MAKALAH TAFSIR TARBAWI
AYAT-AYAT TENTANG HUBUNGAN ANTAR AGAMA
DI
S
U
S
U
N
OLEH
NURUL
HIDAYANI
(141100649)
JURUSAN
: TARBIYAH
PRODI
: PBI
SEMESTER
/ UNIT : III (TIGA)/ 1
DOSEN
PENGASUH : Drs. Legiman, MA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
T.A. 2012-2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “AYAT-AYAT TENTANG HUBUNGAN ANTAR AGAMA”
Semoga makalah ini dapat
memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk
hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami
harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih
kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang
tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.
Langsa, 27
November 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 2
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.
Surat Al-Mumtahanah Ayat 7-9.................................................................. 2
B.
Surat
Al-Baqarah Ayat 62........................................................................... 4
C.
Surat
Al-Baqarah Ayat 120......................................................................... 6
D.
Surat
Al-Baqarah Ayat 213......................................................................... 7
E.
Surat
Ali-Imran Ayat 61.............................................................................. 8
F.
Surat
Al-Kafirun Ayat 1-6........................................................................... 10
BAB III PENUTUP............................................................................................... 13
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 13
B.
Saran............................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Sebagaimana
yang kita ketahui Negara kita Indonesia adalah negara yang majemuk. Hal itu
bisa dibuktikan dari berbagai macam keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh
bangsa Indonesia. Keanekaragaman tersebut antara lain meliputi, suku, bangsa,
bahasa, ras, termasuk di dalamnya agama. Keanekaragaman ini ibarat dua sisi
mata pedang, di sisi lain dia bisa menjadi aset berharga untuk bangsa kita
namun d isisi lain ia justru bisa menjadi ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Hal di atas
menunjukkan pembenarannya kalau kita perhatikan beberapa fenomena yang terjadi
di Indonesia belakangan ini. Banyak konflik yang terjadi di sebabkan oleh
perbedaan – perbedaan di atas, sebagai contoh : Perang Saudara di Ambon,
Tragedi Priok ,Peristiwa Lampung, dan mungkin yang paling hangat di dalam
ingatan kita bermunculannya aliran sesat (sempalan) seperti kasus Ahmadiyah,
Lia Eden, Ahmad Musaddiq (nabi palsu), dan lain sebagainya.
Munculnya
beberapa peristiwa di atas menuntut munculnya sikap yang dewasa dan berlapang
dada mengingat negara kita adalah memang negara yang majemuk (plural). Namun yang terjadi belakangan ini sungguh
memprihatinkan. Nilai – nilai mulia tersebut mulai tergerus oleh sebuah sikap
yang bernama egoisme . Konflik – konflik dalam beragama sering kali
diselesaikan dengan cara – cara yang tidak dewasa dan rentan dengan sikap
anarkisme. Disinilah letak pentingnya peran ajaran agama sebagai lembaga
kontrol sosial terhadap berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Agama Islam khusunya melalui kitab sucinya
Al-Qur’an telah mengatur pola hubungan antar umat beragama seperi yang akan di
jelaskan melaui beberapa ayat berikut ini.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
tafsir surat Al-Mumtahanah ayat 7-9?
2.
Bagaimana
tafsir surat Al-Baqarah ayat 62, 120 dan 213?
3.
Bagaimana
tafsir surat Ali Imran ayat 61?
4.
Bagaimana
tafsir surat Al-Kafirun 1-6?
BAB II
PEMBAHASAAN
A.
Surat
Al-mumtahanah: 7-9
*
Ó|¤tã ª!$# br& @yèøgs ö/ä3oY÷t/ tû÷üt/ur tûïÏ%©!$# NçF÷y$tã Nåk÷]ÏiB Zo¨uq¨B 4
ª!$#ur ÖÏs% 4
ª!$#ur Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÐÈ w â/ä38yg÷Yt ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ã Îû ÈûïÏd9$# óOs9ur /ä.qã_Ìøä `ÏiB öNä.Ì»tÏ br& óOèdry9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍkös9Î) 4
¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ $yJ¯RÎ) ãNä39pk÷]t ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNä.qè=tG»s% Îû ÈûïÏd9$# Oà2qã_t÷zr&ur `ÏiB öNä.Ì»tÏ (#rãyg»sßur #n?tã öNä3Å_#t÷zÎ) br& öNèdöq©9uqs? 4
`tBur öNçl°;uqtFt Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÒÈ
7. Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang
yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
8.
