PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH BAGI
MAHASISWA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN
DI SUSUN
OLEH :
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah / PBI
Semester / Unit :
III / 1
Dosen : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)ZAWIYAH
COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang
berjudul "PEMBINAAN
AKHLAKUL KARIMAH BAGI MAHASISWA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN" tepat pada waktunya. Dan tidaklupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang
terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 14 Desember 2012
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.
Pengertian
Akhlak....................................................................................... 2
B.
Surat An-Nisa Ayat 9 dan 95......................................................................
C.
Surat At-Tahrim Ayat 6.......................................................................
D.
Surat At-Tagabun Ayat 14-15...............................................................
E.
Surat Al-A’raf Ayat 199......................................................................
F.
Hadits yang Terkait Tentang Pembinaan Akhlak....................................
G.
Hubungannya Dengan Pembinaan Akhlak Mahasiswa
Dalam Konteks Pendidikan..................................................................
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 14
A.
Kesimpulan....................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kegiatan belajar Aqidah Akhlak
terhadap perilaku mahasiswa adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan dan
diterapkan kepada mahasiswa, agar tidak terpengaruh oleh dunia bebas dan
pergaulan bebas. Dengan demikian manfaat belajar pedidikan aqidah akhlak
sangatlah penting dan sangat diperlukan untuk membimbing dan membina mahasiswa
agar memahami dan mengetahui manfaat belajar aqidah akhlak.
Manfaat belajar pendidikan aqidah
akhlak bagi mahasiswa merupakan bagian tersendiri dari pendidikan. Agama
merupakan factor yang menentukan prilaku/watak dan kepribadian mahasiswa
sehingga mahasiswa dapat memotivasi untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan
keagamaan (aqidah) dan akhlakul karimah (akhlak) dalam kehidupan sehari-hari,
agar mahasiswa mempunyai perilaku dengan baik. Mahasiswa diharapkan dapat
memperhatikan manfaat pendidikan pelajaran aqidah akhlak sebagai control dalam
kehidupan sehari-hari.[1]
B.
Rumusan Masalah
1.
Pengertian
Akhlak
2.
Surat An-Nisa
Ayat 9 dan 95
3.
Surat At-Tahrim
Ayat 6
4.
Surat
At-Tagabun Ayat 14-15
5.
Surat Al-A’raf
Ayat 199
6.
Hadits yang
Terkait Tentang Pembinaan Akhlak
7.
Hubungannya
Dengan Pembinaan Akhlak Mahasiswa Dalam Konteks Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa
Arab al-akhlaq yang merupakan bentuk jamak dari
kata al-khuluq yang berarti budi
pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat (Ya’qub, 1988:
11). Secara terminologis, Ibnu Maskawaih
mendefinisikan akhlak sebagai keadaan gerak jiwa
yang mendorong ke arah melakukan
perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran (Djatnika,
1996: 27). Sedang menurut al-Ghazali
akhlak adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa yang
memungkinkan seseorang melakukan
perbuatan-perbuatan dengan mudah dan seketika
(Alavi, 2007: 313).
Kata akhlak banyak
ditemukan dalam hadits Nabi Saw. Dalam salah satu haditsnya
Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia”.
(HR. Ahmad). Sedangkan dalam al-Quran hanya ditemukan bentuk tunggal dari
akhlaq yaitu
khuluq. Allah menegaskan, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.”
(QS. al-Qalam (68): 4). Khuluq adalah ibarat dari kelakuan manusia
yang membedakan baik dan buruk, lalu
disenangi dan dipilih yang baik untuk dipraktikkan
dalam perbuatan, sedang yang buruk
dibenci dan dihilangkan (Ainain, 1985: 186).
Menurut Imam
al-Gazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan
perbuatan dengan gampang dan mudah serta tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
B.
Surat An-Nisa
Ayat 9 dan 95
Surat An-Nisa Ayat 9
|·÷uø9ur úïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpÍhè $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøn=tæ (#qà)Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´Ïy ÇÒÈ
9. dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
Perkataan yang benar.
