Tuesday, 7 October 2014

MAKALAH PENGARUH HEREDITAS (KETURUNAN) DAN LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.[1]
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran – pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Oleh karena itu perlu kita ketahui faktor – faktor apa saja yang dominan pengaruhnya dalam perkembangan peserta didik.
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan padangan-pandangan yang mempengaruhi peserta didik, baik dari keturunan, lingkungan, gabungan antara keduanya dan fitrah/potensi.

B.  Rumusan Masalah
1.    Pengaruh Hereditas Terhadap Perilaku
2.    Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengaruh Hereditas Terhadap Perilaku
1.      Pengertian Hereditas
Salah satu dasar perbedaan individual adalah latar belakang Hereditas masing – masing.  Hereditas dapat di artikan  sebagai pewarisan atau pemindahan Biologis karateristik individu dari Pihak orang tuanya.[2]
Menurut Witherington, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.[3]
Hereditas pada Individu berupa Warisan ‘’ Specifik genes” yang berasal dari kedua orang tuanya. “Genes” ini terhimpun di dalam kromosom – kromosom atau “Colared Bodies” . Kromosom – Kromosom baik dari pihak ayah maupun pihak ibbu berinteraksi membentuk pasangan – pasangan . Dua anggota dari masing – masing pasangan memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pasangan kromosom dimana dalam masing – masing kromosom terdapat sejumlah genes dan masing masing genes memiliki sifat tertentu , membentuk persenyawaan genesyang demikian menjalin senyawa sifat – sifat genes
Setiap sel dalam tubuh memiliki hereditas identik sebagai akibat dari adanya proses individu dan differensiasi.  Hereditas juga merupakan factor pertama yang mempengaruhi perkembangan indvidu. Setiap individu memulai kehidupannya sebagai organism yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya lebih kurang 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan perpaduan antara sel telur dengan sel sperma. Di dalam rahim, sel benih yang telah dibuahi teris bertambah besar dengan jalan pembelahan sel menjadi organism yang bersel dua, empat, delapan, dst. Hingga setekah kurang lebih 9 bulan menjadi organism yang sempurna.
Diantara semua sel, sebagian sel di cadangkan untuk fungsi pembiakan atau pembenihan. Sel – sel ini di sebut sel “germ”    sejak individu di lahirkan ia telah memiliki sel –sel germ ini. Ketika individu mencapai kematangan seksual , dalam tubuhnya terjadi pembentukan sel – sel benih yang prosesnya berasal dari sel – sel Germ . Proses ini di sebutMeiosis apabila proses ini terjadi pada anak laki – laki, maka terbentuklah bahan yang di sebut sperma. Apabila proses ini terjadi pada anak perempuan maka terbentuklah bahan yang di sebut ova atau telur – telur dalam kandungan. Produksi benih ini akan lebih nyata ketika anakmencapai tingkat pubertas. Apabila dua individu berlainan jenis kelamin melakukan perkawinan, terjadilahproses genetis seperti yang di kemukakan di atas dalam rangka membentk individu baru.
Proses genetis individu berawal dari pertemuan antara 24 kromosom pihak ayah dan 24 kromosom pihak ibu . keempat puluh delapan kromosom itu bercampur dan berinteraksi membentuk pasangan – pasangan baru . Akibat dari peristiwa ini maka terjadilah pertemuan Genespada setiap pasangan Kromosom dari pihak ayah dan ibu yang memiliki sifat tertentu . Akibat dari pertemuan genes itulah maka terjadi perubahan sifat hereditas. Jadi dasar hereditas dari perbedaan individual adalah adanya kombinasi – kombinasi genes yang mengakibatkan adanya perubahan – perubahan  sifat genes.
Hereditas memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari ibu bapaknya atau nenek dan kakeknya. Warisan (keturunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakit.
a.      Bentuk Tubuh dan Warna Kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya anak-anak yang memiliki bentuk  tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperti ayahnya, rambut keriting  dan warna kulit putih seperti ibunya.