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu
dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.
9.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang
yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu
(orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan,
Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.[1]
Tafsirnya
Secara umum
,ayat ini menerangkan begitu pentingnya toleransi. Seperti dikisahkan oleh Ibnu
Ishak dalam “Sirahnya” dan juga Ibnul Qoyyim dalam “Zaadul ma’ad” adalah ketika
Nabi Sallallahu’alaihiwa sallam kedatangan utusan Nasrani dari Najran berjumlah
60 orang.
Diantaranya
adalah 14 orang yang terkemuka termasuk Abu Haritsah Al-Qomah.sebagai guru dan
uskup. Maksud kedatangan mereka itu adalah ingin mengenal Nabi
Shallallahu’alaihi wa sallam dari dekat. Benarkah Muhammad itu seorang utusan
Tuhan dan bagaimana dan apa sesungguhnya ajaran islam itu. Mereka juga ingin
membandingkan antara Islam dan Nasrani. Mereka ingin bicara dengan Rasullullah
Shallallahu’alaihi wa sallam tentang berbagai macam masalah agama. Mereka
sampai di Madinah saat kaum muslimin telah selesai shalat Ashar. Mereka pun
sampai di masjid dan akan menjalankan sembahyang pula menurut cara mereka. Para
sahabatpun heboh.
Mengetahui hal
tersebut, maka Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam berkata “Biarkanlah
mereka!” maka mereka pun menjalankan sembahyang dengan cara mereka dalam masjid
Madinah itu. Dikisah-kan bahwa para utusan itu memakai jubah dan kependetaan
yang serba mentereng, pakaian kebesaran dengan selempang warna-warni.
Peristiwa di
atas menunjukan toleransi Rasullullah Shallallahu’alahi wasallam kepada pemeluk
agama lain. Walaupun dalam dialog antara Rasullullah Shallallahu’alahi wa
sallam dengan utusan Najran itu tidak ada “kesepakatan” kerena mereka tetap
menganggap bahwa Isa adalah “anak Tuhan” dan Rassullullah Shallallahu’allahi wa
sallam berpegang teguh bahwa Isa adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’allah dan
sebagai Nabiyullah,Isa adalah manusia biasa. Para utusan itu tetap dijamu oleh
Rasullullah Shallallahu’alahi wa sallam dalam beberapa hari.
Dari ayat di atas menjelaskan bahwa
Tuhan hanya melarang kamu berkawan setia dengan orang-orang yang terang-terang
memusuhimu, yang memerangi kamu, yang mengusir kamu atau membantu orang-orang
yang mengusirmu seperti yang dilakukan musyrikin Makkah. Sebagian mereka
berusaha mengusirmu dan sebagian yang lain menolong orang yang mengusirmu.
Adapun orang-orang yang menjadikan
musuh-musuh itu sebagai teman setia, menyampaikan kepada mereka rahasia-rahasia
yang penting dan menolong mereka, maka merekalah yang dhalim karena menyalahi
perintah Allah.[2]
B.
