BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang
disampaikan seseorang kepada orang lain agar bisa mengetahui apa yang menjadi
maksud dan tujuannya. Seperti yang dikatakan oleh Gorys Keraf dan
Abdul Chaer : Bahasa adalah suatu sistem lambing berupa bunyi,
bersifat abitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama,
berkomunikasi dan untuk mengidentifikasikan diri (1998:1).
Pentingnya bahasa sebagai identitas manusia, tidak
bisa dilepaskan dari adanya pengakuan manusia terhadap pemakaian bahasa dalam
kehidupan bermayarakat sehari-hari. Untuk menjalankan tugas kemanusiaan,
manusia hanya punya satu alat, yakni bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat
mengungkapkan apa yang ada di benak mereka. Sesuatu yang sudah dirasakan sama
dan serupa dengannya, belum tentu terasa serupa, karena belum terungkap dan
diungkapkan. Hanya dengan bahasa, manusia dapat membuat sesuatu terasa nyata
dan terungkap. Sering manusia lupa akan misteri dan kekuatan bahasa. Mereka lebih percaya padapengetahuan dan
pengalamannya. Padahal semua itu masih mentah dan belum nyata, bila tidak
dinyatakan dengan bahasa.
Era globalisasi dewasa ini mendorong perkembangan
bahasa secara pesat, terutama bahasa yang datang dari luar atau bahasa Inggris.
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan sebagai pengantar
dalam berkomunikasi antar bangsa. Dengan ditetapkannya Bahasa Inggris sebagai
bahasa internasional (Lingua Franca),
maka orang akan cenderung memilih untuk menguasai Bahasa Inggris agar mereka
tidak kalah dalam persaingan di kancah internasional sehingga tidak buta
akan informasi dunia. Pada saat ini, bahasa yang harus kita kuasai
adalah bahasa Inggris, karena bahasa Inggris merupakan bahasa internasional
yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam komunikasi antar negara.
Tak dipungkiri memang pentingnya mempelajari bahasa
asing, tapi alangkah jauh lebih baik bila kita tetap menjaga, melestarikan dan
membudayakan Bahasa Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui, bahsa adalah
merupakan idenditas suatu bangsa. Untuk memperdalam mengenai Bahasa Indonesia,
kita perlu mengetahui bagaimana perkembangannya sampai saat ini sehingga kita
tahu mengenai bahasa pemersatu dari berbagai suku dan adat-istiadat yang
beranekaragam yang ada di Indonesia, yang termasuk kita didalamnya. Maka dari
itu, melalui makalah ini
penulis ingin menyampaikan sejarah tentang perkembangan bahasa Indonesia.
B.
Rumusan Makalah
1. Bahasa
Melayu Sebagai Asal Mula Bahasa Indonesia
2. Bahasa
Melayu Menjadi Bahasa Indonesia
3. Peristiwa-Peristiwa
yang
Mempengaruhi Perkermbangan Bahasa Indonesia
4. Kedudukan dan Fungsi
Bahasa Indonesia
5. Upaya
Peningkatan dan
Pengembangan Bahasa Indonesia
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Bahasa
Melayu Sebagai Asal Mula Bahasa Indonesia
Telah dikemukakan pada beberapa kesempatan, mengapa
bahasa melayu dipilih menjadi bahasa nasional bagi negara Indonesia yang
merupakan suatu hal yang menggembirakan. Dibandingkan dengan bahasa lain yang
dapat dicalonkan menjadi bahasa nasional, yaitu bahasa jawa (yang menjadi
bahasa ibu bagisekitar setengah penduduk Indonesia), bahasa melayu merupakan
bahasa yang kurang berarti.
Di Indonesia, bahasa itu
diperkirakan dipakai hanya oleh penduduk kepulauan Riau, Linggau dan penduduk
pantai-pantai diseberang Sumatera. Namun justru karena pertimbangan itu
jualah pemilihan bahasa jawa akan selalu dirasakan sebagai
pengistimewaan yang berlebihan. Alasan kedua, mengapa bahasa melayu lebih
berterima dari pada bahasa jawa, tidak hanya secara fonetis dan morfologis
tetapi juga secara reksikal, seperti diketahui, bahasa jawa mempunyai
beribu-ribu morfen leksikal dan bahkan beberapa yang bersifat gramatikal.
