Rumah Makalah

Welcome to My Blog

Rumah Makalah

Hope My posts are beneficial

Rumah Makalah

Leave Comment, criticize me!

Rumah Makalah

I have to make improvement

Rumah Makalah

Anyway, Thanks for Visiting

Wednesday, 19 April 2023

Blog Rangkuman Koneksi Antar materi - Modul 3.1

 

1.    Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? 

Filosofi Pratap Triloka khususnya Ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar bagi pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru harus memberikan tauladan kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras untuk wujud Filosofi Pratap Triloka Ing Madya Mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan.




Keputusan tepat yang diambil merupakan buah dari nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada murid. Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid adalah manipestasi dari implementasi kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berinteraksi sosial dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi dalam pengambilan sebuah keputusan.



Coaching merupakan keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi. Dengan langkah coaching menggunakan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang diambil. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil.



Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya dilema etika. Guru yang memiliki kesadaran tinggi yang baik pasti menunjukkan integritas dan kejujuran dalam pengambilan keputusan. Memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan prilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan serta aspirasi. Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya dan konteks yang berbeda-beda. 





Keberpihakan dalam mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari sikap seorang pendidik yang mampu membuat solusi yang tepat dari permasalahan yang terjadi. Pendidik harus mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika atau bujukan moral. Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah bujukan moral akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan.

Kita tahu bahwa nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid.Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya murid.





Pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat, maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.





Tantangan yang muncul karena perubahan paradigma dan budaya positif di sekolah. Pengambilan keputusan berdasarkan tiga prinsip penyelesaian dilema etika, mana yang akan dipakai apakah berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based-Thinking), Berpikir berbasis peraturan (Rule-based thinking) ataukah berpikir berbasis rasa peduli (Cared-based thinking) semua tergantung situasi dan kondisi yang ada. Namun setiap keputusan pasti ada resiko, pro dan kontra, hal ini menjadi sebuah tantangan.





Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid-murid kita adalah merdeka belajar. Merdeka belajar adalah murid bebas mencapai kesuksesan, kebahagiaan, sesuai minat dan potensinya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Mereka bisa belajar dengan cara yang mereka sukai. Hal ini diharapkan agar mereka sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena belajar sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab terhadap pilihannya. Dengan kata lain semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru hanya sebagai pamong untuk memfasilitasi, memoles, bakat dan minat yang sudah ada.





Setiap pengambilan keputusan akan membawa dampak baik jangka pendek melawan jangka panjang bagi murid-murid di sekolah tersebut. Pengambilan keputusan bagi seorang pendidik haruslah keputusan yang tepat, benar dan bijak melalui pengujian benar salah menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan, atau uji idola, akan menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji dan yang terpenting berpihak kepada murid.





Pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan yang harus dimiliki seorang guru dan harus berlandaskan kepada filosofi KHD sebagai pemimpin pembelajaran. Secara sadar keputusan itu akan mewarnai pola pikir dan karakter murid-murid. Sekolah sebagai institusi moral yang melakukan proses pendidikan harus selalu memberikan pelayanan kepada murid-murid. Guru sebagai pemimpin pembelajaran secara sadar mengambil keputusan yang berpihak kepada murid dengan mengedepankan keyakinan kelas untuk mewujudkan karakter dan budaya positif dalam kelas.

Pengambilan keputusan harus bertujuan mewujudkan budaya positif dan menggunakan Alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullnes) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.





Pemahaman saya dari konsep-konsep ini adalah ada 4 paradigma pengambilan keputusan: 

Ada 3 prinsip pengambilan keputusan: 

Ada 9 tahapan pengambilan dan pengujian keputusan:



Menurut pendapat saya, Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah mengalami masalah yng berhubungan dengan dilema etika. Keputusan yang saya ambil pada saat itu sering berdasarkan intuisi saya atau berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang dan juga berdasarkan kepedulian kepada orang lain. Sehingga ketika saya mempelajari modul 3.1, saya merasa care based thinking adalah sebagai sebuah prinsip yang dipakai secara umum dalam mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan masalah dilema etika.

Sedangkan untuk kasus bujukan moral atau moral dilema, saya pernah berada dalam situasi tersebut, namun ketika itu terjadi saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan dan menganalisis salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya mengambil keputusan dengan meminta secpnd opinion dari teman sejawat ataupun keluarga yang saya anggap lebih berpengalaman atau sebagai panutan saya. Walaupun langkah pengambilan keputusan saya tidak sama persis seperti konsep yang saya pelajari di modul namun ada usur kesamaan yaitu menganalisis unsur kebenaran lawan kesalahan dan juga uji panutan atau idola.





