BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta
didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus,
dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati
generasi.[1]
Sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan
daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran – pemikiran yang dianggap
sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan.
Karenanya banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada
munculnya berbagai aliran pendidikan. Oleh karena itu perlu kita ketahui faktor
– faktor apa saja yang dominan pengaruhnya dalam perkembangan peserta didik.
Dalam makalah ini, penulis akan
memaparkan padangan-pandangan yang mempengaruhi peserta didik, baik dari
keturunan, lingkungan, gabungan antara keduanya dan fitrah/potensi.
B. Rumusan Masalah
1.
Pengaruh Hereditas Terhadap Perilaku
2.
Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Hereditas Terhadap
Perilaku
1. Pengertian Hereditas
Salah satu dasar perbedaan
individual adalah latar belakang Hereditas masing – masing. Hereditas dapat di artikan sebagai
pewarisan atau pemindahan Biologis karateristik individu dari Pihak orang
tuanya.[2]
Menurut Witherington, hereditas
adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi
lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur
tubuh.[3]
Hereditas pada Individu berupa
Warisan ‘’ Specifik genes” yang berasal dari kedua orang tuanya.
“Genes” ini terhimpun di dalam kromosom – kromosom atau “Colared Bodies”
. Kromosom – Kromosom baik dari pihak ayah maupun pihak ibbu berinteraksi
membentuk pasangan – pasangan . Dua anggota dari masing – masing pasangan
memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pasangan kromosom dimana dalam masing –
masing kromosom terdapat sejumlah genes dan masing masing genes memiliki
sifat tertentu , membentuk persenyawaan genesyang demikian menjalin
senyawa sifat – sifat genes.
Setiap sel dalam tubuh memiliki
hereditas identik sebagai akibat dari adanya proses individu dan
differensiasi. Hereditas juga merupakan factor pertama yang
mempengaruhi perkembangan indvidu. Setiap individu memulai kehidupannya sebagai
organism yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya lebih
kurang 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan perpaduan antara sel telur
dengan sel sperma. Di dalam rahim, sel benih yang telah dibuahi teris bertambah
besar dengan jalan pembelahan sel menjadi organism yang bersel dua, empat,
delapan, dst. Hingga setekah kurang lebih 9 bulan menjadi organism yang
sempurna.
Diantara semua sel, sebagian sel di
cadangkan untuk fungsi pembiakan atau pembenihan. Sel – sel ini di sebut sel “germ” sejak
individu di lahirkan ia telah memiliki sel –sel germ ini.
Ketika individu mencapai kematangan seksual , dalam tubuhnya terjadi
pembentukan sel – sel benih yang prosesnya berasal dari sel – sel Germ .
Proses ini di sebutMeiosis apabila proses ini terjadi pada anak
laki – laki, maka terbentuklah bahan yang di sebut sperma. Apabila proses ini
terjadi pada anak perempuan maka terbentuklah bahan yang di sebut ova atau
telur – telur dalam kandungan. Produksi benih ini akan lebih nyata ketika
anakmencapai tingkat pubertas. Apabila dua individu berlainan jenis kelamin
melakukan perkawinan, terjadilahproses genetis seperti yang di kemukakan di
atas dalam rangka membentk individu baru.
Proses genetis individu berawal dari
pertemuan antara 24 kromosom pihak ayah dan 24 kromosom pihak ibu . keempat
puluh delapan kromosom itu bercampur dan berinteraksi membentuk pasangan –
pasangan baru . Akibat dari peristiwa ini maka terjadilah pertemuan Genespada
setiap pasangan Kromosom dari pihak ayah dan ibu yang memiliki sifat tertentu .
Akibat dari pertemuan genes itulah maka terjadi perubahan sifat hereditas. Jadi
dasar hereditas dari perbedaan individual adalah adanya kombinasi – kombinasi genes yang
mengakibatkan adanya perubahan – perubahan sifat genes.