Tafsirnya
Allah
memperingatkan kepada orang-orang yang telah mendekati akhir hayatnya supaya
mereka memikirkan, janganlah meninggalkan anak-anak atau keluarga yang lemah
terutama tentang kesejahteraan hidup mereka di kemudian hari. Untuk itu
selalulah bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selalulah berkata lemah
lembut terutama kepada anak yatim yang menjadi tanggung jawab mereka.
Perlakukanlah mereka seperti memperlakukan anak kandung sendiri.[2]
Maksudnya,
anak-anak yang masih kecil-kecil (mereka khawatir terhadap nasib mereka) akan
terlantar (maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah) mengenai urusan
anak-anak yatim itu dan hendaklah mereka lakukan terhadap anak-anak yatim itu
apa yang mereka ingini dilakukan orang terhadap anak-anak mereka sepeninggal
mereka nanti (dan hendaklah mereka ucapkan) kepada orang yang hendak meninggal
(perkataan yang benar) misalnya menyuruhnya bersedekah kurang dari sepertiga
dan memberikan selebihnya untuk para ahli waris hingga tidak membiarkan mereka
dalam keadaan sengsara dan menderita.[3]
Surat
An-Nisa Ayat 95
w ÈqtGó¡o tbrßÏè»s)ø9$# z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# çöxî Í<'ré& ÍuØ9$# tbrßÎg»yfçRùQ$#ur Îû È@Î6y «!$# óOÎgÏ9ºuqøBr'Î/ öNÍkŦàÿRr&ur 4
@Òsù ª!$# tûïÏÎg»yfçRùQ$# óOÎgÏ9ºuqøBr'Î/ öNÍkŦàÿRr&ur n?tã tûïÏÏè»s)ø9$# Zpy_uy 4
yxä.ur ytãur ª!$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4
@Òsùur ª!$# tûïÏÎg»yfßJø9$# n?tã tûïÏÏè»s)ø9$# #·ô_r& $VJÏàtã ÇÒÎÈ
95. tidaklah sama antara mukmin yang duduk
(yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang
berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan
orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[4]
satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik
(surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[5]
dengan pahala yang besar,
Tafsirnya
Diriwayatkan, bahwa ayat ini
diturunkan berhubungan dengan beberapa orang yang tidak mau turut berperang
bersama Rasulullah saw pada peperangan Badar. Mereka itu adalah Ka'ab Ibnu
Malik dari Bani Salamah, Mararah Ibnur Rabi' dari Bani `Amr bin 'Auf, dan Ar
Rabi serta Hilal ibnu Umayyah dari Bani Waqif.
Sudah jelas, bahwa orang-orang mukmin yang berjuang untuk membela agama Allah
dengan penuh keimanan dan keikhlasan tidaklah sama derajatnya dengan
orang-orang yang enggan berbuat demikian. Akan tetapi ayat ml mengemukakan hal
tersebut adalah untuk menekankan bahwa perbedaan derajat antara kedua golongan
itu adalah sedemikian besarnya. sehingga orang-orang yang berjihad itu pada
derajat yang amal tinggi.
Apabila orang-orang yang tidak berjihad itu
menyadari kerugian mereka dalam hal ini, maka mereka akan tergugah hatinya dan
berusaha untuk mencapai derajat yang tinggi itu, dengan turut serta berjihad
bersama-sama kaum mukminin lainnya. Untuk itulah ayat ini mengemukakan
perbedaan antara kedua golongan itu. Dengan demikian maksud yang terkandung
dalam ayat ini sama dengan maksud yang dikandung dalam firman Allah pada ayat
lain yang menerangkan perbedaan derajat antara orang-orang mukmin yang berilmu
pengetahuan dun orang- orang yang tidak berilmu.
