MAKALAH TAFSIR TARBAWI
PEMBINAAN AKHLAK BAGI GENERASI MUDA
DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah
/ PBI
Dosen Pengasuh : Drs. Legiman, M. Ag
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
2012
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang
berjudul "PEMBINAAN
AKHLAK BAGI GENERASI MUDA" tepat pada waktunya. Dan tidaklupa
pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang
gelap
gulita ke alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 24 Desember 2012
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................... 2
A.
Pengertian
Generasi Muda dan Pngertian Akhlak....................................... 2
B.
Konsep
Pembinaan Akhlak Generasi Muda................................................ 2
C.
Surat An-Nisa Ayat 9 dan 95...................................................................... 4
C.
Surat At-Tahrim Ayat 6.......................................................................
6
D.
Surat At-Tagabun Ayat 14-15...............................................................
8
E.
Surat Al-A’raf Ayat 199...................................................................... 10
BAB III PENUTUP ................................................................................. 11
A.
Kesimpulan....................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan beragama
salah satu diantara sekian banyak sektor harus mendapatkan perhatian besar bagi
bangsa dibandingkan dengan sektor kehidupan yang lain. Sebab pencapaian
pembangunan bangsa yang bermoral dan beradab sangat ditentukan dari aspek
kehidupan agama, terutama dalam hal pembinaan bagi generasi muda.[1]
Secara harfiah
pembinaan berarti pemeliharaan secara dinamis dan berkesinambungan.[2] Di dalam
konteksnya dengan suatu kehidupan beragama, maka pengertian pembinaan adalah
segala usaha yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran memelihara secara terus
menerus terhadap tatanan nilai agama agar segala perilaku kehidupannya
senantiasa di atas norma-norma yang ada dalam tatanan itu. namun perlu
dipahami bahwa pembinaan tidak hanya berkisar pada usaha untuk mengurangi
serendah-rendahnya tindakan-tindakan negatif yang dilahirkan dari suatu
lingkungan yang bermasalah, melainkan pembinaan harus merupakan terapi bagi
masyarakat untuk mengurangi perilaku buruk dan tidak baik dan juga sekaligus
bisa mengambil manfaat dari potensi masyarakat, khususnya generasi muda. Oleh
karena itu, makalah ini mencoba menjelaskan pembinaan akhlak pada generasi
muda.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Generasi Muda dan Pengertian Akhlak
2. Konsep Pembinaan Akhlak Pada Generasi Muda
3. Tafsir Surat An-Nisa Ayat 9 & 95
4. Tafsir Surat At-Tahrim Ayat 6
5. Tafsir Surat At-Tagabun Ayat 14-15
6. Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 199
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Generasi Muda dan Pengertian Akhlak
Melihat kata
"Generasi muda" yang terdiri dari dua kata yang majemuk, kata yang
kedua adalah sifat atau keadaan kelompok individu itu masih berusia muda dalam
kelompok usia muda yang diwarisi cita-cita dan dibebani hak dan kewajiban,
sejak dini telah diwarnai oleh kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan
politik. Maka dalam keadaan seperti ini generasi muda dari suatu bangsa
merupakan "Young Citizen".
Pengertian
generasi muda erat hubungannya dengan arti generasi muda sebagai generasi
penerus. Yang dimaksud "Generasi Muda" secara pasti tidak terdapat
satu definisi yang dianggap paling tepat akan tetapi banyak pandangan yang
mengartikannya tergantung dari sudut mana masyarakat melihatnya. Namun dalam
rangka untuk pelaksanaan suatu program pembinaan bahwa "Generasi Muda"
ialah bagian suatu generasi yang berusia 0 – 30 tahun.
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab al-akhlaq yang
merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku, atau tabiat. Secara terminologis, Ibnu Maskawaih
mendefinisikan akhlak sebagai keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah
melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Sedang menurut
al-Ghazali akhlak adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa yang
memungkinkan seseorang melakukan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan seketika.