Faktor yang paling penting adalah juga
kenyataannya bahwa bahasa melayu mempunyai sejara yang panjang sebagai ligua France. Dari sumber-sumber
China kuno dan kemudian juga dari sumber Persia dan Arab, kita ketahui
bahwa kerajaan Sriwijaya di sumatera Timur paling tidak sejak abad ke
-7 merupakan pusat internasional pembelajaran agama Budha serta sebuah negara
yang maju yang perdagangannya didasarkan pada perdagangan antara Cina, India
dan pulau-pulau di Asia Tenggara.
Bahas melayu mulai dipakai dikawasan Asia Tenggara
sejak Abad ke-7. bukti-bukti yang menyatakan itu adalah dengan ditemukannya
prasasti di kedukan bukit karangka tahun 683 M (palembang), talang tuwo
berangka tahun 684 M (palembang), kota kapur berangka tahun 686 M (bukit
barat), Karang Birahi berangka tahun 688 M (Jambi) prasasti-prasasti itu
bertuliskan huruf pranagari berbahasa melayu kuno. Bahasa melayu kuno itu hanya
dipakai pada zaman sriwijaya saja karena di jawa tengah (Banda Suli) juga
ditemuka prasasti berangka tahun 832 M dan dibogor ditemukan prasasti berangka
tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa melayu kuno.
Pada zaman
Sriwijaya, bahasa melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan , yaitu bahasa buku
pelajaran agama Budha. Bahasa melayu dipakai sebagai bahasa perhubungan antar
suku di Nusantara. Bahasa melayu dipakai sebagai bahasa perdagangan, baik
sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar
nusantara.
Informasi dari seorang ahli sejara China I-Tsing
yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain menyatakan bahwa di Sriwijay
ada bahasa yang bernama Koen Loen (I-Tsing : 63-159), Kou Luen (I-Tsing : 183),
K’ouen loven (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Ali Syahbana, 1971 : 0001089), Kun’lun
(parnikel, 1977 : 91), K’un-lun (prentice 1978 : 19), ayng berdampingan dengan
sanskerta. Yang dimaksud dengan Koen-Luen adalah bahasa perhubungan
(lingua france) dikepulauan nusantara, yaitu bahasa melau.
Perkembangan dan pertumbuhan bahasa melayu tampak
makin jelasa dari, peninggalan-peninggalan kerajaan islam, baik yang
berupa batu tertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujah, Aceh,
berangka tahun 1380 M, maupun hasil-hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17),
seperti syair Hamzah Fansuri, hikayat raja-raja
Pasai, sejarah melayu, Tajussalatin dan Bustanussalatin. Bahasa
melayu menyebar kepelosok nusantara bersama dengan menyebarnya agama islam
diwilayah nusantara bahasa melayu mudah diterima oleh masyarakat nusantara
sebagai bahasa perhubungan antara pulau, antara suku, antara pedagang, antar
bangsa, dan antar kerajaan karena bahasa melayu tidak mengenal tutur.
B.
Bahasa Melayu Menjadi Bahasa
Indonesia
Bahasa melayu dipakai dimana-mana diwilayah nusantara
serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa melayu
yang dipakai didaerah-daerah diwilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi
oleh corak budaya daerah. Bahasa melayu menyerap kosa kata dari berbagai
bahasa, terutama dari bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan
bahasa-bahasa Eropa.
Bahasa melayupun dalam perkembangannya muncul dalam
berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa melayu diwilayah nusantara
mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa
Indonesia. Komikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.
Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa
melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh
bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928.
Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia
harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.
Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa disamping
fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu
cirri cultural, yang kedalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan
perbedaan dengan bangsa lain.
C.
Peristiwa-Peristiwa yang
Mempengaruhi Perkermbangan Bahasa Indonesia
1.
Budi Otomo
Pada tahun 1908, Budi Utomo yang merupakan organisasi
yang bersifat kenasionalan yang pertama berdiri dan tempat terhidupnya kaum
terpelajar bangsa Indonesia, dengan sadar menuntut agar syarat-syarat untuk
masuk ke sekolah Belanda diperingan,. Pada kesempatan permulaan abad ke-20,
bangsa Indonesia asyik dimabuk tuntutan dan keinginan akan penguasaan bahasa
Belanda sebab bahasa Belanda merupakan syarat utam untuk melanjutkan pelajaran
menambang ilmu pengetahuan barat.
2.
