MAKALAH TAFSIR TARBAWI
AL-QUR’AN DAN ALAM SEMESTA
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Dosen Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "AL-QUR’AN DAN ALAM SEMESTA”
Semoga makalah ini dapat
memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk
hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami
harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih
kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang
tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.
Langsa, 9
November 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 2
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 2
C.
Tujuan
Penulisan.......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 3
A. Alam Semesta Dalam Perspektif Klasik dan Modern.................................. 3
B. Alam Semesta Dalam Perspektif Al-Qur’an................................................ 5
C. Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Alam Semesta............................................. 7
BAB III PENUTUP............................................................................................... 15
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 15
B.
Saran............................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Al-Qur’an merupakan sumber segala
ilmu. Al-Qur’an menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses
kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong
hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada
disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta.
Alam semesta merupakan sebuah bukti
kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan
adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini
dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang
penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan
buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat
penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
Keingintahuan manusia tentang alam
semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan
perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat
dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, berdasarkan surat
Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam
semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi
produk dari hasil Tuhan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah alam semesta dalam perspektif klasik
dan modern?
2. Bagaimanakah alam semesta dalam perspektif islam?
3.
Adakah ayat-ayat Al-Qur’an
yang berhubungan dengan alam semesta?
C.
Tujuan
Penulisan
Untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi.
D.
Metode
Penulisan
1. Pengambilan
data dari sumber-sumber bacaan.
2. Mencari
bahan dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
ALAM SEMESTA DALAM PERSPEKTIF KLASIK DAN MODERN
- Pandangan Klasik
Menurut pakar fisika bahwa alam
tidak hanya tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tidak berubah
status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai
waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.
Menurut Einstein bahwa alam semesta
tidak pernah diciptakan, yang qadim, langgeng, sesuai dengan konsesus yang didasarkan
pada kesimpulan yang rasional sebagai analisis yang kritis terhadap berbagai
data yang diperolehnya dari pemikiran dalam pengamatan.
2.
Pandangan
Modern
Menurut Hubble bahwa alam semesta
ini tidak statis, melainkan merupakan alam yang dinamis, seperti model
Friedman. Hubble melakukan observasi tentang alam melalui teropong bintang
terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut
analisis terhadap spektrum cahayanya tampak menjauhi galaksi kita dengan
kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling
cepat meninggalkan kita. [1]
Menurut Gamow, Alpher dan Robert
Herman, bahwa terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi seluruh
jagat raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi
karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam
ruang alam tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kuat,
sehingga volumenya menjauhi titik, maka disimpulkan bahwa dentuman besar itu terjadi
ketika seluruh materi kosmos terlempar dengan kecepatan yang sangat tinggi
keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil. Sehingga menurut
mereka alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrem.
B.
ALAM SEMESTA DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Alam semesta menurut Islam adalah
diciptakan pada suatu waktu dan akan ditiadakan pada saat yang lain. Pandangan
Einstein tentang alam semesta sangat bertentangan dengan konsep alam menurut
Al-Qur’an. Karena semula alam tiada tetapi kemudian, sekitar 15 milyard tahun
yang lalu, tercipta dari ketiadaan. Sedangkan perbandingan konsepsi fisika
tentang penciptaan alam dengan ajaran Al-Qur’an dapat kita lihat dalam surat
Al-Anbiya’ ayat 30 yang berbunyi:
óOs9urr& tt tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( xsùr& tbqãZÏB÷sã ÇÌÉÈ
30.
dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi
itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara
keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah
mereka tiada juga beriman?
C. AYAT-AYAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN ALAM
SEMESTA
Di antara ayat-ayat yang dijadikan
sebagai bukti otentik tentang penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an yaitu:
1. Surat
Al-Baqarah ayat 29
Bahwa Allah SWT setelah merici
ayat-ayat-Nya tentang diri manusia dengan mengingatkan awal kejadian, sampai
kesudahannya dan menyebutkan bukti keberadaan serta kekuasaan-Nya kepada
Makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, kemudian
Dia menyebutkan ayat-ayat-Nya atau bukti lain yang ada di cakrawala melalui apa
yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi, untuk menunjukkan
kekuasaan-Nya yang meliputi segala-galanya dan menunjukkan betapa banyak
karunia-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan segala yang di bumi sebagai
bekal dan persediaan untuk dimanfaatkan. Untuk itu Allah SWT berfirman dalam
Al-Qur’an:
uqèd Ï%©!$# Yn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
29.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha
mengetahui segala sesuatu.