Cukup besar pengaruh keturunan(pembawaan) terhadap pertumbuhan jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah  bentuk dan warna kulit seseorang, namun faktor keturunan tidak dapat diabaikan begitu saja.
b.      Sifat-Sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu ayah atau nenek dan kakek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya, penyabar, pemarah, kikir, boros, hemat dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut dibawa manusia sejak lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui dimiliki anak selagi masih kecil dan ada pula yang diketahui sesudah agak besar.
c.        Inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan pikis seperti: abstrak, berpikir, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.
d.      Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu biasanya berbentuk ketrampilan atau sesuatu bidang ilmu.
e.        Penyakit atau Cacat Tubuh
Beberapa penyakit atau cacat tubuh ada yang berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan dan saraf. Penyakit yang dibawa sejak lahir akan mempengaruhi pertubuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.
Perlu pula kiranya disini kita singgung sedikit beberapa macam pembawaan sebagai berikut:
a.      Pembawaan jenis
Tiap-tiap manusia biasa di waktu lahirnya telah memiliki pembawaan jenis, yaitu jenis manusia. Bentuk badannya, anggota-anggota tubuhnya, intelegensinya, ingatannya dan sebagainya semua itu menunjukan cirri-cirri yang khas, dan berbeda dengan jenis-jenis makhluk lain.
b.      Pembawaan ras
 Dalam jenis manusia pada umumnya masih terdapat lagi bermacam-macam perbedaan yang juga termasuk pembawaan keturunan, yaitu pembawaan keturunan mengenai ras. Seperti ras Indo Jerman, ras Mongolia, ras Negro dan lain-lain. Masing-msing ras itu dapat terlihat perbedaannya satu sama lain.
c.       Pembawaan jenis kelamin
Setiap manusia yang normal sejak lahir telah membawa pembawaan jenis kelamin masing-masing.
d.      Pembawaan perseorangan
Kecuali pembawaan-pembawaan tersebut di atas, tiap-tiap orang sendiri-sendiri (individu) memiliki pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan) yang tipikal. Tiap-tiap individu meskipun bersamaan ras atau jenis   kelaminnya masing-masing mempunyai pembawaan watak , intelegensi, sifat-sifat dan sebagainya yang berbeda-beda. Jadi tiap-tiap orang mempunyai pembawaan perseorangan yang berlain-lainan.
Adapun yang termasuk pembawaan perseorangan yang dalam pertumbuhannya lebih di tentukan oleh pembawaan keturunan antara lain :
·         Konstitusi tubuh
·         Cara bekerja alat-alat indera
·         Sifat-sifat ingatan dan kesanggupan belajar
·         Tipe-tipe perhatian, intelegensi Qosien (IQ), serta tipe-tipe intelegensi.
·         Cara-cara berlangsungnya emosi-emosi yang khas.
·         Tempo dan ritme perkembangan.[4]
2.       Mekanisme Hereditas
Dari pendidikan yang dilakukan dan para ahli biologi dapat diketahui bahwa individu baru akan terjadi bila terdapat perpaduan antara sperma dan ovum. Baik sperma maupun ovum mempengaruhi sifat-sifat individu itu. Selanjutnya, terutama pengaruh-pengaruh nampak jelas ada sifat-sifat jasmani individu itu.
Dalam penyelidikan tersebut ditemukan apa yang dinamakan kromosom yang berwujud benang-benang plasma yang berpasangan. Pada manusia setengah dari jumlah kromosom itu berasal dari pihak ayah dan setengah lagi dari pihak ibu.
Menurut penelitian morgan bahwa setiap kromosom mengandung unsur-unsur yang dinamakan gene dan gene inilah yang merupakan pembawa hereditas.
3.      Hukum Hereditas
a)      Hukum Reproduksi
Hukum ini mengatakan bahwa hereditas berlangsung dengan perantara sel benih, berarti tidak melalui sel somatis (sel tumbuh). Hukum ini memberi penjelasan bahwa sifat-sifat yang diperoleh orang itu, karena pengalaman-pengalaman hidup tak dapat diturunkan melalui proses-proses biologis kepada anak.
b)      Hukum Konfirmetet
Hukum ini mengatakan bahwa setiap jenis species menurunkan jenis spesiesnya sendiri atau setiap golongan makhluk akan menurunkan golongan makhluk itu sendiri. Manusia tidak akan melahirkan makhluk lain yang bukan manusia.
