BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam
kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan
dan perkembangan. Banyak orang yang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan
“perkembangan” secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara
interdependensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini
tidak bias dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri
sendiri-sendiri; akan tetapi bias dibedakan untuk maksud lebih memperjelas
penggunaannya. Dalam hal ini kedua proses tersebut memiliki tahapan-tahapan
diantaranya tahap secara moral dan spiritual. Karena pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik dilihat dari tahapan tersebut memiliki kesinambungan
yang begitu erat dan penting untuk dibahas maka kita meguraikannya dalam bentuk
struktur yang jelas baik dari segi teori sampai kaitannya dengan pengaruh yang
ditimbulkan.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pertumbuhan dan perkembangan?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan?
3. Bagaimana perodeiasi perkembangan?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian pertumbuhan
dan perkembangan.
2. Untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.
3. Untuk mengetahui periodisasi pertumbuhan
dan perkembangan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1. Pengertian
Pertumbuhan
Pertumbuhan
dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai
akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahna kuantitatif ini dapat berupa
pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi
besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya.[1]Dengan
demikian, pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari
proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak
yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai
proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah)
yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi,
pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan
ukuran dan struktur biologis.
Pertumbuhan
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Dalam pertumbuhan akan terjadi
perubahan ukuran dalani hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan,
tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain- lain.
2) Dalam pertumbuhan dapat terjadi
perubahan proporsi yang dapat terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia
yang muncul mulai dari masa konsepsi hingga dewasa.
3) Pada pertumbuhan dan perkembangan
terjadi hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan, seperti
hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks
tertentu.
4) Dalam pertumbuhan terdapat ciri baru
yang secara perlahan mengikuti proses kematangan, seperti adanya rambut pada
daerah aksila, pubis, atau dada.
2. Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah suatu perubahan;
perubahan kearah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis, perubahan tersebut
biasanya disebut proses. Jadi garis besarnya para ahli sependapat bahwa
perkembangan itu adalah suatu proses.[2]
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa
perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis[3],
perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai
ke keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara
bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri
anak. Dari penghayatan totalitas itu lambant laun bagian-bagiannya akan menjadi
semakin nyata dan tambah jelas dalam rangka keseluruhan.
Perkembangan merupakan suatu
perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif.
Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi
fungisional. Dari uraian ini perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan
kualitatif dari fungsi-fungsi. [4]
Menurut Nagel (1957) perkembangan
merupakan pengertian di mana terdapat strukur yang terorganisasikan dan
mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan
struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan
perubahan fungsi.
Menurut Schneirla (1957),
perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi individu,
dan organisasi ini dilihat sebagai sistem fungsional dan adaptif sepanjang
hidupnya. Perubahan-perubahan ini meliputi dua faktor yaitu faktor kematangan
dan pengalaman.
Spiker (1966) mengemukakan dua macam
pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan, yakni Ortogenetik dan Filogenetik[5].
Bijou dan Baer(1961) mengemukakan
perkembangan psikologis adalah perubahan progresif yang menunjukkan cara
organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan. Rumusan lain
tentang arti perkembangan dikemukakan oleh Libert, Paulus, dan Strauss
(Singgih, 1990:31), yaitu bahwa: “Perkembangan adalah proses perubahan dalam
pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan
lingkungan”. Perkembangan dapat juga dilukiskan sebagai proses yang kekal dan
tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih
tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar (Monks,
1984:2).
