BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Surat hud berasal dari
kata “hud” atau nabi hud. Surat hud merupakan surat yang ke11 di dalam Al
Qur’an. Surat hud termasuk gulongan surat makkiyah karena surat hud di turunkan
di kota mekkah. Surat hud terdiri dari 123 ayat dan diturunkan sesudah surat
yunus. Dinamakan surat hud karena berhubungan dengan kisah nabi hud dan para
kaumnya. Pada surat hud juga terdapat kisah-kisah nabi yang lainnya seperti
kisah Nabi Nuh a.s, Nabi Sholeh a.s, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Luth a.s, Nabi
syu’aib a.s, dan Nabi musa a.s.
Adapun pokok-pokok isi
dari surat hud yaitu dijelaskan sebagai berikut : Pokok-pokok isi.
1. Keimanan: Adanya 'Arsy Allah; kejadian alam
dalam 6 tahap; adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat. 2. Hukum-hukum: Agama membolehkan menikmati yang
baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan; tidak boleh
berlaku sombong; tidak boleh mendoa atau mengharapkan sesuatu yang tidak
mungkin menurut sunnah Allah. 3.
Kisah-kisah: Kisah Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Huud a.s. dan kaumnya; kisah
Shaleh a.s. dan kaumnya; kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya; kisah Syu'aib a.s. dan
kaumnya; kisah Luth a.s. dan kaumnya; kisah Musa a.s. dan kaumnya. 4. Dan lain-lain: Pelajaran-pelajaran yang diambil
dari kisah-kisah para nabi; air sumber segala kehidupan; sholat merupakan untuk
memperkuat iman : sunnah Allah swt yang berhubungan dengan kebinasaan suatu
kaum.
Di dalam Surat Hud
mengandung ayat-ayat dakwah pula yang memerintahkan manusia untuk beramar
ma’ruf dan bernahi mungkar seperti dalam ayat 116 yang akan dibahas dalam
makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Surat Hud ayat 116 dan Terjemahannya
2.
Tafsir Surat Hud ayat 116
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Surat
Hud Ayat 116 dan Terjemahannya
wöqn=sù tb%x. z`ÏB Èbrãà)ø9$# `ÏB ôMä3Î=ö6s% (#qä9'ré& 7p¨É)t/ cöqpk÷]t Ç`tã Ï$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# wÎ) WxÎ=s% ô`£JÏiB $uZøpgUr& óOßg÷YÏB 3 yìt7¨?$#ur úïÏ%©!$# (#qßJn=sß !$tB (#qèùÌø?é& ÏmÏù (#qçR%x.ur úüÏBÌøgèC ÇÊÊÏÈ
Artinya:
“ Maka Mengapa tidak ada dari umat-umat
yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada
(mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara
orang-orang yang Telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang
zalim Hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka
adalah orang-orang yang berdosa”. (Q.S
Huud : 116)
B.
Tafsir
Surat Hud Ayat 116
wöqn=sù tb%x. z`ÏB Èbrãà)ø9$# `ÏB ôMä3Î=ö6s% (#qä9'ré& 7p¨É)t/ cöqpk÷]t Ç`tã Ï$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# wÎ) WxÎ=s% ô`£JÏiB $uZøpgUr& óOßg÷YÏB 3 yìt7¨?$#ur úïÏ%©!$# (#qßJn=sß !$tB (#qèùÌø?é& ÏmÏù (#qçR%x.ur úüÏBÌøgèC ÇÊÊÏÈ
Artinya:
“ Maka Mengapa tidak ada dari umat-umat
yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada
(mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara
orang-orang yang Telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang
zalim Hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka
adalah orang-orang yang berdosa”. (Q.S
Huud : 116)
Allah SWT berfirman, apakah tidak
terdapat di antara umat-umat terdahulu, sisa orang-orang baik yang melarang
perbuatan-perbuatan jahat, mungkar, dan kerusuhan di atas bumi. Hanya sedikit
sekali orang-orang yang demikian itu, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan
oleh Allah SWT dari murka-Nya dan pembalasann-Nya tatkala jatuh di atas umat
yang dzalim itu. Karena itu Allah memerintahkan di antara umat Muhammad yang
berbahagia ini terdapat golongan atau kelompok yang melakukan tugas dan
kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar, sebagaimana firman-Nya:
“Dan
hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah
orang-orang yang beruntung”
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:
“Jika
orang-orang melihat perbuatan mungkar, tidak bertindak mencegahnya atau
merusaknya, maka nyarislah azab Allah akan menimpa mereka semuanya”
Allah berfirman bahwa orang-orang yang
zalim itu mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan berkelanjutan
melakukan maksiat dan perbuatan-perbuatan mungkar sehingga tibalah azab Allah
di atas mereka yang berdosa itu. Dan Allah sekali-kali tidak membinasakan umat
atau penduduk suatu negeri melainkan karena kezaliman dan perbuatan buruk
mereka sendiri. Dan sekali-kali tidak akan binasa suatu negeri jika penduduknya
termasuk orang-orang yang baik dan saleh.[1]
Isyarat Ini mengungkap suatu sunnah
Allah pada umat-umat itu. Maka, umat yang terjadi kerusakan di kalangan mereka
dengan memperhamba manusia untuk selain
Allah, dalam bentuk apapun, lalu ada orang yang bangkit untuk menolaknya maka
umat itu adalah umat yang selamat, yang tidak akan diazab oleh Allah dengan di
hancurkan. Sedangkan umat-umat yang orang-orang zalimnya berbuat kezaliman dan
orang-orang yang rusak berbuat kerusakan, dengan tidak ada seorang pun yang
bangkit mencegah kezaliman dan kerusakan itu maka sunnah Allah akan berlaku
pada negeri itu, mungkin dihancurkan-Nya habis-habisan. Dan mungkin di hukum
dengan menimbulkan kerusakan dan kekacauan.