Penjelasan
Menurut Syekh Ahmad Musthofa Al-Maraghi makna ayat:
هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا (Dialah
Tuhan yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu) yaitu :
Dalam memanfaatkan benda-benda di bumi ini dapat ditempuh melalui salah
satu dari dua cara, yaitu:
1.
Memanfaatkan benda-benda itu dalam kehidupan jasadi untuk memberikan potensi
pada tubuh atau kepuasan padanya dalam kehidupan duniawi.
2.
Dengan memikirkan dan memperhatikan benda-benda yang tidak dapat diraih oleh
tangan secara langsung, untuk digunakan sebagai bukti tentang kekuasaan
penciptanya dan dijadikan santapan rohani.[2]
2. Surat
Al-A’raf ayat 54
Yaitu surat yang menunjukkan akidah
tentang Tuhan dan fenomena alam semesta.
Surat Al-A’raf ayat 54 berbunyi :
cÎ) ãNä3/u ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû ÏpGÅ 5Q$r& §NèO 3uqtGó$# n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóã @ø©9$# u$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜt $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàfZ9$#ur ¤Nºt¤|¡ãB ÿ¾ÍnÍöDr'Î/ 3 wr& ã&s! ß,ù=sø:$# âöDF{$#ur 3 x8u$t6s? ª!$# >u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ
54.
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.[3]
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.
Penjelasan
Menurut Sayyid Quthb makna surat
al-A’raf ayat 54 yaitu: Akidah tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun
lapangan bagi manusia untuk merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana
ia berbuat, maka, Allah itu Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk
menggambarkan dan melukiskan zat Allah.
Adapun enam hari saat Allah
menciptakan langit dan bumi, juga merupakan perkara ghaib yang tidak ada
seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah telah menciptakan alam semesta ini
dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini mengaturnya dengan
perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini yaitu
putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini.
Dia menciptakan matahari, bulan dan
bintang, yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha
Pencipta, Pelindung, Pengendali dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang
memelihara kalian dengan manhaj-Nya, mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya,
membuat syariat bagi kalian dengan izin-Nya dan memutuskan perkara kalian
dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintah.
Inilah persoalan yang menjadi
sasaran pemaparan ini yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta
manunggalnya Allah SWT. Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah
manusia di dalam syariat hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan
konteks surat ini yang tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang
dihadapi surat Al-An’am dalam masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan
syiar-syiar.[4]
3. Surat Ali
Imran ayat 190
Imam Tabrani mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Al-Husain Ibnu Ishaq At-Tushri, telah menceritakan
kepada kami Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al-Qummi,
dari Ja’far Ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id Ibnu Jubairi dari Ibnu Abbas yang
menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, lalu
berkata, Mukjizat apakah yang dibawa oleh Nabi Musa kepada Kalian? orang-orang
Yahudi menjawab, tongkat dan tangannya yang tampak putih bagi orang-orang
yang memandang. Mereka datang kepada orang-orang Nashrani, lalu bertanya,
Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa?. Orang-orang Nashrani menjawab, Dia dapat
menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit supak, dan
dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Mereka datang kepada Nabi SAW dan
berkata, berdoalah kepada Allah, semoga Dia menjadikan kamu bukit Shifa ini
menjadi emas. Maka turunlah ayat ini yang berbunyi :
إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات
لأولي الألباب (آل عمران : 190)
Riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah,
sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar bukit emas menjadi emas
adalah di Makkah.
Penjelasan
Menurut Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir
Ad-Dimasyqi makna ayat:
إن في خلق السموات والأرض
Yaitu yang ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam
hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya
berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti lautan
gunung, pepohonan, hewan, tumbuhan, barang tambang serta berbagai macam manfaat
yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau dan kegunaannya.