Firman Allah SWT:
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3
ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3
$yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9. (apakah
kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az
Zumar: 9)
Ayat ini memberikan pengertian bahwa
orang-orang yang berilmu pengetahuan itu jauh lebih tinggi derajatnya dari pada
orang-orang yang tidak berilmu. Apabila orang-orang yang tidak berilmu
diberitakan tentang kekurangan derajatnya itu, semoga tergeraklah hati mereka
untuk mencari ilmu pengetahuan dengan giat, sehingga dapat meningkatkan derajat
mereka kepada derajat yang tinggi.
Ayat ini turun pada waktu terjadinya
perang Badar. Di antara kaum Muslim in ada orang-orang yang tetap tinggal di
rumah, dan tidak bersedia berangkat ke medan perang. Lalu turunlah ayat ini
untuk mengingatkan mereka bahwa dengan sikap yang semacam itu, mereka berada
pada derajat yang rendah, dibanding dengan derajat orang-orang yang berjihad
dengan penuh iman dan kesadaran.
Sementara itu ada pula di antara
kaum muslimin yang sangat ingin untuk ikut berjihad, akan tetapi niat dan
keinginan mereka itu tidak dapat mereka laksanakan karena mereka beruzur,
misalnya: karena buta, pincang, sakit dan sebagainya, dan merekapun tidak pula
mempunyai benda untuk disumbangkan. Orang-orang semacam itu, tidak disamakan
dengan orang-orang yang enggan berjihad, melainkan disamakan dengan orang-orang
yang berjihad dengan harta benda dan jiwa raga mereka Akan tetapi ayat ini
menjelaskan bahwa mereka yang benar-benar berjihad dengan harta benda dan jiwa
raganya itu memperoleh martabat yang lebih tinggi satu derajat dari mereka yang
tidak berjihad karena `uzur. Namun golongan itu akan mendapatkan pahala dari
Allah, karena iman dan niat mereka yang ikhlas.
Pada akhir
ayat ini, Allah SWT menegaskan pula bahwa Dia akan memberikan pahala yang jauh
lebih besar kepada mereka yang berjihad, dial mereka yang tidak berjihad tanpa
uzur. Berjuang atau berjihad "dengan harta benda" ialah: menggunakan
harta benda milik sendiri untuk keperluan jihad, atau untuk keperluan orang
lain yang turut berjihad, misalnya: bahan-bahan perbekalan berupa makanan, atau
kendaraan. senjata dan sebagainya. Dan berjuang dengan "jiwa raga"
berarti: ia rela mengorbankan miliknya yang paling berharga baginya, yaitu
tenaga bahkan jiwanya, sekalipun ia menerima perbekalan dari orang lain, karena
ia tidak mempunyainya.[6]
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ
أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ
فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى
الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ
الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (95)
(Tidaklah sama di antara orang-orang
mukmin yang duduk) maksudnya tidak ikut berjihad (tanpa mempunyai uzur) seperti
tua, buta dan lain-lain; marfu` karena sifat dan manshub sebagai mustatsna
(dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah berikut harta dan jiwa mereka.
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas
orang-orang yang duduk) karena uzur (satu tingkat) atau satu kelebihan karena
walaupun mereka sama dalam niat, tetapi ada tambahan pada orang-orang yang
berjihad, yaitu pelaksanaan (dan kepada masing-masing) mereka dari kedua
golongan itu (Allah menjanjikan pahala yang baik) yaitu surga. (Dan Allah
memberi kelebihan terhadap orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk)
tanpa uzur (berupa pahala yang besar) dan sebagai nya.[7]
C.
Surat
At-Tahrim Ayat 6
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.
Asbabun Nuzulnya
Ibnu katsir setelah menulis ayat At-Tahrim
beliau juga menukil pendapat yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat tersebut
adalah Nabi mengharamkan atas dirinya Maria Al-Qibtiah[8] tapi
kemudian beliau menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat
tersebut adalah Nabi mengharamkan atas dirinya madu.
