BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ibadah adalah tindakan untuk
mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah
ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju
kepada tuhan (Allah) saja.
Manusia diciptakan oleh tuhan dan
hanya berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang pencipta yang
menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara, menjaga dan
mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia, oleh karena
itu hanya kepada Dia manusia menyembah.
Terkait dengan masalah ibadah,
terdapat beberapa golongan
hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah.
hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah.
Diantaranya ada golongan yang
berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat dan ketertundukan seorang hamba
kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud kepada-Nya. Akan tetapi mereka
kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu yang terkait dengan ibadah
sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam sitiap situasi.
Ada pula yang berpendapat bahwa
dalam ibadah yang menjadi titik tekan adalah bagaimana seorang hamba
bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan sesuatu, dan sesuatu tersebut bernilai
ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi mereka acapkali menyepelekan ibadah
mahdhoh, seperti sholat, puasa dan lain-lain.
Kemudian golongan yang terakhir
adalah golongan yang dapat menserasikan antara golongan yang pertama dan kedua,
mereka dapat mensinergikan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Surat
Luqman Ayat 17 dan Terjemahannya
¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Artinya:
“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang
baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap
apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah).” (Q.S
Luqman [31]: 17)
B. Arti
Kata Sulit
|
يبُنَيَّ
|
:
|
Wahai anakku
|
|
اقِمِ
|
:
|
Dirikanlah
|
|
وَأْمُرْ
|
:
|
Dan perintahkanlah (manusia)
|
|
بِالْمَعْرُوْفِ
|
:
|
Dengan kebaikan (taat kepada Allah)
|
|
وَاصْبِرْ
|
:
|
Dan bersabarlah
|
|
مَا
اَصَابَكَ
|
:
|
Apa yang menimpamu (ketika
memerintah dan mencegah)
|
|
عَزْمِ
اْلاُمُوْفِ
|
Perkara yang ditentukan dan penting
|
C.
Asbabun
Nuzul
Ketika ayat ke-82 dari surat Al-An’am diturunkan,para
sahabat merasa keberatan. Maka mereka datang menghadap Rasulullah SAW,seraya
berkata “ Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang dapat membersihkan
keimanannya dari perbuatan zalim ?”.Jawab beliau “ Bukan begitu,bukanlah kamu
telah mendengarkan wasiat Lukman Hakim kepada anaknya : Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar
kezaliman yang besar.[1](
HR.Bukhori dari Abdillah )
Surat Al Luqman adalah termasuk surat Makkiyah, terdiri dari
34 ayat, surat ini diturunkan setelah surat Ash – Shaffat.
Luqman adalah seorang yang Sholeh dan memiliki akhlaq yang
mulia, yaitu akhlaq yang berbasiskan kepada keimanan yang kokoh. Namanya
diabadikan oleh Allah dalam salah satu surat di dalam Al Qur an, yakni surat ke
31.
Sehingga di dalam surat ini Allah memberikan pelajaran
kepada kita akan kesholehan Luqman dalam memberikan nasehat kepada anaknya,
yakni nasehat yang mengandung unsur “keilmuan” yang mendalam, “keihklasan” yang
suci dan “kecintaan”yang tinggi. Luqman adalah sosok ayah pilihan Allah.
Nasehat yang disampaikan pada anaknya diabadikan dalam Al Qur'an..
D.
Tafsir
Kata Kunci
Pertama: Firman Allah SWT, (يبُنَيَّ اقِمِ الصَّلَوةَ )"Hai anakku,
dirikanlah shalat."Leqman berwasiat kepada anaknya dengan
ketaatan ketaatan paling besar, yaitu shalat, menyuruh kepada yang makraf
dan melarang dari yang mungkar. Tentu saja maksudnya setelah dia sendiri
melaksanakannya dan menjauhi yang mungkar. Inilah ketaatan dan keutamaan paling
utama.
Kedua: Firman Allah SWT, (وَاصْبِرْ عَلَ مَااَصَابَكَ) Dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," mengandung
anjuran untuk merubah kemungkaran sekalipun Anda mendapatkan
kemudharatan. ini mengisyaratkan bahwa orang yang merubah terkadang
akan disakiti. Ini semua hanya sebatas kemampuan dan kekuatan sempurna hanya
milik Allah SWT.
Ketiga: Firman Allah SWT, ( أِنَّ ذَ لِكَ مِنْ اْلأُ مُورِ ) yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." Ibnu
Abbas RA berkata, "Di antara hakikat keimanan adalah bersabar atas segala
yang tidak diinginkan."
Ada yang berpendapat bahwa mendirikan shalat, menyuruh
kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah). Demikian pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Juraij.
Bisa juga maksudnya adalah termasuk akhlak mulia dan hal-hal yang mesti
dilakukan oleh orang-orang yang menjalani lorong keselamatan. Namun perkataan
Ibnu Juraij lebih tepat.[2]
E.