- Makna
ayat:
واختلاف الليل والنهار
Yaitu saling bergiliran dan mengurangi panjang dan pendeknya; ada kalanya
yang ini panjang dan yang lain pendek, kemudian keduanya sama. Setelah itu yang
ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya,
yang sebelum itu pendek dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya
itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui.
- Karena
itu dalam firman selanjutnya disebutkan:
لآيات لأولي الألباب
Maksudnya yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena
hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya
masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang tuli dan bisu
serta orang-orang yang tak berakal seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an
surat Yusuf ayat 105-106, yang berbunyi:
وكأين من ءاية في السموات والأرض يمرون عليها وهم عنها
معرضون (105) وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون (106) (يوسف : 105- 106) [5]
4. Surat
Ibrahim ayat 32 sampai 34
Surat Ibrahim ayat 32 berbunyi:
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur tAtRr&ur ÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( t¤yur ãNä3s9 ù=àÿø9$# yÌôftGÏ9 Îû Ìóst7ø9$# ¾ÍnÌøBr'Î/ ( t¤yur ãNä3s9 t»yg÷RF{$# ÇÌËÈ
32.
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari
langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan
menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera
itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula)
bagimu sungai-sungai.
Penjelasan
Menurut Prof. Syeikh Musthofa Al-Maraghy makna surat
Ibrahim ayat 32-34 yaitu:
- الله
الذي خلق السموات والأرض yaitu:
Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi bagi kalian, keduanya lebih
besar daripada kalian dan pada keduanya terdapat banyak manfaat, baik yang
kalian ketahui maupun yang tidak diketahui. Dan semuanya itu menunjuk kepada
kebesaran kodrat-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya atas wujud ini.
- وأنزل
من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم yaitu:
Dan Dialah Allah yang telah menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan
air hujan itu Dia menumbuhkan pohon-pohon dan tanaman, sehingga menghasilkan
buah-buahan dan sayuran kepada kalian sebagai rizqi yang kamu makan dan
menjadikan kalian hidup. Ayat ini juga sama dengan firman Allah dalam surat
Thahaa ayat 53.
- وسخر
لكم الفلك لتجري في البحر بأمره yaitu:
Dia menundukkan bahtera-bahtera bagi kamu, seperti dengan menjadikan
kalian mampu membuatnya, menjadikannya mengapung di permukaan air, dan
diatas lautan dengan perintah Tuhan. Kemudian, Dia menundukkan lautan membawa
bahtera itu, agar para Musafir dapat menempuh jarak yang jauh untuk mengangkut
dan menindahkan apa yang ada di suatu daerah ke daerah lain untuk menghasilkan
manfaat yang mereka perlukan.
- وسخر
لكم الأنها yaitu:
Dia menundukkan sungai-sungai bagi kamu yang membelah bumi dari satu
belahan ke belahan lain, agar kamu memanfaatkannya untuk minum dan
membuat selokan /saluran, untuk menyirami tanaman, taman/kebun dan lain
sebagainya.
- وسخر
لكم الشمس والقمر دائبين وسخر لكم الليل والنهار yaitu:
Dia menundukkan bagi kalian matahari dan bulan untuk selalu saling
bergerak di dalam falaq-Nya, tidak berhenti-henti, untuk menerangi dunia dan
memberikan daya hidup kepada binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan.
- وسخر
لكم الليل والنها yaitu:
Dia-lah yang menundukkan bagi kamu malam dan siang yang salling mengikuti.
Siang itu untuk mencari penghidupan dan bekerja, sedang malam untuk
beristirahat. Sebagaimana dalam surat al-Qashas ayat 73.
Matahari dan bulan terus menerus beriringan, demikian pula malam dan siang.
Maka kadang-kadang malam lebih panjang dari siang maupun sebaliknya.
- وءاتكم
من كل ما سألتموه yaitu:
Allah telah meyediakan bagi kalian segala apa yang kalian perlukan dalam
seluruh keadaan kalian, dari segala yang berhak untuk kamu memohonnya, baik
kamu memohonnya ataupun sebaliknya. Karena, Allah-lah yang telah meletakkan di
dalam dunia ini berbagai manfaat yang tidak di ketahui oleh manusia, tetapi
disediakan bagi mereka. Sehingga, tidak seorang pun dari umat dahulu memohon
kepada Tuhan agar diberi kapal terbang magnit, dan listrik. Semua itu diberikan
kepada manusia secara bertahap, dan masih ada keajaiban yang akan tampak bagi
orang -orang sesudahnya.