Surah Al-baqoroh: 62
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä úïÏ%©!$#ur (#rß$yd 3t»|Á¨Z9$#ur úüÏ«Î7»¢Á9$#ur ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ÌÅzFy$# @ÏJtãur $[sÎ=»|¹ öNßgn=sù öNèdãô_r& yYÏã óOÎgÎn/u wur ì$öqyz öNÍkön=tæ wur öNèd cqçRtøts ÇÏËÈ
62. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi,
orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[3],
siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[4],
hari kemudian dan beramal saleh[5],
mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada
mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Asbabun Nuzul
Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi: Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut. Dia pun menerangkan sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini?[6]
Tafsirnya
Allah Swt berfirman:
Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi: Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut. Dia pun menerangkan sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini?[6]
Tafsirnya
Allah Swt berfirman:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä úïÏ%©!$#ur (#rß$yd 3t»|Á¨Z9$#ur úüÏ«Î7»¢Á9$#ur
Sesungguhnya
orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang
Shabiin
Setidaknya
ada tiga penafsiran mengenai siapa yang dimaksud dengan al-ladziina manu. Pertama,
orang-orang yang beriman kepada Isa as. yang hidup sebelum diutusnya Rasulullah
saw. Pada saat yang sama mereka berlepas diri dari kebatilan agama Yahudi dan
Nasrani. Di antara mereka ada yang sampai menjumpai Rasulullah saw dan
mengikuti beliau, ada pula yang tidak sempat.[7]
Demikian menurut Ibnu Abbas dalam suatu riwayat.[8]
Kedua,
orang-orang munafik yang mengaku beriman. Penafsiran itu dikemukakan Sufyan
al-Tsauri, al-Zamakhsyari, dan al-Nasafi.[9]
Ketiga,
orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw secara benar. Di antara yang
berpendapat demikian adalah al-Qurthubi, al-Thabari, al-Syawkani, dan
al-Jazairi.[10]
Ibnu Katsir dalam tafsirnya
berkata, Setelah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerangkan keadaan (dan hukuman bagi)
orang-orang yang menyelisihi perintah-perintah-Nya dan mengabaikan
larangan-larangan-Nya, melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan,
menerjang hal-hal yang diharamkan, Allah memperingatkan bahwa barangiapa yang
berbuat baik (ihsan) dan taat dari umat-umat terdahulu, maka balasannya adalah
kebaikan pula (surga). Demikian hal tersebut berlaku sampai hari kiamat.
Barangsiapa menaati Rasul maka ia berhak mendapatkan kebahagiaan yang abadi,
tanpa rasa takut terhadap masa depan mereka, tak pula rasa sedih terhadap
apa-apa yang telah mereka tinggalkan di masa lalu.
As-Suddi
berkata tentang ayat ini, ayat
ini turun mengenai kaum Salman Al-Farisi, yaitu ketika dia menceritakan kepada
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam perihal mereka. Ia berkata,
“Mereka berpuasa, shalat, beriman kepada engkau, bersaksi bahwa engkau akan
diutus sebagai nabi.” Seusai menceritakan tentang pujian kepada mereka,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Salman,
mereka termasuk penduduk neraka.” Jawaban itu membuat Salman merasa gelisah.
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat tersebut.
Yang dimaksud keimanan umat
Yahudi adalah barangsiapa di antara mereka yang berpegang teguh terhadap Taurat
dan ajaran Nabi Musa 'alaihissalam sampai datangnya Nabi Isa 'alaihissalam
Ketika Nabi Isa datang, maka barangsiapa yang masih berpegang teguh terhadap
Taurat dan ajaran Nabi Musa, maka ia akan celaka.
Sedangkan yang dimaksud dengan
keimanan umat Nasrani adalah barangsiapa di antara mereka yang berpegang teguh
terhadap Injil dan ajaran Nabi Isa a.s maka dia disebut orang beriman dan
imannya diterima sampai datangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Maka barangsiapa tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan tidak meninggalkan ajaran Nabi Isa dan Injil, maka ia
akan celaka.
C.
Surat Al-baqoroh: 120
`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ßqåkuø9$# wur 3t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3
ö@è% cÎ) yèd «!$# uqèd 3yçlù;$# 3
ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y÷èt/ Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$#
$tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <cÍ<ur wur AÅÁtR ÇÊËÉÈ
120.
orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah
petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan
mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi
pelindung dan penolong bagimu.