c)      Hukum Variasi
Hukum ini mengatakan bahwa individu-individu dalam satu species, di samping adanya ciri-ciri dan sifat-sifat yang menunjukkan persamaan, disamping itu terdapat juga variasi-variasi sifat dan ciri-ciri dimana hal itu menyebabkan adanya perbedaan individu yang satu dengan yang lain.
d)     Hukum Regresi Fisial
Hukum ini mengatakan bahwa sifat-sifat dan ciri-ciri manusia menunjukkan kecenderungan kearah rata-rata. Jadi anak yang berasal dari orangtua sangat cerdas akan ada kecenderungan untuk menjadi lebih cerdas dari pada orang tuanya.[5]
4.      Teori Keturunan (Aliran Nativisme/Maturational Theory)
Berbicara tentang hereditas, maka kita pasti akan menyinggung Teori Maturational yang menyatakan bahwa keturunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua Ibu-Bapak atau nenek dan kakek. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakit. Warisan atau turunan yang dibawa anak sejak lahir dari kandungan sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari nenek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ibu dan ayahnya). Hal ini sesuai dengan hukum Mendel yang dicetuskan Gregor Mendel pada tahun 1857. Keturunan juga disebut hereditas.
Pembawaan adalah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan warisan dari orang tua’. Para ahli yang beraliran Nativisme nerpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan.[6]    
Aliran Nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778-1860), dari Jerman. Beliau mengatakan bahwa bakat mempunyai peranan yang penting. Ridak ada gunanya orang mendidik kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan diumpamakan ‘merubah emas jadi perak’ jadi suatu hal yang tidak mungkin.
Dengan demikian faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Dalam pendidikan ilmu aliran inidikenal sesbagai aliran pedagogik pesivisme[7] yaitu pendidikan yang tidak dapat dipengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidik.[8]
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang Tua dan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah besar anaknya juga akan menjadi ahli musik, jika orang tua ahli melukis maka besar kemungkinan anaknyapun ahli dalam melukis.[9] Mungkin penyusun disini bisa mengibaratkan seperti ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dan anak-anaknya.
Akan tetapi pantas diragukan pula, apakah kesamaan yang ada antara orang tua dan anak itu benar-benar dasar yang dibawa sejak lahir. Sebab, jika sekiranya anak seorang ahli musi juga menjadi ahli musik, apakah hal itu benar-benar berakar pada keturunan atau dasar? Apakah tidak mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas untukn dapat maju dalam bidang seni musik maka dia lalu menjadi seorang ahli musik.[10] Pada umumya teori nativisme sekarang telah ditinggalkan orang.[11] 
5.      Pengaruh Hereditas terhadap Perilaku
Hereditas (Hereditet) adalah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri dari satu generasi ke generasi lain dengan perantara plasma benih. Pada umumnya ini berarti bahwa strukturlah dan bukan bentuk-bentuk tingkah laku yang diturunkan.[12]
Tidak ada orang hidup semata-mata terpengaruh oleh hereditet atau lingkungan semata. Tidak mungkin jiwa manusia berkembang bila tidak ada kemampuan berkembang, maka untuk bisa berkembang harus ada potensi untuk berkembang walaupun tidak memberi kemungkinan berkembang, maka potensi itu tidak ada kenyataannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia hidup tumbuh dan berkembang karean pengaruh hereditet dan lingkungan.
Herditet atau bawaan merupakan segala ciri, sifat, potensi dan kemampuan yang dimiliki individu karena kelahirannya. Ciri, sifat dan kemampuan-kemampuan tersebut dibawa individu dari kelahirannya dan diterima  sebagai keturunan dari kedua orang tuanya.[13]
Individu memulai kehidupannya sejak masa konspesi, dan disitulah berlangsungnya proses penutunan sifat masa antara pembuahan dan pembelahaan sel merupakan saat berlangsungnya perpaduan dan penurunan sifat-sifat.