Jadi, proses perkembangan adalah
suatu proses dalam diri individu dalam menuju proses kedewasaan dalam berpikir
dan semakin meningkatnya proses kematangan dan pangalaman. Perubahan-perubahan
meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat
dibagi menjadi 4 kategori yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan,
perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh
hal-hal yang baru.[6]
Pendapat para ahli biologi tentang
arti pertumbuhan dan perkembangan pernah dirangkumkan oleh Drs. H. M. Arifin,
M. Ed. bahwa pertumbuhan diartikan sebagai suatu penambahan dalam ukuran
bentuk, berat atau ukuran dimensif tubuh serta bagian-bagiannya. Sedangakn
perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan dalam bentuk bagian tubuh dan
integrasi berbagai bagiannya ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan
itu berlangsung. Intinya bahwa pertumbuhan dapat diukur sedangkan perkembangan
hanya dapat dilihat gejala-gejalanya. Perkembangan dipersyarati adanya
pertumbuhan.
Perkembangan
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Perkembangan selalu melibatkan proses
pertumbuhan yang diikuti dari perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem
reproduksi akan diikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2) Perkembangan memiliki pola yang
konstan dengan hukum tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala
menuju ke arah kaudal atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3) Perkembangan memiliki tahapan yang
berurutan mulai dari kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan
melakukan hal yang sempurna.
4) Perkembangan dapat menentukan
pertumbuhan tahap selanjutnya, di mana tahapan perkembangan harus
melewati tahap demi tahap (Narendra, 2002).
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN
1. Nativisme
Pembawaan
adalah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan
warisan dari orang tua’. Para ahli yang beraliran Nativisme nerpendapat
bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan.
Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan.[7]
Aliran Nativisme
dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778-1860), dari Jerman. Beliau mengatakan
bahwa bakat mempunyai peranan yang penting. Ridak ada gunanya orang mendidik
kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan diumpamakan ‘merubah emas
jadi perak’ jadi suatu hal yang tidak mungkin.
Dengan demikian
faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa
dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Dalam pendidikan ilmu aliran
inidikenal sesbagai aliran pedagogik pesivisme[8]
yaitu pendidikan yang tidak dapat dipengaruhi perkembangan anak ke arah
kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidik.[9]
Para ahli yang
mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan
menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang Tua dan anak-anaknya.
Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah besar anaknya juga
akan menjadi ahli musik, jika orang tua ahli melukis maka besar kemungkinan
anaknyapun ahli dalam melukis.[10]
Mungkin penyusun disini bisa mengibaratkan seperti ‘buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya’.
Para ahli yang mengikuti pendirian
ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai
kesamaan atau kemiripan antara orang tua dan anak-anaknya.
Akan tetapi pantas diragukan pula,
apakah kesamaan yang ada antara orang tua dan anak itu benar-benar dasar yang
dibawa sejak lahir. Sebab, jika sekiranya anak seorang ahli musi juga menjadi
ahli musik, apakah hal itu benar-benar berakar pada keturunan atau dasar?
Apakah tidak mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas untukn dapat maju dalam
bidang seni musik maka dia lalu menjadi seorang ahli musik.[11]
Pada umumya teori nativisme sekarang telah ditinggalkan orang.[12]
2. Empirisme
Lingkungan
sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi,
lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di
dalam dan di luar individu.[13] Yang
dimaksud lingkungan disini ialah segala sesuatu yang ada diluar diri anak yang
memberikan pengaruh terhadap perkembangan. Dalam pembicaraan pada bagian ini,
maka pendidikan dimasukkan juga sebagai faktor lingkunga.
Factor
lingkungan juga disebut faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat berupa
benda-benda, orang-orang, keadaan-keadaan dan peristiwa yang ada disekitar
anak, yang bias memberikan pengaruh pada perkembangannya, baik secara langsung
ataupun tidak langsung, baik secara sengaja atau ridak sengaja. Disamping
lingkungan itu memberikan pengaruh dan dorongan, lingkungan juga merupakan
arena yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (bawaan) yang
ada pada seseorang anak untuk berkembang.
Berbeda dengan aliran Nativisme,
para ahli yang mengikuti aliran ‘Empirisme’ berpendapat bahwa perkembangan itu
sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan sedangkan faktor
dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali.[14]
Aliran
Empirisme dipelopori oleh John Locke (1632-1704). Beliau mengatakan bahwa
pendidikan itu perlu sekali. Teori ini terkenal dengan teori Tabula rasa. Menurut
teori ini lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseorang. Karena
baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan
atau pendidikan.