Tafsirnya
1). Upaya sejak dini memisahkan risalah dan pembawa risalah-nya
terungkap jelas melalui ayat ini. Yaitu dengan cara memalingkan Rasul dari
risalah yang dibawanya. Agen utama mereka ialah orang-orang Yahudi dan
Nashrani. Pertama-tama mereka menyebarkan berita yang diakuinya sebagai ajaran
yang bersumber dari Kitab Suci mereka. “Dan mereka (kaum Yahudi) berkata:
‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa
hari saja.’ (2:80). Tujuannya, menjustifikasi supremasi mereka terhadap
Rasul dan pengikutnya tanpa harus meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama mereka seperti
ajaran baru Nabi Muhammad.
2). Anak kalimat لَن تَرْضَى عَنكَ [lan
tardhā ‘anka, sekali-sekali tidak akan pernah redha kepadamu
(Muhammad)]. Fungsi لَن (lan)
sebagai negasi taukĭd di ayat ini juga berlaku sampai Hari Kiamat. Kedua,
kata تَرْضَى (tardhā)
yang kata dasarnya رضى (ra-dhi-ya),
diartikan dengan “merestui, meridhai, senang”. Ketiga,
kata عَنكَ (‘anka), yang aslinya berasal dari
dua penggal kata: عَن (‘an)
dan كَ (ka). Kata عَن (‘an) sebetulnya adalah bagian dari kata تَرْضَى (tardhā), sehingga lengkapnya
harus berbunyi تَرْضَى عَن (tardhā ‘an).
Sehingga yang paling penting di dalam kata عَنكَ (‘anka)
ini ialah huruf كَ (ka)-nya
yang merupakan dhamĭr mukhathab mufrad (kata ganti orang
kedua tunggal) untuk Rasulullah. Agar
ayat لَن تَرْضَى عَنكَ (lan tardhā
‘anka) terus berlaku, seperti disifati oleh kata لَن (lan), sepanjang keberlakuan al-Qur’an dan risalah
kenabian, maka yang bisa difahami di situ ialah bahwa ayat ini memberikan
indikasi yang begitu jelas tentang mustinya selalu ada satu sosok ilahi
di setiap masa yang mengganti posisi Rasul di huruf كَ
(ka)-nya. Sosok-sosok inilah yang akan menerima
keberlakuan ayat 120 ini pada dirinya. Kalau sekiranya yang dituju bukan satu
sosok khusus, maka ayatnya akan seperti ini: “Mereka akan bersumpah
kepadamu, agar kalian ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kalian ridha
kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang
fasik itu.” (9:96)
3). Menurut al-Wahidi, ayat ini turun berkenaan dengan
permintaan cease-fire (gencatan senjata) orang-orang Yahudi dan Nashrani
kepada Rasul dalam suatu peperangan. Mereka berharap bahwa dengan cease-fire
(gencatan senjata) dan waktu tangguh yang diberikan kepada mereka itu, Rasul
sekaligus ridha dan sepakat dengan مِلّة (millah,
pola hidup, cara berfikir) mereka. Sedangkan menurut as-Suyuthi, mengutip
Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan pemindahan kiblat salat dari
Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, yang membuat orang Yahudi dan Nashrani kecewa
dan berputus asa dalam mengusahakan agar Nabi ridha dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka.
4). Bahkan bukan hanya merugi. Siapa yang mengikuti مِلّة (millah, pola hidup, cara
berfikir) mereka, dengan meninggalkan risalah Islamnya, maka Allah
memastikan akan menarik diri sebagai Pelindung dan Penolong mereka: وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ
الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
D.
