MAKALAH TAFSIR TARBAWI
HIKMAH TARBAWI DALAM SURAT AL-HASYR AYAT 22 MENGENAL ALLAH
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Semester / Unit : III /1
Dosen Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yangberjudul
"HIKMAH TARBAWI DALAM SURAT AL-HASYR AYAT 22 MENGENAL ALLAH"
Semoga makalah ini dapat memberikan
kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk hati yang
paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih kami
sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang
tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.
Langsa, 25 Oktober 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................... 1
A.
Latar Belakang......................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................ 2
A. Pengertian Mengenal Allah...................................................................................................... 2
B. Cara Mengenal Allah................................................................................................................ 4
C.
Manfaat Mengenal Allah.......................................................................................................... 5
D.
Hikmah Tarbiyah Dari Mengenal Allah................................................................................... 6
BAB III PENUTUP.................................................................................................................... 8
A.
Kesimpulan....................................................................................................................... 8
B.
Saran................................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk yang diberi akal yang sempurna, tatkala akal membawa
kepada sesuatu yang diinginkan. Tetapi alangkah baiknya digunakan kepada
sesuatu yang akan memberikan mampaat salah satunya untuk meningkatkan keimanan
kita kepada Allah SWT. Manusia akan hidup lurus apabila dia mampuh menggunakan
akalya untuk mengetahui siapa dirinya. Yang akhirnya akan sampai kepada zat
yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Inilah yang menjadi persoalan bahwa manusia
kebanyakan lupa kepada dzat yang menciptakannya yaitu Allah SWT.
Penomena yang terjadi sekarang bahwa manusia hidup kebanyakan dengan moral
yang kurang sempurna. Yaitu hal yang tidak sejalan dengan aturan Agama Islam.
Ini dikarenakan kurang mengenal dirinya sendiri atau dengan kata lain tidak
mengetahui jati dirinya sendiri. Orang yang mengenali
Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam
bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada
saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, belajar, pelayan
masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang hanya waktu ibadah kepada Allah.
Ada sebagian ulama yang
mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita
kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin,
dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat,
dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah
hati), dari buruk hati menjadi nasehat”
Bagaimana supaya kita
mampuh mengenal Allah SWT ? Apakah sebuah kewajiban kita harus mengenal Allah
SWT ? Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai Mengenal Allah atau
dengan kata lain ma’rifatullah.
B. Rumusan
masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan mengenal Allah SWT?
2. Bagaimana
cara mengenal Allah SWT ?
3. Apakah manfaat mengenal Allah?
4. Apa hikmah tarbiyah dari
mengenal Allah SWT?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN MENGENAL ALLAH SWT
Mengenal Allah juga bisa disebut juga dengan
Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah
dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui
zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya
(ayat-ayatNya). Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri
Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya
"Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya".Makna
dari hadis ini, bersesuaian dengan ungkapan dalam Al-Qur'an"Wallaahu bi
kulli Syai'in 'Aliima" Artinya "dan Allah mengetahui segala
sesuatu". dari dua pernyataan ini, bisa kita pahami bahwa:
1. Manusia Hidup di dunia ini harus memiliki
panduan kehidupan agar dirinya tidak mengalami kebingungan.
2. Panduan kehidupan yang harus dicari oleh
manusia, terdapat dalam dirinya sendiri.
3. Panduan yang dimaksud dalam poin kedua adalah
panduan fitrah dan Suara Hati manusia
4. Jika manusia mau mengerti dan memahami segala
apa yang ada dalam dirinya adalah pemberian sang Maha Kuasa maka, seharusnya
manusia harus berterima kasih pada sang pemberi itu (Allah SWT)
5. Membuktikan kebenaran ilmu dan pemahaman yang
dimiliki tentang sang Pencipta agar manusia tidak merasa ragu dan bingung dalam
memahami kehidupan.
Allah SWT Berfirman dalam Qur’an Surat Al-Hasr : 22-24
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) wÎ) uqèd ( ÞOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur ( uqèd ß`»oH÷q§9$# ÞOÏm§9$#ÇËËÈ uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) wÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨rà)ø9$# ãN»n=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$#ÚÆÏJøygßJø9$# âÍyèø9$# â$¬6yfø9$# çÉi9x6tGßJø9$# 4 z`»ysö6ß «!$# $£Jtã cqà2Îô³çÇËÌÈ uqèd ª!$# ß,Î=»yø9$# äÍ$t7ø9$# âÈhq|ÁßJø9$# ( ã&s! âä!$yJóF{$# 4Óo_ó¡ßsø9$# 4 ßxÎm7|¡ç ¼çms9 $tB ÎûÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( uqèdur âÍyèø9$# ÞOÅ3ptø:$# ÇËÍÈ
(22). Dialah Allah yang tiada Tuhan
selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang. (23). Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia,
Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang
Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala
Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(24). Dialah Allah
yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul
Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Didalam Firman Allah
ini, kita dapat mengenal Allah melalui kekuasaannya,ciptaannya, dengan melihat
kejadian alam, dan mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Kejadian
adanya proses manusia lahir kemuka bumi ini menunjukan bahwa ada yang
mengerjakannya yaitu Allah SWT, betapa besar kekuasaannya manusia yang berasal
dari air mani yang bercampur dengan sel telur wanita setelah beberapa bulan
kemudian lahir kemuka bumi. Kita harus senantiasa bertadabur dan bersyukur.