Tafsir
Keseluruhan
“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
Luqrnan as. melanjutkan nasihatnya kepada anaknya nasihat
yang dapat menjamin kesinambungan Tauhid serta kehadiran Ilahi dalam kalbu sang
anak. Beliau berkata sambil tetap memanggilnya dengan panggilan mesra: Wahai anakku sayang, laksanakanlah
shalat dengan sempurna syarat, rukun dan sunnah-sunnahnya. Dan di
samping engkau memperhatikan dirimu dan membentenginya dari kekejian dan
kemungkaran, anjurkan pula orang lain berlaku serupa. Karena itu, perintahkanlah secara
baik-baik siapa pun yang mampu engkau ajak men,gejakanjan
ma'ruf dan cegahlah mereka Dari kemungkaran. Memang,
engkau akan mengalami banyak tantangan dan rintangan dalam melaksanakan
tuntunan Allah, karena itu tabah dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpamu dalam melaksanakan aneka tugasmu.
Sesungguhnya yang demikian
itu yang
sangat tinggi kedudukannya dan jauh
tingkatnya dalam kebaikan yakni shalat, amr. ma'ruf dan nahi munkar atau dan kesabarantermasuk hal-hal yang dipermtah Allah agar diutamakan, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikannya
tingkatnya dalam kebaikan yakni shalat, amr. ma'ruf dan nahi munkar atau dan kesabarantermasuk hal-hal yang dipermtah Allah agar diutamakan, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikannya
Nasihat Luqrnan di atas menyangkut hal-hal yang berkaitan
dengan amal-amal saleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebaaikan
yang tecermin dalam amr mar’ruf dan nahi munkar, juga nasihat
berupa perisai yang membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah.
Menyuruh mengerjakan ma'ruf, mengandung pesan untuk
mengerjakannya, karena tidaklah wajar menyuruh sebelum diri sendiri
mengerjakannya. Demikian juga melarang kemungkaran, menuntut agar yang melarang
terlebih dahulu mencegah dirinya. Itu agaknya yang menjadi sebab mengapa
Luqman tidak memerintahkan anaknya melaksanakan ma'ruf dan menjauhi mungkar,
tetapi memerintahkan, menyuruh dan mencegah. Di sisi lain membiasakan anak
melaksanakan tuntunan ini membuat dalam dirinya jiwa
kepemimpinan serta kepeduhan sosial.[3]
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pertama,
perintah melaksanakan sholat yang terdapat dalam ayat ketujuh belas surah
Luqman mencakup ketentuan-ketentuan, syarat-syarat dan ketepatan waktunya.
Kedua, perintah amr ma’ruf nahi munkar berarti perintah melakukan
kebajikan dan melarang dari setiap perbuatan buruk. Ketiga, bersabar atas
segala gangguan dan rintangan yang datang menghadang pada saat kita hendak
melaksanakan amr ma’ruf nahi munkar. Karena menurut beliau, setiap orang
yang hendak mengerjakan amr ma’ruf nahi munkar pasti akan mendapat
rintangan, cobaan atau halangan, dan pada saat itulah dibutuhkan kesabaran.
Imam Mujahid dalam tafsirnya menjelaskan yang dimaksud dengan amr ma’ruf nahi
munkar pada ayat ini adalah siapa yang mengajak orang untuk beriman kepada
Allah SWT dan mencegah orang untuk menyembah kepada selain-Nya, maka itu
dinamakan amr ma’ruf nahi munkar.[4]
Ma'ruf adalah "Yang baik menurut
pandangan umum suatu masyarakat dan telah mereka kenal luas", selama
sejalan dengan al-khair (kebajikan), yaitu nilai-nilal
Ilahi. Mungkar adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh mereka
serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Karena itu, QS. Al-Imran [3]: 104
menekankan:
104. Dan hendaklah ada di
antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[5];
merekalah orang-orang yang beruntung.
Dalam ayat 17 ini Luqman menyuruh anaknya
untuk menegakan shalat. Karena shalat merupakan tiang agama dan sebagai penolak
keburukan dan kemungkaran. Kemudian menyuruh pula agar anaknya selalu menyeru
dan mengajak kepada kebaikan, juga menolak semua bentuk kemungkaran. Karena
mengajak pada kebaikan dan menolak keburukan itu adalah jalan yang ditempuh
para Nabi dan selayaknya orang-orang pun melakukan hal demikian karena hal itu
adalah bentuk perilaku sangat mulia dan terhormat.
Redaksi
meneruskan kisah Luqman kepada anaknya. Ia menelusuri bersama anaknya
langkah- langkah akidah setelah kestabilannya dalam nurani. Setelah
beriman kepada Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, yakin terhadap kehidupan
akhirat yang tiada keraguan di dalamnya, dan percaya kepada keadilan balasan
dari Allah yang tidak akan luput walaupun seberat satu biji sawi pun, maka
langkah selanjutnya adalah menghadap Allah dengan mendirikan shalat dan
mengarahkan kepada manusia untuk berdakwah kepada Allah, juga bersabar atas
beban-beban dakwah dan konsekuensi yang pasti ditemui.
