MAKALAH TAFSIR TARBAWI
PENDIDIKAN AKAL PERSPEKTIF ISLAM
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Dosen Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENDIDIKAN AKAL
PERSPEKTIF ISLAM”
Semoga makalah ini dapat
memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk
hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami
harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih
kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang
tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.
Langsa, 7 Desember 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 2
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 3
A. Pengertian Akal............................................................................................ 3
B. Pendidikan Akal ......................................................................................... 5
C. Pendidikan Akal Perspektif Islam............................................................... 7
BAB III PENUTUP............................................................................................... 15
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Akal adl ni’mat besar yg Allah titipkan dalam jasmani manusia.
Nikmat yg bisa disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yg sangat
menakjubkan. {Al-’Aql wa Manzilatuhu fil Islam hal. 5}Oleh karenanya dalam
banyak ayat Allah memberi semangat utk berakal {yakni menggunakan akalnya} di
antaranya:وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ
لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ“Dan Dia menundukkan malam dan siang
matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dgn
perintah-Nya. Sesungguhnya pada yg demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
bagi kaum yg memahami.” وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ
مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ
صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي
اْلأُكُلِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ“Dan di bumi ini
terdapat bagian-bagian yg berdampingan dan kebun-kebun anggur tanaman- tanaman
dan pohon korma yg bercabang dan yg tidak bercabang disirami dgn air yg sama.
Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yg lain tentang
rasanya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Pengertian Akal
2.
Pendidikan Akal
3.
Pendidikan Akal
Perspektif Islam
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Akal
Kata
akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata benda. Al-Qur’an
hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh (عـقـلوه)
dalam 1 ayat, ta’qiluun (تعـقـلون) 24 ayat, na’qil (نعـقـل) 1 ayat, ya’qiluha (يعـقـلها) 1 ayat dan ya’qiluun (يعـقـلون)
22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil
arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan
yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat
luas.
Dalam
pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti
kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern
disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal,
menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan
masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan
berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu daya
yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan
manusia dari mahluk lain. Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara
lain:
1.
Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan
kebatilan.
2.
Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika
permasalahan datang.
3.
Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan
cara tingkah laku yang benar.
Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena
hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur
dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik,
buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan Akal
adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak
didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan
akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.
Tak seperti
wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
1.
Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.
2.
Mengetahui adanya hidup akhirat.
3.
Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat
bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesngsaran tergantung
pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.
4.
Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan.
5.
Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan
wajibnya ia mnjauhi perbuatan jahat
6.
Membuat hukum-hukum mengnai kwajiban-kwajiban
itu.
B.
Pendidikan Akal
Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan
secara teratur untuk berfikir benar, sehingga dia mampu memperbaiki pemikiran
tentang pengaruh yang bermacam-macam dan realita yang banyak yang meliputinya
dengan pemikiran yang tepat dan benar, dan sehingga putusannya benar dan tepat
atasnya.
Dan metode yang digunakan diantaranya:
a.
Latihan
perasaan, agar cermat dan benar dalam memilih sesuatu
b.
Pengaturan
pikiran dan membekalinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang berguna bagi
kehidupan dunia dan akhirat
c.
Menguatkan daya
intuisi dan melatihnya, karena intuisi itu alat yang paling besar bagi daya
cipta
d.
Melatih
memperhatikan sesuatu yang dapat diraba/diamati dan memikirkannya menurut
hakikatnya
e.
Membiasakan
anak berpikir teratur (sistematis) dan menanamkan kecintaan berpikir sistematis
itu dengan melatihnya sesuai dengan dalil (axioma) dan hukum.
Untuk itu, perlu ada dua cara/alat, yaitu:
a.
Melatih
perasaan anak
b.
Penyampaian ilmu
pengetahuan dan ajaran yang bermanfaat yang sesuai dengan umur anak, dengan
cara merangsang untuk memikirkannya
C.
Pendidikan Akal Perspektif Islam
Dalam Islam,
akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berartiakal diberi
kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya.
Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalucocok dengan syariat islam
dalam permasalahan apapun. Dan Wahyu baik
berupa Al-qur’an dan Hadits bersumber dari Allah SWT, pribadi NabiMuhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini,
memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas
seluruh umat manusia, tanpamengenal ruang dan waktu, baik perintah itu
disampaikan dalam bentuk umum ataukhusus.Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal,
bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan
manusia. baik perintah maupun larangan.
Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara berangsur-angsur
dalam rentang waktu yang cukup panjang.[1]
Namun tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring
perkembangan zaman akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah
dari Allah terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian
wahyu tersebut. Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran
seseorang yang beranggapan smua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar
bahwa akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih
besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian
pula akal tak mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar
dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat
diketahui dengan perantaraan wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan
perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat.
Karena Masalah
akal dan wahyu dalam pemikiran kalam sering dibicarakan dalam konteks, yang
manakah diantara kedua akal dan wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan
manusia tentang tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan,
tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang
baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran islam memiliki pendapat
sendiri-sendiri antra lain:[2]
1.
Aliran Mu’tazilah sebagai penganut pemikiran
kalam tradisional, berpendapat bahwa akal mmpunyai kemampuan mengetahui empat
konsep tersebut.
2.
Sementara itu aliran Maturidiyah Samarkand yang
juga termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban
menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga
hal tersebut.
3.
Sebaliknya aliran Asy’ariyah, sebagai penganut
pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui
tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih kepada tuhan,
baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang
jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.
4.
Sementara itu aliran maturidiah Bukhara yang
juga digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari
keempat hal tersebut yakni mengetahui tuhan dan mengetahui yang baik dan buruk
dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni kewajiaban
berterima kasih kepada tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta
meninggalkan yang buruk
5.
Adapun ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh
paham Maturidiyah Samarkand dan mu’tazilah, dan terlebih lagi untuk menguatkan
pendapat mereka adalah surat as-sajdah, surat al-ghosiyah ayat 17 dan surat
al-a’rof ayat 185. Di samping itu, buku ushul fiqih berbicara tentang siapa
yang menjadi hakim atau pembuat hukum sebelum bi’sah atau nabi diutus,
menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat pembuat hukum adalah akal manusia
sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka dipergunakan dalil al-Qur’an
surat Hud ayat 24.Sementara itu aliran kalam tradisional mngambil beberapa ayat
Al-qur’an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat yang mereka bawa .
ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat al-isro, ayat 134 surat Taha, ayat 164
surat An-Nisa dan ayat 18 surat Al-Mulk.
Dalam menangani hal tersebut banyak beberapa
tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang berhubungan antara wahyu dan
akal. Seperti Harun Nasution menggugat masalah dalam berfikir yang
dinilainya sebagai kemunduran umat islam dalam sejarah. Menurut beliau yang
diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi pemahaman umat islam yang
dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat islam karena kurang
mengoptimalkan potensi akal yang dimiliki. bagi Harun Nasution agama dan
wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja dan tugas akal yang akan menjelaskan dan
memahami agama tersebut.
Pendidikan Akal Al-Qur'an
merupakan firman Allah yang diturunkan sebagai hudâ(n) (petunjuk) bagi
manusia agar manusia mampu hidup sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.
Agar manusia mampu memahami dan mengaplikasikan petunjuk dari al-Qur'an
tersebut, maka manusia (baik individu atau kolektif) harus mengkaji, memahami,
menghayati, dan menginternalisasikan ajaran-ajaran al-Qur'an tersebut dalam
hati, pikiran, jiwa, dan perilakunya pada seluruh dimensi kehidupannya.
Semua isi
al-Qur'an merupakan petunjuk, karena setiap huruf, kata, ayat, dan surat
mempunyai makna, baik makna leksikal (etimologis), makna grammatikal
(terminologis), maupun makna kontekstual. Oleh karena itu, memahami al-Qur'an
secara komprehensif dan universal harus dilakukan dengan mengkaji keseluruhan
al-Qur'an, dan tidak dapat dilakukan secara parsial atau hanya menitiktekankan
pada pemahaman ayat tertentu. Dalam kaitan dengan hal ini, analisis munâsabah
(relasi antar berbagai struktur al-Qur'an), asbâb al-nuzûl, dan tafsir
maudhû'i memegang peranan penting.