Ada dua kategori ciri atau sifat yang dimiliki oleh individu yaitu diri-ciri dan sifat-sifat yang menetap (permanent state) dan ciri atau sifat-sifat yang dapat berubah (temporary state). Permanent state seperti kecerdasan atau intelegensi dan bakat sedangkan temporary state merupakan yang bisa berubah seperti besar badan, sikap tubuh, kebiasaan, minat, ketekunan dan lain-lan.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan pengaruh hereditas terhadap manusia adalah sebagai berikut:
a.    Dalam bidang pertumbuhan dan perkembangan fisik:
Sumbangan hereditas: Tinggi, bentuk, kerangka, dan struktur badan disebabkan oleh pertumbuhan potensi-potensi atau sifat-sifat dalam”genes, struktur dari sistem saraf juga dibentuk oleh pertumbuhan genetis. Batas-batas perkembangan fungsi-fungsi sensoris dan motoris juga ditentukan oleh pertumbuhan genetis,dan batas-batas perkembangan itu sangat bervariasi.Dengan demikian, perbedaan skill motorik dan kemampuan-kemampuan stletik pada anak dan orang dewasa kebanyakan di sebabkan oleh hereditas.
b.    Dalam bidang pertumbuhan dan perkembangan mental:
Sumbangan hereditas: Bukti-bukti menunjukkan, bahwa anak-anak yang lahir dengan berbagai kapasitas mental, dengan berbagai potensi musik, melukis, menyanyi, berpidato dan sebagainya, dalam batas-batas tertentu adalah tumbuh dan berkembang secara genetis. Ini berarti hereditas berperan penting.
c.    Dalam bidang kesehatan mental dan emosi serta kepribadian:
Sumbangan hereditas: Walaupun bidang lingkungan hidup ini sangat berpengaruh, namun manusia dilahirkan dengan struktur jasmaniah seperti sistem saraf, kelenjar-kelenjar, dan organ-organ yang semua itu menentukan stabilitas emosi serta membedakan kapasitas mental, maka kesehatan mental dan emosi lebih banyak  dipengaruhi oleh hereditas.

B.       Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku
1.      Pengertian Lingkungan
Lingkungan merupakan hal- hal yang mencakup segala materil dan stimuli di dalam dan di luar diri individu baik yang bersifat fisiologis, psikologis maupun yang bersifat social cultural. Dengan demikian lingkungan dapat di artikan secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sosio cultural .[14]
a.       Secara Fisiologis lingkungan meliputi segala kondisi materil jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, system saraf, peredaran darah, peranapasan, pencernaan makanan, kelenjar – kelenjar indoktrin, sel – sel pertumbuhan, dan kesehatan jasmani.
b.      Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang di terima individu mulai sejak dalam konsesi, kelahiran sampai matinya. Stimulasi itu misalnya barupa : sifat – sifat genes interaksigenes, selera, keinginan, perasaan, tujuan – tujuan, minat, kebutuhan, kemauan, emosoi, dan kapasitas intelektual.
c.       Secara sosio cultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hbungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan, pengajaran, bimbingan dan penyuluhan adalah termasuk sebagai lingkungan ini.
Dengan di perluasnya konsep tentang lingkungan ini, maka orangpun semakin mengalami kesulitan dalam membedakan antara konsep lingkungan dengan konsep Heraditas. Kesulitan itu dapat mengakibatkan orang menjadi kebingungan dalam membedakan antara heraditas dan lingkungan apabila jika yang di maksudkan lingkungan adalah lingkungan fisiologis. Kebingungan itu dapat meningkat menjadi miskonsepsi setelah orang menghadapi istilah – istilah Heraditari, inbom, innate, congenital, dan native. Istilah – istilah tersebut sulit sekali di bedakan, padahal beberapa istilah itu adalah ada yang invironmental.



2.      Teori Lingkungan (Aliran Empirisme/Behavioral Theory)
Tokoh aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Empire artinya pengalaman. Aliran ini berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Pada dasarnya manusia itu bisa didik apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Lingkungan sendiri merupakan semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan.[15]
Teori yang lebih dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi, lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu.[16] Yang dimaksud lingkungan disini ialah segala sesuatu yang ada diluar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan. Dalam pembicaraan pada bagian ini, maka pendidikan dimasukkan juga sebagai faktor lingkunga.
Factor lingkungan juga disebut faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat berupa benda-benda, orang-orang, keadaan-keadaan dan peristiwa yang ada disekitar anak, yang bias memberikan pengaruh pada perkembangannya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, baik secara sengaja atau ridak sengaja. Disamping lingkungan itu memberikan pengaruh dan dorongan, lingkungan juga merupakan arena yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (bawaan) yang ada pada seseorang anak untuk berkembang.
