MAKALAH TAFSIR TARBAWI
TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT
DI
S
U
S
U
N
OLEH
NURUL
HIDAYANI
(141100649)
JURUSAN
: TARBIYAH
PRODI
: PBI
SEMESTER
/ UNIT : III (TIGA)/ 1
DOSEN
PENGASUH : Drs. LEGIMAN, MA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
T.A. 2012-2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam adalah agama samawi terakhir
yang dirisalahkan melalui Rasulullah SAW. Karena Islam sebagai agama terakhir
dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa
dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat
rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT
memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau
pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa
dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan
vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan
manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang
walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan
berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain
karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena
itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an?
2. Adakah Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Masyarakat?
1. Bagaimana pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an?
2. Adakah Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Masyarakat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an
Istilah masayarakat dapat dilihat
dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep
pembinaan masyarakat, seperti istilah ummat,
qaum, syu’ub, qabail dan lain
sebagainya. Istilah ummat dapat dijumpai pada ayat yang berbunyi :
öNçGZä. uöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ cöqyg÷Ys?ur Ç`tã Ìx6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur ÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #Zöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB cqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik
bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang fasik.
(QS. Ali Imran : 110)
Kata ummah pada ayat tersebut, berasal dari kata amma, yaummu yang berarti
jalan dan maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat
adalah kumpulan perorangan yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama,
menghimpun diri secara harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.
Selanjutnya dalam Al-Mufradat fi
Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun
oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun kehendak
sendiri. Inti dari pendapat- pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat
berkumpulnya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta
pola- pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
B.
Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang
Masyarakat
1. Surat Al-Hujurat Ayat 11-12
1. Surat Al-Hujurat Ayat 11-12
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä w öyó¡o ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3t #Zöyz öNåk÷]ÏiB wur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3t #Zöyz £`åk÷]ÏiB ( wur (#ÿrâÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& wur (#rât/$uZs? É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y÷èt/ Ç`»yJM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGt y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ $pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# cÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( wur (#qÝ¡¡¡pgrB wur =tGøót Nä3àÒ÷è/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& @à2ù't zNóss9 ÏmÅzr& $\GøtB çnqßJçF÷dÌs3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ ÇÊËÈ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang
laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu
lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan
lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela
dirimu sendiri[1]dan
jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan
adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[2]
dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
12.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan),
karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Dalam
ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara
sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya
persatuan umat Islam, yaitu: a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka
kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah
menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya
menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah
menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain
adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan,
kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas
yang lain.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ
قَوْمٍ
Kita tidak boleh saling menghina
diantara sesamanya. Ayat ini akan dijadikan oleh Allah sebagai peringatan dan
nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang beriman.
Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina
orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun
menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan
kesalah-pahaman diantara kita.
عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ
Allah melarang kita menghina
sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik dan lebih mulia
disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
وَلاَنِسَاءُ مِنْ نِسَاءِ عَسَى اَنْ يَكُنَّ
خَيْرًامِنْهُنَّ
Orang yang kerjanya hanya mencari
kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kekhilafan
yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi:
الكِبْرُ بَطْرُالْحَقِّ وَغَمْصُ النَاسِ
“Kesombongan itu ialah menolak
kebenaran dan memandang rendah manusia”.
وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ
Dalam penggalan ayat ini Allah
melarang kita mencela orang lain karena mencela orang lain sama saja mencela
diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman Allah
SWT yang menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain
yaitu:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Neraka
wailun hanya buat orang yang suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-Humazah: 1)
Adapun dari arti هُمَزَةٍ
yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan لُمَزَةٍ
yaitu mencela dengan mulut.[3]
وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ
Allah melarang kita memanggil orang
lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan-ejekan, karena hal ini
termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah diperbuatnya.
Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan)
itu mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci
sebagaimana gelar yang diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقَ بَعْدَاْلإِيْمَانِ
Allah melarang kita memanggil orang dengan kata “fasik”
setelah ia sebulan masuk Islam atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita memanggil seseorang dengan
sebutan yang tidak di sukai.
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Ayat ini di turunkan mengenai
“Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang mengadu kepada Rasul bahwa
isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai anak dari
orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: ayahku
Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan
bahwa orang yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak
bertaubat, maka mereka termasuk orang dholim.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ
اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ
Dalam ayat ini Allah melarang bahkan
mengharamkan kita berprasangka buruk atau berfikiran negatif terhadap orang
yang secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau kita tidak boleh
menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari
lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.
اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمُ
Allah melarang kita berburuk sangka
terhadap orang lain karena sebagian dari buruk sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena
prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi
di antara dua orang yang baik.
وَلاَتَجَسَّسُوْ
Allah melarang kita mencari-cari
keaiban dan menyelidiki rahasia seseorang, tapi jika kita memata-matai
seseorang atau musuh agar tidak terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
وَلاَيُغَيِّبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Allah melarang mencela orang di
belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang
dibenarkan adalah jika bertujuan untuk :
a. Untuk
mencari keadilan,
b. Untuk
menghilangkan kemungkaran,
c. Untuk
meminta fatwa atau mencari kebenaran,
d. Untuk
mencegah manusia berbuat salah,
e. Untuk
membeberkan orang yang tidak malu-malu melakukan kemaksiatan.
اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ
مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ
Allah melarang kita membicarakan
keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya dengan makan bangkai saudaranya
yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini merupakan penghancuran
pribadi terhadap saudara yang di cela itu.
وَاتَّقُواللهَ اِنَّ الهَ تَوَّابٌ
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita
bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat dengan di sertai penyesalan
dan bertaubat (taubat an-nasukha). Dalam ayat ini Allah juga
memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya,
membuka pintu selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin
bertaubat supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
2.
Surat Ar Ra’d Ayat 11
¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷yt ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts ô`ÏB ÌøBr& «!$# 3 cÎ) ©!$# w çÉitóã $tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçÉitóã $tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sÎ)ur y#ur& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß xsù ¨ttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrß `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ
11. bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.[4]
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah
keadaan [5]yang
ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.
Ayat
ini menerangkan tentang kedhaliman manusia. Dalam ayat ini juga dijelaskan
bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tingkah
laku mereka sendiri. Kedzaliman dalam ayat ini sebagai tanda rusaknya
kemakmuran suatu bangsa.
لَهُ مُعَقِبَاتِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْقِهِ
يَحْفَظُوْ نَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ
Pada tiap manusia baik yang
bersembunyi ataupun yang nampak ada malaikat yang terus menerus bergantian
memelihara dari kemudharatan dan memperhatikan gerak gerik setiap manusia,
sebagaimana berganti-ganti pula malaikat yang lain yang mencatat segala
amalannya, baik maupun buruk. Ada malaikat malam dan ada malaikat siang, satu
berada disebelah kiri yang mencatat segala amal kejahatan dan satu disebelah
kanan yang mencatat segala amal kebajikan, dan dua malaikat bertugas memelihara
dan mengawasi manusia. Adapun malaikat yang dimaksud dalam ayat ini adalah
malaikat Hafadzah.[6]
إِنَّ اللهََ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى
لاَيُغَيِّرُمَا بِأَنْفُسِهِمْ
Allah tidak akan mengubah apa yang
ada pada suatu kaum berupa nikmat dan kesehatan, lalu mencabutnya dari mereka
sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Allah juga
menyuruh kita (umat-Nya) untuk mengubah suatu kedzaliman karena jika kita tidak
merubahnya, maka Allah akan memperluas siksaannya, sedangkan Allah menciptakan
manusia di bumi ini untuk menjadi penguasa (khalifah) yang bertugas memakmurkan
dan memanfaatkan segala isinya dengan baik bukan untuk merusaknya.[7]
وَاِذَا أَرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ
مُرَدَّالَهُ
Kita tidak patut dan tidak boleh
meminta kepada Allah agar keburukan segera didatangkan sebelum kebaikan atau
siksaan sebelum pahala, karena jika Allah telah menghendaki dan menimpakannya
kepada mereka, maka tidak ada seorangpun yang dapat menolak takdir-Nya.
وَمَالَهُمْ مِنْ
دُوْنِهِ مِنْ وَّلٍ
Tidak ada penolong bagi manusia
seorangpun yang dapat mengendalikan urusan mereka, dan tidak ada seorangpun
pula yang mampu mendatangkan kemanfataan atau menolak madharat selain Allah
SWT.