Salah satu tema
pokok dalam al-Qur'an adalah menyangkut hakikat manusia. Pembahasan al-Qur'an
ini menjadi penting, karena salah satu misi al-Qur'an adalah menyadarkan
mengenai posisi, tugas, dan fungsi manusia dalam hubungannya dengan Allah,
alam, dan sesama manusia. Selebihnya, al-Qur'an juga memberikan petunjuk dan
bimbingannya agar mampu menjalani kewajiban dan haknya sesuai dengan tata
aturan dan tujuan dari penciptaan manusia oleh Allah swt.
Manusia,
menurut al-Qur'an, merupakan ciptaan Allah, yang terdiri dari unsur jasmani,
akal, dan ruhani.[3]
Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sekalipun secara
substansial dapat dibedakan. Dalam proses kehidupan, manusia tidak dapat
menanggalkan salah satu dari ketiganya, atau pun hanya memprioritaskan salah
satu dari ketiganya. Dengan demikian, ketiga unsur pembentuk manusia tersebut
memiliki posisi sama pentingnya, Oleh karenanya ketiganya harus dikembangkan
secara seimbang, terintegrasi, dan proporsional[4], agar
manusia mampu menjalani kehidupan sebagai khalifah dan 'abd Allah
secara seimbang dan proporsional.[5]
Salah
satu, unsur dari hakikat manusia adalah akal. Dalam bahasa Indonesia akal
berarti daya pikir, pikiran dan ingatan, sedangkan dalam bahasa Arab akal ('aql)
berarti akal pikiran, hati, ingatan, daya pikir, faham, diyat, benteng atau
tempat berlindung.[6]
Dalam bahasa inggris akal barangkali tepat jika diterjemahkan sebagai
kata intellect[7],
intelegensia atau cognition (knowing; awareness; including sensation
but exluding emotion).[8]
Secara fisik, dalam
bahasa Indonesia, akal sering diidentikkan dengan "otak" atau mind,[9] yang
diasumsikan tempatnya di kepala. Namun, menurut Harun Nasution, akal tidak
persis sama dengan pengertian "otak", karena kalau otak, dalam artian
fisik, maka hewan-hewan pun mempunyai otak. Akal merujuk pada daya nalar, daya
pikir, dan daya kritis yang terdapat dalam jiwa manusia. Raghib al-Asfahani
member pengertian akal sebagai energi potensial yang difungsikan manusia untuk
menerima pengetahuan dan ilmu.[10] Dengan
demikian, ia merujuk pada fungsi dan kerja dari "otak-fisik" dan
jiwa. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh al-Ghazali dan Syed Naguib
al-Attas.[11]
Dalam Islam,
akal mendapat posisi yang signifikan, baik dalam pengembagan individu,
masyarakat, maupun pengetahuan, terutama sains. Ia diposisikan sebagai hidayat
al-'aqliyyah, yakni hidayah Allah yang hanya diberikan kepada manusia.
Dengan akal, manusia mampu memahami symbol-simbol, hal-hal yang abstrak,
menganalisis, membandingkan, maupun membuat kesimpulan dan akhirnya mampu
membedakan antara yang benar (haq) dan salah (bathil).[12]
Dalam sebuah hadits
disebutkan bahwa "al-Islam huwa al-'aqlu, la dina liman la 'aqla lahu"
(Islam adalah merupakan agama Ilmu dan agama akal (rasional); tidak ada
kewajiban beragama (Islam) bagi mereka yang tidak mempunyai akal). Karena
penghargaan akan eksistensi akal, Islam selalu mendorong umatnya untuk
mempergunakan akal dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam upaya
mencari ilmu. Karena akal pula lah, manusia disebut sebagai makhluk homo
sapiens, yaitu makhluk yang mempunyai fitrah dan kemampuan untuk
berilmu-pengetahuan.[13] Dengan
akal itulah, manusia selalu ingin mengetahui apa yang ada di sekitarnya, lalu
ia berfikir, memahami, dan menjadikannya sebagai pengetahua, baik bersifat
teoritis maupun praktis.