3.      Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku
Lingkungan alam dan geografis dimana individu bertempat tinggal mempengaruhi perkembangan dna perilaku individu. Perilaku yang diperlihatkan oleh individu bukan sesuatu yang dilakukan sendiri tetapi selalu dalam interaksinya dengan lingkungan. Demikian juga dengan sifat dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki individu sebagian besar diperoleh melalui hubungannya dengan lingkungan.
Perkembangan dan perilaku individu juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, yaitu lingkungan yang berkenaan dengan cara-cara manusia mengatur dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, lingkungan budaya juga berpengaruh. Lingkungan budaya merupakan lingkungan yang berkenaan dengansegala hasil kreasi manusia, baik hasil kreasi yang konkrit maupun abstrak, berupa benda, ilmu pengetahuan, teknologi ataupun aturan-aturan, lembaga-lembaga serta adat istiadat dan lain-lain.
Lingkungan lain yang tak kalah penting adalah lingkungan politik dan keamanan. Lingkungan politik berkenaan dengan bagaimana cara manusia membagi dan mengatur kekuasaan atas manusia yang lainnya. Lingkungan keamanan berkenaan dengan situasi ketentraman dan keterlindungan manusia dari ancaman dan gangguan-gangguan, baik dari sesama manusia, binatang maupun alam.

  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Perilaku mansusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor hereditas (keturunan) dan faktor lingkungan. Faktor bawaan (hereditet), merupakan proses penurunan sifat atau ciri dari satu generasi ke generasi lainnya, dan terjadi pada masa konsepsi atau bertemunya sel sperma dengan sel telur yang disebit sel benih. Kedua, lingkungan. Keadaan lingkungan atau geografis dapat mempengaruhi perkembangan manusia, karena perilaku manusia bukan sesuatu yang dilakukan sendiri melainkan denagn berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sehingga sifat atau kecakapan yang dimiliki, diperoleh melalui hubungan dengan lingkungan. Ketiga, interaksi antara pembawaan, lingkungan, dan kematangan. Faktor ini merupakan perkembangan dari kedua faktor di atas karena menganggap bahwa kedua faktor di atas (hereditet dan lingkungan) tidak dapat mempengaruhi manusia tanpa ada kematangan pada aspek-aspek lainnya.
B.     Saran
Kami merasa dalam penyusunan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami mengharapkan subangsih kritik dan saran agar nanti dalam penyusunan makalah selanjutnya dapat lebih baik. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Muhammad. 1976. Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia. Jakarta: Bulan Bintang
H.C Witherington. 1991. Psikologi Pendidikan, Terjemahan M. Bukhori. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Indrakusuma, Amir Dien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Mustakim. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sabri, Alisuf Sabri. 1993. Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rinneka Cipta.
Sujanto. 1984. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Aksara Baru.
Sukamdinata, Nana Syaodih. 20014 Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sumanto, Wasti. 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta : PT.Rineka cipta.
Suryabrata, Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.



[1] Sujanto, Psikologi Kepribadian (Jakarta, Aksara Baru, 1984)  hal. 24.
[2] Drs. Wasti sumanto .M.pd. psikologi pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan.Jakarta(PT.Rineka cipta :2006) hal 82.
[3] Drs. H.M.Arifin M.Ed. Psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniah manusia.jakarta (PT.Bulan Bintang: 1976)hal 124
[4] Drs. M. Ngalim Purwanto.1990.Psikologi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.Bandung. hal.18
[5] Drs. Mustakim, Drs. Abdul Wahid, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h. 12-13, 18-20
[6] Alisuf Sabri, Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. I, hal. 173.
[7] pedagogik pesivisme yaitu pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh penndidikan. Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
[8] Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1973), cet. Ke-1, hal. 83
[9]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1993), cet. VI, hal. 185
[10] Sumadi Suryabrata, Op. Cit 177-178.
[11] Mustakim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 33.
[12] H.C Witherington, Psikologi Pendidikan, Terjemhan M. Bukhori, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), h. 203
[13] Nana Syaodih Sukamdinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), h. 44
[14] Drs. Wasti sumanto .M.Pd. psikologi pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan .Jakarta(PT.Rineka cipta :2006) hal 84
[15] Slameto, 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rinneka Cipta, hal. 60.
[16] Alisuf Sabri, op.cit., hal. 173.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com