Sarikat
Islam
Sarekat islam berdiri pada tahun 1912. mula-mula
partai ini hanya bergerak dibidang perdagangan, namun bergerak dibidang sosial
dan politik jga. Sejak berdirinya, sarekat islam yang bersifat non kooperatif
dengan pemerintah Belanda dibidang politik tidak perna mempergunakan bahasa
Belanda. Bahasa yang mereka pergunakan ialah bahasa Indonesia.
3.
Balai
Pustaka
Dipimpin oleh Dr. G.A.J. Hazue pada tahu 1908 balai
pustaku ini didirikan. Mulanya badan ini bernama Commissie Voor De
Volkslectuur, pada tahun 1917 namanya berubah menjadi balai pustaka. Selain
menerbitkan buku-buku, balai pustaka juga menerbitkan majalah.
Hasil yang diperoleh dengan didirikannya balai pustaka
terhadap perkembangan bahasa melau menjadi bahasa Indonesia dapat disebutkan
sebagai berikut :
a. Memberikan
kesempatan kepada pengarang-pengarang bangsa Indonesia untuk menulis cerita
ciptanya dalam bahasa melayu.
b. Memberikan
kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk membaca hasil ciptaan bangsanya
sendiri dalam bahasa melayu.
c. Menciptakan
hubungan antara sastrawan dengan masyarakat sebab melalui karangannya sastrawan
melukiskan hal-hal yang dialami oleh bangsanya dan hal-hal yang menjadi
cita-cita bangsanya.
d. Balai
pustaka juga memperkaya dan memperbaiki bahasa melayu sebab diantara
syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh karangan yang akan diterbitkan di balai
pustaka ialah tulisan dalam bahasa melayu yang bersusun baik dan terpelihara.
4.
Sumpah
Pemuda
Kongres pemuda yang paling dikenal ialah kongres
pemuda yang diselenggarakan pada tahun 1928 di Jakarta. Pada hal sebelumnya,
yaitu tahun 1926, telah pula diadakan kongres pemuda yang tepat
penyelenggaraannya juga di Jakarta. Berlangsung kongres ini tidak semata-mata
bermakna bagi perkembangan politik, melainkan juga bagi perkembangan bahasa dan
sastra Indonesia.
Dari segi politik, kongres pemuda yang pertama (1926)
tidak akan bisa dipisahkan dari perkembangan cita-cita atau benih-benih
kebangkitan nasional yang dimulai oleh berdirinya Budi Utomo, sarekat islam,
dan Jon Sumatrenan Bond. Tujuan utama diselenggarakannya kongres itu adalah
untuk mempersatukan berbagai organisasi kepemudaan pada waktu itu.
Pada tahun itu organisasi-organisasi pemuda memutuskan
bergabung dalam wadah yang lebih besar Indonesia muda. Pada tanggal 28 Oktober
1928 organisasi pemuda itu mengadakan kongres pemuda di Jakarta yang
menghasilkan sebuah pernyataan bersejarah yang kemudian lebih dikenal sebagai
sumpah pemuda. Pertanyaan bersatu itu dituangkan berupa ikrar atas tiga hal,
Negara, bangsa, dan bahasa yang satu dalam ikrar sumpah pemuda.
Peristiwa ini dianggap sebagai awal permulaan bahasa
Indonesia yang sebenarnya, bahasa Indonesia sebagai media dan sebagai symbol
kemerdekaan bangsa. Pada waktu itu memang terdapat beberapa pihak yang
peradaban modern. Akan tetapi, tidak bisa dipumgkiri bahwa cita-cita itu sudah
menjadi kenyataan, bahasa Indonesia tidak hanya menjadi media kesatuan, dan
politik, melainkan juga menjadi bahasa sastra indonesia baru.
D.
Kedudukan Dan Fungsi Bahasa
Indonesia
Secara formal sampai saat ini bahasa Indonesia
mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional,
bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa
Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu.
Keenam kedudukan ini mempunyai fungsi yang berbeda, walaupun dalam praktiknya
dapat saja muncul secara bersama-sama dalam satu peristiwa, atau hanya muncul
satu atau dua fungsi saja.
