MAKALAH TAFSIR TARBAWI
AYAT-AYAT TENTANG IBADAH
DI
S
U
S
U
N
OLEH
NURUL
HIDAYANI
(141100649)
JURUSAN
: TARBIYAH
PRODI
: PBI
SEMESTER
/ UNIT : III (TIGA)/ 1
DOSEN
PENGASUH : Drs. Legiman, MA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
T.A. 2012-2013
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "AYAT-AYAT TENTANG IBADAH" tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan
kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap
gulita ke alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam
pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 21 Desember 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat [2] : 21...................................................
2
B.
Tafsir Surat Ar-Rum Ayat [30] : 30......................................................
3
C.
Tafsir Surat Luqman Ayat [31] : 31, 23 & 24 ........................................
4
BAB III PENUTUP............................................................................................... 9
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 9
B.
Saran............................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ibadah adalah tindakan untuk
mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah
ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju
kepada tuhan (Allah) saja. Manusia diciptakan oleh tuhan dan hanya
berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang pencipta yang
menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara, menjaga dan
mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia, oleh karena
itu hanya kepada Dia manusia menyembah
Terkait dengan masalah ibadah,
terdapat beberapa golongan hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang
hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda
dalam memahami apa hakikat dari ibadah. Diantaranya ada golongan yang
berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat dan ketertundukan seorang hamba
kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud kepada-Nya. Akan tetapi mereka
kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu yang terkait dengan ibadah
sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam sitiap situasi. Ada pula yang
berpendapat bahwa dalam ibadah yang menjadi titik tekan adalah bagaimana
seorang hamba bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan sesuatu, dan sesuatu
tersebut bernilai ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi mereka acapkali
menyepelekan ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa dan lain-lain.
Kemudian golongan yang terakhir
adalah golongan yang dapat menserasikan antara golongan yang pertama dan kedua,
mereka dapat mensinergikan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru
mahdhoh.Akhir-akhir ini marak para kaum yang mengkaji masalah tersebut dan
memunculkan kesimpulan yang aneh ke dalam telingga kita, kemudian bagaimana
sikap kita sebagai seorang terpelajar menyikapinya? Oleh karena itu, Makalah
ini akan membahas tafsir ayat-ayat ibadah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Tafsir Surat
Al-Baqarah Ayat [2] : 21
2.
Tafsir Surat
Ar-Rum Ayat [30] : 30
3.
Tafsir Surat
Luqman Ayat [31] : 31, 23 & 24
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Surat
Al-Baqarah [2] : 21
$pkr'¯»t â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇËÊÈ
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang
telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Tafsirnya
Hai manusia
|
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
|
sembahlah Tuhanmu
|
اعْبُدُوا
رَبَّكُمُ
|
yang telah menciptakanmu
|
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
|
dan orang-orang yang sebelummu
|
خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
|
agar kamu bertakwa
|
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
|
Tafsirnya
Ayat
ini adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah Allah ta'ala.
Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik manusia terdahulu
ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat
ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah
saja, melainkan ibdah dalam arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat
dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribdah
kepadaNya saja.
Dalam ayat
ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Alloh adalah
Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari
ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang
diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan
menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam,
berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta
manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah menciptakan langit sebagai sebuah atap
bangunan yang telah Dia letakan padanya matahari, bulan dan bintang.
Syaikh
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyatakan bahwa perintah dalam ayat ini
bersifat umum untuk seluruh manusia. Sifat perintahnya sendiri umum yaitu untuk
beribadah dengan segala bentuk ibadah, yaitu melaksanakan semua yang
diperintahkanNya dan menjauhi yang dilarangNya serta membenarkan
kabar-kabarnya. Hal ini sebagaimana perintah Alloh ta'ala dalam QS Adz-Dzariyat
: 56. Allah ta'ala berfirman :
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ
إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzaariyat : 56.[1]
Ayat ini
menegaskan tentang tujuan diciptakannya jin dan manusia di muka bumi ini, yaitu
untuk beribadah kepadaNya. Makna ibdah dalam pengertian yang komprehensif
disebutkan oleh Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyebutkan :
العبادة هى اسم جامع لكل ما يحبه الله
ويرضاه من الأقوال والاعمال الباطنة والظاهرة
Ibadah
adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Alloh dan
yang diridhaiNya berupa perkataan atau perbuatan baik yang berupa amalan batin
ataupun yang dhahir (nyata).[2]
B. Surat Ar-Rum [30] : 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4
|NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4
w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4
Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus
kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,[3]
Tafsir Ayat
C. Surat Luqman [31] : 13, 23 dan 24
1. Surat Luqman Ayat 13
øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ (
cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Asbabun Nuzul
Ketika ayat ke-82 dari
surat Al-An’am diturunkan, para sahabat merasa keberatan. Maka mereka datang
menghadap Rasulullah SAW,seraya berkata “ Wahai Rasulullah, siapakah diantara
kami yang dapat membersihkan keimanannya dari perbuatan zalim ?”.Jawab beliau “
Bukan begitu,bukanlah kamu telah mendengarkan wasiat Lukman Hakim kepada
anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. ( HR.Bukhori dari
Abdillah)[4]
Tafsirnya
Allah
Swt. berfirman: Wa idz qâla luqmân li [i]bnih wahuwa ya’izhuh (Ingatlah
ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran
kepadanya).