B. Konsep Pembinaan Akhlak Generasi Muda
Membangun kesadaran
bagi generasi bukanlah hal yang gampang untuk tercapai secara maksimal, tetapi
dalam pembinaan kesadaran yang menjadi hal pokok untuk dibangun. Kesadaran
hendaknya disertai niat untuk mengintensifkan pemilikan nilai-nilai dari pada
yang sudah dimiliki, sebab dengan cara tersebut akan mampu mewujudkan
pemeliharaan yang dinamis dan berkesinambungan.[3]
Dalam hal ini pembinaan
dimaksudkan adalah pembinaan keagamaan (akhlak) yang mempunyai sasaran pada
generasi muda, maka tentu aspek yang ingin dicapai dalam hal ini adalah sasaran
kejiwaan setiap individu, sehingga boleh dikatakan bahwa pencapaiannya adalah
memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Keunikan dimaksudkan tidak karena ditentukan
prototipitas tema pembahasannya, melainkan disebabkan karena sasaran yang
diambil merupakan suatu pengelompokkan demografis yang gencar-gencarnya
mengalami perubahan dan perkembangan psikologi kejiwaan anak.[4]
Dalam masa ini jatidiri
dan sikap arogan masih sangat kuat untuk diperpegangi bagi generasi muda,
sehingga memerlukan kehati-hatian yang ekstra ketat. Sehingga mampu menanamkan
nilai-nilai dan konsep pembinaan, khususnya dalam hal pembinaan akhlak melalui
ajaran tasawuf dalam merubah perilaku generasi muda dalam kehidupan
sehari-hari.[5]
Dalam perkembangan
psikologi remaja dikatakan bahwa perkembangan psikologi remaja sedikit
mempunyai pengaruh terhadap cara-cara penanaman dan pemahaman nilai akhlak. Hal
ini diungkapkan oleh ahli psikologi remaja bahwa pada satu pihak remaja tidak
begitu saja mampu menerima konsep-konsep, nilai-nilai suatu ajaran, apalagi
ajaran yang membatasi diri seseorang, tetapi terkadang dipertentangkan
dengan citra diri dan struktur kognitif yang dimilikinya.[6]
Pembinaan yang bercorak
keagamaan atau keislaman akan selalu bertumpu pada dua aspek, yaitu aspek
spiritualnya dan aspek materialnya. Aspek spiritual ditekankan pada pembentukan
kondisi batiniah yang mampu mewujudkan suatu ketentraman dan kedamaian di
dalamnya.[7] Dan dari sinilah memunculkan kesadaran untuk
mencari nilai-nilai yang mulia dan bermartabat yang harus dimilikinya sebagai
bekal hidup dan harus mampu dilakukan dan dikembangkan dalam kehidupan
sehari-harinya saat ini untuk menyongsong kehidupan kelak, kesadaran diri dari
seorang remaja sangat dibutuhkan untuk mampu menangkap dan menerima
nilai-nilai spiritual tersebut, tanpa adanya paksaan dan intervensi dari luar
dirinya.
Sedangkan pada
pencapaian aspek materialnya ditekankan pada kegiatan kongkrit yaitu berupa
pengarah diri melalui kegiatan yang bermanfaat, seperti organisasi,
olahraga, sanggar seni dan lain-lainnya. Kegiatan-kegiatan yang bermanfaat
dimaksudkan agar mampu berjiwa besar dalam membangun diri dari dalam batinnya,
sehingga dengan kegiatan tersebut, maka tentu dia akan mampu memiliki semangat
dan kepekatan yang tinggi dalam kehidupannya.[8]
Penanaman semangat
kepahlawanan memberikan nilai positif bagi generasi muda, sebab tentu
akan membangun semangat dan menumbuhkan jiwa kepahlawanan, baik terhadap
negara, agama maupun bangsa.[9]Membangun
jiwa kepahlawanan ke dalam diri generasi muda adalah salah satu unsur
dalam melakukan pembinaan, dan pembinaan dapat terarah dan
konstruktif. Sehingga perlu suatu kesadaran moral bahwa generasi muda
adalah yang selalu mengambil peran dalam setiap langkah yang bermanfaat
bagi bangsa dan agama, pada dasarnya mereka akan mengambil peranan
dan terpanggil untuk berbakti sebagai suatu tuntutan,[10] baik tuntutan itu datang sebagai generasi
bangsa maupun sebagai generasi agama.
C.
