MAKALAH TAFSIR TARBAWI
TAFSIR SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9 DARI ENAM SUMBER TAFSIR
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Dosen Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "TAFSIR SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9 DARI ENAM SUMBER
TAFSIR" tepat pada
waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad
SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang
benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam
pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 17 Desember 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.
Tafsir Ibnu Kasir.......................................................................................... 2
B.
Tafsir
Jalalain............................................................................................... 3
C.
Tafsir
Al-Misbah.......................................................................................... 3
D.
Tafsir
Al-Maraghi......................................................................................... 4
E.
Tafsir
Al-Munier.......................................................................................... 6
F.
Tafsir
Departemen Agama Republik Indonesia........................................... 7
BAB III PENUTUP............................................................................................... 13
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bila
dilihat dari sisi tujuan penurunnya, al-Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman
yang mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan ini dengan baik sesuai
perintah Allah Swt, karenanya sangat beralasan bila Sa’id Hawwa dalam tafsirnya
“al-Asas Fi al-Tafsir“ mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab tarbiyah
(Hawwa, 1987:2). Ada beberapa alasan yang melandasi statement al-Qur’an adalah
kitab Pendidikan, diantaranya, pertama, ayat yang pertama turun berisikan
perintah untuk membaca, dan hal ini terkait dengan pendidikan, yaitu
JIA/Desember
2011/Th. XII/Nomor 2/1-15 dalam surat
al-Alaq ayat 1-5; kedua, dilihat dari sumbernya, al-Qur’an diwahyukan
oleh Allah Swt, dimana peranNya terhadap makhluqnya
sebagai
pendidik pula. Ketiga, dari sisi pembawanya adalah nabi Muhammad yang juga
seorang pendidik umat, karena salah satu tugas kenabianNya adalah mensucikan
manusia, hal ini dapat diartikan dengan pendidikan juga, keempat, dari sisi
namanya al-Qur’an juga
menunjukkan
keterkaitan dengan pendidikan contohnya, al-Qur’an, al-Kitab dan lain-lain.
Kelima, bila dilihat dari misi al-Qur’an, misi utamanya adalah pembinaan akhlaq
mulia, sebagaimana nabi Muhammad juga diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Telah
banyak upaya menggali ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan
dilakukan oleh para praktisi pendidikan. Salah satu ayat pendidikan yang akan
dibahas dimakalah ini adalah sarat az-zumar ayat 9 dari enam sumber tafsir.
B.
Rumusan Maslah
1.
Tafsir Ibnu
Kasir
2.
Tafsir Jalalain
3.
Tafsir
Al-Misbah
4.
Tafsir
Al-Maraghi
5.
Tafsir Al-Munier
6.
Tafsir
Departemen Agama Republik Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tafsir Ibnu
Kasir
Allah Swt berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat yang
demikian sama dengan orang yang mempersekutukan Allah dan menjadikan bagi-Nya
tandingan-tandingan? Jawabannya tentu tidak sama di sisi Allah. Seperti yang
disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
* (#qÝ¡øs9 [ä!#uqy 3 ô`ÏiB È@÷dr& É=»tGÅ3ø9$# ×p¨Bé& ×pyJͬ!$s% tbqè=÷Gt ÏM»t#uä «!$# uä!$tR#uä È@ø©9$# öNèdur tbrßàfó¡o ÇÊÊÌÈ
113. mereka itu tidak sama; di antara ahli
kitab itu ada golongan yang Berlaku lurus[1],
mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka
juga bersujud (sembahyang).(Q.
S. Ali-Imran: 113)
Dalam
surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang
lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud
dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.(Q.
S. Az-Zumar: 9)
Yakni dalam keadaan sujud dan berdirinya mereka berqunut. Karena
itulah ada sebagian ulama yang berdalilkan ayat ini mengatakan bahwa qunut
adalah khusyuk dalam salat bukanlah doa yang dibaca dalam keadaan berdiri
semata, yang pendapat ini diikuti oleh ulama lainnya. [2]
B.