Surat Al-baqoroh:
213
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhÎ;¨Y9$# úïÌÏe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmÏù 4
$tBur y#n=tG÷z$# ÏmÏù wÎ) tûïÏ%©!$# çnqè?ré& .`ÏB Ï÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# $Jøót/ óOßgoY÷t/ (
yygsù ª!$# úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä $yJÏ9 (#qàÿn=tF÷z$# ÏmÏù z`ÏB Èd,ysø9$# ¾ÏmÏRøÎ*Î/ 3
ª!$#ur Ïôgt `tB âä!$t±o 4n<Î) :ÞºuÅÀ ?LìÉ)tGó¡B ÇËÊÌÈ
213. manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul
perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan
Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di
antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih
tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab,
Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena
dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang
beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka
perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Tafsirnya
Maksudnya,
mereka bersatu di atas petunjuk, kondisi itu selama sepuluh abad setelah Nabi
Nuh AS, dan ketika mereka berselisih dalam perkara agama, lalu sekelompok dari
mereka kafir, sedangkan sisanya masih tetap di atas petunjuk dan terjadi
perse-lisihan, maka Allah mengutus kembali Rasul-rasulNya untuk mele-rai antara
manusia dan menegakkan hujjah atas mereka.
Pendapat
lain mengatakan, akan tetapi mereka maksudnya, dahulu manusia bersatu di atas kekufuran,
kesesatan, dan kesengsaraan, mereka tidak memiliki cahaya dan tidak pula
keimanan, hingga Allah merahmati mereka dengan mengutus para Rasul ke-pada
mereka, مُبَشِّرِينَ "sebagai pemberi
kabar gembira" bagi orang-orang yang taat kepada Allah dengan hasil
ketaatan mereka seperti rizki, kekuatan tubuh, kekuatan hati serta kehidupan
yang baik, dan yang paling tinggi dari itu semua adalah kemenangan dengan
keridhaan Allah dan surga, وَمُنذِرِينَ
"Juga pemberi peringatan" bagi orang yang bermaksiat kepada Allah
dengan hasil kemaksiatan mereka seperti menahan rizki untuk mereka, kelemahan,
kehinaan, serta kehidupan yang sempit, dan yang paling besar dari semua itu
adalah kemurkaan Allah dan neraka.
E.
Surat Ali-Imron :61
ô`yJsù y7§_!%tn ÏmÏù .`ÏB Ï÷èt/ $tB x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$# ö@à)sù (#öqs9$yès? äíôtR $tRuä!$oYö/r& ö/ä.uä!$oYö/r&ur $tRuä!$|¡ÎSur öNä.uä!$|¡ÎSur $oY|¡àÿRr&ur öNä3|¡àÿRr&ur ¢OèO ö@ÍktJö6tR @yèôfuZsù |MuZ÷è©9 «!$# n?tã úüÎ/É»x6ø9$# ÇÏÊÈ
61. siapa yang membantahmu tentang kisah
Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya):
"Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami
dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita
bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada
orang-orang yang dusta.[11]
Asbabun Nuzul
Pada hadits
shahih muslim tentang turunnya ayat ini : Rasulullah s.a.w. mendo’akan ftimah,
hasan, Husain, maka Nabi bersabda: ya Allah ya Tuhan ku, mereka itu adalah
keluarga ku kemudian kami memohon maka kami menjadikan laknat Allah itu bagi
orang-orang yang dusta. Maka kami berkata : ya Allah ya Tuhan ku laknat itu
bagi orang-orang yang dusta dari kami pada urusan Isa a.s. dan ketika mereka
berdo’a dan memohon mereka berkata laranglah dan terimalah dengan keharusan.
Tafsirnya
Menurut Al-Maraghi “Dalam ayat di
atas perkataan anak-anak soleh dan isteri disebut terlebih dahulu daripada
dirinya sendiri. Padahal seseorang sentiasa memikirkan nasib anak dan
isterinya, sebenarnya adalah untuk menyatakan betapa Nabi SAW telah berasa
aman, memiliki kepercayaan yang penuh dan keyakinan yang teguh dengan kebenaran
misinya, hinggakan Baginda menaruh kepercayaan sesuatu misbah yang tidak
diinginkan akan menimpa mereka. “Ayat ini dinamakan
ayat mubahalah, ertinya berdoa agar musuhnya mendapat laknat Allah”.