3. Surat Al Anfaal Ayat 53
y7Ï9ºs cr'Î/ ©!$# öNs9 à7t #ZÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçÉitóã $tB öNÍkŦàÿRr'Î/ cr&ur ©!$# ììÏJy ÒOÎ=tæ ÇÎÌÈ
53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah
sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya
kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka
sendiri,[8]
dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[9]
Dalam tafsir al-Mishbah Surat Al
anfal ayat 53
Apa yang dialami oleh orang-orang
kafir itu penyebabnya dijelaskan oleh ayat ini. Demikian kesimpulan hubungan yang
dikemukakan oleh sekian pakar. Al-Biqo’i yang dikenal sebagai mufassir yang
memberi perhatian yang sangat besar tentang hubungan antar ayat dan surah Al
Quran, menghubungkan ayat ini dengan ayat yang lalu, melalui suatu pertanyaan
yang dilukiskan muncul akibat uraian ayat-ayat yang lalu. Yaitu kalau memang
Allah mengetahui bahwa mereka pasti berdosa maka mengapa Allah tidak segera
saja mereka?, mengapa Allah memberi mereka peluang untuk mengganggu orang-orang
yang dekat kepadanya?
Nah, ayat ini menurut Al
Biqa’i menjawab pertanyaan itu yakni bahwa yang demikian yakni siksaan baik
menyangkut waktu, kadar maupun jenisnya ditetapkan Allah berdasarkan perbuatan
mereka mengubah diri mereka. Sebenarnya Allah dapat menyiksa mereka berdasar
pengetahuannya tentang isi hati mereka. Yakni sebelum mereka melahirkannya
dalam bentuk perbuatan yang nyata, tetapi Allah tidak melakukan itu karena
sunnah dan ketetapannya.
Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak
akan mengubah suatu nikmat sedikit atau besar yang telah dianugerahnya kepada
suatu kaum, tidak juga sebaliknya mengubah kesengsaraan yang dialami oleh suatu
kaum menjadi kebahagiaan hingga kaum itu sendiri terlebih dahulu mengubah apa
yang ada pada diri mereka sendiri, yakni untuk memperoleh nikmat tambahan
mereka harus lebih baik, sedangkan perolehan siksaan adalah akibat mengubah
fitrah kesucian mereka menjadi keburukan dan kedurhakaan dan sesungguhnya Allah
Maha mendengar apapun yang disuarakan mahkluk lagi maha mengetahui apapun sikap
dan tingkah laku mereka.
3. Surat
Al-Baqarah Ayat 139
ö@è% $oYtRq_!$ysè?r& Îû «!$# uqèdur $uZ/u öNà6/uur !$oYs9ur $oYè=»yJôãr& öNä3s9ur öNä3è=»yJôãr& ß`øtwUur ¼çms9 tbqÝÁÎ=øèC ÇÊÌÒÈ
139. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami
tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan
Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,
1).
Defenisi Tuhan dalam al-Qur’an sangat jelas, sejelas apa yang difahami oleh
akal dan ditulis di dalam Kitab-Kitab Suci samawi sebelumnya. Maka siapa saja
yang melakukan perenungan yang mendalam tentang hakikat Tuhan niscaya akan
sampai kepada kesimpulan yang sama. Tuhan adalah puncak kesempurnaan segala
kebaikan. Pilihlah salah satu kebaikan atau sifat positif apa saja, pasti juga ada
pada Tuhan, dalam bentuknya yang sempurna. Dan kalau semua kebaikan-kebaikan
atau sifat-sifat positif itu berkumpul di dalam DIRI Tuhan, maka semuanya akan
menyatu tak terpisahkan—seperti berkas-berkas sinar yang kembali ke sumber
cahayanya—lalu membentuk satu terma yang melingkupi semuanya. Dalam Bahasa
Arab—dan juga masih digunakan di dalam Agama Nashrani—terma itu bernama: ALLAH
(artinya: Yang pantas disembah). Dengan demikian, secara definisi, Tuhan tidak
perlu diperdebatkan. Pernyataan Allah di ayat ini sangat kuat: وَهُوَ رَبُّنَا
وَرَبُّكُمْ (wa ɦuwa rabbunā wa rabbu kum, dan Dia adalah Tuhan kami
dan Tuhan kalian). Perhatikanlah betapa Allah sendiri sama sekali tidak
bermaksud mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya. Sehingga,
betapapun seseorang menentang eksistensi-Nya, namun dia sungguh tidak akan bisa
mengeluarkan dirinya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya. Simaklah dialog Nabi Musa dan
Fir’aun di ayat-ayat berikut ini. “Fir’aun bertanya: ‘Siapa Tuhan semesta
alam itu?’ Musa menjawab: ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada
di antara keduanya; (itulah Tuhanmu), jika kalian meyakini-Nya’. Berkata
Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: ‘Apakah kalian tidak mendengarkan?’