Menurut pendapat kaum empiris,
lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang
oleh karena itu dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pedaogik
optimisme artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan
pribadi seseorang.
Para ahli yang mengikuti pendirian
empirisme mempunyai pendapat yang langsung bertentangan dengan pendapat aliran
nativisme. Kalau pengikut-pengikut aliran nativisme berpendapat bahwa
perkembangan itu semata-mata bergantung pada faktor dasar, maka
pengikut-pengikut aliran empirisme berpendapat bahwa perkembangan itu
semata-mata bergantung pada faktor lingkungan sedangkan dasar tidak memainkan
peranan sama sekali. Selanjutnya aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika
Serika, dimana banyak ahli yang tidak eksplisit menolak peranan dasar itu,
namun karena dasar itu sukar untuk
ditentukan, maka praktis yang dibicarakan hanyalah lingkungan, dan sebagai
konsekuensinya juga hanya lingkunganlah yang masuk pencaturan. Paham
environmentalisme yang banyak pengikutnya di Amerika Serikat itu pada
hakikatnya adalah kelanjutan daripada aliran empirisme.[15]
Aliran empirisme ini menimbulkan
optimisme dalam lapangan pendidikan. Aliran ini menimbulkan keyakinan yang kuat
bahwa segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh
pendidikan. Watak, sikap, dan tingkah laku manusia dianggapnya bisa dipengaruhi
seluas-luasnya oleh pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas.
Bahaya yang timbul dari pandangan
ini dalam lapangan pendidikan ialah bahwa pandangan itu dapat mengakibatkan
anak tidak diperlakukan sebagai anak, akan tetapi diperlakukan semata-mata
manurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannya
dilalaikan.[16]
3. Konvergensi
Aliran ini
dipelopori oleh William Stem (1871-1938). Aliran ini mengakui kedua-duanya.
Jadi pendidikan itu perlu sekali, tetapi semua ini terbatas karena bakat
daripada anak didik. Aliran ini menjembatani atau menengahi kedua teori
sebelumnya yang bersifat ekstrim, sesuai dengan namanya Konvergensi
yang artinya perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan
pengaruh kedua unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses
perkembangan.[17]
Menurut
Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi
eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas
perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana kedua faktor tersebut sukar untuk
ditentukan, lebih-lebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang
penting.[18]
Faham Konvergensi
ini berpendapat, bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau
pembawaan ataupun lingkungan memainkan peranan perting. Realitas menunjukkan
bahwa warisan yang yang baik saja tanpa pengaruh lingkungan kependidikan yang
baik tidak akan dapat membina kepribadian yang ideal. Sebaliknya, walaupun
lingkungan pendidikan itu baik, tidak akan menghasilakan lepribadian yang ideal
juga. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; akan
tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai
supaya dapat berkembang. Misalnya : Tiap manusia yang normal memiliki
bakat untuk berdiri tegak atas kedua kaki; bakat ini tidak aktual (menjadi
kenyataan) jika sekiranya anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan
masyarakat manusia. Anak yang semenjak kecilnya diasuh oleh monyet maka ia
tidak akan berdiri tegak diatas kedua kakinya ; mungkin dia akan berjalan
dia akan berjalan diatas tangan dan kakinya (jadi seperti monyet).[19]
Paham konvergensi ini berpendapat
bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan atau pun
lingkungan memainkan peranan penting.
Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; akan tetapi
bakat yang telah tersedia itu perlu menumukan lingkungan yang sesuai supaya
dapat berkembang.