Hereditas memiliki peranan dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam
warisan yang berasal dari ibu bapaknya atau nenek dan kakeknya. Warisan
(keturunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting antara lain: bentuk tubuh,
raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan
penyakit.
a. Bentuk
Tubuh dan Warna Kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh
anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya
anak-anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperti
ayahnya, rambut keriting dan warna kulit putih seperti ibunya.
Cukup besar pengaruh
keturunan(pembawaan) terhadap pertumbuhan jasmani anak. Bagaimanapun tingginya
teknologi untuk mengubah bentuk dan warna kulit seseorang, namun faktor
keturunan tidak dapat diabaikan begitu saja.
b. Sifat-Sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh
seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu ayah atau nenek dan
kakek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya, penyabar, pemarah,
kikir, boros, hemat dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut dibawa manusia sejak
lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui dimiliki anak selagi masih kecil
dan ada pula yang diketahui sesudah agak besar.
c. Inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan yang
bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah.
Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan pikis
seperti: abstrak, berpikir, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.
d. Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang
menonjol diantara berbagai jenis yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu
biasanya berbentuk ketrampilan atau sesuatu bidang ilmu.
e. Penyakit atau Cacat Tubuh
Beberapa penyakit atau cacat tubuh
ada yang berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan dan saraf. Penyakit
yang dibawa sejak lahir akan mempengaruhi pertubuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani anak.
Perlu pula
kiranya disini kita singgung sedikit beberapa macam pembawaan sebagai berikut:
a.
Pembawaan jenis
Tiap-tiap
manusia biasa di waktu lahirnya telah memiliki pembawaan jenis, yaitu jenis
manusia. Bentuk badannya, anggota-anggota tubuhnya, intelegensinya, ingatannya
dan sebagainya semua itu menunjukan cirri-cirri yang khas, dan berbeda dengan
jenis-jenis makhluk lain.
b.
Pembawaan ras
Dalam
jenis manusia pada umumnya masih terdapat lagi bermacam-macam perbedaan yang
juga termasuk pembawaan keturunan, yaitu pembawaan keturunan mengenai ras.
Seperti ras Indo Jerman, ras Mongolia, ras Negro dan lain-lain. Masing-msing
ras itu dapat terlihat perbedaannya satu sama lain.
c.
Pembawaan jenis kelamin
Setiap
manusia yang normal sejak lahir telah membawa pembawaan jenis kelamin
masing-masing.
d.
Pembawaan
perseorangan
Kecuali
pembawaan-pembawaan tersebut di atas, tiap-tiap orang sendiri-sendiri (individu)
memiliki pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan) yang
tipikal. Tiap-tiap individu meskipun bersamaan ras atau jenis kelaminnya
masing-masing mempunyai pembawaan watak , intelegensi, sifat-sifat dan
sebagainya yang berbeda-beda. Jadi tiap-tiap orang mempunyai pembawaan
perseorangan yang berlain-lainan.
Adapun yang
termasuk pembawaan perseorangan yang dalam pertumbuhannya lebih di tentukan
oleh pembawaan keturunan antara lain :
·
Konstitusi tubuh
·
Cara bekerja alat-alat indera
·
Sifat-sifat ingatan dan kesanggupan
belajar
·
Tipe-tipe perhatian, intelegensi
Qosien (IQ), serta tipe-tipe intelegensi.
·
Cara-cara berlangsungnya emosi-emosi
yang khas.
2.
Mekanisme Hereditas
Dari pendidikan
yang dilakukan dan para ahli biologi dapat diketahui bahwa individu baru akan
terjadi bila terdapat perpaduan antara sperma dan ovum. Baik sperma maupun ovum
mempengaruhi sifat-sifat individu itu. Selanjutnya, terutama pengaruh-pengaruh
nampak jelas ada sifat-sifat jasmani individu itu.
Dalam
penyelidikan tersebut ditemukan apa yang dinamakan kromosom yang berwujud
benang-benang plasma yang berpasangan. Pada manusia setengah dari jumlah
kromosom itu berasal dari pihak ayah dan setengah lagi dari pihak ibu.