Musa berkata (lagi): ‘Tuhan kalian dan Tuhan nenek-nenek moyang kalian yang
dahulu’. Fir’aun berkata: ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kalian
benar-benar orang gila’. Musa meneruskan: ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat
dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kalian mempergunakan
akal’.” (26:23-28)
2).
Kendati tak seorang pun yang kuasa mengeluarkan dirinya dari wilayah
ke-Tuhanan-Nya, namun bukan berarti Tuhan membelenggu mereka di dalam satu
pilihan. Allah memberi manusia pilihan-pilihan. Dan setiap orang diberi
kebebasan untuk menganut pilihannya masing-masing, dengan catatan, juga
masing-masing bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Maka beramallah menurut
keyakinan masing-masing. Saling menghormatilah di dalam pengamalan tersebut
sebagaimana Allah sendiri menghormatinya. Toh setiap orang bertanggungjawab
kelak di hadapan-Nya atas amalan-amalan tersebut. Prinsip ini bukan hanya
berlaku di dalam lintas agama, tetapi juga di antara sekte-sekte atau
mazhab-mazhab di dalam satu agama yang sama. Di sinilah al-Qur’an memperlihatkan
nilai kemuliannya. Betapa tidak, di ayat sebelumnya (138), Allah menekankan
bahwa hanya ada satu صِبْغَةَ (shibghah) yang benar, yaitu
صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah), karena hanya inilah yang
sejalan dengan فِطْرَة (fithrah) manusia. Tetapi di ayat ini (139),
Allah menekankan bahwa kendati hanya ada satu صِبْغَةَ (shibghah)
yang benar, namun tetaplah manusia diperintah untuk saling menghargai. Terhadap
perbedaan keyakinan, Allah menyuruh kita mengatakan: لَنَا أَعْمَالُنَا
وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ(lanā a’māluna wa lakum a’mālukum, bagi kami
amalan kami, bagi kalian amalan kalian). Luar biasa. Kalau semua
pihak—paling tidak di internal umat Islam sendiri—menghayati ayat ini dengan
sebaik-baiknya, yakinlah hidup ini menjadi harmonis, seharmonis kemajemukan bunga-bunga
di dalam taman yang indah. “Maka karena itu serulah (mereka kepada
agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah
mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: ‘Aku beriman kepada semua Kitab
yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara
kalian. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kalian. Bagi kami amal-amal kami dan
bagi kalian amal-amal kalian. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kalian,
Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita akan) kembali’.”
(42:15)
3).
Itulah prinsip toleransi yang benar. Toleransi yang sehat bukanlah berangkat
dari kepercayaan bahwa semua agama dan keyakinan yang berbeda itu sama dan
semuanya benar. Sebaliknya, toleransi yang rasional adalah yang bertolak dari kepercayaan
bahwa hanya ada satu yang benar, yaitu yang kita yakini. Kemudian
bersungguh-sungguh menghormati keyakinan orang atau pihak lain. Dalam
pengertian, memberi ruang yang seluas-luasnya kepada orang atau pihak tersebut
untuk mengelaborasi dan mengejawantahkan keyakinannya. Dengan cara begini kita
bukan berarti membenarkan keyakinannya, tapi mengakui dan menjunjung
tinggi hak mereka untuk berkeyakinan seperti itu—walaupun menurut kita
salah. Toleransi macam ini menumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi dan
menghilangkan anomali-anomali. Toleransi macam inilah yang akan
menumbuhsuburkan argumentasi-argumentasi, dan bukan agitasi-agitasi. Toleransi
harus mendorong semangat manusia untuk terus mencari kebenaran, karena semangat
pencarian kebenaran itulah yang membuat manusia mengembangkan kebudayaan dan
peradabannya dari waktu ke waktu. Toleransi bukanlah permisifme relijius, tapi
toleransi adalah dinamisme sosial. “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir. Aku
tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian (pun) bukanlah
penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa
yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang
aku sembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku’.” (109:1-6)
4).