Bahasa Indonesia dikenal secara luas sejak “Soempah
Pemoeda”, 28 Oktober 1928, yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan. Pada saat itu para pemuda sepakat untuk mengangkat bahasa
Melayu-Riau sebagai bahasa Indonesia. Para pemuda melihat bahwa bahasa
Indonesialah yang berpotensi dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri
atas ratusan suku vangsa atau etnik. Pengangkatan status ini ternyata bukan
hanya isapan jempol. Bahasa Indonesia bisa menjalankan fungsi sebagai pemersatu
bangsa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia rasa kesatuan dan
persatuan bangsa yang berbagai etnis terpupuk. Kehadiran bahasaIndonesia di
tengah-tengah ratusan bahasa daerah tidak menimbulkan sentimen negatif bagi
etnis yang menggunakannya. Sebaliknya, justru kehadiran bahasa Indonesia
dianggap sebagai pelindung sentimen kedaerahan dan sebagai penengah ego
kesukuan.
Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan
berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing,
bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu
tanpa meinggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial
budaya serta latar belakang bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan, lebih dari
itu, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini, kepentingan nasional
diletakkan jauh di atas kepentingan daerah dan golongan.
Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda
berpotensi untuk menghambat perhubungan antardaerah antarbudaya. Tetapi, berkat
bahasa Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Setiap orang
Indonesia apa pun latar belakang etnisnya dapat bepergian ke pelosok-pelosok
tanah air dengan memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.
Kenyataan ini membuat adanya peningkatan dalam penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia
dalamn fungsinya sebagai alat perhubungan antardaerah antarbudaya. Semuanya
terjadi karena bertambah baiknya sarana perhubungan, bertambah luasnya
pemakaian alat perhubungan umum, bertambah banyaknya jumlah perkawinan
antarsuku, dan bertambah banyaknya perpindahan pegawai negeri atau karyawan
swasta dari daerah satu ke daerah yang lain karena mutasi tugas atau inisiatif
sendiri.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mulau dikenal
sejak 17 Agustus 1945 ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dalam
kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang
kebanggaan nasional atau lambang kebangsaan. Bahasa Indonesia mencerminkan
nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Melalui bahasa
nasional, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang
dapat dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia
dipelihara dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Rasa kebanggaan menggunakan
bahasa Indonesia ini pun terus dibina dan dijaga oelh bangsa Indonesia. Sebagai
lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping
bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia
Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki
identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa
Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya
membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur
bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata
dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah.kata tersebut sudah
ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Sejalan dengan fungsinya sebagai alat perhubungan
antardaerah dan antarbudaya, bahasa Indonesia telah berhasil pula menjalankan
fungsinya sebagai alat pengungkapan perasaan. Kalau beberapa tahun yang lalu
masih ada orang yang berpandangan bahwa bahasa Indonesia belum sanggup
mengungkapkan nuansa perasaan yang halus, sekarang dapat dilihat kenyataan
bahwa seni sastra dan seni drama, baik yang dituliskan maupun yang dilisankan,
telah berkembang demikian pesatnya. Hal ini menunjukkan bahwa nuansa perasaan
betapa pun halusnya dapat diungkapkan secara jelas dan sempurna dengan menggunakan
bahasa Indonesia. Kenyataan ini tentulah dapat menambah tebalnya rasa kesetiaan
kepada bahasa Indonesia dan rasa kebanggaan akan kemampuan bahasa Indonesia.
Dengan berlakunya Undang-undang Dasar 1945, bertambah
pula kedudukan bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa negara dan bahasa resmi.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia dipakai dalam segala
upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik secara lisan maupun tulis.
Dokumen-dokumen, undang-undang, peraturan-peraturan, dan surat-menyurat yang
dikeluarkan oleh pemerintah dan instansi kenegaraan lainnya ditulis dalam
bahasa Indonesia. Pidato-pidato kenegaraan ditulis dan diucapkan dengan bahasa
Indonesia. Hanya dalam kondisi tertentu saja, demi komunikasi internasional
(antarbangsa dan antarnegara), kadang-kadang pidato kenegaraan ditulis dan
diucapkan dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Warga masyarakat pun
dalam kegiatan yang berhubungan dengan upacara dan peristiwa kenegaraan harus
menggunakan bahasa Indonesia. Untuk melaksanakan fungsi sebagai bahasa negara,
bahasa perlu senantiasa dibina dan dikembangkan. Penguasaan bahasa Indonesia
perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan dalam pengembangan
ketenagaan, baik dalam penerimaan karyawan atau pagawai baru, kenaikan pangkat,
maupun pemberian tugas atau jabatan tertentu pada seseorang. Fungsi ini harus
diperjelas dalam pelaksanaannya sehingga dapat menambah kewibawaan bahasa
Indonesia.