Surat An-Nisa
Ayat 9 dan 95
Surat An-Nisa
Ayat 9
|·÷uø9ur úïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpÍhè $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøn=tæ (#qà)Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´Ïy ÇÒÈ
9. dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang
yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang
benar.(Q. S An-Nisa: 9)
Tafsirnya
Allah
memperingatkan kepada orang-orang yang telah mendekati akhir hayatnya supaya
mereka memikirkan, janganlah meninggalkan anak-anak atau keluarga yang lemah
terutama tentang kesejahteraan hidup mereka di kemudian hari. Untuk itu selalulah
bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selalulah berkata lemah lembut
terutama kepada anak yatim yang menjadi tanggung jawab mereka. Perlakukanlah
mereka seperti memperlakukan anak kandung sendiri.[11]
Maksudnya,
anak-anak yang masih kecil-kecil (mereka khawatir terhadap nasib mereka) akan
terlantar (maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah) mengenai urusan
anak-anak yatim itu dan hendaklah mereka lakukan terhadap anak-anak yatim itu
apa yang mereka ingini dilakukan orang terhadap anak-anak mereka sepeninggal
mereka nanti (dan hendaklah mereka ucapkan) kepada orang yang hendak meninggal
(perkataan yang benar) misalnya menyuruhnya bersedekah kurang dari sepertiga
dan memberikan selebihnya untuk para ahli waris hingga tidak membiarkan mereka
dalam keadaan sengsara dan menderita.[12]
Surat
An-Nisa Ayat 95
w ÈqtGó¡o tbrßÏè»s)ø9$# z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# çöxî Í<'ré& ÍuØ9$# tbrßÎg»yfçRùQ$#ur Îû È@Î6y «!$# óOÎgÏ9ºuqøBr'Î/ öNÍkŦàÿRr&ur 4
@Òsù ª!$# tûïÏÎg»yfçRùQ$# óOÎgÏ9ºuqøBr'Î/ öNÍkŦàÿRr&ur n?tã tûïÏÏè»s)ø9$# Zpy_uy 4
yxä.ur ytãur ª!$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4
@Òsùur ª!$# tûïÏÎg»yfßJø9$# n?tã tûïÏÏè»s)ø9$# #·ô_r& $VJÏàtã ÇÒÎÈ
95. tidaklah sama antara mukmin yang duduk
(yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang
berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan
orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[13]
satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik
(surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[14]
dengan pahala yang besar.(Q. S An-Nisa: 95)
Tafsirnya
Diriwayatkan, bahwa ayat ini
diturunkan berhubungan dengan beberapa orang yang tidak mau turut berperang
bersama Rasulullah saw pada peperangan Badar. Mereka itu adalah Ka'ab Ibnu
Malik dari Bani Salamah, Mararah Ibnur Rabi' dari Bani `Amr bin 'Auf, dan Ar
Rabi serta Hilal ibnu Umayyah dari Bani Waqif. Sudah jelas, bahwa orang-orang
mukmin yang berjuang untuk membela agama Allah dengan penuh keimanan dan
keikhlasan tidaklah sama derajatnya dengan orang-orang yang enggan berbuat
demikian. Akan tetapi ayat ml mengemukakan hal tersebut adalah untuk menekankan
bahwa perbedaan derajat antara kedua golongan itu adalah sedemikian besarnya.
sehingga orang-orang yang berjihad itu pada derajat yang amal tinggi.
Apabila orang-orang yang tidak berjihad itu
menyadari kerugian mereka dalam hal ini, maka mereka akan tergugah hatinya dan
berusaha untuk mencapai derajat yang tinggi itu, dengan turut serta berjihad
bersama-sama kaum mukminin lainnya. Untuk itulah ayat ini mengemukakan
perbedaan antara kedua golongan itu. Dengan demikian maksud yang terkandung
dalam ayat ini sama dengan maksud yang dikandung dalam firman Allah pada ayat
lain yang menerangkan perbedaan derajat antara orang-orang mukmin yang berilmu
pengetahuan dun orang- orang yang tidak berilmu.
D.
Surat
At-Tahrim Ayat 6
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(Q. S. At-Tahrim: 6)
Asbabun Nuzulnya
Ibnu katsir setelah menulis ayat At-Tahrim
beliau juga menukil pendapat yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat tersebut
adalah Nabi mengharamkan atas dirinya Maria Al-Qibtiah[15] tapi
kemudian beliau menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat
tersebut adalah Nabi mengharamkan atas dirinya madu.Kemudian Syaikh Utsaimin
menguatkan pendapat yang mengatakan sebab turunnya ayat ini adalah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan atas dirinya madu.[16]
Tafsinya
Mengenai firman Allah subhanahu wa
ta’ala, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid
(Sufyan As-Sauri mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari
Mujahid, hal itu sudah cukup bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah
dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan
Qatadah mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat
kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau
menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk
menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat
mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian itu pula yang dikemukakan
oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap
muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya,
berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka
dan apa yang dilarang-Nya.”
Dalam ayat ini firman Allah
ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan
bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan
perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada
perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.
Di antara cara menyelamatkan diri
dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman
Allah SWT. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan
bersabarlah kamu mengerjakannya (Q.S Taha: 132).
dan dijelaskan pula dengan firman-Nya: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S Asy Syu’ara’: 214).
dan dijelaskan pula dengan firman-Nya: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S Asy Syu’ara’: 214).
E.
