MAKALAH TAFSIR TARBAWI
PENCIPTAAN ALAM SEMESTA PERSPEKTIF AL-QURAN
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Dosen
Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
PERSPEKTIF AL-QURAN"
tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar
Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang
terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 17
Oktober 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar Belakang........................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 3
A.
Teori-Teori
Penciptaan Alam Semesta......................................................... 3
B.
Alam Semesta
Perspektif Alquran............................................................... 6
C.
Konsep-Konsep
Alam Semesta.................................................................... 7
BAB III PENUTUP............................................................................................... 11
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 11
B.
Saran............................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seabad
yang lalu, penciptaan alam semesta adalah sebuah konsep yang diabaikan para
ahli astronomi. Alasannya adalah penerimaan umum atas gagasan bahwa alam
semesta telah ada sejak waktu tak terbatas. Dalam mengkaji alam semesta,
ilmuwan beranggapan bahwa jagat raya hanyalah akumulasi materi dan tidak
mempunyai awal. Tidak ada momen "penciptaan", yakni momen ketika alam
semesta dan segala isinya muncul.
Gagasan
"keberadaan abadi" ini sesuai dengan pandangan orang Eropa yang
berasal dari filsafat materialisme. Filsafat ini, yang awalnya dikembangkan di
dunia Yunani kuno, menyatakan bahwa materi adalah satu-satunya yang ada di
jagat raya dan jagat raya ada sejak waktu tak terbatas dan akan ada selamanya.
Filsafat ini bertahan dalam bentuk-bentuk berbeda selama zaman Romawi, namun
pada akhir kekaisaran Romawi dan Abad Pertengahan, materialisme mulai mengalami
kemunduran karena pengaruh filsafat gereja Katolik dan Kristen. Setelah
Renaisans, materialisme kembali mendapatkan penerimaan luas di antara pelajar
dan ilmuwan Eropa, sebagian besar karena kesetiaan mereka terhadap filsafat
Yunani kuno.
Immanuel
Kant-lah yang pada masa Pencerahan Eropa, menyatakan dan mendukung kembali
materialisme. Kant menyatakan bahwa alam semesta ada selamanya dan bahwa setiap
probabilitas, betapapun mustahil, harus dianggap mungkin. Pengikut Kant terus
mempertahankan gagasannya tentang alam semesta tanpa batas beserta
materialisme. Pada awal abad ke-19, gagasan bahwa alam semesta tidak mempunyai
awal- bahwa tidak pernah ada momen ketika jagat raya diciptakan-secara luas
diterima. Pandangan ini dibawa ke abad ke-20 melalui karya-karya materialis
dialektik seperti Karl Marx dan Friedrich Engels.
Pandangan tentang alam semesta
tanpa batas sangat sesuai dengan ateisme. Tidak sulit melihat alasannya. Untuk
meyakini bahwa alam semesta mempunyai permulaan, bisa berarti bahwa ia
diciptakan dan itu berarti, tentu saja, memerlukan pencipta, yaitu Tuhan. Jauh
lebih mudah dan aman untuk menghindari isu ini dengan mengajukan gagasan bahwa
"alam semesta ada selamanya", meskipun tidak ada dasar ilmiah sekecil
apa pun untuk membuat klaim seperti itu. Georges Politzer, yang mendukung dan
mempertahankan gagasan ini dalam buku-bukunya yang diterbitkan pada awal abad
ke-20, adalah pendukung setia Marxisme dan Materialisme.
Politzer
menganggap sains berada di pihaknya dalam pembelaannya terhadap gagasan alam
semesta tanpa batas. Kenyataannya, sains merupakan bukti bahwa jagat raya
sungguh-sungguh mempunyai permulaan. Dan seperti yang dinyatakan Politzer
sendiri, jika ada penciptaan maka harus ada penciptanya.
Al-Qur'an adalah sumber dari segala ilmu, suatu ungkapan yang
tidak hanya terdengar dikalangan umat Islam saja, tetapi juga sering terucap
juga oleh para cendikiawan dan ilmuan barat, dalam menghadapi situasi tertentu
dan tidak seorang pun dapat menyangkal bahwa dalam Al-Qur'an tidak hanya
diletakkan dasar-dasar peraturan kehidupan manusia dalam hubungan ibadah dengan
Tuhan-Nya dan Tindakan dengan alam sekitarnya, tetapi juga dinyatakan tentang
ciptaan alam termasuk manusia di dalamnya. Dan ini semua tidak lepas dari
tujuan Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya pada manusia agar manusia bisa
berpikir dan menemukan hakekat penciptaan alam dan dirinya sendiri.