Maka, orang-orang yang menyeru kepada
rububiyah Allah saja dan membersihkan bumi (negeri) dari kerusakan yang
disebabkan oleh sikap keberagaman kepada selain Allah, maka mereka itulah
pagar-pagar keamanan bagi umat dan bangsa. Inilah nilai perjuangan yang hendak
menegakkan rububiyah hanya untuk Allah Yang Maha Esa saja, yangberdiri tegak
menghadapi kezaliman dan kerusakan dengan segala bentuknya. Mereka tidak hanya
menunaikan kewajibannya kepada Tuhannya dan kepada agamanya. Tetapi, dengan
usaha dan perjuangannya ini mereka menghalangi umatnya dari kemurkaan Allah dan
dari hukuman dan siksaan-Nya.[2]
Pada ayat ini Allah
swt. menyatakan celaan-Nya kepada orang-orang pintar, cerdik pandai yang tidak
melarang orang-orang sesamanya berbuat kerusakan di muka bumi, padahal akal
yang sehat, pikiran yang cerdas yang dimiliki mereka itu cukup untuk dapat
mengerti dan memahami kebaikan yang diserukan oleh para Rasul itu. Hanya
sedikit saja di antara mereka yang mempergunakan akal sihatnya, pikiran dan
kecerdasannya untuk melarang berbuat yang mungkar, menyuruh berbuat yang baik,
maka mereka yang sedikit itulah yang diselamatkan oleh Allah swt.
Orang-orang yang
cerdik pandai yang lalim dahulu itu, lebih mementingkan kemewahan dan
kesenangan yang berlebih-lebihan yang menyebabkan mereka itu menjadi sombong,
takabur dan fasik. Ajakan Rasul kepada kebaikan ditentangnya, bahkan mereka
berbuat sebaliknya. Kejahatan diperkembang, tidak ada seorangpun di antara
mereka yang melarang orang lain berbuat yang mungkar. Oleh karena dosa yang
diperbuat mereka itu sudah terlalu berat, maka binasa dan hancur-leburlah
mereka itu. Sesuai dengan firman Allah swt.:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Artinya:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Artinya:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami
perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati
Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah
sepantasnya berlaku kepadanya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Q.S.
Al-Isra': 16)[3]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ayat 116 dalam surat Hud ini memberikan
kita penegasan tentang pentingnya beramar ma’ruf dan bernahimungkar. Sebab
dengan adanya segolongan umat yang melarang dan mencegah timbulanya kekacauan
dan kerusakan di muka bumi, secara tidak langsung mereka telah turut
menyelamatkan bumi dari kehancuran akan murka Allah SWT.
Dalam ayat ini juga mengisyaratkan agar
kita sebagai umat manusia harus peduli pada orang-orang disekitar kita. Kita
tidak boleh lalai dalam mengingatkan umat dari perbuatan-perbuatan yang
dilarang dan dibenci Allah.
B.
Saran
Sebagai mahasiswa, kita harus lebih
peduli pada lingkungan sekitar dengan melarang perbuatan-perbuatan yang dibenci
Allah agar Allah tidak menurunkan murka-Nya ke muka bumi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Katsir, Ibnu. Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir. Surabaya: Bina Ilmu.
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Dibawah Naungan Al-Qur’an Jilid 6. Jakarta:
Gema Insani Press. 2003.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 111







0 comments:
Post a Comment