Surat
At-Tagabun Ayat 14-15
$pkr'¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä cÎ) ô`ÏB öNä3Å_ºurør& öNà2Ï»s9÷rr&ur #xrßtã öNà6©9 öNèdrâx÷n$$sù 4
bÎ)ur (#qàÿ÷ès? (#qßsxÿóÁs?ur (#rãÏÿøós?ur cÎ*sù ©!$# Öqàÿxî íOÏm§ ÇÊÍÈ !$yJ¯RÎ) öNä3ä9ºuqøBr& ö/ä.ß»s9÷rr&ur ×puZ÷GÏù 4
ª!$#ur ÿ¼çnyYÏã íô_r& ÒOÏàtã ÇÊÎÈ
14. Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di
antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[17]Maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi
serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu
hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.(Q. S
At-Tagabun: 14-15)
Asbabun Nuzulnya
Dalam suatu riwayat
dikemukakan bahwa ayat :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ......
turun berkenaan dengan beberapa orang penduduk mekah
yang masuk islam, akan tetapi istri dan ank-anaknya menolak hijrah ataupun
ditinggal hijrah ke Madinah. Lama kelamaan mereka pun hijrah juga. Sesampainya
di Madinah, mereka melihat kawan-kawannya telah banyak mendapat pelajaran dari
nabi Saw. Karenanya mereka bermaksud menyiksa istri dan anak-anaknya yang
menjadi penghalang unutk berhijrah.[18] Maka turunlah ayat
selanjutnya :
....وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Dalam riwayat lain, ayat di atas
turun berkenaan dengan ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i yang mempunyai anak istri yang
selalu menangisinya apbila akan pergi berperang , bahkan menghjalanginya dengan berkata : “Kepada siapa engkau akan menitipkan
kami?” ia pun merasa kasihan kepada mereka hingga tidak jadi berangkat perang.[19]
Ayat di atas berbicara
tentang kehidupan suatu keluarga, di mana pada keluarga tersebut kadang-kadang
ada istri yang menjadi musuh bagi keluarga tersebut dan bahkan dari anak-anak
mereka pun kadang kala ada yang menjadi musuh baginya. Benar-benar disengaja
atau tidak kadang-kadang ada dari mereka yang menjadi musuh, sekurang-kurangnya
menjadi musuh yang akan menghambat cita-cita. Sebab itu di suruhlah orang yang
beriman berhati-hati terhadap istri dan anak-anaknya, jangan sampai mereka itu
mepengaruhi iman dan keyakinan. Tetapi jangan langsung mengambil sikap keras
terhadap mereka. Bimbinglah mereka baik-baik. “: dan jika
kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya
Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (ujung ayat 14).
Tafsirnya
a.
Di pangkal ayat diterangkan dengan memakai
min (من) , yang berarti “daripada”, artinya setengah daripada,
tegasnya bukanlah semua istri atau semua anak menjadi musuh hanya kadang-kadang
atau pernah ada. Hasil dari sikap mereka telah merupakan suatu musuh yang
cita-cita seorang mu’min sebagai suami atau sebagai ayah.[20]
b.
Kata عَدُوًّا berarti يعادونكم و يشغلونكم عن الخير yaitu memalingkan dan menyibukkan kita sehingga jauh dari kebaikan.[21] Sebagian pasangan dan
anak merupakan musuh dapat dipahami dalam arti musuh yang sebenarnya,
yang menaruh kebencian dan ingin memisahkan diri dari ikatan perkawinan. Ini
bisa saja terjadi kapan dan di mana pun. Dan bisa juga permusuhan dimaksud
dalam pengertian majazi, yakni bagaikan musuh. Ini karena dampak dari tuntunan
dari mereka yang menjerumuskan pasangannya dalam kesulitan bahkan bahaya,
layaknya perlakuan musuh terhadap musuhnya.[22]
Secara korelatif tentang fitnah
harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir
menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan
kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat
fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan
dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan
barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya,
Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi
seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap
mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka)
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)
F.
Surat Al-A’raf
Ayat 199
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚÌôãr&ur Ç`tã úüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ
199. jadilah
Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh.(Q. S Al-A’raf: 199)
Tafsirnya
Menurut Fahruddin Muhammad Al-Razy
ayat ini mengandung makna yang tinggi tentang makarimal akhlak karena di dalamnya
terdapat ajaran tentang meninggalkan sikap yang memberatkan baik yang bersifat
maliyah maupun sikap yang baik antar sesama manusia. Al-Razy mengutip pendapat
Ja’far Shodiq, “Tidak ada ayat al-Qur’an tentang makarimal akhlak yang lebih
luas dari ayat ini”. Dengan demikian dapat digambarkan bahwa ayat ini termasuk
ayat yang mengkhususkan mengejarkan umat islam tentang nilai-nilai akhlak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suatu pembinaan adalah
untuk konstruksi pembinaan itu sendiri yang utuh dan hakiki, sehingga dalam
pembinaan harus mengambil suatu bentuk bagaimana seharusnya konstruksi itu
dibangun dari dalam diri, sehingga mampu menghasilkan tindakan-tindakan islami
yang praktis dalam melakukan kegiatan, baik di sekolah maupun di luar
lingkungan sekolah.
