BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Psikologi
pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan
yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10).
Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi
pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila
beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi
pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan
memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena
konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang
senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan
ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai
bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan
kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya
tindakan-tindakan belajar secara efektif.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian psikologi dan psikologi pendidikan?
2.
Apa
objek kajian psikologi dan psikologi pendidikan?
3.
apa ruang lingkup psikologi pendidikan?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Pengertian
Psikologi
“Psikologi” berasal dari perkataan
Yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan.
Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang
mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun
latar belakangnya, atau disebut dengan ilmu jiwa.
Berbicara tentang jiwa, terlebih
dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dengan jiwa. Nyawa adalah daya
jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan
badaniah, yaitu perbuatan yang di timbulkan oleh proses belajar. Misalnya :
insting, refleks, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah
nyawanya.
Sedang jiwa adalah daya hidup
rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi
sekalian perbuatan-perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat
tinggi dan manusia. Perbutan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses
belajar yang di mungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial dan
lingkungan. Proses belajar ialah proses untuk meningkatkan kepribadian
(personality ) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru, nilai-nilai baru,
dan kecakapan baru, sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses, dalam
menghadapi kontradiksi-kontradiksi dalam hidup. Jadi jiwa mengandung
pengertian-pengertian, nilai-nilai kebudayaan dan kecakapan-kecakapan.[1]
Pengertian psikologi diatas
menunjukkan beragamnya pendapat para ahli psikologi. Perbedaan tersebut
bermuasal pada adanya perbedaan titik berangkat para ahli dalam mempelajari dan
membahas kehidupan jiwa yang kompleks ini. Dan dari pengertian tersebut paling
tidak dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut
tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.[2]
2. Pengertian
Psikologi Pendidikan
Psikologi Pendidikan adalah sebuah
disiplin psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia
pendidikan. Sedangkan menurut ensiklopedia amerika, Pengertian psikologi pendidikan adalah ilmu yang lebih berprinsip
dalam proses pengajaran yang terlibat dengan penemuan – penemuan dan menerapkan
prinsip – prinsip dan cara untuk meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.[3]
Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari
bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi
pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai
organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang,
dan sering terfokus pada sub kelompok seperti berbakat anak-anak dan mereka
yang tunduk pada khusus penyandang cacat.
Seperti
telah diketahui sebelumnya, psikologi pendidikan adalah cabang psikologi.
Karena psikolgi sebagai ilmu pengetahuan masih muda usianya, maka psikologi
pendidikan sebagai cabangnya lebih-lebih masih muda usianya. Berhubung dengan
itu, ia masih dalam proses perkembangan; di sana sini masih banyak problem yang
masih memerlukan pemecahannya; masih banyak hal-hal yang masih perlu
pengembangannya. Akan tetapi, walaupun ditinjau dari segi ilmu pengetahuan
usianya masih sangat muda, akan tetapi pemikirannya (dalam arti yang menyangkut
pendidikan dan problem jiwa) telah dipikirkan oleh orang sejak dahulu kala.
Demikianlah misalnya, sampai ada yang mengatakan bahwa saat timbulnya yang
mula-mula tentang psikologi pendidikan dapat diikuti jejaknya kembali pada
Aristoteles. Bahwa Aristoteles sebagai seorang filsuf telah menyusun
periode-periode perkembangan anak, sifat-sifat anak menurut periode dan bentuk
pendidikan yang perlu diselenggarakan sesuai dengan periode-periode itu.
Walaupun demikian, tentu saja pemikirannya baru merupakan pemikiran secar
filsafat, belum merupakan pemikiran psikologi pendidikan.
Upaya-upaya
yang bersifat semi ilmiah dipelopori oleh para pendidik, seperti Pestalozzi,
Herbart, Frobel dan sebagainya. Mereka itu sering dikatakan sebagai pendidik
yang mempsikologikan pendidikan, yaitu dalam wujud upaya memperbaharui
pendidikan dengan melalui bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat usia, metode yang
sesuai dengan bahan yang diajarkan dan sebagainya, dengan mempertimbangkan
tingkat-tingkat usia dan kemampuan anak didik. Pestalozzi misalnya, dengan
upayanya itu kemudian sampai pula pada pola tujuan pendidikannya, yang disusun
dengan “bahasa” psikologi pendidikan; dikatakan olehnya bahwa tujuan pendidikan
adalah tercapainya perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya-daya
jiwa. Adapun Frobel Menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya
kepribadian melalui perkembangan sendiri, akativitas dan kerja sama social
dengan semboyan “belajar sambil bekerja”. Herbart bahkan telah menyusun pola
rangkaian cara menyampaikan bahan pelajaran, berturut-turut: persiapan,
penyajian, asosiasi, generalisasi dan aplikasi. Tentu saja sifat dan luasnya usaha
yang mereka hasilkan dan sumbangkan sesuai dengan zamannya, yaitu bahwa
psikologi sebenarnya pada zaman itu belum berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang
otonom.