Menurut
penelitian morgan bahwa setiap kromosom mengandung unsur-unsur yang dinamakan
gene dan gene inilah yang merupakan pembawa hereditas.
3.
Hukum
Hereditas
a) Hukum Reproduksi
Hukum
ini mengatakan bahwa hereditas berlangsung dengan perantara sel benih, berarti
tidak melalui sel somatis (sel tumbuh). Hukum ini memberi penjelasan bahwa
sifat-sifat yang diperoleh orang itu, karena pengalaman-pengalaman hidup tak
dapat diturunkan melalui proses-proses biologis kepada anak.
b) Hukum Konfirmetet
Hukum
ini mengatakan bahwa setiap jenis species menurunkan jenis spesiesnya sendiri
atau setiap golongan makhluk akan menurunkan golongan makhluk itu sendiri.
Manusia tidak akan melahirkan makhluk lain yang bukan manusia.
c) Hukum Variasi
Hukum
ini mengatakan bahwa individu-individu dalam satu species, di samping adanya
ciri-ciri dan sifat-sifat yang menunjukkan persamaan, disamping itu terdapat
juga variasi-variasi sifat dan ciri-ciri dimana hal itu menyebabkan adanya
perbedaan individu yang satu dengan yang lain.
d) Hukum Regresi Fisial
Hukum
ini mengatakan bahwa sifat-sifat dan ciri-ciri manusia menunjukkan
kecenderungan kearah rata-rata. Jadi anak yang berasal dari orangtua sangat
cerdas akan ada kecenderungan untuk menjadi lebih cerdas dari pada orang
tuanya.[5]
4. Teori Keturunan (Aliran
Nativisme/Maturational Theory)
Berbicara tentang hereditas, maka kita pasti akan menyinggung
Teori Maturational yang menyatakan bahwa keturunan memiliki peranan penting
dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak lahir ke dunia ini membawa
berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua Ibu-Bapak atau nenek dan kakek.
Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk
tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan
penyakit. Warisan atau turunan yang dibawa anak sejak lahir dari kandungan
sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari
nenek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ibu dan ayahnya). Hal ini sesuai
dengan hukum Mendel yang dicetuskan Gregor Mendel pada tahun 1857. Keturunan juga disebut hereditas.
Pembawaan
adalah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan
warisan dari orang tua’. Para ahli yang beraliran Nativisme nerpendapat
bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan.
Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan.[6]
Aliran Nativisme
dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778-1860), dari Jerman. Beliau mengatakan
bahwa bakat mempunyai peranan yang penting. Ridak ada gunanya orang mendidik
kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan diumpamakan ‘merubah emas
jadi perak’ jadi suatu hal yang tidak mungkin.
Dengan demikian
faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa
dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Dalam pendidikan ilmu aliran
inidikenal sesbagai aliran pedagogik pesivisme[7]
yaitu pendidikan yang tidak dapat dipengaruhi perkembangan anak ke arah
kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidik.[8]
Para ahli yang
mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan
menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang Tua dan anak-anaknya.
Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah besar anaknya juga
akan menjadi ahli musik, jika orang tua ahli melukis maka besar kemungkinan
anaknyapun ahli dalam melukis.[9]
Mungkin penyusun disini bisa mengibaratkan seperti ‘buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya’.
Para ahli yang mengikuti pendirian
ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai
kesamaan atau kemiripan antara orang tua dan anak-anaknya.
Akan tetapi pantas diragukan pula,
apakah kesamaan yang ada antara orang tua dan anak itu benar-benar dasar yang
dibawa sejak lahir. Sebab, jika sekiranya anak seorang ahli musi juga menjadi
ahli musik, apakah hal itu benar-benar berakar pada keturunan atau dasar?
Apakah tidak mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas untukn dapat maju dalam
bidang seni musik maka dia lalu menjadi seorang ahli musik.[10]
Pada umumya teori nativisme sekarang telah ditinggalkan orang.[11]
5.