Kemudian Syaikh Utsaimin menguatkan
pendapat yang mengatakan sebab turunnya ayat ini adalah Nabi shallallahu alaihi
wa sallam mengharamkan atas dirinya madu.[9]
Tafsinya
Mengenai firman Allah subhanahu wa
ta’ala, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid
(Sufyan As-Sauri mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari
Mujahid, hal itu sudah cukup bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah
dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan
Qatadah mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat
kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau
menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk
menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat
mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian itu pula yang dikemukakan
oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap
muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya,
berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka
dan apa yang dilarang-Nya.”
Dalam ayat ini firman Allah
ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan
bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan
perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada
perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.
Di antara cara menyelamatkan diri
dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman
Allah SWT. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan
bersabarlah kamu mengerjakannya (Q.S Taha: 132).
dan dijelaskan pula dengan firman-Nya: Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S Asy Syu’ara’: 214).
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6
ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan
bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka
mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka
melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya
meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar
dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan
mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan Allah.[10]
D.
Surat
At-Tagabun Ayat 14-15
Firman Allah Swt dalam surat
At-Taghabun : 14 yang berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ
تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
“Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi
musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka: dan jika kamu
memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Alllah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Asbabun Nuzulnya
Dalam suatu riwayat
dikemukakan bahwa ayat :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ......
turun berkenaan dengan beberapa orang penduduk mekah
yang masuk islam, akan tetapi istri dan ank-anaknya menolak hijrah ataupun
ditinggal hijrah ke Madinah. Lama kelamaan mereka pun hijrah juga. Sesampainya
di Madinah, mereka melihat kawan-kawannya telah banyak mendapat pelajaran dari
nabi Saw. Karenanya mereka bermaksud menyiksa istri dan anak-anaknya yang
menjadi penghalang unutk berhijrah.[11] Maka turunlah ayat
selanjutnya :
....وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Dalam riwayat lain, ayat di atas turun berkenaan dengan ‘Auf bin Malik
Al-Asyja’i yang mempunyai anak istri yang selalu menangisinya apbila akan pergi
berperang , bahkan menghjalanginya dengan
berkata : “Kepada siapa engkau akan menitipkan kami?” ia pun merasa kasihan
kepada mereka hingga tidak jadi berangkat perang.[12]
Ayat di atas berbicara
tentang kehidupan suatu keluarga, di mana pada keluarga tersebut kadang-kadang
ada istri yang menjadi musuh bagi keluarga tersebut dan bahkan dari anak-anak
mereka pun kadang kala ada yang menjadi musuh baginya. Benar-benar disengaja
atau tidak kadang-kadang ada dari mereka yang menjadi musuh, sekurang-kurangnya
menjadi musuh yang akan menghambat cita-cita. Sebab itu di suruhlah orang yang
beriman berhati-hati terhadap istri dan anak-anaknya, jangan sampai mereka itu
mepengaruhi iman dan keyakinan. Tetapi jangan langsung mengambil sikap keras
terhadap mereka. Bimbinglah mereka baik-baik. “: dan jika
kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya
Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (ujung ayat 14).
Tafsirnya
a.
Di pangkal ayat diterangkan dengan memakai
min (من) , yang berarti “daripada”, artinya setengah daripada,
tegasnya bukanlah semua istri atau semua anak menjadi musuh hanya kadang-kadang
atau pernah ada. Hasil dari sikap mereka telah merupakan suatu musuh yang
cita-cita seorang mu’min sebagai suami atau sebagai ayah.[13]
b.