Akhir abad
19 penelitian-penelitian dalam lapangan psikologi pendidikan secara ilmiah sudah
semakin maju. Di Eropa Ebbinghaus mempelajari aspek daya ingatan dalam
hubungannya dengan proses pendidikan. Dengan penelitiannya itu misalnya
terkenallah Kurve Daya Ingatan, yang menggambarkan, bahwa kemampuan mengingat
mengenai sejumlah objek kesan-kesannya semakin lama semakin berkurang
(menurun), akan tetapi tidaklah hilang sama sekali.
Pada awal
abad 20 pemerintah Prancis merasa perlu untuk mengetahui prestasi belajar para
pelajar, yang dirasa semakin menurun. Pertanyaannya yang ingin dijawap, apakah
prestasi belajar itu semata-mata hanya tergantung pada soal rajin dan malasnya
si pelajar, ataukah ada factor kejiwaan atau mental yang ikut memegang peranan.
Maka untuk memecahkan problem itu ditunjuklah seorang ahli psikologi yang
bernama Alfred Binet, Dengan bantuan Theodore Simon, mereka menyusun sejumlah
tugas yang terbentuk dalam sebuah tes baku untuk mengetahui inteligensi para
pelajar. Tes ini kemudian dikenal dengan tes Inteligensi. Tes inteligensi
Binet-Simon ini sangat terkenal, yang kemudian banyak dipakai di Amerika
Serikat, yang di negri itu mengalami revisi berkali-kali untuk mendapat tingkat
kesesuaiannya dengan masyarakat atau orang-orang Amerika. Di antara para ahli
yang mengambil bagian dalam revisi-revisi itu misalnya : Stern, Terman, Merril
dan sebaagainya.
Perlu juga
diketahui, bahwa laboratorium ciptaan Wundt di Leipzig juga tidak hanya
melakukan aktivitas penelitian yang bersifat “psikologi umum”, melainkan juga
memegang peranan dalam psikologi pendidikan. Banyak orang Amerika yang belajar
di Leipzig kepada Wundt. Akibatnya setelah mereka mengembangkan psikologi itu
di negaranya, termasuk psikologi pendidikan. Terkenallah psikologi pendidikan
di Amerika misalnya Charles H. Judd, E.L. Thorndike, B.F. Skinner dan
sebagainya. Orang-orang ini sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan di
Amerika Serikat. Terutama E.L. Thorndike, sehingga ia dipandang sebagai Bapak
Psikologi Pendidikan di Amerika Serikat. Menurut seorang pakar psikiatri dan
psikologi Amerika Serikat yang bernama Perry London, yang telah meneliti
tentang penggunaan jasa psikologi di Amerika Serikat, yang menggunakan jasa
psikologi bagi lapangan-lapangan tertentu adalah : 25% merupakan para pendidik,
25% ahli psikologi klinis dan konsultan, 16% merupakan para peneliti psikologi
sendiri, sedang yang 34% tersebar pada lapangan atau pakar yang lain.
Di Indonesia
psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya sedang dalam
proses perkembangan yang cepat. Pada mata pelajaran, misalnya di sekolah calon
guru (HK, HIK, Hoofd Acted an sebagainya). Setelah merdeka dan dengan
berdirinya Fakultas Psikologi di beberapa Universitas serta berdirinya FKIP
atau IKIP di berbagai kota, maka psikologi pada umumnya atau psikologi
pendidikan khususnya, tidak hanya dipelajari sebagai mata kuliah, melainkan
juga diteliti sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini memang amat perlu, karena
psikologi atau psikologi pendidikan yang didasarkan penelitiannya pada
orang-orang barat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
B.
