MAKALAH TAFSIR TARBAWI
ILMU PERSPEKTIF
AL-QUR’AN
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Semester / Unit : III /1
Dosen Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "ILMU PERSPEKTIF AL-QUR’AN" tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan
kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap
gulita ke alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam
pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 17 Desember 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang......................................................................................................... 1
B.
Rumusan
Masalah...................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.
Pengertian Ilmu......................................................................................................... 2
B.
Pengumpulan Seluruh Ayat Yang
Berbicara Tentang Ilmu............................................ 4 Ayat-Ayat Tentang Konsep Ilmu................................................................................ 5
BAB III PENUTUP............................................................................................... 9
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Salah satu ciri yang membedakan
Islam dengan lainnya adalah penekanannya terhadap Ilmu. Al-Qur’an dan Hadist
Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan
kearifan serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang
tinggi. Yang disebutkan dalam surat al-Mujaddalah ayat 11:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 (
#sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4
ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu
dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Pengertian Ilmu
2.
Pengumpulan Seluruh Ayat Yang Berbicara Tentang Ilmu
3.
Kajian Ayat-Ayat Tentang Konsep Ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu
Secara etimologi Ilmu,
berasal dari bahasa arab 'ilm padanannya dalam bahasa inggris science,
dalam bahasa jerman wisenschaft, dan dalam bahasa belanda wetenschap.
Ilmu dalam konteks indonesia berasal dari bahasa Arab dari akar kata 'ilm, kata
jadian dari alima, ya'lamu, ilman, alimun, ma'lumun. Tiga kata terakhir
menjadi kata indonesia ilmu, alim ulama, dan maklum. Maka ilmu secara
bahasa menunjukan kata benda abstrak, berbentuk masdar dari alima, ya'lamu,
ilmun yang berarti pengetahuan. Begitu juga Science berasal dari
akar kata scire yang berarti mengetahui (to know). Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang sebenarnya dalah hasil atau produk dari
suatu kegiatan yang dilakukan secara sesuai dengan prosedur ilmiah.
Berikut ini beberapa
pengertian ilmu secara terminologis:
The Liang Gie: ilmu adalah rangakaian aktivitas
manusia rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan
tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis
mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatana atua keorangan untuk tujuan
menacapai kebenaran, memperoeh pemahaman, memberi penjelasan, ataupun melakukan penerapan. Dari
definisi diatas terlihat bahwa ilmu didefinisikan 1] sebagai proses: aktivitas
penelitia; 2] ilmu sebagai prosedur: metode ilmiah; 3] ilmu sebagai produk:
pengetahuan sistematis.
Pertama, Dalam Al-Quran kata ilmu menurut Dawam Rahardjo disebut sebanyak 105 kali
dan dengan kata jadiannya disebut tak kurang dari 744 kali. Untuk menyebut
secara rinci, kata-kata jadian itu disebutdalam bentuk dan frekuensi sebagai
berikut: 'alima (35), ya'lamu:215), i'lam (31), yu'lamu (1), 'ilm (105),
'alim (35), ma'lum (215), (13), 'alamin (73), 'alam (3), a'lam (49), 'alim atau
'ulama (163), 'allam (4), 'allama (12), yu'allimu (16), 'ulima (3), mu'allam
(1), atau ta'allama (2).
Kata a-l-m diungkapkan
dalam 82 macam bentuk yang dikaitkan dengan berbagai macam kata ganti (damir)
sebagai berikut: a'lam, 'alamat, al-ilm, 'ilmihi.............
·
Kedua, Pengertian tentang ilmu dalam al-Quran tidak
terbatas pada kata-kata yang berasal dari a-l-m, karena kata tahu itu tidak
hanya diwakili oleh kata tersebut. Setidaknya ada beberapa pengertian yang
mengandung kata "tahu", seperti 'arafa, dara, khabara, sya'ara,
ya'isa, ankara, basirah, dan hakim.