Kata عَدُوًّا berarti يعادونكم و يشغلونكم عن الخير yaitu memalingkan dan menyibukkan kita sehingga jauh dari kebaikan.[14] Sebagian pasangan dan
anak merupakan musuh dapat dipahami dalam arti musuh yang sebenarnya,
yang menaruh kebencian dan ingin memisahkan diri dari ikatan perkawinan. Ini
bisa saja terjadi kapan dan di mana pun. Dan bisa juga permusuhan dimaksud
dalam pengertian majazi, yakni bagaikan musuh. Ini karena dampak dari tuntunan
dari mereka yang menjerumuskan pasangannya dalam kesulitan bahkan bahaya,
layaknya perlakuan musuh terhadap musuhnya.[15]
Salah satu yang
menjadi contoh istri dan anak itu ada yang menjadi musuh bagi
seorang mukmin seperti yang disebutkan dalam akhir surat At-Tahrim tentang
istri dari dua orang nabi, sebagaimana firman Allah Swt :
ضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا
تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا
عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ
الدَّاخِلِينَ (التحريم : 14)
“Allah membuat istri Nuh dan istri Lut
perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua
orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu
berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu
mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya);
"Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.(At-Tahrim :
14)
Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun,
Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta
merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan
taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah
kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan
nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara
dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
(At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan
kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai
orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada
yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika
kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)
Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb
menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan
cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah
dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang
menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah
kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi
peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak
melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih
kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di
depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah
harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang
akan diraih melalui sarana harta dan anak.
Lebih jauh,
korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain.
Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang
bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu
serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar
menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada
keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun
demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara
dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan. Maka sangat tepat jika ayat
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi
Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang
beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat
Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang
merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan
anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.[16]
E.
Surat Al-A’raf
Ayat 199
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚÌôãr&ur Ç`tã úüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ
199. jadilah
Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh.
Tafsirnya
Menurut Fahruddin Muhammad Al-Razy
ayat ini mengandung makna yang tinggi tentang makarimal akhlak karena di
dalamnya terdapat ajaran tentang meninggalkan sikap yang memberatkan baik yang
bersifat maliyah maupun sikap yang baik antar sesama manusia. Al-Razy mengutip
pendapat Ja’far Shodiq, “Tidak ada ayat al-Qur’an tentang makarimal akhlak yang
lebih luas dari ayat ini”. Dengan demikian dapat digambarkan bahwa ayat ini
termasuk ayat yang mengkhususkan mengejarkan umat islam tentang nilai-nilai
akhlak.
F.
Hadis yang
Berkaitan Dengan Pembinaan Akhlak
عَنْ آَبِيْ سَعِيْدٍ
اَلْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ, يَقُوْلُ: مَنْ رَآَى مِنْكُمْ
مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرُهُ بِيَدِهِ, فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ
لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ اَضْعَفُ الْاِ يْمَانِ. (رواه مسلم)
Abu
Sai’id Al-Khudri ra berkata: “ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia merubah dengan
tangannya; bila tidak mampu, maka dengan lisnnya; bila ia tidak mampu maka
dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”[17]
(H.R Muslim)
عن أبي سعيد سعد بن سنأ ن ألحد ري ر ضي ألله عنه: أن
رسول ألله صل ألله عليه ؤ سللم قأ ل: لأ ضر ر و لأ ضرا ر
Abu Sa’id Bin
Malik bin Sinan Al-Khudri ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “ Janganlah
kalian saling merugikan”. (H. R Ibnu Majah, Darutqutni dan lain-lain).[18]
G. Hubungannya Dengan Pembinaan Akhlak
Mahasiwa
Akhlak bukanlah merupakan barang-barang mewah yang mungkin tidak terlalu di
butuhkan tetapi akhlak merupakan pokok-pokok kehidupan yang esensial, yang
diharuskan agama sangat menghormati orang-orang yang memilikinya. Oleh karena
Islam datang untuk mengantarkan manusia ke jenjang kehidupan yang gemilang dan
bahagia serta sejahtera melalui beberapa segi keutamaan akhlak yang luhur.