"sesungguhnya dalam penciptaan tata kerja langit
dan bumi, malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah
matinya dan dia sebarkan di bumi segala jenis hewan dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya terdapat
tanda-tanda ke-Esaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir".(Qs.
Al-Baqaroh : 164).
Di makalah ini penulis akan menjelaskan tentang asal usul alam
semesta.
B. Rumusan Masalah
1.
Teori-teori Penciptaan Alam Semesta.
2. Alam semesta perspektif Al-Qur'an.
3.
Konsep-konsep alam
semesta.
C. Tujuan Penulisan
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Tafsir Tarbawi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
TEORI-TEORI PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
1. Teori Kabut (Nebula)
Teori ini pertama kali
dikembangkan oleh Kant dan Laplace pada tahun 1796. Menurut teori ini mula-mula
ada kabut gas dan debu atau nebula, kabut ini sebagian besar terdiri dari
hidrogen dan sedikit helium. Nebula mengisi seluruh ruang alam semesta. Karena
proses pendinginan, kabut gas ini tersebut menyusut dan mulai berputar. Proses
ini mula-mula lambat, kemudian makin cepat dan bentuknya berubah dari bulat
bola menjadi cakram. Sebagian besar materi akan mengumpul dipusat cakram, yang
kemudian menjadi matahari. Sedang sisanya yang tertinggal akan tetap berputar
dan terbentuklah planet besrta satelitnya. [1] 2. Bintang Kembar
Menurut teori ini pada
awalnya ada dua bintang kembar, kemudian satu bintang meledak menjadi
serpihan-serpihan kecil akibat medan gravitasi bintang yang tidak
meledak, serpihan-serpihan itu berputar mengelilinginya. Kemudian serpihan
menjadi planet-planet, sateli-satelit dan benda-benda langit kecil lainnya,
sedangkan bintang yang utuh adalah matahari.[2]
1. Teori Pasang Surut
atau Tidal
Jeans dan Jeffri pada
tahun 1919. Menurut teori ini melukiskan bahwa terjadinya alam semesta
merupakan masa matahari yang lepas membentuk bentukan cerutu yang menjorok
kearah bintang akibatnya bintang makin menjauhi masa, masa tersebut
terputus-putus dan membentuk gumpalan gas disekitar matahari gumpalan-gumpalan
itulah yang kemudian membeku dan terbentuk planet-planet. Teori ini dapat
menjawab mengapa planet dibagian tengah seperti: jupiter, saturnus, uranus dan
neptunus ukurannya besar, sedangkan pada bagian ujung seperti: merkurius, venus
dan pluto memiliki ukuran yang lebih kecil.[3]
4.
Teori Big Bang
Teori ini menyatakan bahwa adanya suatu masa yang sangat besar
meledak dengan hebat karena adanya reaksi inti. Masa itu kemudian berserakan
dan mengembangkan dengan sangat cepatnya menjauhi pusat ledakan. Gamo Alfhor
dan Herman mengatakan pada saat ledakan Maha dahsyat itu terjadi semua materi
terlempar ke seluruh jagat raya kesemua arah yang kemudian membentuk
bintang-bintang dan glaksi, karena tidak mungkin materi seluruh alam itu
berkumpul di suatu tempat dalam ruang tanpa gaya grafitasi yang sangat kuat.