Tafsir Jalalain
`¨Br& (apakah orang) dapat dibaca amman atau amman- u ìMÏZ»s% qèd (yang beribadat) yang berdiri melakukan amal ketaatan, yakni
salat-u È@ø©9$# ä!$tR#uä (di waktu-waktu malam) di saat-saat malam hari - $VJͬ!$s%ur#YÉ`$y (dengan sujud dan berdiri) dalam salat- â notÅzFy$#xøts (sedangkan ia takut kepada hari akhirat) yakni takut akan azab
hari itu- ( spuH÷qu#qã_ötur (dan mengharapkan rahmat) yakni syurga-mÎn/u (Tuhannya) sama dengan orang yang durhaka karena melakikan
kekafiran atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menurut qiraat lain, lafadz
amman dibaca am man secara terpisah. Dengan demikian, lafadz am berarti bal
atau hamzah istifham-öttbqçHs>ôètt t w ûïÏ%©!$#ur bqßJn=ôèt ûïÏ%©!$#ÈqtGó¡o@yd@è% (katakanlah adakan\h sama antara orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?) tentu saja tidak perihalnya sama
dengan perbedaan antar orang yang alim dengan orang yang jahil- ã©.xtGt$yJ¯RÎ) (sesungguhnya orang yang dapat menerima pelajaran) artinya mau
menerima nasihat- É=»t7ø9F{$#(#qä9'ré& (hanyalah orang-orang yang berakal) yakni orang-orang yang
mempunyai pikiran.[3]
C.
Tafsir
Al-Misbah
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang
lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud
dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.
Setelah ayat yang lalu mengecam dan mengancam orang-orang kafir,
ayat di atas menegaskan perbedaan sikap dan ganjaran yang akan mereka terima
dengan sikap dan ganjaran bagi orang-orang beriman.Allah berfirma Apakah orang
yang beribadah secara tekun dan tulus di waktu-waktu malam dalam keadaan sujud
dan berdiri scara mantap dan demikian pula ruku, dan duduk atau berbring dan ia
terus-menerus takut kepada siksa akhirat dan dalam saat yang sama senantiasa
mengharap rahmat Tuhannya sama dengan mereka yang baru berdoa ketika mendapat
musibah dan melupakannya ketika memperoleh nikmat serta menjadikan bagi Allah
sekutu-sekutu? Tentu saja tidak sama.[4]
D.
Tafsir
Al-Maraghi
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang
lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud
dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.
@ø©9$#uä!$tR#uä berarti saat
diwaktu malam apakah dipermulaan, pertengahan, atau diakhir malam, dan
kesunyian malam membuat orang lebih khusyuk dalam beribadah dan mendekatkan
diri kepada Allah SWT. ÈAllah memerintahkan Rasulullah SAW bertanya
kepada kafir Quraisy apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan
nasibmu daripada yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan
tugas-tugas ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa
dan lebih jauh dari riya, sehingga ibadah di waktu itu lebih dekat untuk
diterima, sedang orang itu dalam keadaan takut dan berarap ketika beribadah.
Kesimpulannya, apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Kemudian, Allah
SWT menegaskan tentang tidak ada kesamaan diantara keduanya dan memperingatkan
tentang keutamaan ilmu dan
betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Yang diterangkan dalam kalimat selanjutnya, yang berbunyi:
ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3
Katakan hai Rasul kepada kaummu : Apakah sama
orang yang mengetahui pahala yang akan mereka peroleh bila melakukan ketaatan
kepada Tuhan mereka dan mengetahui hukuman yang akan mereka terima bila mereka
bermaksiat kepada-Nya, dengan orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Yaitu,
orang-orang yang merusak amal perbuatan mereka secara membati buta, sedangkan
terhadap amal-amal mereka yang baik tidak mengharapkan kebaikan, dan terhadap
amal-amal yang buruk mereka tidak takut kada keburukan.
Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan
pertanyaan (istifham) untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang mencapai derajat
kebaikan tertinggi; sedang yang lain jatuh ke dalam jurang keburukan. Dan hal
itu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka
membantah. Kemudian, Allah SWT menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat
dipahami oleh orang-orang yang mempunyai akal. Karena orang-orang yang tidak tahu seperti telah
disebutkan dalam hati mereka terdapat tutupsehingga tidak dapat memahami suatu
nasehat dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan. Firman-Nya :
$yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
Sesungguhnya
yang dapat mengambil pelajaran dari hujjah-hujjah Allah dan dapat
menuruti nasehat-Nya dan dapat memikirkannya, hanyalah orang-orang yang
mempunyai akal dan pikiran yang sehat, bukan orang-orang yang bodoh dan lalai.
Pelajaran yang dimaksud
dapat berasal dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta beserta
isinya, atau yang terdapat dalam dirinya serta kisah-kisah umat yang lalu.
Dari uraian diatas
dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang berakal dan berfikiran sehat akan
mudah mengambil pelajaran, dan orang-orang yang seperti itu akan memiliki akal pikiran
sehat serta iman yang kuat.[5]
E.
Tafsir Al-Munier
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9.
(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada
(azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Setelah Allah
menerangkan prihal sifat-sifat buruk orang kafir, Allah memberikan perbandingan
antara sifat-sifat mereka dengan sifat-sifat orang beriman – yakni tidak
berserah diri kecuali hanya pada Allah SWT -, Allah sebutkan:
1. Apakah orang kafir itu lebih baik keadaan
dan tempat kembalinya, ataukah orang beriman pada Allah, yang slalu taat dan
tunduk, selalu dalam keadaan beribadah kepada Rabb-nya (baik dalam keadaan
tidur, duduk, ataupun berdiri; di sepanjang malam), di samping itu mereka juga
takut adzab akhirat dan juga mengharapkan belas kasihNya.
(bentuk
pertanyaan yang tak perlu jawaban (istifhaam inkaariy/ bentuk pertanyaan
yang berarti pengingkaran), artinya: orang beriman lebih baik daripada
orang kafir)
2. Apakah sama; antara orang yang mengetahui
(‘alim/ pandai) dengan orang yang tidak mengetahui (jahil/ bodoh) Sesungguhnya
tiada lain yang bisa mengambil pelajaran (mereka yang mau beri’tibar) hanyalah
orang-orang yang mempunyai pikiran/ akal (ulul albaab).
3. Tidak sama antara 2 kelompok ini:
‘alim (orang yang
mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkan serta istiqomah padanya.
jahil (orang yang
bodoh): dia ketahui kebenaran akan tetapi ia tak mau tuk amalkan; atau, mereka
tak ketahui kebenaran dan kebathilan jugha tidak mau untuk mengetahuinya.
4. Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di
atas adalah:
a. Orang beramal di malem hari lebih terjaga
niatnya (aman dari sifat riya’)
b. Orang yang tunduk (pada Allah) slalu
mempergunakan waktu2nya tuk beribadah kepadaNya; baik di waktu duduk, berdiri,
bahkan dalam keadaan berbaring.
c. Keutamaan Qiyaamul lail.
d. Orang-orang yang tidak bisa mengambil
pelajaran (‘ibroh).
e. Ayat ini menunjukkan atas ‘kesempurnaan
manusia’ bilamana mereka mempunyai 2 hal pokok; yakni, ilmu dan amal (wujud
konsekwensi atas ilmu yang ia punya)
F.
Tafsir
Departemen Agama Republik Indonesia
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9.
(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada
(azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Kemudian Allah
SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir
Quraisy, apakah mereka lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu
malam, dalam keadaan sujud dan berdiri dengan sangat khusyuknya. Dalam
melaksanakan ibadahnya itu timbullah dalam hatinya rasa takut kepada azab Allah
di kampung akhirat, dan memancarlah harapannya akan rahmat Allah.