Dewasa ini sebagian besar para ahli
mengikuti konsepsi ini, dengan variasi yang bermacam-macam, ada yang walaupun
berpegang pada prinsip konvergensi, tetapi dalam praktiknya menganggap bahwa
yang lebih dominan itu dasar, yaitu ahli-ahli psikologi konstitusional; ada
pula yang menganggap yang lebih dominan itu adalah lingkungan. Kelompok yang
kedua dewasa ini lebih banyak pengikut-pengikutnya terutama di Inggris dan
Amerika Serikat Salah satu tokoh yang cukup populer yang mengikuti pendirian
yang semacam yang dikemukakan paling akhir itu adalah Alfred Adler.
4. Naturalisme
Naturalisme berasal dari Perancis oleh
Rousseau. Menurut Rousseau manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk dan
jahat karena pengaruh kebudayaan. Maka dari itu Rousseau menganjurkan supaya
kembali kepada alam dan menjauhkan diri dari pengaruh kebudayaan.[20]
5. Rekapitulasi
Teori rekapitulasi mengatakan bahwa
perkembangan individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya. Teori
rekapitulasi dikemukakan oleh Stanley atas teori Hachel dalam lapangan biologi.
Hachel sebagai seorang biologi berpendapat bahwa perkembangan jasmani individu
itu merupakan ulangan dari pertumbuhan jenisnya. Oleh Stanley Hall pendapat itu
dikenakan pada pertumbuhan psikologi anak. Berdasarkan teori rekapitulasi
pertumbuhan anak dapat dibagi menjadi lima fase, dan masing-masing fase
menunjukkan adanya ciri-ciri tertentu.[21]
Dari kelima teori di atas, teori yang
paling sesuai untuk menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembanga anak adalah
teori konvergensi. Hal ini karena aliran ini menjembatani atau menengahi kedua teori sebelumnya
yang bersifat ekstrim, sesuai dengan namanya Konvergensi yang artinya
perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan pengaruh kedua
unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan.[22]
C. PERIODISASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1. Peridesasi-periodesasi yang
Berdasar Biologis
Sekelompok ahli dalam membuat
periodesasi mendasarkan diri pada keadaan atau prose biologis tertentu. Diantara
pendapat-pendapat yang demikian adalah:
a. Pendapat Aristoteles
Aristoteles menggambarkan perkembangan
anak sejak lahir sampai dewasa itu dalam tiga periode lamanya masing-masing
tujuh tahun:
·
Fase I dari 0; 0 sampai 7; 0: masa anak
kecil, ke masa bermain;
·
Fase II dari 7; 0 sampai 14; 0: masa
belajar atau masa sekolah rendah;
·
Fase III dari 14; 0 sampai 21; 0: masa
remaja atau pubertas: masa peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa.
Periodesasi ini berdasarkan atas gejala
dalam perkembangan jasmani. Hal ini mudah
ditunjukkan: antara fase I dan fase II dibatasi oleh pergantian gigi,
antara fase II dan fase III ditandai oleh mulai bekerjanya perlengkapan
kelamin(misalnya kelenjar).
b. Pendapat Kretschemer
Kretschemer mengemukakan bahwa dari
lahir sampai dewasa anak melewati empat fase, yaitu:
· Fase
I dari 0; 0 sampai kira-kira 3; 0 disebut Fillungs-periode I; pada masa ini
anak kelihatan pendek gemuk;
· Fase
II kira-kira 3; 0 sampai kira-kira 7; 0 disebut sterckungs periode I; pada masa
ini kelihatan langsing.
· Fase
III dari kira-kira 7; 0 sampai kira-kira 13; 0disebut Fullungs periode II; pada
masa ini anak kembali dari kira-kira
kelihatan pendek gemuk.
· Fase
IV dari kira-kira 13; 0 sampai kira-kira 20; 0 disebut sterckungs periode II;
pada masa ini anak kembali kelihatan langsing.