Ma’rifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak
mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana
mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas?
Menurut Ibn Al Qayyim : Ma’rifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul
ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat
seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi
pengenalannya”.Ma’rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun
ma’riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan
manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam
perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.
B.
CARA- CARA UNTUK MENGENAL ALLAH SWT
Pertama, menggunakan fitrah insting beragama yang ada dalam setiap diri manusia.
Di sana tertampung berbagai emosi manusia seperti rasa takut, harap, cemas,
cinta, kesetiaan, pengagungan, penyucian, dan berbagai macam lainnya yang
menghiasi jiwa manusia.
Kedua, menggunakan potensi yang ada dalam manusia.[1]Unsur
fitrah ketuhanan ini berasal dari pemberian Tuhan dengan cara yang khas. Atas
dasr ini, maka pengenalan manusia Terhadap Tuhan karena Tuhan sendiri.
Ketiga, dengan mengenal nama-nama Tuhan dan memahami alam jagat raya.
Keempat, dengan pendekatan historis. Dengan pendekata historis, dapat
diketahui adanya bangsa yang jaya dan bangsa yang hancur, ada yang kalah dan da
yang benar.
Kelima, melalui pendekatan artistik (perasaan seni). Caranya dengan
memperhatikan alam sekitar yang di dalamnya terdapat binatang yang beraneka
ragam jenis, bentuk, warna, khasiat, dan lain sebagainya.
Keenam, melalui pendekatan sufistik, yaitu pendekatan yang menggunakan
kekuatan rohaniah yang ada dalam diri manusia.[2]
Beberapa langkah
praktis yang bisa kita lakukan untuk dapat mengenal Allah:
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
2. Kalau kita (manusia) diciptakan berarti
ada yang menciptakan (Allah)
3. Kalau kita (manusia) diatur berarti ada
yang mengatur (Allah)
4. Kalau kita diberi berarti ada yang
memberi
5. karena kita diberi maka kita harus
berterima kasih.
6. cara paling mudah dalam berterima kasih
adalah selalu mengingat yang memberi
7. Cara paling mudah dalam mengingat
adalah:
·
Membaca bismillah saat
memulai kegiatan, dan alhamdulillah ketika selesai
·
Berdzikir
laailaahailllallah di setiap waktu
·
Sholat tepat waktu
·
Bershadaqah
·
Jujur
·
Membaca al-Qur'an dan
maknanya
Kita bisa pilih semua
cara diatas atau pilih salah satu cara dan lakukan dengan rutin dan teratur, insya
Allah semua akan menjadi lebih baik. Seseorang yang mengenal Allah pasti
akan tahu tujuan hidupnya dan tidak tertipu oleh dunia . Ma’rifatullah
merupakan ilmu yang tertinggi yang harus difahami manusia. Hakikat ilmu adalah
memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang
tertinggi sebab jika difahami memberikan keyakinan mendalam. Memahami
Ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada
cahaya hidayah yang terang. Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena:
a. Berhubungan
dengan obyeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
b. Berhubungan dengan
manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yang
dengannya akan diperoleh keberuntungan.
C.
MANFAAT
MENGENAL ALLAH
Sungguh pun
Alquran berbicara tentang masalah aqidah dan tauhid seperti halnya mengenal
Allah, namun Alquran bukanlah ilmu aqa’id atau ilmu tauhid, karena
masalah-masalah aqidah dan tauhid tidak disusun secara sistematik sebagaimana
halnya sebuah ilmu. Hal yang demikian sengaja dilakukan agar manusia bebas
untuk mengembangkan nalarnya dalam mengenal Tuhan, dan Alquran dengan caranya
yang demikian itu, yaitu bahwa yang terpenting adalah bagaimana pengaruh dari
mengenal Tuhan itu terhadap tumbuhnya akhlak yang mulia, moralitas yang tinggi,
amal shaleh, dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat dan
terhadap Tuhan. Hal ini sejalan dengan prinsip ajaran Islam yang menjunjung
tinggi moralitas yang tinfggi dan amal shaleh.
Pertama-tama
kita beriman kepada Allah, Tuhan Ynag Maha Esa. Iman itu melahirkan tata nilai
berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa (rabbaniyah),
yaitu tata nilai yang wajib dijiwai oleh kesadaran bahwa hidup ini berasal dari
Tuhan dan menuju kepada Tuhan (Inna Lillahi
Wa inna Ilaihi Raji’un),
Sesunggnnuhnya kita berasal dari Tuhan dan kita akan kembali kepada-Nya.
Tuhan dalah
pencipta semuan wujud yang lhir dan batin, dan Dia telah menciptakan manusia
sebagai puncak ciptaan, untuk menjadi Khalifah-Nya di bumi. Karena itu,manusia
harus berbuat sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan kepada-Nya, baik di
dunia ini, maupun khususnya, kelak dalam pengadilan Illahi di akhirat. Orang
muslim berpandangan hidup bahwa demi kesejahteraan dan keselamatan mereka
sendiridi dunia sampai akhirat, mereka harus bersikap pasrah dirikepada Tuhan
Yang Maha Esa, dan berbuat baik kepada sesama manusia.[3]
Sikap
berserah diri kepada Tuhan (berislam) secara keren mengandung konsekuensi.