Pengertian ilmu
pengetahuan terdapat pula dalam ungkapan hikmah yang telah menjadi kata
indonesia. Biasanya diartikan dengan "pelajaran", ada juga yang
menterjemahkan "kebijaksanaan" atau pengetahuan tertinggi". Kata
hikmah yang berarti pelajaran dapat terlihat pada (QS. Luqman, 31:12). Kata
hikmah yang diartikan kebijaksanaan memerlukan pemikiran yang mendalam serta
berulang-ulang tentang suatu hal yang sehingga seseorang memperoleh pengetahuan
yang tinggi. Kegiatan ini sering disebut filsafat. Filsafat pada umumnya
menggunakan rasio sebagai tolok ukurnya, sehingga hal-hal yang diluar jangkauan
rasio tidak termasuk wilayah filsafat. (ada kesalahan, baca lagi wilayah
filsafat Titus) Ilmu sebagai proses, prosedur, dan produk yang diungkapkan
The Liang Gie dapat terlihat pada al-quran antara lain:
Ilmu sebagai proses
diungkapkan al-quran dalam bentuk kata kerja (fi'il), QS. Al-Alaq, 96:1-5).
Kata Iqra bersal dari akar kata yang berati menghimpun dan kata tersebut
melahirkan aneka ragam makna, seperti menyampaikan,
menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui isi sesuatu dan membaca, baik teks
tertlis maupun teks tidak tertulis. Iqra' dismaping berati menghimpunjuga
memiliki makna bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu,
bacalah tanda-tanda zaman, sejarah diri sendiri, yang tertulis dan tidak
tertulis.
Ilmu sebagai proses
dalam kaitannya dalam bentuk ungkapan dalam al-Quran dapat dipahami anata lain
dari bentuk 'allama yang berarti mengajarkan. Kata 'allama dkaitkan dengan kata
ganti lain disebut sebanyak empat kali. Keempat ungkapan tersebut dapat dilihat
pada al-Baqarah, 2:31. kata 'allama juga terdapat pada QS Ar-Rahman, 55:2;
Al-Alaq, 92:4. dari kata 'allama yang tersebut diatas maka dapat disimpulkan
bahwa 1] bentuk 'allama hanya Allah yang dimaksud sebagai subjek sekaligus
sebagai sumber ilmu pertama; 2] yang diajar selalu manusia sebagai objek dari
yang pertama dan juga dapat berarti bahwa proses kejadian manusia merupakan
objek ilmu yang harus dipelajari oleh manusia itu sendiri; 3] obejk ilmu
pengetahuan adalah seluruh alam semesta; 4] manusia dismaping sebagai
"subjek" pencari ilmu juga sebagai objek ilmu seperti biologi,
psikologi, sosiologi.
Ketiga, Ada juga bentuk lain yang mengandung proses pencarian ilmu, antara lain:
iqra', nazar, al-ra'yu, al-basar, as-sam'u, al-fikr, al-aql, al-tadabbur,
al-fiqh, al-fahm, al-ma'rifat, al-zikr, al-ubart, al-yagn, al-zan, al-husban,
dan al-hisban, asy syah, al-kaib.
Term-term yang secara tidak langsung merujuk kata
ilmu: 1] 'alamin berarti alam semesta; 2] As-samawat wa al-Ardi berarti langit
dan bumi; 3] kulla syaiin berarti segala sesuatu; 4] makhluk. Inilah yang nantinya menjadi basis ontologi
ilmu pengetahuan sebenarnya.
B.
Pengumpulan Seluruh Ayat Yang Berbicara Tentang Ilmu
Dari
wahyu tersebut tersirat bahwa mukjizat Islam yang paling utama adalah Ilmu.[1]
Kata “ilmu” dengan berbagai bentuknya, dalam Al-Qur’an terulang 854 kali yang
digunakan dalam arti proses pencapaian ilmu pengetahuan dan obyek pengetahuan.