Kehidupan kejiwaan anak-anak pada
masa-masa tersebut juga menunjukkan sifat-sifat yang khas. Pada periode-periode
Fullungs anak menunjukkan sifat-sifat jiwa yang mirip dengan orang yang
berhabitus piknis, jadi seperti orang yang cyclothym:
jiwanya terbuka mudah untuk bergaul,
mudah didekati, dan sebagainya. Pada periode-periode streckung anak menunjukkan
sifat-sifat jiwa yang mirip dengan orang yang ber habitus leptosom, jadi seperti orang yang schizothym: Jiwa
tertutup, sukar bergaul, sukar didekati, dan sebagainya.
c. Pendapat Sigmund Freud
Freud berpendapat bahwa anak sampai umur
kira-kira 5; melewati fase-fase yang terdiferensiasikan secara dinamis, Kemudian
sampai 12;0 atau 13;0 mengalami fase
latent, yaitu suatu fase dimana dinamika menjadi lebih stabil. Dengan datangnya
masa remaja (pubertas) dinamika meletus lagi, dan selnjutnya makin tenang kalau
orang makin dewasa. Bagi Freud, masa sampai umur 20;0 menentukan bagi
pembentukan pribadi seseorang.
Tiap fase dari lahir sampai umur 5;0
ditentukan atas dasar reaksi cara-cara bagian tubuh tertentu. Adapun fase-fase adalah:
1) Fase
oral: 0;0 sampai kira-kira 1;0. Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok
daripada aktivitas dinamis.
2) Fase
anal: kira-kira 1;0 sampai kira-kira 3;0. Pada fase ini dorongan dan tahanan
berpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
3) Fase
fallis: kira-kira 3;0 sampai kira kira 5;0. Pada fase ini alat-alat kelamin
merupakan daerah crogen terpenting.
4) Fase
laten: kira-kira 5;0 sampai kira-kira 12;0 atau 13;0. Pada fase ini
impuls-impuls cenderung berada dalam keadaan tertekan atau mengendap.
5) Fase
pubertas: kira-kira 23;0 atau 13;0 sampai kira-kira 20;0. Pada fase ini
impuls-impuls menonjol kembali.
6) Fase
genital: dalam batas tertentu juga
dimasukkan ke dalam pendapat Montessori.
d. Pendapat Montessori
Menurut montessori tiap fase
perkembangan itu mempunyai arti biologis. Kodrat alam mempunyai rencana
tertentu berdasarkan dua asas pokok yaitu:
1)
Asa kebutuhan vital, yaitu apa yang
terkenal dengan masa peka.
2)
Asa kesibukan sendiri.
Perkembangan jiwa tidak harus dimengerti
sebagai perkembangan fungsi-fungsi yang tidak saling mempengruhi satu sama
lain, melainkan harus dimengerti sebagai perwujudan jasmani-rohani, dalam
struktur yang berurutan memperoleh pelajaran (latihan) yang penting untuk
pembentukan yang tepat (defenitif). Pendidikan berarti mewujudkan atau
melaksanakan rencana kodrat alam tersebut.
Montessori mengemukakan empat periode
perkembangan yaitu:
1)
Periode I (0;0 – 7;0) adalah perode
penangkapan atau penerimaan dan pengaturan dunia luar dengan perantaraan alat
indera. Ini adalah rencana motoris dan pancaindera yang bersifat keragaan.
2) Periode
II (7;0- 12;0) adalah rencana abstrak. Pada masa ini anak-anak merencanakan
hal-hal kesusilaan, menilai perbuatan manusia atas dasar baik-buruk – dan
karenanya – mulai timbul kata hatinya. Pada masa ini anak-anak sangat
membutuhkan pendidikan kesuailaan serta butuh
memperoleh pengertian bahwa orang lain pun berhak mendapatkan
kebutuhannya.
3) Periode
III (12;0 – 18;0) adalah periode penemuan diri dan kepekaan rasa sosial. Dalam
masa ini kepribadian harus dikembangkan sepenuhnya dan harus sadar akan
keharusan-keharusan.