Maka disimpulkan kemudian bahwa "Ledakan Besar" itu terjadi ketika
seluruh materi Cosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang
sangat tinggi, alam semesta lahir dari singolaritas fisis dengan keadaan
ekstern.[4]
5.Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini berlandaskan pada pemikiran bahwa
ada suatu siklus dari alam semesta, yaitu masa-ekspansi dan masa kontruksi yang
diduga siklus tersebut berlangsung dalam durasi 30.000 juta tahun. Dalam masa
depan ekspansi kemudian terbentuklah galaksi serta bintang-bintangnya. Ekspansi
ini didukung oleh adanya tenaga yang bersumber dari reaksi inti hidrogen
yang pada akhirnya membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Pada masa
kontraksi, galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk meredup dan unsur-unsur
yang terbentuk menyusul mengeluarkan tenaga
berupa panas yang tinggi.Teori ini juga
dikemukakan oleh Edwin Hubble, dia menyatakan bahwa alam semesta memuai seperti
gelembung gas panas yang secara tiba-tiba melepas dari ruang hampa. Dia
melakukan sebuah percobaan melalui teropong bintang raksasa pada tahun 1929
bahwa disitu menunjukkan adanya pemuaian adanya alam semesta. Ini berarti alam
semesta merekspansi dan ekaspansi itu menurut Gamau melahirkan sekitar 100
miliyar galaksi yang masing-masing galaksi rata-rata memiliki 100 miliyar
bintang.[5]
6. Teori Planetesimal
Thomas C.Chaberlin dan
Forest R. Moulton mencetuskan teori yang dikenal dengan teori Planetesimal
artinya planet terbentuk dari benda padat atau unsur-unsur kecil yang telah ada
sebelumnya. Menurut teori ini, matahari yang ada sekarang sudah ada sebelumnya,
kemudian ada sebuah bintang yang melintas pada jarak yang tidak terlalu jauh
dari matahari. Akibatnya terjadi peristiwa pasang naik pada permukaan matahari
maupun bintang itu. Sebagian dari masa yang tertarik jatuh kembali kepermukaan
matahari dan sebagian lagi terhambur ke ruang angkasa di sekitar matahari
menjadi planet-planet dan benda langit lainnya.[6]
7. Teori Creatio Continua
Teori ini dikemukakan
oleh Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Menurut teori ini saat diciptakan alam
semesta ini tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan tetap ada, atau
dengan kata lain alam semesta ini tidak pernah bermula dan tidak akan berakhir.
Pada setiap saat ada partikel yang dilahirkan dan ada yang lenyap.
Partikel-partikel tersebut kemudian mengembun menjadi kabut-kabut spiral dengan
bintang-bintang dan jasad-jasad alam semesta. Karena partikel yang dilahirkan
lebih besar dari pada partikel yang lenyap maka jumlah materi makin bertambah
dan mengakibatkan pemuaian alam semesta. Pengembangan ini akan nencapai titik
batas kritik pada 10 miliyar tahun lagi. Tetapi dalam waktu 10 miliyar tahun
ini akan dihasilkan kabut-kabut baru. Menurut teori ini 90% materi alam semesta
adalah hidrogen. Dari hidrogen ini akan terbentuk helium dan zat-zat lainnya.
8. Teori G.P.Kuiper
Pada tahun 1950 G.P
Kuiper mengajukan teori berdasarkan keadaan yang ditemui di luar tata surya dan
menyuarakan penyempurnaan atas teori-teori yang telah dikemukakan yang
mengandaikan bahwa matahari serta semua planet berasal dari gas purba yang ada
ruang angkasa. Pada saat ini terdapat banyak kabut gas dan diantara kabut
terlihat dalam proses melahirkan bintang.
Kabut
gas yang nampak tipis-tipis di ruang angkasa itu, karena gaya tarik gravitasi
antar molekul dalam kabut itu lambat laun memampatkan diri menjadi masa yang
semakin lama semakin padat. Pemadatan ini di mungkinkan oleh sifat gas semacam
itu selalu terjadi gerakan. Selanjutnya gerakan itu semakin lama menjadi
gerakan berputar yang memipihkan dan memadatkan gas kabut itu. Satu atau dua
gumpalan materi memadat di tengah, sedang gumpalan yang kecil akan melesat di
lingkungan sekitarnya.
Gumpalan yang
terkumpul di tengah menjadi matahari sebagai sat, sedang gumpalan-gumpalan yang
kecil menjadi bakal planet. Matahari yang di pusat begitu padat mulai menyala
dengan api nuklir, yang selanjutnya api itu mendorong gas yang masih membungkus
planet menjadi sirna, sehingga planet sekarang tampak telanjang tinggal
terasnya. Tapi bakal planet yang jauh dari matahari kurang terpengaruh sehingga
tampak menjadi planet yang besar dengan di liputi kabut.[7]
B.
