BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Falsafah
pendidikan islam adalah aplikasi dari pandangan falsafah dan kaidah islam dalam
bidang pengalaman manusia muslim yang disebut pendidikan. Sebagaimana yang kita
ketahui bahwa pendidikan islam bertujuan untuk menjadikan manusia menjadi
pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.
Fitrah
yang terlahir sejak terciptanya manusia merupakan modal dasar manusia sebagai
makhluk yang paling sempurna diantara makhluk hidup lainnya. Potensi yang
berupa fitrah ini tidak akan berkembang jika tidak dibimbing dan dibina sedemikian
rupa. Oleh karena itu, melalui mediasi pendidikanlah potensi yang sudah
terlahir itu akan terbina dan akan berkembang.
Keberadaan
manusia sebenarnya sudah tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an, berita mengenai
manusia, proses penciptaan manusia sampai tatanan kehidupan manusia pun sudah
diatur di dalam al-Qur’an. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa pendidikan
islam merupakan cara yang paling sempurna dalam mengembangkan potensi fitrah yang
sudah ada sejak jaman azali. Pendidikan islam akan memberikan bimbingan
bagaimana menjadikan manusia beriman sekaligus sebagai khalifah yang
bertanggung jawab.
B.
Rumusan Masalah
1.
Konsep
Manusia
2.
Penciptaan
Manusia
3.
Tujuan,
Kedudukan, Tugas Manusia
4.
Potensi
Manusia
5.
Implikasi
Manusia Terhadap Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Manusia
Manusia dalam bahasa inggris disebut man (asal
kata dari bahasa Anglo-Saxon). Arti dasar dari kata ini tidak jelas tetapi pada
dasarnya dapat dikaitkan dengan mens (bahasa latin) yang berarti “ada
yang berpikir”. Demikian halnya arti kata anthropos (bahasa Yunani)
tidak begitu jelas. Semula, kata anthropos berarti “seseorang yang
melihat ke atas”. Sekarang kata ini dipakai untuk mengartikan “wajah manusia”.
Akhirnya, kata homo dalam bahasa Latin memiliki arti “orang yang
dilahirkan di atas bumi”
Alexis Carrel (peletak dasar ilmu hmaniora di Barat)
sebagaimana dikutip dalam Abudin Nata, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk
yang misterius. Karena, derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding
terbalik dengan perhatiannya yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di
luar dirinya.[1]
Dalam hakikat manusia, ada empat aliran yang sering
dikemukakan, yaitu:
1.
Aliran
Serba Zat
Aliran
ini mengatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Zat
atau materi itulah hakikat segala sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi, dan
manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu hakikat dari manusia itu adalah
zat atau materi. Manusia sebagai makhluk materi, maka pertumbuhannya berproses
dari materi juga. Sel telur dari sang ibu bergabubg dengan sperma dari sang
ayah, tumbuh menjadi janin, yang akhirnya ke dunia sebagai manusia. Adapun apa
yang disebut sebagai ruh atau jiwa pikiran, perasaan tanggapan, kemauan,
kesadaran, ingatan, khayalan, asosiasi, penghayatan dan sebagainya) dari zat
atau materi yaitu sel-sel tubuh. Oleh karena itu, manusia sebagai materi, maka
keperluan-keperluannya juga bersifat materi, ia mendapatkan kebahagiaan,
kesenangan dan sebagainya juga dari materi maka terbentuklah suatu sikap
pandangan yang materialistis.
2.
Aliran
Serba Ruh
Aliran
ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu di dalam dunia ini adalah “ruh”.
Juga hakikat manusia adalah “ruh”. Adapun zat itu adalah manifestasi ruh di
atas dunia ini. Ruh adalah sesuatu yang tidak menempati ruang, sehingga tidak
dapat disentuh atau dilihat oleh panca indra. Jadi berlawanan dengan zat yang menempati ruang betapapun kecilnya zat itu. Dasar pikiran dari aliran ini
ialah bahwa ruh itu lebih berharga, lebih tinggi nilainya dari pada materi. Hal
ini dapat kita buktikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Misalya seorang
pria atau wanita yang kita cintai, kita tak mau pisah dengannya. Tetapi kalau
ruh dari wanita atau pria yang kita cintai tadi tidak ada pada badannya,
berarti dia meninggal dunia, maka mau tak mau kita harus melepaskan dia untuk
dikuburkan. Kecantikan, kejelitaan, kemolekan, kebagusan yang dimiliki oleh
wanita atau pria tadi tidak ada artinya tanpa ruh.
3.