Dalam al-Qur'an,
akal merupakan salah satu aspek penting dari esensi (hakikat) manusia,
sebagaimana dijelaskan dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an. Sedangkan, Sa'id
Ismail 'Aly[14]
dan Harun Nasution[15] menjelaskan
bahwa terdapat tujuh kata yang digunakan al-Qur’an untuk mewakili konsep akal,
yakni nazara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima, dan ‘aqala.
Dari ketujuh term di atas, penggunaan term yang mendekati kata akal, dalam
bentuk kata benda dalam Bahasa Indonesia, adalah term yang ke-7. Abdul Fattah
Jalal menyebutkan bahwa kata akal tidaklah pernah muncul dalam bentuk kata
benda (ism) melainkan dalam bentuk kata kerja (fi’il). Kata kerja ‘aqala
menghasilkan derivasinya yakni ‘aqaluhu, ta’qiluna, na’qilu, ya’qiluna, dan
ya’qiluha.[16] Selain
ketujuh term di atas, terdapat beberapa term lain yang diasumsikan juga terkait
dengan kerja dan fungsi akal, yakni yarauna, yabhatsun, yazkurun,
yata'ammalun, ya’lamuna, yudrikuna, ya’rifuna, dan yaqrauna.
Abdullah
Fattah Jalal menyebutkan bahwa selain term akal ditunjukkan oleh al-Qur'an
dengan penunjukan yang cukup banyak pada proses, al-Qur'an pun,
menggunakan kata albâb (jamak dari al-lub) yang juga
bermakna akal.[17]
Kata ini muncul dalam al-Qur'an dalam 16 tempat. Misalnya dalam QS. Ali Imran
[3]:190. Ketika manusia dilahirkan ke dunia ini, akal, termasuk juga jasmani
dan ruhani, masih bersifat potensi (fitrah). Ia merupakan potensi nalar, daya
fikir, atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan,
daya akal budi, kecerdasan berfikir, atau boleh juga berarti terpelajar.
Sebagai potensi, ia harus ditumbuh-kembangkan, dilatih, dan dibiasakan agar
mampu bekerja atau berfungsi secara maksimal dan optimal. Di sinilah pendidikan
pengembangan akal mempunyai peran signifikan sebagai fannu tasykil wa
shina'at uqul al-insan (seni pembentukan atau rekayasa akal
manusia). 'Ali Muhammad Madkur menyebutnya sebagai tarbiyyat al-thâqât al-'aqliyyah.[18]
Pendidikan ini dimaksudkan untuk membentuk, membimbing, dan melatih kerja dan
fungsi akal agar berfungsi secara maksimal dan optimal, serta sesuai dengan
fitrah, maksud, dan tujuan penciptaannya. Pada sisi lain, akal pun harus diatur,
dikendalikan, dan dievaluasi agar fungsi dan kerjanya tidak menyalahi
tata aturan yang ditetapkan oleh Allah swt, sebagai Pencipta-nya. Misalnya,
al-Qur'an dalam QS al-An'am 116, menyebutkan salah satu kelemahan akal, yakni
mengikuti prasangka (dzan).
Dengan demikian, pendidikan pengembangan akal menjadi salah satu tujuan antara
pendidikan, yakni ahdâf al-aqliyyah.[19]
Pendidikan pengembangan akal pada akhirnya akan berakumulasi dengan pendidikan
pengembangan jasmani dan ruhani untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam,
yakni insân kâmil (manusia seutuhnya) yang mempunyai kesadaran,
pemahaman, dan pengamalan akan posisi dirinya di antara Allah, alam, dan sesama
manusia, serta mampu menjadi khalifah dan 'abd Allah.
Sebagai sumber
ilmu, apabila diteliti lagi dari uraian intelek di atas, maka akan didapati
banyak tingkatan dalam pendapatan ilmu. Sebab, pada akal ada sisi-sisi yang
terluar dan terdalam. Yang terdalam dari akal erat hubungannya dengan intuisi
dan wahyu, dan ilmu yang dihasilkan juga berkaitan dengan hal tersebut.
Sedangkan bagian terluar erat hubungannya dengan aspek panca indera manusia
yang juga menghasilkan ilmu yang empirik-rasional.
Dilihat dari
istilahnya, yakni sebagai kekuatan manusia untuk bernalar, maka akal dalam
klasifikasi ilmu yang dikonseptualisasikan al-Attas menghasilkan ilmu-ilmu 'aqli.