Djazuli dalam bukunya Akhlaq Dasar Islam mengemukakan ada tiga kegunaan
akhlakul karimah yaitu :
a. Akhlak yang
baik harus ditanamkan kepada manusia supaya manusia mempunyai kepercayaan yang
teguh dan berpendirian yang kuat.
b. Sifat-sifat
yang terpuji atau akhlak yang baik merupakan latihan bagi pembentukan sikap
sehari-hari, sefat sifat ini banyak di bicarakan dan berhubungan dengan rukun
Islam sehari-hari, sifat-sifat ini banyak dibicarakan dan berhubungan dengan
rukun Islam dan ibadah seoperti : sholat, puasa, zakat, haji, shodaqoh, tolong
menolong dan sebagainya.
c. Untuk
mengatur hubungan yang baik antara manusia dengan Allah dan manusia dengan
manusia.
Tujuan pembinaan akhlakul karimah
pada mahasiswa, pembinaan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan
sadar, berencana, teratur dan terarah serta bertanggung jawab untuk
mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan segala aspeknya. Dengan demikian,
mahasiswa dibina untuk memiliki kepribadian yang sempurna, yaitu kepribadian
yang mantap, yang sanggup memproduksi hal-hal yang rasional selaras dengan batas-batas
kemampuan bakatnya, sanggup mempererat hubungan yang sehat dengan segala
lapisan masyarakat, sanggup menanggung beban kehidupan dengan rasa tanpa adanya
kontradiksi di dalam tingkah lakunya. Jadi tujuan dari pembinaan akhlakul
karimah bagi mahasiswa disini adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang
sempurna yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Tiga nilai prinsip pendidikan akhlak bagi
mahasiswa yang tersirat dalam dalil-dalil di atas antara lain:
1)
Sikap Pemaaf
Sikap ini merupakan prinsip agama dalam bidang akhlak yang perlu direalisasikan dalam kehidupan. Dan untuk relisasinya memerlukan kedewasaan beragama dan sikap yang proporsional. Hal ini karena memaafkan orang lain yang bersalah memerlukan kelapangan dada dan kesabaran.
Jika sikap ini sudah hilang, maka budaya tawuran karena dendam sepele akan
sangat mudah kita jumpai dikalangan mahasiswa, yang semestinya hal ini tidak
terjadi mengingat mahasiswa adalah pionir masyarakat.
2) Menyuruh Manusia Berbuat Ma’ruf
Dalam konteks masyarakat yang masih berkembang, menegakkan kebenaran dan keadilan adalah merupakan kewajiban umat islam. Sehingga perbuatan menyuruh berbuat yang ma’ruf sudah tentu dapat djadikan sebagai nilai pendidikan akhlak yang utama.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual wajib mengembangakan kepekaan sosial untuk
mengajak berbuat Ma’ruf. Hal ini karena mahasiswa adalah orang-orang muda yang kuat dan memiliki peran
dalam masyarakat untuk membawa sebuah bentuk perubahan.
3) Menjauhkan Diri dari Orang-orang Jahil
Oranorang jahil pada ayat ini dipandang sebagai orang yang hanya memperturutkan emosional bukan pertimbangan akal. Para mufassirin memberikan komentar tentang ayat ini dengan memberikan tindakan damai, yaitu walaupun kita dalam kondisi yang sangat marah, kita tidak boleh melawan dengan kekerasan pula.Sebagai
seorang yang berpendidikan tinggi, mahasiswa tentu lebih peka penilaiannya dari
pada masyarakat biasa. Dalam hal ini hendaknya mahasiswa mangawasi kondisi dan
keadaan lingkungan dimana dia tinggal dan turut serta menjaga masyarakat dari
orang-orang jahil yang berpotensi mengajak masyarakat untuk berbuat
kemungkaran.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Akhlak mulia merupakan buah yang dihasilkan dari
proses penerapan ajaran Islam yang
meliputi
akidah dan syariah (ibadah dan muamalah). Terwujudnya akhlak mulia di
tengahtengah masyarakat manusia merupakan misi pokok kehadiran Nabi Muhammad
saw. di muka bumi ini. Melalui proses panjang dan dengan perjuangan yang
takkenal lelah akhirnya Nabi berhasil mewujudkan akhlak mulia itu di
tengah-tengah masyarakatnya dan terus menyebar ke masyarakat yang lebih luas
lagi hingga ke berbagai penjuru dunia. Seiring berjalannya waktu, eksistensi
akhlak mulia semakin menurun kualitasnya, dan jika terus dibiarkan, akhlak
mulia ini akan terus menurun bahkan menjadi hilang. Jika demikian, bukan tidak
mungkin masyarakat manusia akan menjadi masyarakat yang tidak berperadaban lagi
(biadab) takubahnya seperti kawanan binatang (QS. al-A’raf [7]: 179).