- وإن تعدوا
نعمة الله لا تحصوها yaitu:
Dan kamu wahai anak Adam tiada sanggup menghitung satu persatu nikmat Allah
yang telah dicurahkan atas dirimu, konon lagi mensyukuri-Nya.
- إن
الإنسان لظلوم كفار yaitu:
Sesungguhnya manusia yang mengganti nikmat Allah dengan kekufuran
benar-benar telah bersyukur kepada selain Tuhan yang melimpahkan nikmat
kepadanya. Dengan demikian, dia telah menempatkan syukur bukan pada
tempatnya. Allah-lah yang telah melimpahkan nikmat kepadanya, dan Dia-lah yang
berhak menerima ibadah yang ikhlas. Namun, manusia beribadah kepada selain-Nya
dan menjadi sekutu bagi-Nya untuk menghalangi manusia dari jalan-Nya. Itulah
kedzalimannya, dan itulah keingkaran terhadap nikmat yang dia limpahkan
kepadanya. Dia telah memalingkan ibadah kepada selain Tuhan yang memberinya
nikmat, dan tidak taat kepada-Nya.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dalam surat Ibrahim ayat
32-34 ini, Tuhan menerangkan dalil yang terdapat dalam cakrawala yang
menunjuk kepada kita agar wajib mensyukuri nikmat Allah dan mentaati-Nya.[6]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
Allah telah menciptakan alam semesta
ini dengan segala kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan
perintah-Nya ,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini.
Yaitu, putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia
menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semula tunduk kepada perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Pencipta dan Tuhan sekalian alam.
Al-Qur’an telah menghubungkan semua
pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia
mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin
manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta
segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang
dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak
nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang
didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini
sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.
Allah menciptakan alam semesta ini
dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk.
Allah telah menjadikannya baik, memerintahkan hamba-hambanya untuk
memperbaikinya. Dalam ayat ini Tuhan menerangkan dalil-dalil yang terdapat
dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar mensyukuri Allah dan tetap
mentaati-Nya.
B. SARAN
Kita sebagai umat Islam harus lebih mengembangkan
pengetahuan kita akan alam ciptaan ALLAH
yang sangat luas ini. Dan kita harus dapat pula membaca tanda-tanda
kebesarannya melalui ciptaan-Nya. Sehingga kita dapat benar-benar menjadi
hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Syekh Ahmad Musthofa. Tarjamah
Tafsir al-Maraghi. Yogyakarta: Sumber Ilmu. 1985.
Al-Maraghi, Syeikh Ahmad Musthofa.
Terjemahan K. Anshori Umar Sitanggal dkk. Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz
XIII. Semarang: CV. Toha Putra. 1994.
Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida
Ismail Ibnu Kasir .Terjemahan Bahrun Abu bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz 4
(ali-Imron-an-Nisa’ 23). Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2000.
Baiquni, Ahmad. Al-Qur’an Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa. 1995.
Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di Bawah Naungan
al-Qur’an ( Surah al-An’am-Surah al-A’raf 137). Jakarta: Gema Insani.
2002.
[1]Prof. Achmad
Baiquni, M.Sc, Ph.D. Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
(Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1995),10-14
[2] Syekh Ahmad
Musthofa al-Maraghi. Tarjamah Tafsir al-Maraghi, (Yogyakarta: Sumber
Ilmu, 1985), 63
[3] Bersemayam
di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan
kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[4] Sayyid
Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di
Bawah Naungan al-Qur’an ( Surah al-An’am-Surah al-A’raf 137), (Jakarta:
Gema Insani, 2002), 323-324
[5] Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,
Terjemahan Bahrun Abu bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz 4 (ali-Imron-an-Nisa’
23), (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 357-359
[6] Syeikh Ahmad
Musthofa Al-Maraghi, Terjemahan K. Anshori Umar Sitanggal dkk. Terjemah
Tafsir Al-Maraghi Juz XIII, (Semarang: CV. Toha Putra,1994), 294-298








0 comments:
Post a Comment