ALAM SEMESTA
PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Dari teori yang
sudah disebutkan di atas, kaitannya dengan isyarat Allah dalam Al-Qur'an bahwa
alam semesta tadinya merupakan satu gumpalan, dia berfirman dalam surat
Al-Ambiya' ayat 30.
óOs9urr& tt tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( xsùr& tbqãZÏB÷sã ÇÌÉÈ
Artinya : "Tidakkah
orang kafir memperhatikan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu yang
padu (gumpalan) kemudian kami memisahkannya, kami jadikan air segala sesuatu
yang hidup, maka mengapa mereka tidak juga beriman?"
Al-Qur'an tidak
menjelaskan secara detail bagaimana terjadinya pemisahan itu, namun apa yang
dikemukakan di atas tentang perpaduan alam semesta ini dibenarkan oleh para
ilmuan yang telah terkenal dengan teori ledakan besar atau Big-Bang.
Juga tentang meluasnya
alam semesta, Al-Qur'an mengungkapkan dalam surat Adz-Zariyah ayat 47.
uä!$uK¡¡9$#ur $yg»oYøt^t/ 7&÷r'Î/ $¯RÎ)ur tbqãèÅqßJs9 ÇÍÐÈ
Artinya : "Dan langit kami bangun
dengan kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskan /
mengembangkannya"
Dewasa ini, meluasnya
alam semesta dikenal dengan istilah "The Expanding Universe"
seperti diketahui bahwa alam semesta yang penuh dengan gugusan bintang dan
galaksi tersebut berjualan tahun perjalanan cahaya dari bumi.
Edwin P. Hubble
merumuskan bahwa galaksi-galaksi tersebut disamping berotasi juga bergerak
menjauhi bumi, sebelumnya penemuan tersebut dianggap sebagai suatu kesalahan,
tapi lama kelamaan bisa diterima oleh banyak ilmuan.
Menurut "The
Expanding Universe" alam semesta bersifat seperti balon atau gelombang
karet yang sedang ditiup ke segala arah dengan kecepatan luar biasa. Ini sesuai
dengan pemaparan Al-Qur'an dalam surat Al-Ghasyiyah ayat : 17-18.
xsùr& tbrãÝàYt n<Î) È@Î/M}$# y#ø2 ôMs)Î=äz ÇÊÐÈ n<Î)ur Ïä!$uK¡¡9$# y#ø2 ôMyèÏùâ ÇÊÑÈ
Artinya : "Tidakkah
mereka memperhatikan bagaimana unta diciptakan dan langit ditinggikan".
Kekuatan yang terlibat
dalam pembangunan alam ini tidak dapat dibayangkan, yaitu kira-kira terdiri
dari 10.000 milyar bintang yang masing-masing masanya sekitar massa matahari.
Dan kenyataan ini menggusarkan para fisikawan pada umumnya karena penciptaan
alam ini dari ketiadannya memerlukan adanya yang maha pencipta.
Maka disinilah letak
perbandingan konsepsi fisika tentang penciptaan alam dengan ajaran yang ada
didalam Al-Qur'an.[8]
C. KONSEP-KONSEP
ALAM SEMESTA
1. Konsepsi Alam Semesta Newton
Di dalam galaksi, terdapat 100 milyar bintang yang ada umumnya
sebesar matahari, sampai pada abad ke-20 orang masih beranggapan bahwa alam
kita ini tidak mempunyai batas atau tidak terbatas, dan oleh karenanya besar
alam ini tidak terhingga, sebab apabila ia terbebas akan "Mata
Bintang-Bintang" yang ada ditepi, yaitu yang dekat dengan perbatasan
tersebut tentunya hanya akan mengalami tarikan gaya gravitasi ke satu sisi
saja, yakni ke pusat alam semesta karena sisi tepi hampir tidak ada bintangnya,
jadi bintang-bintang di tepi akan bergerak ke pusat dan akan berkumpul disana,
jika waktu yang cukup lama memberikan kesempatan untuk berlangsungnya proses
menyatu itu dan alam tanpa batas itulah yang menjadi ajaran Newton.
Disamping itu perkembangan ilmu kimiawi yang sejak lama mengkaji
proses-proses kimiawi mengajarkan bahwa dalam reaksi yang bagimanapun materi
itu kekal. Maka bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa konsepsi Newton itu adalah
besarnya alam semesta tidak terhingga dan materinya tidak akan pernah tiada,
eksistensi alam ini juga tidak terhingga lamanya.