Menurut Muhammad Quraish Shihab
“Ayat ini diletakkan setelah ajakan memanggil anak dan isteri dan sebelum
bermubahalah. Ini memberi isyarat bahawa Nabi SAW masih memberi kesempatan
waktu yang relatif tidak singkat kepada yang diajak itu, untuk berfikir
menyangkut soal mubahalah, karena akibatnya sangat fatal”.
Hamka berkata: “Mubahalah ialah
bersumpah yang berat. Di dalam sumpah itu dihadirkan anak dan isteri dari kedua
pihak yang bersangkutan, lalu diadakan untuk mempertahankan kebenaran
masing-masing. “Jika kedua belah pihak masih tidak mengalah dan bertolak
ansur maka tunggulah laknat-Nya kepada siapa yang masih mempertahankan
pendirian yang salah. Inilah ajakan Rasulullah SAW kepada utusan-utusan Najran
yang mempertahankan Nabi Isa adalah putera Allah SWT. “Ayat mubahalah adalah
pembuktian antara yakin dan teguhnya orang Islam pada iman dan kepercayaannya.
Keyakinan Tauhid adalah pegangan seluruh keluarga untuk mempertahankan diri
hidup atau mati demi menegakkan kebenaran”.
Dari ayat ini, kita dapatkan
beberapa pelajaran:
1. Pertanyaan harus dijawab dengan
argumentatif dan logis, namun jiwa membangkang dan kedegilan tidak akan punya
jawaban melainkan kemurkaan dan laknat. Orang-orang yang selalu mencari alasan,
artinya mereka sedang menunggu hukuman Tuhan.
2. Jika kita meyakini agama Tuhan,
maka kita harus berdiri tegak dan hendaknya kita ketahui bahwa pihak musuh akan
mundur karena kebatilannya.
3. Ahlul Bait Rasul tak ubahnya
seperti beliau, doa mereka mustajab. Rasul dengan amalannya mengenalkan Hasan
dan Husein sebagai anak-anaknya dan Ali Bin Abi Thalib sebagai dirinya.
4. Meminta bantuan dari ghaib
saatnya adalah setelah memanfaatkan potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan
normal. Rasul pada awalnya melakukan tabligh dan dialog, dan baru setelah itu
memasuki tahap doa dan mubahalah.
F.
Surat Al-kafirun:1-6
ö@è% $pkr'¯»t crãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ Iw ßç6ôãr& $tB tbrßç7÷ès? ÇËÈ Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç7ôãr& ÇÌÈ Iwur O$tRr& ÓÎ/%tæ $¨B ÷Lnt6tã ÇÍÈ Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç6ôãr& ÇÎÈ ö/ä3s9 ö/ä3ãYÏ uÍ<ur ÈûïÏ ÇÏÈ
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2.
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3.
dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4.
dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5.
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6.
untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Asbabun Nuzul
Surah Al-kafirun
”Mufassir berkata : sesungguhnya orang meminta
kepada Rasulullah s.a.w. agar menyembah tuhan mereka setahun dan setahun lagi
menyenbah Allah maka mu ’az berkata: akankah kita menduakan Allah dengan
sesuatu maka mereka berkata : maka selamatkanlah sebagian tuhan-tuhan kita,
kami mempercayai mu dan kami menyembah tuhanmu wahai Muhammad .Maka turunlah
ayat ini.”
Tafsirnya
Secara umum (global),
surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid,
khususnya tauhid uluhiyah(tauhid ibadah).Kedua, ikrar penolakan
terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang
dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu
mendasar sekali, sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang
tergambar secara jelas di bawah ini :
Pertama, Allah memerintahkan Rasul-Nya Sallallahu’allahi wa Sallam untuk memanggil
orang-orang kafir dengan Khitab(panggilan) ‘yaa ayyuhal kafirun’
(wahai orang-orang kafir), padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan
cara yang semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitab
semacam ‘yaa ayyuhan naas’(wahai sekalian manusia) dan sebagainya.