Pengaruh
Hereditas terhadap Perilaku
Hereditas
(Hereditet) adalah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri dari satu
generasi ke generasi lain dengan perantara plasma benih. Pada umumnya ini
berarti bahwa strukturlah dan bukan bentuk-bentuk tingkah laku yang diturunkan.[12]
Tidak ada
orang hidup semata-mata terpengaruh oleh hereditet atau lingkungan semata.
Tidak mungkin jiwa manusia berkembang bila tidak ada kemampuan berkembang, maka
untuk bisa berkembang harus ada potensi untuk berkembang walaupun tidak memberi
kemungkinan berkembang, maka potensi itu tidak ada kenyataannya. Oleh karena
itu, dapat dikatakan bahwa manusia hidup tumbuh dan berkembang karean pengaruh
hereditet dan lingkungan.
Herditet
atau bawaan merupakan segala ciri, sifat, potensi dan kemampuan yang dimiliki
individu karena kelahirannya. Ciri, sifat dan kemampuan-kemampuan tersebut
dibawa individu dari kelahirannya dan diterima sebagai keturunan dari
kedua orang tuanya.[13]
Individu
memulai kehidupannya sejak masa konspesi, dan disitulah berlangsungnya proses
penutunan sifat masa antara pembuahan dan pembelahaan sel merupakan saat
berlangsungnya perpaduan dan penurunan sifat-sifat.
Ada dua
kategori ciri atau sifat yang dimiliki oleh individu yaitu diri-ciri dan
sifat-sifat yang menetap (permanent state) dan ciri atau sifat-sifat
yang dapat berubah (temporary state). Permanent state seperti
kecerdasan atau intelegensi dan bakat sedangkan temporary state merupakan
yang bisa berubah seperti besar badan, sikap tubuh, kebiasaan, minat, ketekunan
dan lain-lan.
Dari
uraian di atas, dapat kita simpulkan pengaruh hereditas terhadap manusia adalah
sebagai berikut:
a.
Dalam
bidang pertumbuhan dan perkembangan fisik:
Sumbangan hereditas: Tinggi, bentuk,
kerangka, dan struktur badan disebabkan oleh pertumbuhan potensi-potensi atau
sifat-sifat dalam”genes, struktur dari sistem saraf juga dibentuk oleh
pertumbuhan genetis. Batas-batas perkembangan fungsi-fungsi sensoris dan
motoris juga ditentukan oleh pertumbuhan genetis,dan batas-batas perkembangan
itu sangat bervariasi.Dengan demikian, perbedaan skill motorik dan kemampuan-kemampuan
stletik pada anak dan orang dewasa kebanyakan di sebabkan oleh hereditas.
b.
Dalam
bidang pertumbuhan dan perkembangan mental:
Sumbangan hereditas: Bukti-bukti
menunjukkan, bahwa anak-anak yang lahir dengan berbagai kapasitas mental,
dengan berbagai potensi musik, melukis, menyanyi, berpidato dan sebagainya,
dalam batas-batas tertentu adalah tumbuh dan berkembang secara genetis. Ini
berarti hereditas berperan penting.
c.
Dalam
bidang kesehatan mental dan emosi serta kepribadian:
Sumbangan hereditas: Walaupun bidang
lingkungan hidup ini sangat berpengaruh, namun manusia dilahirkan dengan
struktur jasmaniah seperti sistem saraf, kelenjar-kelenjar, dan organ-organ
yang semua itu menentukan stabilitas emosi serta membedakan kapasitas mental,
maka kesehatan mental dan emosi lebih banyak dipengaruhi oleh hereditas.
B. Pengaruh
Lingkungan Terhadap Perilaku
1.
Pengertian
Lingkungan
Lingkungan merupakan hal- hal yang
mencakup segala materil dan stimuli di dalam dan di luar diri individu baik
yang bersifat fisiologis, psikologis maupun yang bersifat social cultural.
Dengan demikian lingkungan dapat di artikan secara fisiologis, secara
psikologis, dan secara sosio cultural .[14]
a.