Aliran
Dualisme
Aliran
ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi
yaitu jasmani dan rohani, badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing
merupakan unsur asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh juga sebaliknya
ruh tidak berasal dari badan.[2]
4.
Aliran
Eksistensialisme
Aliran
ini merupakan aliran filsafat modern yang memandang hakikat manusia merupakan
eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi inti hakikat
manusia adalah apa yang menguasai
manusia secara menyeluruh. Manusia tidak dipandang dari sudut serba zat atau
serba ruh atau dualisme dari dua aliran itu, tetapi memandangnya dari segi
eksistensi manusia itu sendiri di dunia ini.[3]
Al-Qur’an memperkenalkan istilah-istilah yang digunakan
untuk menunjukkan pengertian manusia, yaitu:
1.
Kata
al-Nas disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali yang tersebar dalam
53 surat sebagai nama jenis untuk keturunan
Adam, yaitu spesies di alam semesta. Kata al-Nas menunjukkan pada
hakekat manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan, baik beriman maupun
kafir. Kata al-Nas digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa
karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan labil. Meskipun manusia
diberikan berbagai potensi untuk mengenal Tuhan-Nya, namun hanya sebagian
manusia saja yang mengikuti ajaran Tuhan. Sedangkan sebagian manusia tidak
mempergunakannya, bahkan sebagian manusia justru menentang kekuasaan Tuhan.[4]
Dengan demikian, manusia dapat dikatakan berdimensi ganda, yaitu sebagai
makhluk yang mulia dan tercela.
2.
Kata
al-Insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali yang disebut dalam 43 surat. Kata al-Insan
dapat menunjukkan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan Adam
maupun proses manusia yang bertahap secara dinamis dan sempurna di dalam rahim.
Kata al-Insan tidak hanya menunjuk pada dimensi mental tetapi juga dimensi
fisik.[5]
Jika itu ditinju lebih jauh dan dianalisis secara mendalam, maka penggunaan
kata al-Insan mengandung dua dimensi yaitu dimensi tubuh (dengan
berbagai unsurnya) dan dimensi spiritual (ditiupkan roh-Nya kepada manusia).
3.
Kata
al-Ins serumpun dengan kata al-Insan dihubungkan dengan kemampuan
manusia untuk menembus ruang angkasa,[6]
dan dalam hubungannya dengan tantangan untuk membuat serupa al-Qur’an.[7]
4.
Akar
kata lainnya adalah al-Unasi. Kata ini dalam al-Qur’an digunakan untuk
menjelaskan pengetahuan manusia tentang air minumnya.[8]
5.
Kata
al-Basyar yang semakna dengan Basyarah bermakna permukaan kulit
kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Pemakaian kata Basyar
dalam al-Qur’an seluruhnya memberi pengertian bahwa yang dimaksud dengan kata
tersebut adalah anak Adam yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan di
dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasr persamaan. Dengan demikian kata
Basyar selalu mengacu kepada manusia dari aspek biologis seperti
mempunyai bentuk tubuh, makan dan minum, kebutuhan seks, mengalami penuaan dan
mati. Kata Basyar ditunjukkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
Hal ini mengisyaratkan bahwa nabi dan rasul pun memiliki dimensi al-Basyar.[9]
6.
Kata
Bani Adam digunakan karena manusia merupakan keturunan Nabi Adam as.
Manusia dan nabi pertama yang diciptakan Allah swt, Adam as dijuluki sebagai Abu
Basyar (nenek moyang manusia). Menurut Thabathaba’i sebagaimana dikutip
oleh Ramayulis, penggunaan kata Bani Adam menunnjukkan pada arti manusia
secara umum. Dalam hal ini, setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu pertama,
anjuran untuk berbudaya sesuai ketentuan Allah, diantaranya berpakaian guna
menutup aurat. Kedua, mengingatkan keturunan Adam agar jangan terjerumus
pada bujuk rayu syeitan yang mengajak pada keingkaran. Ketiga,
memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan
mentauhidkan-Nya.
B.
Penciptaan
Manusia
Al-Qur’an menggambarkan manusia diciptakan dari diri
yang satu, Adam as. Lalu Allah menciptakan permpuan, yaitu Hawa, dan dari
keduanya berkembang biaklah manusia.[10]
Selanjutnya al-Qur’an juga menginformasikan bahwa ada dua macam proses
penciptaan manusia yaitu penciptaan manusia secara primordial, yaitu berkaitan
dengan penciptaan manusia pertama, yakni Adam a.s.,[11]
dan proses penciptaan seluruh manusia sebagai generasi Adam as.[12]
Allah berfirman:
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sø:$# ÇÊÍÈ
Artinya: “Dan
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging.
Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah
Allah, Pencipta yang paling baik.”(Q. S. Al-Mu’minun: 12-14)
Musa Asy’arie menyebutkan ada empat tahap proses
penciptaan manusia. Pertama, tahap jasad. Permulaan penciptaan
manusia adalah dari tanah (turab),[13]
yaitu tanah berdebu. Al-Qur’an menyebut tanah ini terkadang dengan istilah thin[14]dan
tsalsal[15].
Namun yang pasti, yang dimaksud dengan tanah ini adalah sari patinya atau sulalah.[16]
Kedua, tahap hayat. Awal mula kehidupan manusia adalah air,
sebagaimana kehidupan tumbuhan dan binatang[17].
Maksud air kehidupan di sini adalah air sperma[18].
Sperma inilah yang merupakan awal mula kehidupan seorang manusia.
Ketiga, tahap ruh. Ruh di sini adalah sesuatu yang ditiupkan
Tuhan dalam diri manusia dan kemudian menjadi bagian dari diri manusia. Pada
saat yang sama, Tuhan juga menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan,
dan hati.[19]
Adanya proses peniupan ruh yang ditiupkan Tuhan dalam diri manusia dan kemudia
diiringi dengan pemberian pendengaran, penglihatan dan hati ini merupakan bukti
bahwa yang menjadi pimpinan dalam diri manusia adalah ruh.
Keempat, tahap nafs. Kata nafs dalam al-Qur’an mempunyai
empat pengertian, yaitu nafsu, nafas, jiwa dan diri (keakuan). Dari keempat
pengertian ini, al-Qur’an lebih sering menggunakan kata nafs untuk
pengertian diri. Diri atau keakuan adalah kesatuan dinamis dari jasad, hayat
dan ruh. Dinamikanya terletak pada aksi atau kegiatannya. Kesatuannya
bersifat spiritual yang tercermin dalam aktivitas kehidupan manusia.[20]
C.
Tujuan,
Kedudukan dan Tugas Manusia
1.
Tujuan
Penciptaan Manusia
Allah
berfirman:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(Q. S. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat di atas menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia di muka
bumi ini adalah untuk beribadah. Ibadah di sini tidaklah dipahami dalam
pengertian yang sempit, tetapi dalam pengertiannya yang luas. Seluruh aktivitas
manusia dalam kehidupan ini adalah ibadah, manakala aktivitas tersebut
ditujukan semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah Swt.[21]
2.
Kedudukan
Manusia Di Muka Bumi
·
Menjadi
Khalifah
Islam menempatkan manusia di muka bumi ini sebagai
khalifah. Kata khalifah bermakna sebagai pemimpin yang hakikatnya sebagai
pengganti Allah untuk melaksanakan titah-Nya di muka bumi ini.[22]
Selain itu makna khalifah juga dapat
dimaknai sebagai pemimpin yang diberi tugas untuk memimpin diri sendiri dan
makhluk lainnya. Kepemimpinan yang harus dilaksanakan manusia sebagai khalifah
adalah untuk menjaga, merawat, memelihara, mendayagunakan serta memakmurkan
alam semesta guna kepentingan manusia secara keseluruhan.[23]
Tujuan manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam
terlahir kedunia ini tidak lain adalah untuk menjadi pemimpin atau khalifah,
hal ini telah ditegaskan dalam Firman allah dalam surat Hud ayat 61:
* 4n<Î)ur yqßJrO öNèd%s{r& $[sÎ=»|¹ 4 tA$s% ÉQöqs)»t (#rßç6ôã$# ©!$# $tB /ä3s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ¼çnçöxî ( uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚöF{$# óOä.tyJ÷ètGó$#ur $pkÏù çnrãÏÿøótFó$$sù ¢OèO (#þqç/qè? Ïmøs9Î) 4 ¨bÎ) În1u Ò=Ìs% Ò=ÅgC ÇÏÊÈ
Artinya: “Dan
kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia
Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[24],
Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya
Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.