Dalam kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi,
bahasa Indonesia bukan saja dipakai sebagai alat komunikasi timbal balik antara
pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja dipakai sebagai alat perhubungan
antardaerah dan antarsuku, tetapi juga dipakai sebagai alat perhubungan formal
pemerintahan dan kegiatan atau peristiwa formal lainnya. Misalnya,
surat-menyurat antarinstansi pemerintahan, penataran para pegawai pemerintahan,
lokakarya masalah pembangunan nasional, dan surat dari karyawan atau pagawai ke
instansi pemerintah. Dengan kata lain, apabila pokok persoalan yang dibicarakan
menyangkut masalah nasional dan dalam situasi formal, berkecenderungan
menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi, di antara pelaku komunikasi tersebut
terdapat jarak sosial yang cukup jauh,misalnya antara bawahan – atasan,
mahasiswa – dosen, kepala dinas – bupati atau walikota, kepala desa – camat,
dan sebagainya.
Akibat pencantuman bahasa Indonesia dalam Bab XV,
Pasal 36, UUD 1945, bahasa Indonesia pun kemudian berkedudukan sebagai bahasa
budaya dan bahasa ilmu. Di samping sebagai bahasa negara dan bahasa resmi.
Dalam hubungannya sebagai bahasa budaya, bahasa Indonesia merupakan
satu-satunya alat yang memungkinkan untuk membina dan mengembangkan kebudayaan
nasional sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri dan
identitas sendiri, yang membedakannya dengan kebudayaan daerah. Saat ini bahasa
Indonesia dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan semua nilai sosial budaya
nasional. Pada situasi inilah bahasa Indonesia telah menjalankan kedudukannya
sebagai bahasa budaya. Di samping itu, dalam kedudukannya sebagai bahasa ilmu,
bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pendukung ilmu pengetahuna dan
teknologi (iptek) untuk kepentingan pembangunan nasional. Penyebarluasan iptek
dan pemanfaatannya kepada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan negara
dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penulisan dan penerjemahan
buku-buku teks serta penyajian pelajaran atau perkuliahan di lembaga-lembaga
pendidikan untuk masyarakat umum dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada
bahasa-bahasa asing (bahasa sumber) dalam usaha mengikuti perkembangan dan
penerapan iptek. Pada tahap ini, bahasa Indonesia bertambah perannya sebagai
bahasa ilmu. Bahasa Indonesia oun dipakai bangsa Indonesia sebagai alat untuk
mengantar dan menyampaian ilmu pengetahuan kepada berbagai kalangan dan tingkat
pendidikan.
Bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai bahasa
pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan terendah
(taman kanak-kanak) sampai dengan lembaga pendidikan tertinggi (perguruan
tinggi) di seluruh Indonesia, kecuali daerah-daerah yang mayoritas masih
menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Di daerah ini, bahasa daerah
boleh dipakai sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan tingkat sekolah
dasar sampai dengan tahun ketiga (kelas tiga). Setelah itu, harus menggunakan
bahasa Indonesia. Karya-karya ilmiah di perguruan tinggi (baik buku rujukan,
karya akhir mahasiswa – skripsi, tesis, disertasi, dan hasil atau laporan
penelitian) yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, menunjukkan bahwa
bahasa Indonesia telah mampu sebagai alat penyampaian iptek, dan sekaligus
menepis anggapan bahsa bahasa Indonesia belum mampu mewadahi konsep-konsep
iptek.
E. Upaya Peningkatan
Dan Pengembangan Bahasa Indonesia
Bahasa adalah yang terpadu dengan unsur-unsur lain
didalam jaringan kebudayaan. Pada waktu yang sama, bahasa merupakan sarana
pengungkapan nilai-nilai bedaya. Pikiran dan nilai-nilai kehidupan
kemasyarakatan.
Perkembangan kebudayaan Indonesia kearah peradaban
modern sejalan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
menuntut adanya perkembangan cara berpikir yang ditandai oleh kecermatan,
ketepatan, dan kesanggupan menyatakan isi pikiran secara eksplisit.
1. Pembinaan
dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang
pendidikan.Upaya yang dapat dilakukan adalah meminkan peran guru untuk
menimgkatkan minat baca sehingga bahasa Indonesia dapat dikembangkan pada semua
mata pelajaran.