Dari segi bahasa ilmu berarti “kejelasan”, karena itu kalimat yang terbentik
dari akar kata علم"”- “يعلم” mempunyai arti “kejelasan”. Berbeda dengan kata “عرف”-“يعرف”
yang artinya mengetahui, arif (mengetahui) dan ma’rifah (pengetahuan). Allah
swt tidak dinamakan Arif tetapi Alim.علم"”-
“يعلم” digunakan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an
untuk hal-hal yang diketahui-Nya, walaupun ghoib, tersembunyi atau
dirahasiakan. Hal yang bisa diperhatikan pda beberapa ayat Al-Qur’an sebagai
berikut :
Surat Al-Baqarah ayat 77:
wurr& tbqßJn=ôèt ¨br& ©!$# ãNn=÷èt $tB crÅ¡ç $tBur tbqãYÎ=÷èã ÇÐÐÈ
77. tidakkah
mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan
segala yang mereka nyatakan?
Surat Ali Imron ayat 29:
ö@è% bÎ) (#qàÿ÷è? $tB Îû öNà2Írßß¹ ÷rr& çnrßö6è? çmôJn=÷èt ª!$# 3
ãNn=÷ètur $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# 3
ª!$#ur 4n?tã Èe@à2 &äó_x« ÖÏs% ÇËÒÈ
29.
Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu
melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada
di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.
Surat Al-Maidah ayat 99 :
$¨B n?tã ÉAqß§9$# wÎ) à÷»n=t6ø9$# 3
ª!$#ur ãNn=÷èt $tB tbrßö7è? $tBur tbqßJçFõ3s? ÇÒÒÈ
99. kewajiban Rasul tidak lain hanyalah
menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan.
C.
Kajian Ayat-Ayat Tentang Konsep Ilmu
Perspektif islam tentang ilmu, dapat diketahui dari wahyu pertama yang
diturunkan.
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam[2],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
Dalam
perspektif islam, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dari
makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan seperti yang
dijelaskan dalan Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 31-32. Yang menceritakan
tentang kisah penciptaan dan kejadian manusia pertama di dunia.
Manusia
menurut Al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya,
sehingga banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang memrintahkan
manusia untuk mencari ilmu. dan berkali-kali pula menunjukan betapa tinggi
kedudukanorang mukmin yagn berilmu pengetahuan seperti yang telah dijelaskan di
surat Al-Mujaddalah ayat 11, yang mana Allah swt meningikan derajat
orang-orang yang beriman dan yang berilmu beberapa derajat, sehingga Allah swt
menjadikanya sebagai tugas yang di emban oleh rasulullah saw yang termaktub
dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 164.
Secara
singkat dapat dikatakan bahwa islam melalui pesan yang tersirat dalam al-qur’an
dan hadist secara doktrinal sangat mendukung pengembangan ilmu. Al-Qur’an dan
Al-Hadist merupakan sumber bagi ilmu dalam arti seluas-luasnya. Kedua sumber
pokok islam ini memainkan peranan ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu.
Pertama, prinsip-prinsip seluruh ilmu dipandang kaum muslim terdapat dalam
Al-Qur’an. Kedua, Al-Qur’an dan Al-Hadist menciptakan iklim yang kondusif bagi
pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan. Karenanya, seluruh
metafisika dan kosmologi yang terbit dari kandungan Al-Qur’an dan Hadist
merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu islam.[3]
Dengan demikian kedua sumber pokok ini menciptakan atmosfer khas yang mendorong
aktivitas intelektual muslim.
Wahyu pertama merupakan modal utama
untuk mengemban tugas kekhalifahan. Dalam wahyu tersebut tidak dijelaskan “apa
yang harus dibaca”, karena Al-Quran menghendaki umatnya “membaca apa saja
selama bacaan tersebut bismirabbik (dengan menyebut nama Allah). Kata
Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuailah cirri-ciri sesuatu.
Dengan demikian, obyek pertama iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat
dijangkaunya.[4]
Menurut pandangan Al-Quran dimana
diisyaratkan oleh wahyu pertama, bahwa ilmu terdiri dari 2 macam, yaitu ilmu
yanga diperoleh karena usah manusia “ilm kasby” dan ilmu yang diperoleh tanpa
upaya manusia “ ilm Laduni. Ayat tentang ilmu kasby lebih banyak dari
pada ilmu laduni. Pembagian in dikerenakan dalam pandangan al-quran terdapat hal-hal
yang “ada” tapi tidak diketahui melaui manusia itu sendiri. Ada wujud yang
tidak tampak:
Ixsù ãNÅ¡ø%é& $yJÎ/ tbrçÅÇö6è? ÇÌÑÈ $tBur w tbrçÅÇö6è? ÇÌÒÈ
38. Maka aku bersumpah dengan apa yang kamu
lihat.
39. dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
Dengan demikian objek ilmu meliputi
materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangan
kan dilihat, diketahui oleh manusia saja tidak seperti yang ditegaskan dalam
surat An-Nahl ayat 8.
“Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”(QS
An-Nahl : 8)
Dari sini jelas bahwasannya
pengetahuan manusia amat terbatas dan wajar Allah mengaskan bahwa manusia
hanya diberi sedikit pengetahuan:
tRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# (
È@è% ßyr9$# ô`ÏB ÌøBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# wÎ) WxÎ=s% ÇÑÎÈ
85. dan mereka bertanya kepadamu tentang
roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu
diberi pengetahuan melainkan sedikit"
Apabila diperhatikan dari wahyu
pertama, akan diperoleh isyarat bahwa ada 2 cara perolehan dan pengembangan
ilmu. Pertama, mengejarkannya dengan pena dengan apa yang diketahui manusia
sebelumnya . Kedua, Allah mengajar manusia (tanpa pena) apa yang belum
diketahuinya
Cara pertama adalah mengajar dengan
alat atau atas dasar usaha manusia sedangkan cara kedua adalah mengajar tanpa
alat atau tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda keduanya berasal dari satu
sumber yaitu Allah swt.[5]
Menurut ilmuwan obyek ilmu mencakup alam materi dan non materi maka utuk meraih
imlu menggunakan tatacara dan sarana tertentu. Al-Quran telah mengisyaratkan
ada 4 sarana untuk meraih ilmu, yaitu pendengaran, penglihatan dakal dan hati.
Sepeti yan tertulis dalam al-Quran surat An-Nahl ayat 78 yang temaktub diatas.
Dalam
pendidikan islam dapat dibuktikan bahwa perintah Al-Quran tentang menuntut ilmu
tidaklah terbatas pada ajaran-ajaran syariah tertentu akan tetapi juga mencakup
setiap ilmu yang berguna bagi manusia. Untuk melakukan hal itu harus ditunjukan
dan didefinisikan kewajiban dan tujuan seorang muslim dalam kehidupan di dunia.
Allah melalui kitabnya Al-Quran telah mengaskan bahwa semuanya akan kembali
pada penciptanya.
" (yaitu) jalan Allah yang
Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah,
bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan." (QS
As-Syura ; 53)
Tujuan penciptaan semua makhluknya
termasuk jin dan manusia adalah agar mereka menyembah dan mendekatkan diri
kepada yang maha kuasa.(surat Adzariyat ayat 56)
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
(QS Ad-Dzariyat : 56)
Dengan demikian tujuan utama manusia
adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridhonya. Segala sesuatu
yang mendekatkan diri kepada tuhannya dan petunjuk-petunjuknya pada arah tersebut
adalah terpuji. Ilmu hanya berguna jika dijadikan alat untuk medekatkan diri
kepada Allah, jika tidak maka ilmu akan mejadi penghalang besar.
Ibadah
kepada Allah tidak hanya melalui shalat, puasa dan sebagainya. Akan tetapi
setiap gerakan (aktifitas) menuju Taqaa\rrub (mendekatkan) diri kepada Allah
merupakan ibadah. Salah satu saran untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah
dengan menggunakan ilmu. Cara dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah
diantaranya adalah meningkatkan pengetahuan tentang kebesaran Allah, membantu
mengembangkan masyarakat muslim dan merealisasikan tujuan-tujuannya. Membimbing
orang lain membantu memecahkan berbagai problem masyarakat. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa setiap ilmu yang tidak menolong manusia dijalan menuju
Allah diumpamakan keledai yang membawa mautan buku diatas yang tebal. “Perumpamaan
orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah
seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya
perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi
petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS
Al-Jum’ah : 5)
Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi
Dzilalil Quran mengatakan bahwa dalam wahyu pertama bentuk atau pokok
masalah ilmu tidak disebutkan sebab ia melihat ilmu secara umum. Lebih dari itu
ayat ini mengisyaratkan seluruh ilmu adalah pemberian Allah. Menuasia terdidik
harus menyadari hal itu dan menghadapkan wajahnya untuk meraih ridha Allah swt.
