpulan unsur-unsur yang bersifat relatif stabil, menetap dan abadi. Struktur tersebut meliputi jasmani, rohani, nafsani, kalbu, akal, dan hawa nafsu. Struktur ini terbentuk dalam diri manusia sebagai potensi yang diberikan Allah Swt untuk dikembangkan sebagai khalifah fi al-ardh.
3.      Al-Hayah (Vitality), adalah daya, tenaga, energi atau vitalitas hidup manusia untuk dapat bertahan hidup.
4.      Al-Khuluq (Karakter), adalah watak, perangai, sifat dasar yang khas atau suatu sifat kualitas yang tetap terus-menerus dan kekal sehingga bisa dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seseorang.
5.      Al-Sajiah (Keahlian/bakat), yaitu kapasitas atau kemampuan yang bersifat potensial, sejak awal kehidupannya.
6.      Al-amal (Peilaku), adalah tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam perbuatan nyata.

E.     Implikasi Konsep Manusia Terhadap Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan gejala dan kebutuhan manusia. Dalam artian bahwa bilamana anak tidak mendapatkan pendidikan, maka mereka tidak akan menjadi manusia sesungguhnya dan tidak akan dapat memenuhi fungsinya sebagai manusia yang berguna dalam hidup dan kehidupannya. Hanya pendidikanlah yang dapat memnusiakan dan membudayakan manusia.[27]
Untuk mengembangkan potensi/kemampuan dasar, maka manusia membutuhkan adanya bantuan dari orang lain untuk membimbing, mendorong, dan mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat bertumbuh dan berkembang secara wajar dan secara optimal, sehingga kehidupannya kelak dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dengan begitu mereka akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Para ahli sependapat bahwa teoti dan praktek kependidikan haruslah berdasarkan konsepsi dasar tentang manusia. Berdasarkan beberapa uraian di atas, ada beberapa implikasi urgen dalam hubungannya dengan pendidikan islam, yaitu:
1.      Konsep fitrah dalam Islam mengharuskan pendidikan Islam bertujuan menguatkan hubungan antara manusia dan Allah, sehingga kurikulum pendidikan haruslah menggiring manusia kepada ketauhidan.
2.      Sebagai makhluk “historis”, wakil Allah (khalifah) di bumi dan sebagai hamba (;abid) Allah, maka manusia dibekali dengan berbagai potensi. Dalam konteks ini, pendidikan Islam haruslah berupaya mengembangkan segala potensi yang dimiliki manusia secara maksimal. Pengembangan potensi ini tentunya diharapkan dapat teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam posisi sebagai khalifah maupun sebagai hamba Allah.
3.      Manusia adalah makhluk yang terdiri dari unsur materi dan non materi. Maka konsep ini menghendaki konsep pembinaan manusia meliputi pengembangan terhadap kedua unsur tersebut. Ini berarti bahwa sistem pendidikan Islam haruslah dibangun berdasarkan konsep integrasi antara pendidikan jasmaniyah, aqliyah dan qalbiyah sehingga akan terbina manusia muslim yang sehat fisiknya, cerdas intelektualnya dan suci hatinya. Konsep inilah yang mampu mewujudkan pribadi-pribadi yang sempurna (insan kamil).[28]



















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan yang mendasar bahwa tujuan akhir dari Esensi Manusia dalam pendidikan Islam adalah untuk menciptakan manusia muslim yang paripurna dalam konsep al-insan al-kamil, yaitu manusia yang selalu istiqomah dan kontinium terampil dalam memfungsikan daya jasmani dan ruhani mereka untuk selalu tunduk dan patuh kepada Allah swt. Pendidikan yang mengabaikan tujuan, fungsi dan tugas penciptaan manusia dari konsep pendidikan islam adalah satu bentuk konkrit jauhnya praktik pendidikan yang sesungguhnya.

B.     Saran
Mahasiswa adalah kalangan terpelajar dan intelektual, maka sudah seharusnya manusia sebagai agen of change memberikna contoh bagaimana menjadi manusia muslim yang mengoptimalkan potensi-potensi yang diberikan oleh Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad  Mustafa. Tafsir al-Maraghi, Juz 1. Bairut, Libanon: Dar al-Fikr. 1971.
Arifin, Muzayyin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1994.
Basyir, Ahmad Azhar. Refleksi Atas Persoalan Keislaman. Bandung: Mizan. 1994.
Zainuddin dan Mohd. Nasir. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis. 2010.
Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara dan Dirjen Binbag Islam. 1992.

[1] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2010), h. 26.
[2] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1994),  h. 71-73.
[3] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam,  h. 27
[4] Q. S al-Baqarah/2: 8, 13, 44, 83.
[5] Q. S an-Nahl/16:78; Q. S al-Mu’minun/23: 12-14.
[6] Q. S. ar-Rahman/55: 33.
[7] Q. S. al-Isra/17: 88.
[8] Q. S. al-a’raf/7: 160.
[9] Q. S. al-Kahfi/18: 10.
[10] Q. S. an-Nisa/4: 1.
[11] Q. S. al-Baqarah/2: 30; Q. S. al-Hijr/15: 28; Q. S. Shad/38: 71.
[12] Q. S. Yaasin/36:77; Q. S. AL-Insan/76:2; Q. S. al-Mu’minun/23: 12-14.
[13] Q. S. al-Hajj/22:5.
[14] Q. S. al-an’am/6:2
[15] Q.S. ar-Rahman/55:14.
[16] Q. S. al-Mu’minun/23:12.
[17] Q.S. al-Anbiya/21:30.
[18] Q. S. al-Sajadah/32:8
[19] Q. S. al-Sajadah/32:9.
[20] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 28-33.
[21] Q. S. al-An’am/6: 162.
[22] Ahmad  Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz 1 (Bairut, Libanon: Dar al-Fikr, 1971.
[23] Ibid.
[24] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
[25] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas Persoalan Keislaman, (Bandung: Mizan, 1994), h. 48.
[26]   Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 34.
[27] Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam  (Jakarta: Bumi Aksara dan Dirjen Binbag Islam, 1992), h. 92-95.
[28] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam,  h. 28-33.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com