Dari keterangan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa
Allah swt telah memberikan mandat kepada manusia untuk menjadi penguasa yang
mengatur tatanan bumi dan segala isinya. Inilah kekuasaan yang bersifat umum
yang diberikan Allah kepada manusia sebagai khalifah yakni untuk memakmurkan
kehidupan di bumi.[25]
·
Mengabdi
Kepada Allah
Dalam Al-quran telah ditegaskan bahwa manusia
diciptakan hanya untuk mengabdi kepada sang khaliq yaitu Allah swt. Hal ini
sebagaimana firman Allah:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
“Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Q. S Adz-Dzariyat: 56)
Dari keterangan ayat diatas menyatakan bahwa apa yang
harus dilakukan manusia ketika terlahir kepermukaan bumi ini adalah hanya untuk
mengabdi kepada allah. Dalam konteks ibadah dapat dimaknai bahwa segala
aktifitas yang dilakukan manusia dalam keseharianya harus disandarkan dengan
tujuan ibadah. Segala bentuk pengabdian harus disertai dengan niat dan tujuan
hanya karena allah.
Makna ibadah tidak saja dapat diartikan dalam bentuk
ritual keagamaan yang bersifat wajib saja, namun secara mendalam, konteks
ibadah merupakan bentuk perlakuan dan perbuatan manusia yang disandarkan dengan
niat dan tujuan hanya untuk mengabdi kepada allah semata.
3.
Tugas
Manusia
Sebagai
Khalifah di muka bumi, maka tugas manusia adalah memakmurkan kehidupan di muka
bumi.[26]
D.
Potensi
Manusia
1.
Fitrah
(sifat alamiah):
a.
Fitrah
agama. Manusia sejak dilahirkan memiliki naluri beragama, yang mengakui adanya
zat Maha Pencipta yaitu Allah Swt.
b.
Fitrah
intelek adalh potensi manusia untuk memperoleh pengetahuan untuk dapat
membedakan antara yang baik dan yang buruk.
c.
Fitrah
sosial adalah kecendruangan manusia untuk hidup bermasyarakat.
d.
Fitrah
susila adalah kemampuan manusia untuk mempertahankan diri dari sifat-sifat
amoral.
e.
Fitrah
ekonomi adalah fitrah manusia untuk mempertahankan hidup.
f.
Fitrah
seni adalah kemampuan manusia untuk menimbulkan daya estetika dalam pendidikan.
g.
Fitrah
kemajuan, keadilan, kemerdekaan, kesamaan, ingin dihormati, menikah, cinta
tanah air, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya.
2.
Struktur
Manusia
Struktur
adalah suatu organisasi permanen, pola atau kumpulan unsur-unsur yang bersifat
relatif stabil, menetap dan abadi. Struktur tersebut meliputi jasmani, rohani,
nafsani, kalbu, akal, dan hawa nafsu. Struktur ini terbentuk dalam diri manusia
sebagai potensi yang diberikan Allah Swt untuk dikembangkan sebagai khalifah
fi al-ardh.
3.
Al-Hayah
(Vitality), adalah daya, tenaga,
energi atau vitalitas hidup manusia untuk dapat bertahan hidup.
4.
Al-Khuluq
(Karakter), adalah watak,
perangai, sifat dasar yang khas atau suatu sifat kualitas yang tetap
terus-menerus dan kekal sehingga bisa dijadikan ciri untuk mengidentifikasi
seseorang.
5.
Al-Sajiah
(Keahlian/bakat),
yaitu kapasitas atau kemampuan yang bersifat potensial, sejak awal
kehidupannya.
6.
Al-amal
(Peilaku), adalah tingkah laku
lahiriah individu yang tergambar dalam perbuatan nyata.
E.
Implikasi
Konsep Manusia Terhadap Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan gejala dan kebutuhan manusia. Dalam artian
bahwa bilamana anak tidak mendapatkan pendidikan, maka mereka tidak akan
menjadi manusia sesungguhnya dan tidak akan dapat memenuhi fungsinya sebagai
manusia yang berguna dalam hidup dan kehidupannya. Hanya pendidikanlah yang
dapat memnusiakan dan membudayakan manusia.[27]
Untuk mengembangkan potensi/kemampuan dasar, maka manusia
membutuhkan adanya bantuan dari orang lain untuk membimbing, mendorong, dan
mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat bertumbuh dan berkembang
secara wajar dan secara optimal, sehingga kehidupannya kelak dapat berdaya guna
dan berhasil guna. Dengan begitu mereka akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial.
Para ahli sependapat bahwa teoti dan praktek kependidikan haruslah
berdasarkan konsepsi dasar tentang manusia. Berdasarkan beberapa uraian di
atas, ada beberapa implikasi urgen dalam hubungannya dengan pendidikan islam,
yaitu:
1.
Konsep
fitrah dalam Islam mengharuskan pendidikan Islam bertujuan menguatkan hubungan
antara manusia dan Allah, sehingga kurikulum pendidikan haruslah menggiring
manusia kepada ketauhidan.