OBJEK
KAJIAN PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Objek
Kajian Psikologi
Objek
Psikologi dibagi menjadi 2, yaitu :
- Objek
Material adalah sesuatu yang dibahas, dipelajari atau diselidiki, atau
suatu unsure yang ditentukan atau sesuatu yang dijadikan sasaran
pemikiran, objek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkret
(kerohanian, nilai-nilai, ide-ide). Objeknya yaitu manusia.[4]
2. Objek formal adalah cara memandang,
cara meninjau yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap objek materialnya
serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Objek formal juga digunakan sebagai
pembeda ilmu yang satu dengan ilmu yang lain ( psikologi, antropologi,
sosiologi, dan lain-lain). Objeknya yaitu dari segi tingkah laku manusia, objek
tersebut bersifat empiris atau nyata, yang dapat diobservasi untuk memorediksi,
menggambarkan sesuatu yang dilihat. Caranya melihat gerak gerik seseorang
bagaimana ia melakukan sesuatu dan melihat dari matanya.
Dalam makalah ini tidak akan
dibicarakan psikologi yang membicarakan hewan atau psikologi hewan, melainkan
membicarakan tentang psikologi yang berobyekkan manusia. Yang sampai saat ini
dibedakan menjadi dua, yaitu :
1)
Psikologi
Umum
Psikologi umum adalah psikologi yang
menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktifitas-aktifitas psikis
manusia pada umumnya yang dewasa, yang normal, dan yang beradab (berkultur)[5]
Macam-macam psikologi umum :
a. Psikologi perkembangan
Psikolgi
yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai tua yang
mencakuo psikologi anak, psikologi puber atau adolesensi ( psikologi pemuda ),
psikologi orang dewasa, psikologi orang tua.
b. Psikologi sosial
Psikologi
yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas manusia
dalam hubungannya dengan situasi sosial.
c. Psikologi pendidikan
Psikologi
yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia
dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik
perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar
dan sebagainya.
d. Psikologi kepribadian dan tipologi
Psikologi
yang khusus menguraikan tentang struktur pribadi manusia, mengenai tipe-tipe
kepribadian manusia.
e. Psikopatologi
Psikologi
yang khusus menguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak norman atau abnormal
f. Psikologi Kriminil
Psikologi
yang khusus berhubungan dengan soal-soal kejahatan atau kriminalitas.
g. Psikologi perusahaan
Psikologi
yang khusus berhubungan dengan soal-soal perusahaan
2)
Psikologi
Khusus
Psikologi yang menyelidiki dan
mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas-aktivitas psikis manusia.
Hal-hal yang khusus yang menyimpang dari hal-hal yang umum dibicarakan dalam
psikologi khusus.
Objek kajian psikologi pendidikan tanpa
mengabaikan persoalan psikologi guru terletak pada peserta didik. Karena
hakikat pendidikan adalah pelayanan khusus diperuntukkan bagi peserta didik.
Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi
pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta
didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Glover dan Ronning bahwa
objek kajian psikologi pendidikan mencakup topik-topik tentang pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik, hereditas dan lingkungan, perbedaan individual
peserta didik, potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik, pengukuran
proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan
minat, serta disiplin lain yang relean.[6]
Sedangkan menurut Syaodih
Sukmadinata dalam Syaiful Sagala mengatakan bahwa objek kajian psikologi
pendidikan adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik, dengan dukungan sarana dan fasilitas
tertentu yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.[7]
Psikologi pendidikan berusaha untuk mewujudkan tindakan
psikologis yang tepat dalam interaksi antar setiap faktor pendidikan.
Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang sangat penting
dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan
seharusnya menjadi kebutuhan bagi para guru, bahkan bagi tiap orang yang
menyadari dirinya sebagai pendidik.
Secara garis besar banyak ahli
membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi tiga macam:
- Mengenai
“belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas
perilaku belajar peserta didik, dan sebagainya;
- Mengenai
“proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam
kegiatan belajar peserta didik;
- Mengenai
“situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan, baik bersifat
fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta
didik.
C.
RUANG LINGKUP
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Jika kita
bertanya mengenai lingkup (scope) psikologi pendidikan, maksudnya bertanya
tentang apa saja yang dibicarakn oleh psikologi pendidikan, maka berdasarkan
berbagai buku psikologi pendidikan akan diperoleh jawaban yang berbeda-beda.
Sebagian buku menunjukan lingkup yang luas, sedangkan buku-buku yang lain
menunjukkan ingkup yang lebih sempit atau terbatas.