2. Pembinaan
dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang komunikasi. Media massa
merupakan salah satu saran ayang pentinng
untuk membina dan mengembangkan bahasa Indonesia dlam rangka pembangunan bangsa
karena media massa telah memberiakan perkembangan yang berharga dalam
pertumbuhan bahasa Indonesia melalui media massa, baik secara tertuis maupun
lisan. Ada kata yang cenderung kehilangan maknanya yang sesungguhnya dalam
ragam lisan ada lafal baku. Disamping itu, dalam keadaan atau kesempatan
tertentu masih dipakai bahasa atau bahasa asing.
3. Pembinaan
dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang kesenianBahasa
Indonesia yang dipergunakan didalam banyak karya sastra cerita anak-anak, lagu,
teater dan film menunjukkan adanya banyak ketimpangan. Dalam hal
sastra dan buku anak-anak , hal ini disebabkan oleh penggunaan bahasa yang
kurang sempurna dari kebanyakan pengarang kita, disamping masi tidak pastinya
peranan redaktur dalam penerbitan. Pemakaian bahasa Indonesia dalam film lebih
banyak merupakan barang dagangan pemburuk keuntungan bagi pengusaha, penulis
skenario yang dipilihnya kebanyakan tidak menguasai teknik penulisan yang baik.
4. Pembinaan
dan pengembangan bahasa dalam kaitannya dengan bidang ilmu dan, teknologi. Oleh karena
antara bahasa dan alam pemikiran manusia terdapat jalinan yang erat, maka
keberhasilan dari pemoderenan itu sangat bergantung kepada corak alam pemikiran
manusia Indonesia yang merupakan hasil sintesis antara nilai-nilai yang berakar
pada kebudayaan etnis yang tradisional dan nilai-nilai bebudayaan yang
melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Proses sintesis itu
dipikirkan sebagai suatu proses yang mempertinggi potensi kreatif yang dapat
menjelaskan suatu kebudayaan yang khas Indonesia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dapat
disimpullkan dari makalah ini, bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa
melayu. Bahasa melayu dipilih sebagai bahasa pemersatu (bahasa Indonesia)
karena :
1. Bahasa
melayu menjadi perwakilan karena bahasa melayu mewakili bahasa yang dipakai
oleh kelompok kecil yang dibandingkan oleh kelompok besar seperti bahasa jawa.
Hal ini untuk menghindari adanya tanggapan pengistimewaan yang berlebihan
terhadap bahasa jawa.
2. Bahasa
melayu lebih bersifat linguistik dan tidak memiliki tingkat tutur yang sulit.
3. Bahasa
melayu mempunyai sejra sebagai “Lingua Frace” yang digunakan pada masa kerajaan
sriwijaya mengalami kemajuan /masa kejayaan.
B.
Saran
Bahasa Indonesia yang kita ketahui sebagai mana dari
penjelasan terdahulu memiliki banyak rintangan dan kendala untuk mewujudkan
menjadi bahasa pemersatu, bahasa nasional, bahasa Indonesia. Sehingga kita
sebagai generasi penerus mampu untuk membina, mempertahankan bahasa Indonesia
ini, agar tidak mengalami kemerosotan dan diperguna dengan baik oleh pihak
luar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi
Muhsin, 1990. sejarah dan standarisasi bahasa Indonesia. Bandung : sinar baru
algesindo. Aripin Z.E,
Alisjahbana,
S. Takdir. 1957. Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Indonesia. Jakarta:
Pustaka Rakyat.
Arifin, E.
Zaenal & Tasai, S. Amran. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta:
Akademika Pressindo.
Halim,
Amran. 1971. Multilingualism in Relation to the Development of Bahasa
Indonesia. RELC JUORNAL, Desember1971:4-19.
Lembaga
Bahasa Nasional. 1974. Politik Bahasa Nasional: Laporan Praseminar29-31
Oktober 1974. Jakarta
Rice Frank
A, 1962. Study of the Role of Second Languages in Asia, Afrika,
and Latin America.Washington, D.C.: Center for Applied
Linguistics, Modern Language Association of America.
http://www.ikhsanudin.co.cc/2009/05/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html
http://math070017.wordpress.com/2012/01/12/makalah-sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia/
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia/
http://bukittingginews.com/2010/10/makalah-sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia/
http://odhepriyamona.wordpress.com/2009/10/20/bahasa-indonesia-dan-era-globalisasi/







0 comments:
Post a Comment