Konsepsi Newton ini telah menghancurkan konsepsi kuno yang
menganggap bahwa alam ini dikelilingi oleh bola langit yang raksasa tempat
menempelnya bintang-bintang. Namun, konsepsi Newton bertentangan dengan
kenyataan observasi abad ke-20, serta ajaran Agama yang menyatakan bahwa alam
semesta tidak kekal, dan diciptakan Tuhan pada saat tertentu. Konsepsi kuno itu
pun juga salah bahwa bola langit yang dipercayai keberadaannya tidak berkembang
atau tidak meluas itu bertentangan dengan Al-Qur'an surat Adz-Zaariyaat ayat
47. karena memang janggal kalu semua bintang-bintang berada dipermukaan bola
langit. Ayat ini pula yang membantah konsepsi Newton tentang tidak terhingga
alam semesta, sebab sesuatu yang tidak terhingga besarnya seperti alam konsepsi
Newton, tidak dapat dibesarkan atau diluaskan lagi begitu pula tentang
kekekalan alam semesta tersebut. Ia dibantah oleh Al-Qur'an yang menjelaskan
scenario hancurnya alam semesta dalam surat Al-Anbiya', ayat : 104 :
tPöqt ÈqôÜtR uä!$yJ¡¡9$# ÇcsÜ2 Èe@ÉfÅb¡9$# É=çGà6ù=Ï9 4 $yJx. !$tRù&yt/ tA¨rr& 9,ù=yz ¼çnßÏèR 4 #´ôãur !$oYøn=tã 4 $¯RÎ) $¨Zä. úüÎ=Ïè»sù ÇÊÉÍÈ
"Pada suatu Hari kami gulung ruang waktu
(alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis, sebagaimana kami telah
memulai awal penciptaan, itulah janji yang akan kami tepati, sesungguhnya
kamilah yang akan melaksanakannya"
Disitulah sebenarnya arti dari kata kalimat yang akan terjadi
pada waktu yang Allah tentukan, dan itu pun terjadi secara rahasia, dan
tiba-tiba, serta waktunya sudah dekat. Seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an
surat Al-Mu'min ayat : 59
yaitu
"Sesungguhnya
hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi
kebanyakan manusia tidak beriman (mempercayainya)"
2.
Konsepsi Alam Semesta Einstein
Berbeda dari Newton,
Einstein mempunyai sebuah konsepsi yang didasarkan pada fisika relativistic
yang dikembangkannya sejak tahun 1905 dalam kegiatannya mengembangkan teori
relativitas umum Einstein menemukan bahwa ruang alam mengalami kelengkungan
sebagai akibat dari adanya grafitasi yang ditimbulkan massa materi yang berada
di dalamnya. Dalam penelitiannya yang lebih seksama dan melibatkan jarak kosmologis
yang cukup besar, serta gaya gravitasi yang cukup kuat seperti yang ditimbulkan
oleh matahari, prediksi Einstein itu tampak nyata.
Menurut Einstein alam
kita ini melengkung sedemikian rupa sehingga ia menutup pada dirinya sendiri
dan alam semesta menurut Einstein tidak terbatas, namun besarnya sehingga
bergantung pada besar jari-jarinya. Menurut konsepsinya, sekalipun ada
gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan di alam semesta secara keseluruhan alam
semesta tidak berubah. Dan konsepsi ini hancur ketika Edwin Hubble yang
menggunakan teropong bintang besar menemukan teori ekspansi. Karena memang apa
yang dikemukakan Einstein tidak sesuai dengan Al-Qur'an surat Adz-Zariyaat ayat
47, di penjelasan terhadulu. Dalam ayat itu jelas dinyatakan bahwa Allah meluasa
langit dan Allah membesarkan ruang alam itu, sehingga alam ini tidak statis
seperti yang dikatakan Einstein.