Secara
Fisiologis lingkungan meliputi segala kondisi materil jasmaniah di dalam tubuh
seperti gizi, vitamin, air, zat asam, system saraf, peredaran darah,
peranapasan, pencernaan makanan, kelenjar – kelenjar indoktrin, sel – sel
pertumbuhan, dan kesehatan jasmani.
b.
Secara
psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang di terima individu mulai
sejak dalam konsesi, kelahiran sampai matinya. Stimulasi itu misalnya barupa :
sifat – sifat genes interaksigenes, selera,
keinginan, perasaan, tujuan – tujuan, minat, kebutuhan, kemauan, emosoi, dan
kapasitas intelektual.
c.
Secara
sosio cultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi
eksternal dalam hbungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola
hidup keluarga, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar,
pendidikan, pengajaran, bimbingan dan penyuluhan adalah termasuk sebagai
lingkungan ini.
Dengan di perluasnya konsep tentang
lingkungan ini, maka orangpun semakin mengalami kesulitan dalam membedakan
antara konsep lingkungan dengan konsep Heraditas. Kesulitan itu dapat
mengakibatkan orang menjadi kebingungan dalam membedakan antara heraditas dan
lingkungan apabila jika yang di maksudkan lingkungan adalah lingkungan
fisiologis. Kebingungan itu dapat meningkat menjadi miskonsepsi setelah orang
menghadapi istilah – istilah Heraditari, inbom, innate, congenital, dan
native. Istilah – istilah tersebut sulit sekali di bedakan, padahal
beberapa istilah itu adalah ada yang invironmental.
2.
Teori Lingkungan (Aliran Empirisme/Behavioral Theory)
Tokoh
aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun
1632-1704. Empire artinya pengalaman. Aliran ini berpendapat bahwa dalam
perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau
pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Pada dasarnya manusia
itu bisa didik apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya.
Lingkungan sendiri merupakan semua
yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan.[15]
Teori
yang lebih dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa
anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan
mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari
orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak
melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris
yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak.
Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat
penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan
menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk
tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang
diharapkan.
Lingkungan
sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi,
lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di
dalam dan di luar individu.[16] Yang
dimaksud lingkungan disini ialah segala sesuatu yang ada diluar diri anak yang
memberikan pengaruh terhadap perkembangan. Dalam pembicaraan pada bagian ini,
maka pendidikan dimasukkan juga sebagai faktor lingkunga.
Factor
lingkungan juga disebut faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat berupa
benda-benda, orang-orang, keadaan-keadaan dan peristiwa yang ada disekitar
anak, yang bias memberikan pengaruh pada perkembangannya, baik secara langsung
ataupun tidak langsung, baik secara sengaja atau ridak sengaja. Disamping
lingkungan itu memberikan pengaruh dan dorongan, lingkungan juga merupakan
arena yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (bawaan) yang
ada pada seseorang anak untuk berkembang.
3.
Pengaruh
Lingkungan Terhadap Perilaku
Lingkungan
alam dan geografis dimana individu bertempat tinggal mempengaruhi perkembangan
dna perilaku individu. Perilaku yang diperlihatkan oleh individu bukan sesuatu
yang dilakukan sendiri tetapi selalu dalam interaksinya dengan lingkungan.
Demikian juga dengan sifat dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki individu
sebagian besar diperoleh melalui hubungannya dengan lingkungan.
Perkembangan
dan perilaku individu juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, yaitu
lingkungan yang berkenaan dengan cara-cara manusia mengatur dan memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, lingkungan budaya juga berpengaruh.
Lingkungan budaya merupakan lingkungan yang berkenaan dengansegala hasil kreasi
manusia, baik hasil kreasi yang konkrit maupun abstrak, berupa benda, ilmu pengetahuan,
teknologi ataupun aturan-aturan, lembaga-lembaga serta adat istiadat dan
lain-lain.