Perintah yang
sama diberikan Allah kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada mereka apakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Yang
dimaksud dengan orang-orang yang mengetahui ialah orang-orang yang mengetahui
pahala yang akan diterimanya, karena amal perbuatannya yang baik, dan siksa
yang akan diterimanya apabila ia melakukan maksiat. Sedangkan orang-orang yang
tidak mengetahui ialah orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui hal itu,
karena mereka tidak mempunyai harapan sedikutpun akan mendapat pahala dari
perbuatan baiknya, dan tidak menduga sama sekali akan mendapat hukuman dan amal
buruknya.
Di akhir ayat
Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil
pelajaran, baik pelajaran dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda
kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi serta isinya, juga terdapat
pada dirinya atau suri teladan dari kisah umat yang lalu. ﺍﻨﺎﺀﺍﻠﻴﻝ Ana’ bentuk jamak dari al-Inw atau al-an-yu
atau al-ina. Artinya pada saat diwaktu malam atau siang. Jadi kata ana
al-lail artinya saat di waktu malam apakah di permulaan, pertengahan atau di
akhir malam. Orang yang melakukan ibadah pada malam hari akan terjauh dari
sifat ria, kegelapan malam juga bisa membikin hati bisa konsentrasi
kepada Allah.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Apakah orang kafir itu lebih baik keadaan
dan tempat kembalinya, ataukah orang beriman pada Allah, yang slalu taat dan
tunduk, selalu dalam keadaan beribadah kepada Rabb-nya (baik dalam keadaan
tidur, duduk, ataupun berdiri; di sepanjang malam), di samping itu mereka juga
takut adzab akhirat dan juga mengharapkan belas kasihNya.
(bentuk
pertanyaan yang tak perlu jawaban (istifhaam inkaariy/ bentuk pertanyaan
yang berarti pengingkaran), artinya: orang beriman lebih baik daripada
orang kafir)
2. Apakah sama; antara orang yang mengetahui
(‘alim/ pandai) dengan orang yang tidak mengetahui (jahil/ bodoh) Sesungguhnya
tiada lain yang bisa mengambil pelajaran (mereka yang mau beri’tibar) hanyalah
orang-orang yang mempunyai pikiran/ akal (ulul albaab).
3. Tidak sama antara 2 kelompok ini:
‘alim (orang yang
mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkan serta istiqomah padanya.
jahil (orang yang
bodoh): dia ketahui kebenaran akan tetapi ia tak mau tuk amalkan; atau, mereka
tak ketahui kebenaran dan kebathilan jugha tidak mau untuk mengetahuinya.
4. Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di
atas adalah:
a. Orang beramal di malem hari lebih terjaga
niatnya (aman dari sifat riya’)
b. Orang yang tunduk (pada Allah) slalu
mempergunakan waktu2nya tuk beribadah kepadaNya; baik di waktu duduk, berdiri,
bahkan dalam keadaan berbaring.
c. Keutamaan Qiyaamul lail.
d. Orang-orang yang tidak bisa mengambil
pelajaran (‘ibroh).
e. Ayat ini menunjukkan atas ‘kesempurnaan
manusia’ bilamana mereka mempunyai 2 hal pokok; yakni, ilmu dan amal (wujud
konsekwensi atas ilmu yang ia punya)
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mustafa Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi.
Semarang : PT. Karya Toha Putra, 1993.
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir
Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004.
Departemen
Agama Republik Indonesia, Tafsir Depag, Jilid VIII .
Imam Jalaludin Al-Mahalili dan Iman
Jalaludin As-Suyuti, Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algesindo,
2005.
M. Quraysh Shihab, Tafsir
Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati,
2002.
[1]
Yakni:
golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.
[2] Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu
Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004), h.
347.
[3] Imam Jalaludin
Al-Mahalili dan Iman Jalaludin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 2005), h. 676
[4] M. Quraysh Shihab, Tafsir
Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati,
2002), h. 278.
[5]
Ahmad Mustafa
Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. (Semarang : PT. Karya Toha
Putra, 1993), h. 277-279.








0 comments:
Post a Comment