Para
ulama berbeda pendapat mengenai siapa Luqman yang dimaksud dalam ayat ini. Sebagian mufassir menyatakan, ia adalah cicit Azar (bapak Nabi Ibrahim as).
Sebagian lagi berpendapat, ia adalah keponakan Ayyub dari saudara perempuannya.
Yang lainnya menyebutkan, ia adalah sepupu Ayyub dari bibinya.[5] Adapun
menurut Ibnu Katsir, ia adalah Luqman bin Anqa bin Sadun.[6] Para
mufassir juga berbeda pendapat tentang asal-usul, tempat tinggal, dan
pekerjaannya.
Tidak bisa dipastikan
pendapat mana yang paling benar. Sebab, al-Quran tidak merinci siapa sesungguhnya
Luqman yang dimaksud. Sebagai kitab yang berfungsi menjadi hudâ wa maw’izhah
(petunjuk dan pelajaran) bagi manusia, penjelasan tentang hal itu tidak
terlampau penting. Yang lebih penting justru pelajaran apa yang dapat
dipetik dari kejadian itu.
Di dalam al-Quran
banyak kisah yang hanya diceritakan peristiwanya, tanpa dirinci waktu, tempat
terjadinya, kronologi dan pelakunya; layaknya buku sejarah. Demikian pula
dengan kisah Luqman dalam ayat ini. Al-Quran hanya memberitakan bahwa dia
termasuk orang yang mendapat limpahan al-hikmah dari-Nya. Allah
Swt. berfirman:
]وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ ِللهِ[
Sesungguhnya telah Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu,
"Bersyukurlah kepada Allah." (QS Luqman [31]: 12).
Secara bahasa al-hikmah
berarti ketepatan dalam ucapan dan amal.[7] Menurut ar-Raghib, al-hikmah berarti
mengetahui perkara-perkara yang ada dan mengerjakan hal-hal yang baik.[8] Menurut Mujahid, al-hikmah
adalah pemahaman, akal, dan kebenaran dalam ucapan selain kenabian.[9] Hikmah
dari Allah Swt. bisa berarti benar dalam keyakinan dan pandai dalam dîn
dan akal.[10]
Pendapat agak berbeda
dikemukakan Ikrimah, as-Sudi, dan asy-Sya'bi. Mereka menafsirkan al-hikmah
sebagai kenabian. Karena itu, menurut mereka, Luqman adalah seorang nabi.[11] Pendapat ini berbeda dengan jumhur ulama yang
berpandangan bahwa dia seorang hamba yang salih, bukan nabi.[12]
Kendati
bukan nabi, Luqman juga menempati derajat paling tinggi. Sebab, manusia yang
derajatnya paling tinggi adalah orang yang kâmil fî nafsih wa
mukmil li ghayrih, yakni orang yang dirinya telah sempurna sekaligus
berusaha menyempurnakan orang lain. Kesempurnaan Luqman ditunjukkan dalam ayat
sebelumnya, bahwa dia termasuk hamba Allah Swt. yang mendapat hikmah dari-Nya.
Adapun upayanya untuk membuat orang lain menjadi sempurna terlihat pada
nasihat-nasihat yang disampaikan kepada putranya.[13]
Dalam
ayat itu disebutkan wa huwa ya‘izhuh. Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh
atau al-‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus
yang bisa melunakkan hati.[14] Karena itu, dalam mendidik
anaknya, Luqman menempuh cara yang amat baik, yang bisa meluluhkan hati anaknya
sehingga mau mengikuti nasihat-nasihat yang diberikan.
“Yâ
bunayya lâ tusyrik billâh (Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan
Allah). Luqman memanggil putranya menggunakan redaksi tasghîr: ya bunayya.
Hal itu bukan untuk mengecilkan atau merendahkan, namun untuk menunjukan
rasa cinta dan kasih sayang kepada anaknya.[15] Dengan
panggilan seperti itu, diharapkan nasihat yang disampaikan lebih mudah
diterima.
Nasihat
pertama yang disampaikan kepada putranya itu adalah la tusyrik billâh (jangan
mempersekutukan Allah). Mempersekutukan Allah adalah mengangkat selain Allah
Swt. sebagai tandingan yang disetarakan atau disejajarkan dengan-Nya. Ketika
Rasulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabatnya, Wail bin Abdullah ra.,
mengenai dosa apa yang paling besar, beliau menjawab:
«الشِّرْكُ أَنْ تَجْعَلَ ِللهِ
نِدًّا»
Syirik, yakni kamu menjadikan tandingan bagi Allah (HR an-Nasa'i).