Pertama, konsekuensi dalam bentuk pengakuan yang tulus bahwa Tuhanlah
satu-satunya sumber otoritas yang serba mutlak. Pengakuan ini merupakan
kelanjutan logis hakikat konsep Ke-Tuhanan. Yaitu bahwa Tuhan wujud mutlak yang
menjadi sumber wujud yang lain. Maka semua wujud yang lain adalah nisbi belaka,
sebandingan atau lawan dari wujud serta Hakikat atau Dzat, yang mutlak. Karena
itu Tuhan bukan untuk diketahui, sebab “mengetahui Tuhan” adalah mustahil dalam
ungkapan “mengetahui Tuhan” terdapat kontrdiksi in terminus, yaitu kontradiksi antara “mengetahui” yang
mengisyaratkan penguasaan dan batasan, dan “Tuhan” yang mengisyaratkan
kemutlakan, keadaan yang tak terbata dan tak terhingga.
Mengenal
Tuhan melalui pemahaman terhadap sifat-sifat yang terdapat dalam konsep Asma
Al-Husna sebagaimana disebutkan di atas, juga dimaksudkan agar manusi meniru
sifat-sifat tersebut dan menampakkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini
dilakukan maka manusia telah mencoba acu diri untuk tampil sebagai makhluk yang
senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.[4]
D.
HIKMAH
TARBIYAH
Penjelasan tentang
beriman kepada Allah sebagaimana diuraikan di atas, memiliki hubungan dengan
pendidikan Islam, antara lain :
v
Dari segi
kedudukannya, keimanan kepada Allah menjadi materi utama danmendasar
dalam pendidikan Islam
v
Tujuan
Pendidikan Islam dirumuskan harus berkaitan dengan keimanan danketaqwaan
kepada Allah SWT.
v
Keimanan
kepada Allah hendaknya juga menjadi dasar penyusunan kurikulumdan
aspek-aspek pendidikan Islam lainnya.
v
Dari segi
fungsinya, keimanan kepada Allah berfungsi mendorong bagi upayameningkatkan
di bidang pengembangan ilmu pengetahuan.
v
Bahwa
orang-orang yang beriman agar memperkuat keimanannya dengan dalil-dalil baik yang bersifat naqli maupun Aqli yang
dibangun dari argumentasirasional.
v
Bahwa iman
mendidik manusia untuk mempunyai komitmen kepada nilai-nilai luhur, dan
ilmu memberi kecakapan teknis guna merealisasikannya. Iman dan Ilmu secara bersama akan membuat manusia menjadi orang
baik dan sekaligus tahucara yang tepat untuk mewujudkan kebaikan dan
kebenaran
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui,
mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat
tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya). Mengenal Allah merupakan tahapan penting
perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin
Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa
Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan
mengenal Tuhannnya".
Beberapa langkah praktis
yang bisa kita lakukan untuk dapat mengenal Allah adalah:
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
2. Kalau kita (manusia) diciptakan berarti
ada yang menciptakan (Allah)
3. Kalau kita (manusia) diatur berarti ada
yang mengatur (Allah)
4. Kalau kita diberi berarti ada yang
memberi
5. Karena kita diberi maka kita harus
berteima kasih.
6. Cara paling mudah dalam berterima kasih
adalah selalu mengingat yang memberi.
B. SARAN
Melalui Makalah ini semoga dapat membantu
memberikan Informasi kepada semua pembaca mengenai Ma’rifatullah /
Mengenal Allah, dan supaya kita menjadi Manusia yang lebih baik dalam
menjalankan roda kehidupan. Dan dalam pembuatan makalah ini mungkin masih
jauh dari kesempurnaan, Kritik dan saran yang membangun saya sangat harapkan
dari segenap pembaca Makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Nata,
Aduddin. 2007. Manajemen Pendidikan: Menagatasi Kelemahan Pendidikan
Islam Di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Nata,
Aduddin. 2008. Manajemen Pendidikan: Menagatasi Kelemahan Pendidikan
Islam Di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Madjid,
Nurcholish. 1992. Islam Doktrin dan
Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.
[1] Adanya
unsur lahut (ketuhanan) yang ada dalam diri manusia telah dibahas lebih
mendalam dalam paham hulul yang dikembangkan oleh Husan Ibn Mansur al-Hallaj
(858-922M).
[2] Abuddin
Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia,
(Jakarta: Kencana, 2008), cet. 3, hlm. 276-282).
[3]
Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf
Paramadina, 1992), cet. II, hlm. 1-2.
[4] Abuddin
Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia,
(Jakarta: Kencana, 2007), cet. 2, hlm. 290-291.








Izin Copas yaa.. Alhamdulillah sedikit membantu, somoga bermanfaat untuk semua.
ReplyDeleteSilahkan :)
Delete