Pada
ayat ini ada suatu pesan bahwa salah satu tugas orang tua kepada anaknya ialah
mendidiknya untuk menegakkan shalat. Karena shalat merupakan langkah kedua
setelah keimanan sehingga Rasulullah SAW menyebutkan dalam hadisnya bahwa
shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah ikrar keimanan dilakukan (syahadatain)
dan Rasulullah memerintahkan agar orang tua menyuruh anaknya shalat semenjak
usia dini, yakni usia tujuh tahun., sebagaimana sabdanya:
Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya
dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : Suruhlah anak-anakmu
mengerjakan shalat bila mereka telah berusia tujuh tahun., dan pukullah mereka
jika meninggalkannya bila mereka telah berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah
tempat tidur mereka. (H.R. Ahmad dan Abu Daud)
Dengan
menegakkan shalat berarti kita melakukan perbaikan spiritual. Menurut Hamka
dalam Tafsir al-Azharnya disebutkan bahwa : iaUntuk memperkuat pribadi dan
meneguhkan hubungan dengan Allah, untuk memperdalam rasa syukur kepada Tuhan
atas nikmat dan perlindungan-Nya yang selalu kita terima, dirikanlah shalat.
Dengan shalat kita melatih lidah, hati dan seluruh anggota badan untuk selalu
ingat kepada Tuhanla.[6]
Selain
itu, jika kita bahas salah satu rahasia shalat, misalkan ketika melakukan
sujud, anggota badan yang terletak di posisi paling tinggi yaitu kepala,kita
rendahkan hingga kening kita menyentuh tanah, sedikitnya sebanyak 34 kali dalam
17 rakaat shalat wajib, karena itu shalat senantiasa mengajari manusia untuk
tidak takabbur, sebaliknya mendidik kita untuk tawadhu di hadapan Allah SWT.[7]
Nasihat
Luqman pada ayat 17 ini menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal
shaleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikan yang tercermin
dalam amar makruf dan nahi mungkar, juga nasihat berupa perisai yang
membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah. Menyuruh
mengerjakan makruf, mengandung pesan untuk mengerjakannya, karena tidaklah
wajar menyuruh sebelum diri sendiri mengerjakannya. Demikian juga melarang
kemungkaran, menuntut agar yang melarang terlebih dahulu mencegah dirinya,. Itu
agaknya yang menjadi sebab mengapa Luqman tidak memerintahkan anaknya
melaksanakan yang makruf dan menjauhi mungkar, tetapi memerintahkan, menyuruh
dan mencegah. Di sisi lain membiasakan anak melaksanakan tuntunan ini
menimbulkan dalam dirinya jiwa kepemimpinan serta kepedulian sosial.[8]
Menurut
Mohsen Qaraati, Kita berkewajiban untuk membina anak-anak kita menjadi
individu-individu yang bertanggungjawab dan memiliki kepekaan social melalui
pendidikan keberimanan, kebertuhanan, menegakkan shalat dan melalui pendidikan
amar makruf nahi mungkar.Karena amar makruf adalah bukti cinta seseorang kepada
ajaran yang diyakininya, bukti kecintaan seseorang kepada umat, bukti dari
keinginan yang kuat untuk menuju keselamatan secara massal. Amar makruf adalah
semangat keagamaan dan jalinan persahabatan antar umat.[9]
Inilah
jalan akidah yang telah dirumuskan Allah. Yaitu, mengesakan Allah, merasakan
pengawasan-Nya, mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya, yakin kepada
keadilan-Nya, dan takut terhadap pembalasan dari-Nya. Kemudian melalui ayat 17
ini beralih kepada dakwah untuk menyeru manusia agar memperbaiki keadaan
mereka, serta menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari yang
mungkar. Juga bersiap-siap sebelum itu untuk menghadapi peperangan
melawan kemungkaran, dengan bekal yang pokok dan utama yaitu
bekal ibadah dan menghadap kepada-Nya serta bersabar atas segala yang menimpa
da’i di jalan Allah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al-qur’an surat Luqman ayat 17 menerangkan mengenai kewajian
mengerjakan shalat karena shalat merupakan hal yang utama serta di wajibkan
untuk mengerjakan yang baik serta mencegah dari perbuatan yang mungkar dan
diserukan untuk bersabar ketika menghadapi sesuatau yang menimpa dirinya (anak
Luqman) dan dari ketika tersebut diatas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwasannya itu adalah wajib untuk dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi.
Al-Qurthubi, Syaikh Imam. Tafsir
Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta Selatan. 2009.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah, Lentera Hati, Jakarta. 2003.
http://muhsinabdulaziz.blogspot.com/2011/05/pembinaan-keluarga-tafsir-surah-luqman.html







0 comments:
Post a Comment