2.
Sebagai
makhluk “historis”, wakil Allah (khalifah) di bumi dan sebagai hamba
(;abid) Allah, maka manusia dibekali dengan berbagai potensi. Dalam konteks
ini, pendidikan Islam haruslah berupaya mengembangkan segala potensi yang
dimiliki manusia secara maksimal. Pengembangan potensi ini tentunya diharapkan
dapat teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam posisi sebagai
khalifah maupun sebagai hamba Allah.
3.
Manusia
adalah makhluk yang terdiri dari unsur materi dan non materi. Maka konsep ini
menghendaki konsep pembinaan manusia meliputi pengembangan terhadap kedua unsur
tersebut. Ini berarti bahwa sistem pendidikan Islam haruslah dibangun berdasarkan
konsep integrasi antara pendidikan jasmaniyah, aqliyah dan qalbiyah sehingga
akan terbina manusia muslim yang sehat fisiknya, cerdas intelektualnya dan suci
hatinya. Konsep inilah yang mampu mewujudkan pribadi-pribadi yang sempurna (insan
kamil).[28]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan yang
mendasar bahwa tujuan akhir dari Esensi Manusia dalam pendidikan Islam adalah
untuk menciptakan manusia muslim yang paripurna dalam konsep al-insan
al-kamil, yaitu manusia yang selalu istiqomah dan kontinium terampil dalam
memfungsikan daya jasmani dan ruhani mereka untuk selalu tunduk dan patuh
kepada Allah swt. Pendidikan yang mengabaikan tujuan, fungsi dan tugas
penciptaan manusia dari konsep pendidikan islam adalah satu bentuk konkrit
jauhnya praktik pendidikan yang sesungguhnya.
B.
Saran
Mahasiswa adalah kalangan terpelajar dan intelektual,
maka sudah seharusnya manusia sebagai agen of change memberikna contoh
bagaimana menjadi manusia muslim yang mengoptimalkan potensi-potensi yang
diberikan oleh Allah swt.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi,
Ahmad Mustafa. Tafsir al-Maraghi, Juz
1. Bairut, Libanon: Dar al-Fikr. 1971.
Arifin,
Muzayyin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1994.
Basyir,
Ahmad Azhar. Refleksi Atas Persoalan Keislaman. Bandung: Mizan. 1994.
Zainuddin dan Mohd. Nasir. Filsafat
Pendidikan Islam. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis. 2010.
Zuhairini, dkk., Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara dan Dirjen Binbag Islam. 1992.
[1] Zainuddin dan Mohd.
Nasir, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis,
2010), h. 26.
[2] Muzayyin
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 71-73.
[3] Zainuddin dan Mohd.
Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 27
[4] Q. S
al-Baqarah/2: 8, 13, 44, 83.
[5] Q. S
an-Nahl/16:78; Q. S al-Mu’minun/23: 12-14.
[6] Q. S.
ar-Rahman/55: 33.
[7] Q. S.
al-Isra/17: 88.
[8] Q. S.
al-a’raf/7: 160.
[9] Q. S.
al-Kahfi/18: 10.
[10] Q. S.
an-Nisa/4: 1.
[11] Q. S.
al-Baqarah/2: 30; Q. S. al-Hijr/15: 28; Q. S. Shad/38: 71.
[12] Q. S.
Yaasin/36:77; Q. S. AL-Insan/76:2; Q. S. al-Mu’minun/23: 12-14.
[13] Q. S.
al-Hajj/22:5.
[14] Q. S.
al-an’am/6:2
[15] Q.S.
ar-Rahman/55:14.
[16] Q. S.
al-Mu’minun/23:12.
[17] Q.S.
al-Anbiya/21:30.
[18] Q. S.
al-Sajadah/32:8
[19] Q. S.
al-Sajadah/32:9.
[20] Zainuddin dan Mohd.
Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 28-33.
[21] Q. S.
al-An’am/6: 162.
[22] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz
1 (Bairut, Libanon: Dar al-Fikr, 1971.
[23] Ibid.
[24] Maksudnya:
manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
[25] Ahmad Azhar
Basyir, Refleksi Atas Persoalan Keislaman, (Bandung: Mizan, 1994), h.
48.
[26] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat
Pendidikan Islam, h. 34.
[27] Zuhairini,
dkk., Filsafat Pendidikan Islam
(Jakarta: Bumi Aksara dan Dirjen Binbag Islam, 1992), h. 92-95.
[28] Zainuddin dan Mohd.
Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 28-33.







0 comments:
Post a Comment