Menurut pendapat saya, Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya merasakan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan terutama sebagai pemimpin pembelajaran, saya lebih percaya diri karena bisa memastkan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif karena sudah melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari 9 angkah tersebut, walaupun saya juga harus tetap belajar dan sharing kepada teman sejawat yang sudah berpengalaman untuk memastikan keputusan saya sesuai atau keputusan saya tersebut tepat. Saya juga merasakan mendapat pengetahun yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang permasalahn yang saya hadapi.





Menurut saya tentang pengambilan keputusan ini sangat penting bagi saya sehingga saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan efektif, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini saya merasa bahwa banyak hal atau keputusan yang saya buat selama ini tidak berdasar alur pemikiran yang jelas dan terstruktur, sehingga setelah mendapat materi di modul 3.1 mengenal bagaimana prinsip pengambilan keputusan yang tepat, pola pengambilan keputusan serta membedakan antara dilema etika dan bujukan moral serta penggunaan 9 langkah pengambilan keputusan, membuat saya semakin mantap dan percaya diri untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. 

 


Saturday, 11 February 2023

Artikel Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif

 PEMBUATAN KEYAKINAN KELAS 

(TINDAKAN AKSI NYATA 1)

Nama Calon Guru Penggerak         : Nurul Hidayani, S.Pd

Asal Sekolah                                      : SD Negeri 1 Percontohan


Latar belakang

Peserta didik masih banyak yang melanggar peraturan sekolah dan peraturan kelas. Mereka belum memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu.

Tujuan

Menciptakan budaya positif di lingkungan kelas sehingga pembentukan budaya positif bisa terbentuk dari lingkungan kelas ke lingkungan sekolah, membentuk pelajar yang memiliki profil pelajar pancasila dan meningkatkan motivasi intrinsik pada peserta didik.

Tolak ukur

Tolak ukur keberhasilan kegiatan ini adalah peserta didik memiliki motivasi intrinsik dalam melakukan/tidak melakukan sesuatu, peserta didik meyakini dan menaati keyakinan kelas yang telah dibuat bersama.

Lini masa tindakan yang dilakukan 

  • Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat
  • Menentukan jadwal yang tepat untuk melakukan kegiatan pembuatan keyakinan kelas
  • Menyiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan
  • Membuat keyakinan kelas bersama siswa
  • Memantau, merefleksi dan mengevaluasi keyakinan kelas yang telah dibuat

Dukungan yang dibutuhkan 

Saya membutuhkan dukungan dari kepala sekolah dan rekan sejawat dalam bentuk: Dukungan emosional (Dorongan dan kepedulian), instrumental (tempat dan peralatan), informatif (informasi dan petunjuk), dan dukungan jaringan sosial (rasa kebersamaan)

 

 DISEMINASI BUDAYA POSITIF

(TINDAKAN AKSI NYATA 2)

Latar Belakang

Perlu adanya pengimbasan pengetahuan mengenai konsep-konsep budaya positif kepada kepala sekolah dan rekan sejawat agar nantinya dapat berkolaborasi dalam menciptakan budaya positif di sekolah 

Tujuan

CGP bersama kepala sekolah dan rekan sejawat dapat berkolaborasi demi menciptakan budaya positif di sekolah yang akan membentuk karakter baik pada anak sesuai profil pelajar Pancasila 

Tolak ukur

Tolak ukur keberhasilan kegiatan diseminasi ini apabila rekan sejawat hadir, mengikuti kegiatan dengan antusias, memberikan umpan balik dan berkolaborasi untuk menciptakan budaya positif di sekolah setelah kegiatan diseminasi.

Lini masa tindakan yang dilakukan

  • Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah terkait izin pelaksanaan kegiatan diseminasi dan kesediaan menjadi keynote speaker dalam acara tersebut
  • Melakukan kolaborasi dengan rekan sejawat untuk membentuk tim yang akan membantu terlaksananya kegiatan diseminasi (panitia kegiatan)
  • Menentukan waktu dan tempat pelaksanaan diseminasi budaya positif
  • Menyiapkan materi diseminasi budaya positif
  • Mendesign spanduk dan banner digital serta membagikannya kepada rekan sejawat
  • Melaksanakan kegiatan diseminasi budaya positif

Dukungan yang dibutuhkan

Saya membutuhkan dukungan dari kepala sekolah dan rekan sejawat dalam bentuk: Dukungan emosional (Dorongan dan kepedulian), instrumental (tempat dan peralatan), informatif (informasi dan petunjuk), dan dukungan jaringan sosial (rasa kebersamaan)


 

 


 


sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com