Menurutnya, ilmu yang berdasarkan akal adalah sains filosofis, rasional dan
intelektual, yang meliputi sains kemanusiaan (human sciences), sains
tabii (natural sciences), sains terapan (applied sciences) dan
teknologi.[20]
Dalam konsep
pendidikannya, ilmu-ilmu dalam klasifikasi ini termasuk ilmu yang fardhu kifayah.
Artinya, ilmu ini tidak harus masing-masing orang menguasainya. Fardhu
kifayah adalah amalan yang wajib dikerjakan namun kewajiban itu akan gugur
apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian. Ini bisa diartikan bahwa untuk
ilmu-ilmu di bawah akal ini hendaknya manusia berbagi tugas, tidak semestinya
seragam. Semakin beragama bidang yang dikuasai masyarakat, maka semakin tinggi
kualitas masyarakat itu. Berbeda dengan fardhu kifayah yang cukup
diemban oleh sebagian orang saja, ilmu fardhu 'ain harus diemban oleh
setiap individu. Ini dalam falsafah pendidikan al-Attas adalah ilmu-ilmu yang
dibawah wahyu, yaitu ilmu-ilmu seperti al-Quran, Sunnah, Shariah, Tauhid,
Tasawwuf, dan bahasa Arab. Menurutnya, semua orang Islam harus mengerti ini dan
hukumnya wajib bagi tiap individu.[21]
Klasifikasi
ilmu al-Attas kepada fardhu ain dan fardhu kifayah diambilkan
dari skemanya tentang konsep manusia, ilmu dan universitas, sebagaimana
berikut: pertama, manusia yang meliputi jiwa dan entitas dalaman (ruh, nafs,
qalb, 'aql) dan badan dan fakultas-fakultas fisiknya; kedua, ilmu
yang terdiri dari ilmu pemberian Tuhan dan ilmu yang didapatkan oleh manusia;
ketiga, universitas yang meliputi ilmu-ilmu fardu ain dan kifayah. Dalam skema
itu, posisi The God-given Knowledge berada di atas dan the acquired
knowledge berada di bawah. Sepertinya posisi ini penting dalam pandangan
al-Attas. Sebab, posisi di atas menunjukkan itu adalah tinggi dan terhormat.
Dan menurutnya, posisi yang di atas ini merujuk kepada fakultas dan sensasi
spiritual manusia. Sedangkan posisi di bawahnya menunjukkan kepada fakultas dan
sensasi fisikal manusia. Menariknya, al-Attas memposisikan intelek ('aql)
sebagai penghubung antara bagian fisikal dan spiritual itu. Dengan alasan bahwa
'aql pada kenyataannya merupakan substansi spiritual, seperti yang
dijabarkan sebelumnya, yang memungkinkan manusia untuk mengerti realitas dan
kebenaran spiritual.[22]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari paparan di
atas, kini jelas bahwa akal dalam diskursus Islam, dalam hal ini menurut uraian
al-Attas, merupakan dimensi dalaman (inner dimension) manusia. Tanpa
akal manusia tak ubahnya seperti hewan yang hanya tahu makan, minum, tidur dan
lain-lain. Ilmu yang didapat oleh manusia karena ada akal. Tanpa ada media
akal, betapa pun sehatnya panca inderanya, manusia tidak bisa mendapatkan ilmu.
Begitu juga, walaupun ada wahyu, kalau akal tidak sehat, maka akan sia-sia
belakan. Maka bersukurlah mempunyai akal. Namun akal tidak segala-galanya. Ada
banyak hal yang tidak terjangkau oleh akal. Maka akal perlu takluk kepada yang
lebih tinggi lagi, yakni yang sifatnya spiritual. Di sinilah pentingnya intuisi
dan wahyu dalam pemikiran al-Attas.
DAFTAR PUSTAKA
Omar
Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan
Bintang, t.th), hlm 32. Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar manusia
tersebut berupa jasmani dan rohani; Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa (Jakarta:
Bulan Bintang, 1989)
A. Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islami (Bandung: Rosda Karya, 2008)
Isma'il
Raji al-Faruqi, Tauhid, Bandung: Pustaka, 1984.