Salah satu cara yang cukup efektif untuk bisa
mempertahankan akhlak mulia ini di tengah-tengah masyarakat manusia adalah
melalui pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Islam sangat mementingkan
pendidikan terutama pendidikan akhlak yang sekarang populer dengan istilah
pendidikan karakter. Terkait dengan ini, M. Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa
inti pendidikan Islam adalah pendidikan budi pekerti (akhlak). Jadi, pendidikan
budi pekerti (akhlak) adalah jiwa pendidikan dalam Islam. Mencapai akhlak mulia
(al-akhlaq al-karimah) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam.
Di samping membutuhkan kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, peserta
didik juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa,
dan kepribadian (al-Abrasyi, 1987: 1). Sejalan dengan konsep ini maka semua
mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkan kepada peserta didik haruslah
mengandung muatan pendidikan akhlak dan setiap guru atau dosen haruslah
memerhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Imam
Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Syuyuti, Tafsir Jalalain, (Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 2005).
Departemen
Agama, Tafsir Indonesia
Tafsir /
Indonesia / DEPAG / Surah An Nisa
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir
Ad-Dimasyqy, Tafsir Ibnu Katsir,
(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004) juz.8 hal.158
Syaikh
Utsaimin, Asy-Syarh Al-Mumti’ ala Zad Al Mustaqni’ .
juz.13 hal.217.
K.H.Q.
Shaleh Dan H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Cet. 10, Edisi Ii, Tahun
2004, Hal. 579
Prof
Hamka, Tafsir Al-Azhar, , Cet Pertama, Juz 28, 29, 30, Tahun 1985, Hal.
246
Fathul
Qadir, M. Ibn Ali Asy-Syauqani , Juz 7,
Hal. 237
Tafsir
Al Misbah, Quraish Shihab, Cet I, Jilid, 14 , Tahun 2003, Lentera Hati, Hal. 279
Imam
Nawawi, Hadits Arbain An-Nawawiyah, h. 54
Dean
Winchester, “Manfaat Belajar Pendidikan Akidah Akhlak Terhadap Perilaku Siswa”,
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2027520-manfaat-belajar-pendidikan-akidah-akhlak/#ixzz1tm4GgVjZ
Dr. Attabiq Luthfi, MA pada 7 Maret
2007
[1]
Dean Winchester, “Manfaat Belajar
Pendidikan Akidah Akhlak Terhadap Perilaku Siswa”, http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2027520-manfaat-belajar-pendidikan-akidah-akhlak/#ixzz1tm4GgVjZ
[3] Imam
Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Syuyuti, Tafsir Jalalain,
(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005).
[4]
Maksudnya: yang tidak berperang karena
uzur.
[5]
Maksudnya: yang tidak berperang tanpa
alasan. sebagian ahli tafsir mengartikan qaa'idiin di sini sama dengan arti
qaa'idiin Maksudnya: yang tidak berperang karena uzur..
[7] Imam
Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Syuyuti, Tafsir Jalalain,
(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005).
[8] Al-Imam Abul
Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasyqy, Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004)
juz.8 hal.158
[10]
Departemen Agama, Op. Cit
[15] Tafsir Al Misbah, Quraish
Shihab, Cet I, Jilid, 14 , Tahun 2003, Lentera Hati, Hal. 279








0 comments:
Post a Comment