Setelah berbicara tentang adanya kebenaran tunggal yang disebut صِبْغَةَ اللّهِ
(shibghah Allah), ayat 138 ditutup dengan pernyataan: وَنَحْنُ
لَهُ عَابِدونَ (wa nahnu laɦu ‘ābidŭn, dan hanya kepada-Nya-lah kami
menyembah). Kemudian setelah berbicara mengenai Allah sebagai Tuhan
bersama dan Pusat pertanggungjawaban amal menurut keyakinan masing-masing, ayat
139 ini ditutup dengan pernyataan: وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (wa nahnu
laɦu mukhlishŭn, dan kami ikhlas kepada-Nya). Allah seakan hendak
mengesankan bahwa Tuhan itu bukan sebagai ornamen peribadatan belaka. Tuhan
bukan hanya salah satu variabel dalam beragama. Tuhan tak cukup ditempatkan di
puncak menara-menara untuk kemudian kita seru-seru. Tapi Tuhan harus dituju
dalam peribadatan dan keberagamaan itu. Dituju dalam pengertian “sebagai
sasaran gerak: gerak intelektual, gerak spiritual, dan gerak sosial”. Jika
ketiga gerak ini (intelektual, spiritual, sosial) mencapai Dia, maka ketiganya
pun menyatu dan melebur ke dalam Diri-Nya, sehingga yang ada hanya Dia.
Makanya, seluruh tujuan-tujuan sekunder (apalagi tujuan semu) itu harus
disingkirkan. IKHLASH. “Katakanlah: ‘Tuhanku menyuruh menegakkan keadilan’.
Dan (katakan pula): ‘Luruskanlah wajah (jiwa) kalian di setiap shalat dan
sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agamamu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah
menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali
kepadaNya’.” (7:29)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah kami paparkan uraian makalah
diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa di dalam alqur’an sudah sangat jelas
memberikan gambaran kepada kita bahwa pendidikan dapat merubah kehidupan sosial
masyarakat, pendidikan tersebut harus berawal dari diri manusia itu sendiri
(Surat Al-Anfaal ayat 53).
Perubahan sosial bisa terjadi jika
masyarakat itu terdidik. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menjalani
kehidupan dengan benar dan baik. Melalui pendidikan manusia dapat membentuk
kepribadiannya. Islam menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam
kehidupan umat manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang mengharuskan umat Islam
untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Secara teoritis, Ilmu
pengetahuan yang dimiliki manusia tidak mungkin dimilikinya tanpa melalui
proses pendidikan.
Dengan pendidikan manusia dapat
menata kehidupan secara pribadi, maupun sosialnya. Seperti yang digambarkan
Allah dalam surat Muhammad ayat 38 menerangkan bahwa kita disuruh untuk
menafkahkan hartanya dijalan Allah. Bagi orang yang awwam dan tak
berpendidikan agama maka akan berpendapat bahwa untuk apa kita harus memberikan
sebagian harta kita untuk orang lain, yang harta tersebut adalah hasil dari
usaha kita sendiri. Namun ini sangat berbeda ketika orang tersebut
berpendidikan, pasti ada sisi sifat afektif terhadap sesama yang muncul pada
dirinya,yaitu sifat kasih sayang dan mau berbagi sesama. Dan ketika itu terjadi
dalam masyarakat, dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan di masyarakat itu,
apakah masyarakat itu tidak akan berubah baik secara culture maupun secara
kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
B. Saran
Manusia
adalah homo socialis yang dalam
kehidupannya mutlak membutuhkan peran dari manusia lainnya. Dalam kehidupan
bermasyarakat, agama Islam telah mengaturnya dengan sebaik mungkin. Oleh karena
itu, kita selaku umt Islam, harus benar-benar mengaplikasikan ajaran-ajaran
dari Al-Qur’an, khususnya mengenai kehidupan bermasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Al- Maraghi, Ahmad Mustofa.
Terjemah tafsir al-Maraghi, juz XIII. Semarang:Toha Putra. 1988.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad
Hasbi. Tafsir al-Qur’anul Majid
an-Nur 5 (surat 42-114). Semarang:
PT Pustaka Rizki Putra. 2000.
Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim
Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Surabaya:Yayasan Nurul Islam.1982.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al
Mishbah. Jakarta: Lentera Hati: 2002.
Terjemahan dari Al Quran Word
[1]
Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya
ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu
tubuh.
[2]
Panggilan yang buruk ialah gelar yang
tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang
sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
[3]
Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir
al-Ashhar, Yayasan Nurul Islam, Surabaya, 1982, h. 236.
[4]
Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa
Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat
yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah
Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[5]
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka,
selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
[6]
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul
Majid an-Nur 5 (surat 42-114), PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000, hlm
2074.
[7]Ahmad Mustofa al Maraghi, Terjemah tafsir al-Maraghi,
juz XIII, CV Toha Putra, Semarang, 1988, hlm 135.
[8]
Allah tidak mencabut nikmat
yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan
bersyukur kepada Allah.
[9]
Terjemahan dari Al Quran Word








0 comments:
Post a Comment