Ahmad
Warson Munawwir, Al-Munawwir: Qamus 'Araby-Indonesia (Yogyakarta:
Krapyak),
Muhammad 'Ali al-Khuli, Qamus al-Tarbiyyah: English-'Araby (Beirut:
Dar 'al-'Ilm li al-Malayin, 1981),
Rohi
Baalbaki dalam Al-Mawrid: Qamus 'Araby-English (Beirut: Dar
al-'ilm li al-Malayin, 2001), hlm.771 menerjemahkan kata 'aqala ke dalam
banyak makna, yakni to realize, understand, comprehend, graps, apprehend,
conceive, dan perceive.
Al-'Allamah
Raghib al-Asfahani, Mu'jam Mufradat Alfadz al-Qur'an (Beirut: Dar
al-Fikr, t.th)
Syed Naguib
al-Attas, Konsep Pendidikan Islam (Bandung: Mizan, 1986),
Jalaluddin, Teologi
Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2003).
'Ali
Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami (Kairo: Dar
al-Fikr a'-'Araby, 2002),
Sa'id Isma'il
'Aly, Ushul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Kairo: Dar al-Salam, 2007),
Harun
Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1982)
Abdullah
Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV Diponegoro
Abdullah
Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV Diponegoro),
'Ali Ahmad
Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islâmi (Kairo: Dar al-Fikr
al-'Arabi, 2002
Abdurrahman
Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur'an (Jakarta:
Rineka Cipta, 2007.
Al-Attas
(1986), A Commentary on The Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri,
Kuala Lumpur: Ministry of Culture of Malaysia,
[3]Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, t.th), hlm 32. Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar
manusia tersebut berupa jasmani dan rohani; Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa (Jakarta:
Bulan Bintang, 1989), cet. Ke-4, hlm.86.
[4]A. Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung: Rosda Karya,
2008), hlm. 26.
[5]
Ismail Raji al-Faruqi menyebutkan bahwa manusia merupakan makhluk
kosmik tertingi, karena berbagai potensi yang dimilikinya mampu mengantarkannya
untuk mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan (Isma'il Raji al-Faruqi, Tauhid,
Bandung: Pustaka, 1984, hlm. 37)
[6]
Ahmad
Warson Munawwir, Al-Munawwir: Qamus 'Araby-Indonesia (Yogyakarta:
Krapyak), hlm. 1027.
[7] Muhammad 'Ali
al-Khuli, Qamus al-Tarbiyyah: English-'Araby (Beirut: Dar 'al-'Ilm li
al-Malayin, 1981), hlm. 239.
[8]
Rohi Baalbaki dalam Al-Mawrid: Qamus 'Araby-English (Beirut: Dar
al-'ilm li al-Malayin, 2001), hlm.771 menerjemahkan kata 'aqala ke dalam
banyak makna, yakni to realize, understand, comprehend, graps, apprehend,
conceive, dan perceive.
[9]
Kata lain yang bersinonim dengan mind adalah intellect, brain, head,
reason, intelligence, sense, understanding, dan mentality .
[10]
Al-'Allamah Raghib al-Asfahani, Mu'jam Mufradat Alfadz al-Qur'an (Beirut:
Dar al-Fikr, t.th), hlm. 354.
[11]
Syed Naguib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam (Bandung:
Mizan, 1986), hlm. 33.
[12]
Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2003). hlm. 35
[13]
'Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami (Kairo:
Dar al-Fikr a'-'Araby, 2002), hlm. 45-46
[14]
Sa'id Isma'il 'Aly, Ushul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Kairo: Dar
al-Salam, 2007), hlm. 124
[15]Harun
Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1982) hlm.
39-48
[16]
Abdullah Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV
Diponegoro), hlm. 57-58
[17] Abdullah Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung:
CV Diponegoro), hlm. 57-58
[18] 'Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur
al-Islâmi (Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi, 2002 hlm. 261-262
[19] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan
al-Qur'an (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Hlm. 143.
[20]
Al-Attas (1986), A Commentary on The Hujjat
al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, Kuala Lumpur: Ministry of Culture of
Malaysia, 293.








0 comments:
Post a Comment