Karena itu ilmu tidak boleh menghalangi hubungan antara manusia dan tuhannya.
Ilmu yang memisahkan hati menusia dan [enciptanya tidak berarti kecuali
penyimpangan dan penyelewengan dari asalnya dan melupakan tujuannya. Ilmu tidak
memberikan kebahagiaan kepada pemiliknya meupun kepada orang lain dan menjadi
sebab terjadinya kekejaman, ketakutan, kecemasan dan kehancuran. Hal ini
dikarenakan telah sesat arah, terasing dan kehilangan jalan menuju Allah.[6]
BAB III
PENUTUP
1.
Hakikat ilmu pengetahuan dalam al-Quran adalah
rangkaian aktivitas manusia dengan prosedur ilmiah baik melalui pengamatan,
penalaran maupun intuisi serta mengandung nilai-nilai logika, estetika, hikmah,
rahmah dan petunjuk bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di kemudian
hari. Al-quran banyak mengandung nilai-nilai empirik serta isyarat yang
diberikan pengetahuan baik melalui ayat-ayat tertulis yaitu al-Quran maupun
ayat-ayat yang terbentang luas dialam semesta beserta isinya.
2. Dugaan bahwa
al-quran merupakan penghambat perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan adalah
tidak benar; dari hasil temuan di berbagai ayat, tidak satupun yang melarang
pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan sebaliknya, al-quran selalu mendorong
sampai-sampai "menentang" kepada manusia untuk mempelajari seluruh
alam semesta termasuk rahasia dibalik alam fisik. Dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, al-quran sangat menekankan peranan pengamatan dan
penalaran, demikian juga wahyu dan ilham mempunyai peranan yang sangat besar
terutama dalam mengungkap, memahami dan mengembangkan rahasia-rahasia dibalik
alam fisik.
3.
Pengetahuan yang semula untuk kesejahteraan,
ketenangan dan ketentraman, telah berubah dan cenderung pada perusakan alam
bahkan pada pemusnahan manusia, hal ini karena tidak dilandasi oleh nilai-nilai
etik moral dan agama sebagai landasan ilmuwan. Ini semua sangat bertentangan
dengan anjuran bahkan perintah Allah swt., melalui al-quran untuk memakmurkan
alam dan semua isinya. Dengan kata lain penggunaan ilmu pengetahuan dan
teknologi bagaimanapun tidak dapat bebas dari nilai.
DAFTAR
PUSTAKA
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam:
Tradisi Dan Modernisasi Menuju Millenium Baru (Jakarta: penerbit Kalimah,
2001)
M. Quraisy Shihab, Wawasan
Al-Qur’an: Tafsir Maudlu’I Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan,
1999, cet IX)
Sayyid
Qutb, Fi Zilalil Quran, Jilid VI, hal 262-263.
Sulaiman
Noordin, Sains Menurut Pespektif Islam (Kualalumpur, Malaysia:PT Dwi
Rama, 2000)
[1]
Sulaiman
Noordin, Sains Menurut Pespektif Islam (Kualalumpur, Malaysia:PT Dwi
Rama, 2000) hal 1.
[2] Maksudnya:
Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[3]
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju
Millenium Baru (Jakarta: penerbit Kalimah, 2001),13.
[4]
M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudlu’I Atas Pelbagai
Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1999, cet IX), 435-436.








sangat bermanfaat, Izin copas
ReplyDeleteMOHON BANTUANNYA UNTUK MAKALAH TENTANG PENGOLOLAAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
ReplyDeletePERSPEKTIF BISMIRABBIK