Buku yang
lingkupnya lebih luas biasanya membahas selain proses belajar juga membahas
tentang perkembangan, hereditas dan lingkungan, kesehatan mental, evaluasi
belajar dan sebagainya. Sedangkan buku yang lingkupnya lebih sempit biasanya
berkisar pada soal proses belajar mengajar saja. Perbedaan ini sangat
dipengaruhi oleh maksud penulis dalam menulis buku itu. Ada yang bermaksud
hanya memberikan pengantar saja, sehingga pembahasanya mengenai lingkup itu
cukup luas, akan tetapi kurang mendalam. Sebaliknya ada yang lingkup
pembahasannya tidak luas, yaitu berkisar pada proses beljar, akan tetapi
pembahasannya cukup mendalam. Jadi, beleh dikatakan bahwa tidak ada dua buku
psikologi pendidikan yang menunjukkan ruang lingkup materi yang sama benar.
Walaupun demikian, pada dasarnya psikologi pendidikan membahas hal-hal sebagai
berikut
a)
Hereditas dan Lingkungan
b)
Pertumbuhan
dan Perkembangan
c)
Potensial dan Karakteristik Tingkah
laku
d)
Hasil Proses Pendidikan dan Pengaruhnya
Terhadap Individu yang Bersifat Personal dan Sosial
e)
Higiene Mental dan Pendidikan dan
f)
Evaluasi Hasil Pendidikan
Disamping
itu perlu diketahui bahwa banyak buku psikologi pendidikan yang tidak member
judul buku dengan kata-kata psikologi pendidikan, padahal buku itu benar-benar
buku psikologi pendidikan, dalam arti buku itu membahas serta mendalami
pokok-pokok bahasan tertentu dari psikologi pendidikan. Maka untuk mendalami
psikologi pendidikan tidak senantisa harus mempelajari buku yang berjudul psikologi
pendidikan.
Namun menurut Sumadi
Suryobroto ( 1987 ) Ruang Lingkup psikologi pendidikan meliputi :
• Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
• Pembawaaan
• Lingkungan fisik dan psikologis
• Perkembangan siswa
• Proses – proses tingkah laku
• Hakekat dan ruang lingkup belajar
• Faktor yang mempengaruhi belajar
• Hukum dan teori belajar
• Pengukuran pendidikan
• Aspek praktis pengukuran pendidikan
• Transfer belajar
• Ilmu statistik dasar
• Kesehatan mental
• Pendidikan membentuk watak / kepribadian
• Kurikulum pendidikan sekolah dasar
• Kurikulum pendidikan sekolah menengah
• Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
• Pembawaaan
• Lingkungan fisik dan psikologis
• Perkembangan siswa
• Proses – proses tingkah laku
• Hakekat dan ruang lingkup belajar
• Faktor yang mempengaruhi belajar
• Hukum dan teori belajar
• Pengukuran pendidikan
• Aspek praktis pengukuran pendidikan
• Transfer belajar
• Ilmu statistik dasar
• Kesehatan mental
• Pendidikan membentuk watak / kepribadian
• Kurikulum pendidikan sekolah dasar
• Kurikulum pendidikan sekolah menengah
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Objek kajian psikologi pendidikan
tanpa mengabaikan persoalan psikologi guru terletak pada peserta didik. Karena
hakikat pendidikan adalah pelayanan khusus diperuntukkan bagi peserta didik.
Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi
pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta
didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
Secara garis besar banyak ahli
membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi tiga macam:
- Mengenai
“belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas
perilaku belajar peserta didik, dan sebagainya;
- Mengenai
“proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam
kegiatan belajar peserta didik;
- Mengenai
“situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan, baik bersifat
fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta
didik.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi. Psikologi Umum. Semarang
: Rineka Cipta. 1991.
Agus Sujanto. Psikologi Umum.
Jakarta : Bumi Aksara. 2001.
Danim dan Khairil. Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif
Baru . Bandung Alfabeta. 2010.
Muhibbin Syah. Psikologi
Psikologi Pendidikan Dengen Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya.
2003.
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung:
Alfabeta, 2010).
[1]
Agus Sujanto, Psikologi Umum, ( Jakarta : Bumi Aksara,
2001), hal.1
[3]
Muhibbin Syah, Psikologi
Psikologi Pendidikan Dengen Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2003), h. 7
[4]
Alex Sobur, Psikologi Umum, ( Bandung : Pustaka Setia,
2003), hal.41
[5]
Agus Sujanto, Psikologi Umum,
( Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hal.41







thank you so much very nice
ReplyDeletehttp://http%3A%2F%2Fblog.binadarma.ac.id%2Fimamsolikin.wordpress.com
terimahkasih :)
ReplyDeletehttp://http%3A%2F%2Fblog.binadarma.ac.id%2Fyantox_ska.wordpress.com