Penciptaan moralitas
Islam ini adalah merupakan suatu hal yang amat penting untuk memantapkan
kehidupan keberagaman mereka, mereka akan menjadi mantap apabila sudah mengetahui
secara benar nilai-nilai Islami, termasuk di dalamnya nilai-nilai kesufian yang
tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai yang sudah di pahami sebelumnya.[23] Demikian pula dengan manfaat-manfaat dari
kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Bahkan secara tidak langsung mereka akan
memahami fungsi-fungsi keagamaan yang mereka lakukan dalam kehidupan
sehari-hari.
Pembentukan moralitas
Islam pada setiap generasi muda Islam, harus ditempatkan pada nomor urut
teratas dan menjadi skala prioritas suatu pembinaan. Hal ini didasarkan pada
suatu asumsi bahwa di tangan pemudalah tanggung jawab perwujudan realitas
Islam. yang dimaksud realitas Islam adalah kegiatan-kegiatan yang mesti dan
seharusnya dilakukan generasi secara konstruktif dan berkesinambungan dalam
membangun jati diri dan perilaku yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa
Psikologi Islam. Cet, I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Abuddin Nata, Manajemen
Pendidikan. Cet, I; Jakarta : Prameda Media, 2003.
Ahmadi, Idiologi
Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir
Ad-Dimasyqy, Tafsir Ibnu Katsir. Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 2004.
Andi Mappiare, Psikologi
Remaja, (Surabaya : Usaha Nasional, 1984), h. 68.
Departemen
Agama, Tafsir Indonesia
Departemen
Pendidikan dan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta
: Jakarta Press, 1995.
Fathul
Qadir, M. Ibn Ali Asy-Syauqani , Juz 7.
Imam
Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Syuyuti, Tafsir Jalalain. Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 2005.
K.H.Q.
Shaleh Dan H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Cet. 10, Edisi Ii, Tahun
2004, Hal. 579
Netty Hartaty,
M.Si. (et.al.) Islam dan Psikologi.Cet. I, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada 2004
Prof
Hamka, Tafsir Al-Azhar. Cet Pertama,
Juz 28, 29, 30, Tahun 1985.
Shihab,
Quraish. Tafsir Al Misbah. Cet I, Jilid, 14 , Tahun 2003, Lentera Hati,
Hal. 279
Syaikh
Utsaimin, Asy-Syarh Al-Mumti’ ala Zad Al Mustaqni’ .
juz.13 hal.217.
Zakiah
Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental .Cet, IV; Jakarta PT.
Bulan Bintang, 1982.
[1]
Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental , (Cet, IV;
Jakarta PT. Bulan Bintang, 1982), h. 12.
[2]
Departemen Pendidikan dan Nasional. Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta : Jakarta Press, 1995), h. 504.
[3]
Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam (Cet, I; Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2001), h. 199.
[4]
Zakiah Daradjat, op.,cit,. h. 44.
[5]
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Cet, I; Jakarta : Prameda
Media, 2003), h. 218.
[8] Netty Hartaty,
M.Si. (et.al.) Islam dan Psikologi, (Cet. I, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada 2004), h. 441.
[12] Imam Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin
As-Syuyuti, Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005).
[13] Maksudnya: yang tidak berperang karena uzur.
[14] Maksudnya: yang tidak berperang tanpa alasan. sebagian ahli tafsir
mengartikan qaa'idiin di sini sama dengan arti qaa'idiin Maksudnya: yang tidak
berperang karena uzur..
[15] Al-Imam Abul
Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasyqy, Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004)
juz.8 hal.158
[17] Maksudnya:
kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau Ayahnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.
[18] K.H.Q. Shaleh
Dan H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Cet. 10, Edisi Ii, Tahun
2004, Hal. 579
[22] Tafsir Al Misbah, Quraish
Shihab, Cet I, Jilid, 14 , Tahun 2003, Lentera Hati, Hal. 279
[23]Zakiah Daradjat, op.,cit, h. 113.








0 comments:
Post a Comment