3. Konsep
Alam Semesta
Dalam Al-Qur'an
Konsep-konsep alam
semesta dalam Al-Qur'an sangat banyak dan berfariasi tergantung dari
pengetahuan mufassirnya. Al-Qur'an dengan ayat-ayatnnya diturunkan 15 abad yang
lalu mengandung uraian secara garis besar tentang penciptaan alam semesta,
seperti yang sudah disebutkan di depan semua itu semata-mata sebagai bimbingan
dan petunjuk bagi manusia tentang kekuasaan Allah sesuai dengan ayat 190 surat
Ali Imron yaitu kategori "Ulum Albab".
cÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi para Ulum Albab".
Yang dilanjutkan
dalam ayat 191 surat Ali Imron Berikutnya :
tûïÏ%©!$# tbrãä.õt ©!$# $VJ»uÏ% #Yqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbrã¤6xÿtGtur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $uZ/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ
"Yakni mereka yang mengingat (berzikir kepada) Allah
ketika berdiri, sambil duduk, dan sambil berbaring, serta memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami, tidaklah engkau
menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau. Maka peliharalah kami
dari adzab Neraka".[9]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Teori penciptaan alam semesta diantaranya : Teori Kabut
(Nebula), Teori Bintang Kembar, Teori Pasang Surut atau Tidal, Teori Big Bang,
Teori Ekspansi dan Kontraksi, Teori Planetesimal, Teori Creatio Continua, Teori
G.P.Kuiper.
Alam semesta menurut
perspektif al Qur’an yaitu al Qur’an tidak menjelaskan secara detail bagaimana
terjadinya alam semesta, yang mana membenarkan tentang teori ledakan atau
big bang dan meluas/ berkembangnya alam semesta. Dimana perkembangan alam
semesta yang kira-kira terdiri dari 10.000 milyar bintang yang masing-masing masanya
sekitar masa matahari, sehingga tidak dapat dibanyangkan. Maka penciptaan alam
ini dari ketiadaannya memerlukan yang maha pencipta.
Konsepsi alam semesta
yang meliputi konsepsi alam semesta Newton, konsepsi alam semesta Einstein dan
konsepsi alam semesta dalam alQur’an.
B. SARAN
Kita sebagai umat Islam harus lebih
mengembangkan pengetahuan kita akan alam ciptaan ALLAH yang sangat luas ini. Dan kita harus dapat
pula membaca tanda-tanda kebesarannya melalui ciptaan-Nya. Sehingga kita dapat
benar-benar menjadi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir. 2000. Tafsir
Ibnu Kasir Juz 4 (ali-Imron-an-Nisa’ 23), Terjemahan Bahrun Abu bakar L.C.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Al
Maraghi, Ahmad Musthofa.1986.Terjemah
Tafsir Al Maraghi penerjemah Bahrun Abubakar. Semarang: PT. Karya Toha
Putera.
Ash-Shabuny, Muhammad Ali. 2000. Cahaya al-Qur’an Tafsir
Tematik Surat al-a’raf-surat Yunus, Terjemahan Kathur Suhardi. Jakarta:
Pustaka al-Kautsar.
Departemen
Agama RI. 2010. Al Hidayah Al-Quran
Tafsir Perkata Tajwid Kode Angka. Tangerang: Kalim.
Quthb, Sayyid. 2001. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an; Dilengkapi
Dengan Tarikh Hadits dan Indeks Tematik Jilid 2 Juz 3 dan 4, Terjemahan
Aunur Rafiq Shaleh Thamhid L.C. Jakarta: Robbani Press.
Quthb, Sayyid. 2002. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di Bawah
Naungan al-Qur’an ( Surah al-An’am-Surah al-A’raf 137), .Jakarta: Gema
Insani.
Quthb, Sayyid . 2003. Tafsir
Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan al-Qur’an (Surat Yusuf 102-Surat Thahaa
56), Jilid 7. Jakarta: Gema Insani.
Shihab, M. Quraish. 2002. TafsirAl- Misbah Pesan, Kesan dan
Keserasian al-Qur’an. Jakarta:
Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir
Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an Volume 7 (Surah Ibrahim-Surah
al-Isra’). Jakarta: Lentera Hati.
http://www.mafatihuljinan.org/index.php?option=com_content&view=article&id=106:surat-al-baqarah-2-ayat-2&catid=50:tafsir-al-barru&Itemid=93. Diposting pada Oktober 2009 oleh Komunitas Mafatihul
Jinan.
[6]
Edi Istiyono, Op.cit.








0 comments:
Post a Comment