4) Periode
IV (18;--) adalah periode pendidikan tinggi. Dalam hubungn dengan ini perhatian
Montessori ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa perguruan tunggi menyediakan
diri untuk kepentingan dunia. Mahasiswa harus belajar mempertahankan diri
terhadap tiap godaan ke arah perbuatan-perbuatan yang terkutuk, dan unuversitas
harus memilih mahasiswa-mahasiswa itu.
e. Pendapat Ch. Buhler
Ch. Buhler banyak menulis. Karyanya yang
utama antara lain: Das Marchen Und die
Phantasie des Kindes (1918), The
Child and His Family (1940), Practische
Kinder Psychologie, Psychologie der Puberteitsjaren. Kedua karya
yang terakhir itu diterjemahkan kedalam bahasa Belanda oleh I. Carvalno.
Dalam kedua buku yang terakhir itu,
terutama dalam Psychologie der
Puberteitsjaren, Jelas sekali pandangannya yang biologistis. Ch. Buhler
mengemukakan lima fase dalam perkembangan anak, yaitu:
a) Fase
I (0;0 – 1;0), yaitu fase gerak laku ke dunia luar.
b) Fase
II (1;0 – 4;0), yaitu fase makin luasnya hubungan anak dengan benda-benda
disekitarnya.
c) Fase
III (4;0 - 8;0), YAITU fase hubungan pribadi dengan lingkungan sosial, serta
kesadaran akan kerja, tugas dan prestasi.
d) Fase
IV (8;0 – 13;0), yaitu memuncaknya minat ke dunia objektif, dan kesadaran akan
akunya sebagai sesuatu yang berbeda dari aku orang lain.
e) Fase
V (13;0 – 19;0), yaitu fase penemuan diri dan kematangan.
2. Periodisasi-Perodisasi yang
Berdasar Didaktis
a. Pendapat Comenius
Salah satu konsepsi dalam golongan ini
yang sangat terkenal ialah konsepsi yang dikemukakan Comenius. Telah sangat
terkenal konsepsinya tentang macam-macam sekolah yang disesuaikan dengan
perkembangan jiwa anak, yaitu:
1)
Scola
materna (sekolah ibu), untukn anak-anak umur 0;0 – 6;0;
2)
Scola
vernacula (sekolah bahasa ibu) untuk anak-anak umur 6;0 –
12;0
3)
Scola
latina (sekolah latin), untuk anak-anak umur 18;0 – 24;0
Untuk masing-masing sekolah itu harus
diberikan bahan pelajaran (bahan pendidikan) yang sesuai dengan perkembangan
jiwa anak pula harus dipergunakan cara-cara mendidik atau mengajar yang juga
harus sesuai dengan perkembangan jiwa anak.
b. Pendapat J.J Rousseau
Rousseau dengan karyanya Emile eu du
lieducation (1762), juga mengemukakan periodisasi atas dasr didaktis itu. Buku
tersebut terdiri dari lima jilid: jilid I sampai IV membicarakan tentang
pendidikan anak-anak laki-laki (Emile) dan jilid V tentang pendidikan anak
perempuan (Sophie).
1)
I 0;0-0;2 merupakan masa asuhan.
2)
II 2;0-12;0 adalah masa pendidikan jasmani dan
latihan panca indera.
3)
III 12;0-15;0 adalah periode pendidikan akal.
4)
15;0-20;0 adalah periode pembentukan
watak dan pendidikan agama.
c. Periodisasi-Periodisasi yang
Berdasar Psikologis
Tokoh utama pendapat yang semata mata
mendasarkan diri pada keadaan psikologis ini ialah Oswald Kroh. Kroh
berpendapat bahwa apabila orang berbicar tentang psikologi maka yang dipakai
sebagai landasan haruslah juga keadaan psikologis anak, bukan keadaan biologis atau
keadaan yang lain lagi. Berhubung dengan itu maka ia lalu mencari keadaan yang
psikologis yang manakah kiranya yang khas yang dialami oleh setiap anak dalam
masa-masa kegoncangan. Kalau perkembangan itu sekiranya dapat digambarkan
sebagai proses evolusi maka pada masa-masa kegoncangan itu evolusi berubah
menjadi revolusi.[23]
D.