Lingkungan
lain yang tak kalah penting adalah lingkungan politik dan keamanan. Lingkungan
politik berkenaan dengan bagaimana cara manusia membagi dan mengatur kekuasaan
atas manusia yang lainnya. Lingkungan keamanan berkenaan dengan situasi
ketentraman dan keterlindungan manusia dari ancaman dan gangguan-gangguan, baik
dari sesama manusia, binatang maupun alam.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perilaku mansusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
faktor hereditas (keturunan) dan faktor lingkungan. Faktor bawaan (hereditet),
merupakan proses penurunan sifat atau ciri dari satu generasi ke generasi
lainnya, dan terjadi pada masa konsepsi atau bertemunya sel sperma dengan sel
telur yang disebit sel benih. Kedua, lingkungan. Keadaan lingkungan atau
geografis dapat mempengaruhi perkembangan manusia, karena perilaku manusia
bukan sesuatu yang dilakukan sendiri melainkan denagn berinteraksi dengan
lingkungan sekitar, sehingga sifat atau kecakapan yang dimiliki, diperoleh
melalui hubungan dengan lingkungan. Ketiga, interaksi antara pembawaan,
lingkungan, dan kematangan. Faktor ini merupakan perkembangan dari kedua faktor
di atas karena menganggap bahwa kedua faktor di atas (hereditet dan
lingkungan) tidak dapat mempengaruhi manusia tanpa ada kematangan pada
aspek-aspek lainnya.
B.
Saran
Kami
merasa dalam penyusunan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu,
kami mengharapkan subangsih kritik dan saran agar nanti dalam penyusunan
makalah selanjutnya dapat lebih baik. Mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, Muhammad. 1976. Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah
Manusia. Jakarta: Bulan Bintang
H.C Witherington. 1991. Psikologi Pendidikan, Terjemahan M. Bukhori. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Indrakusuma, Amir Dien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Mustakim. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta :
Rineka Cipta.
Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sabri,
Alisuf Sabri. 1993. Pengembangan psikologi Umum dan
Perkembangan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Slameto. 2003. Belajar
dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
PT Rinneka Cipta.
Sujanto. 1984. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Aksara Baru.
Sukamdinata, Nana
Syaodih. 20014 Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sumanto, Wasti. 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.
Jakarta : PT.Rineka cipta.
Suryabrata, Sumadi.
1993. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
[1] Sujanto, Psikologi Kepribadian (Jakarta, Aksara Baru, 1984) hal. 24.
[2] Drs.
Wasti sumanto .M.pd. psikologi
pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan.Jakarta(PT.Rineka cipta
:2006) hal 82.
[3] Drs.
H.M.Arifin M.Ed. Psikologi
dan beberapa aspek kehidupan rohaniah manusia.jakarta (PT.Bulan Bintang:
1976)hal 124
[4] Drs. M. Ngalim
Purwanto.1990.Psikologi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.Bandung. hal.18
[5] Drs.
Mustakim, Drs. Abdul Wahid, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta : Rineka
Cipta, 2003), h. 12-13, 18-20
[6] Alisuf
Sabri, Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta :
Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. I, hal. 173.
[7] pedagogik pesivisme
yaitu pendidikan
tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki
oleh penndidikan. Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan
perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak
memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu
bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya,
misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh
teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin
saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau
dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat,
organisasi dan lain-lain.
[8] Amir Dien
Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional,
1973), cet. Ke-1, hal. 83
[9]Sumadi
Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
1993), cet. VI, hal. 185
[10] Sumadi Suryabrata, Op. Cit 177-178.
[11] Mustakim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 33.
[12] H.C
Witherington, Psikologi
Pendidikan, Terjemhan M.
Bukhori, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), h. 203
[13] Nana
Syaodih Sukamdinata, Landasan
Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2004), h. 44
[14] Drs.
Wasti sumanto .M.Pd. psikologi
pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan .Jakarta(PT.Rineka cipta :2006) hal 84
[15] Slameto, 2003. Belajar dan Faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: PT
Rinneka Cipta, hal. 60.







0 comments:
Post a Comment