Kedua, pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan
Rasullullah Shallallahu’allahi wa Sallam untuk menyatakan secara tegas, jelas
dan terbuka kepada mereka, dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir
sepanjang sejarah, bahwa beliau (begitu pula umatnya) sama sekali tidak akan
pernah (baca: tidak dibenarkan sema sekali) menyembah apa yang disembah oleh
orang-orang kafir.
Ketiga, pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan
Rasullullah shallallahu’allahi wa sallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan
terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar
menyembah-Nya. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas
orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan
kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru
boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk
ke dalam agama Islam.
Keempat, Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga
diatas dengan melakukan pengulangan ayat, dimanana kandungan ayat ke-2 diulang
dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash,sedang ayat ke-3
diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya
pengulangan ini menunjukan adanya larangan yang bersifat total dan
menyeluruh,yang mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.
Kelima, Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal
diatas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya : ‘Lakum dinukum wa liya
diin’(bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dimana kalimat penutup
yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya
pencampuran antar agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa
boleh dicampur dengan unsure-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaiknya.
Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk
mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.[12]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam sebuah masyarakat yang
dicirikan oleh kemajemukan agama, tidak ada hal yang sedemikian penting dan
mendesak seperti hubungan antarumat beragama. Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana
pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai
secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara
sosiologis, teologis maupun etis.
Secara sosiologis, pluralisme agama
adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam
hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat
dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang
berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini
merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti
mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama
lain.
B. Saran
Islam
mengatur dengan jelas batas-batas pergaulan dan hubungan antara seorang muslim
dan non-muslim, maka wajib bagi kita untuk mengikutinya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Baghawi. Ma’alim al-Tanzil, vol. 1. Beirut: Dar
al-Kutub al-?Ilmiyyah. 1993.
Al-Qurthubi. Al-Jami’ li Ahkm al-Quran, vol. 1. Beirut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Suyuti. Al-Durr al-Mantsir fi Tafsir al-Mantsir vol.
1. Beirut: Dar al-Fikr, 1990.
Al-Zamakhsyari. Al-Kasyif, vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah. 1995.
Al-Asafi. Madrik al-Tanzil,
vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah. 2001.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang:
Karya Toha Putra. 1995
Katsir, Ibnu. Tafsir
Al-Qur’an al-‘Adhim, Juz IV.
Beirut : Dar al-Ilmiyyah. 1987
Nidzam al-Din al-Naysaburi, Tafsir Gharib al-Qur’an, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-IIlmiyyah,
1996), 302
T.M. Hasbi
ash-Shiddieqy. Tafsir Al-Qur’anul Majid (An-Nuur) Juz 5. Semarang:
Pustaka Rizki Putra. 1995.
[1]
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Karya Toha
Putra, 1995), h.
[2]
T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir
Al-Qur’anul Majid (An-Nuur) Juz 5, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995,
hlm. 4045.
[3]
Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti
syari'at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau
dewa-dewa.
[4]Orang-orang mukmin begitu pula
orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah Termasuk iman
kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang
saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
[5]
Ialah perbuatan yang baik yang
diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.
[6]
al-Suyuti, al-Durr
al-Mantsir fi Tafsir al-Maitsir vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1990), h.143
[8]
Nidzam al-Din
al-Naysaburi, Tafsir Gharib al-Qur’an, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-IIlmiyyah,
1996), 302
[9]
al-Zamakhsyari,
al-Kasyif, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 148; al-Nasafi,
Mad?rik al-Tanz?l, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-?Ilmiyyah, 2001), 57;
[10]
al-Qurthubi, al-Jami’
li Ahkm al-Quran, vol. 1(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt), 432.
[11]
Mubahalah ialah masing-masing pihak
diantara orang-orang yang berbeda Pendapat mendoa kepada Allah dengan
bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la'nat kepada pihak yang berdusta.
Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan
ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.
[12]
Katsir, Ibnu (1987)Tafsir Al-Qur’an
al-‘Adhim,JuzIVBeirut : Dar al-Ilmiyyah.








0 comments:
Post a Comment