DALIL TENTANG
TENTANG LARANGAN UNTUK MERAMAL KARAKTER SESEORANG (MASUKAN)
@è% Hw ãAqè%r& óOä3s9 ÏZÏã ßûÉî!#tyz «!$# Iwur ãNn=ôãr& |=øtóø9$# Iwur ãAqè%r& öNä3s9 ÎoTÎ) î7n=tB (
÷bÎ) ßìÎ7¨?r& wÎ) $tB #Óyrqã ¥n<Î) 4
ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o 4yJôãF{$# çÅÁt7ø9$#ur 4
xsùr& tbrã©3xÿtGs? ÇÎÉÈ
50.
Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada
padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku
mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa
yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan
yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
“Siapa yang mempelajari ilmu nujum, maka ia telah mempelajari
bagian dari sihir. Semakin bertambah ilmu nujumnya, semakin bertambah pula
sihirnya.” (Hadits shohih, riwayat Abu Dawud dan selainnya dari Ibnu ‘Abbas
-rodhiyallohu ‘anhuma-)
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pertumbuhan
dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai
akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahna kuantitatif ini dapat berupa
pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi
besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya.
Dengan demikian, pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil
dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada
anak yang sehat pada waktu yang normal.
Perkembangan
merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif,
melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material,
melainkan pada segi fungisional. Dari uraian ini perkembangan dapat diartikan
sebagai perubahan kualitatif dari fungsi-fungsi.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu Nativisme,
Empirisme, Konvergensi, Naturalisme dan Rekapitulasi.
Periodisasi
Perodisasi perkembangan meliputi:
1. Periodisasi-periodisasi yang
berdasar Biologis
2. Periodisasi-periodisasi yang
berdasar Didaktis
3. Periodisasi-periodisasi yang
berdasar Psikologis
B. Saran
Masalah
Perkembangan kejiwaan anak adalah sangat penting untuk diketahui apalagi yang
berhubungan dengan dunia pendidikan, oleh karena itu pemakalah menyarankan agar
sekiranyakita semua tidak menganggap remeh dan sepele masalah perkembangan
kejiwaan seseorang. Karena bisa saja, perkembangan kejiwaan yang terarah dengan
baik akan mensukseskan pendidikan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Indrakusuma, Amir Dien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan.
Surabaya : Usaha Nasional.
Mustakim. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sabri, Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: CV. Pedoman Imu Jaya.
.1993.
Pengembangan
psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Suryabrata, Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
.2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/10/20/pertumbuhan-dan-perkembangan/
oleh Muh Fatkhu Rohman Alhamdani pada 10 Oktober 2010.
[1] Mustakim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2003), hlm. 24.
[2] Sumadi
Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 2008), hlm. 170.
[3] Ortogenetik
adalah sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu
yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
[4] Mustakim, Op. Cit. 31.
[6]
http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/10/20/pertumbuhan-dan-perkembangan/
oleh Muh Fatkhu Rohman Alhamdani pada 10 Oktober 2010.
[7] Alisuf Sabri, Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta :
Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. I, hal. 173.
[8] pedagogik pesivisme adalah Pedagogik Pesimisme” yaitu
pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang
dikehendaki oleh penndidikan.
Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
[9] Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya :
Usaha Nasional, 1973), cet. Ke-1, hal. 83
[10]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 1993), cet. VI, hal. 185
[11] Sumadi
Suryabrata, Op. Cit 177-178.
[12] Mustakim, Op. Cit. 33.
[14] Ibid.
[15]Sumadi
Suryabrata, Op. Cit 178-179.
[16] Mustakim, Op. Cit. 34.
[20] Mustakim, Op. Cit. 34.
[21] Ibid.
[23] Sumadi Surya
Brata, Op. Cit, hlm. 185-191.







0 comments:
Post a Comment