Larangan syirik ini berlaku abadi. Bahkan tidak seorang rasul pun yang diutus
Allah Swt. kecuali menyampaikan larangan tersebut. (Lihat: QS az-Zumar [39]:
65).
“Inna
asy-syirk la zhulm ‘azhîm (Sesungguhnya mempersekutukan Allah
adalah benar-benar kezaliman yang besar). Dalam nasihatnya, Luqman tidak saja
melarang syirik, namun juga menjelaskan alasan dilarangnya perbuatan tersebut.[16]
Secara
bahasa azh-zhulm (kezaliman) berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.[17] Syirik
disebut azh-zhulm karena menempatkan Pencipta setara dengan ciptaan-Nya,
menyejajarkan Zat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak disembah,[18] atau
melakukan penyembahan kepada makhluk yang tidak berhak disembah.[19] Banyak
ayat al-Quran yang menyebut perbuatan syirik sebagai azh-zhulm (Lihat,
misalnya: QS al-An‘am [6]: 82).
Selain
kezaliman besar, dalam ayat lain, syirik juga disebut sebagai kesesatan yang
nyata (QS. Saba’ [34]: 24) dan amat jauh (QS. an-Nisa' [4]: 116). Karena itu,
wajar jika syirik dinilai sebagai dosa terbesar dan tidak ada dosa yang
melebihinya. Jika dosa-dosa lain, manusia masih bisa berharap mendapat ampunan
dari Allah Swt., tidak demikian dengan syirik. Siapa pun yang telah melakukan
perbuatan syirik, dan tidak bertobat, lalu meninggal dalam kesyirikan, maka
tidak akan diampuni Allah Swt. (QS an-Nisa' [4]: 48, 116). Lebih dari itu,
syirik akan menyebabkan terhapusnya semua amal yang dikerjakan manusia (QS
az-Zumar [39]: 65). Pelakunya diharamkan masuk surga (QS al-Maidah [5]: 72),
sebaiknya ia kekal di dalam neraka (QS al-Bayyinah [98]: 6). Oleh karenanya,
syirik menyebabkan penyesalan yang tak terbayarkan bagi pelakunya (QS al-Kahfi
[18]: 42).
2. Sarat Luqman Ayat 23 & 24
`tBur txÿx. xsù Râøts ÿ¼çnãøÿä. 4
$uZøs9Î) öNßgãèÅ_ötB Nßgã¥Îm7t^ãZsù $yJÎ/ (#þqè=ÏHxå 4
¨bÎ) ©!$# 7LìÎ=tæ ÏN#xÎ/ ÍrßÁ9$# ÇËÌÈ öNßgãèÏnFyJçR WxÎ=s% §NèO öNèdsÜôÒtR 4n<Î) >U#xtã 7áÎ=xî ÇËÍÈ
23. dan Barangsiapa kafir Maka kekafirannya
itu janganlah menyedihkanmu. hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami
beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui segala isi hati.
24. Kami biarkan mereka bersenang-senang
sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.
Tafsirnya
Bahwasanya hikmah dari Allah ciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya. Sedangkan pengertian ibadah adalah ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh rasa cinta, pengagungan dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dengan cara sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla ajarkan dalam syari’at yang dibawa oleh utusanNya. Maka hikmah/tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan barangsiapa yang durhaka terhadap Robbnya dan enggan dari beribadah kepada Robbnya maka sesungguhnya dia telah melanggar/keluar dari tujuan penciptaannya yang Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mereka untuk tujuan beribadah kepadaNya.
Bahwasanya hikmah dari Allah ciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya. Sedangkan pengertian ibadah adalah ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh rasa cinta, pengagungan dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dengan cara sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla ajarkan dalam syari’at yang dibawa oleh utusanNya. Maka hikmah/tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan barangsiapa yang durhaka terhadap Robbnya dan enggan dari beribadah kepada Robbnya maka sesungguhnya dia telah melanggar/keluar dari tujuan penciptaannya yang Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mereka untuk tujuan beribadah kepadaNya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ayat-ayat
di atas adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah Allah
ta'ala. Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik manusia
terdahulu ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah
dalam ayat ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti
ibadah mahdhah saja, melainkan ibdah dalam arti luas. Ayat ini memiliki
korelasi yang kuat dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu
untuk beribdah kepadaNya saja.
Dalam ayat
ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Alloh adalah
Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari
ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang
diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan
menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam,
berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta
manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah menciptakan langit sebagai sebuah atap
bangunan yang telah Dia letakan padanya matahari, bulan dan bintang.
B. Saran
Agar pesertadidik dapat
menerapkan ajaran yang terdapat pada surat al-luqman dalam kehidupan
sehari-hari, baik itu kepada Allah SWT, kedua orang tua, serta kepada
manusia-manusia yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
A.Mudjab Mahali, 2002, Asbabun
Nuzul : studi pendalaman Al-quran surat Al-Baqarah Annas, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, h. : 660.
Aal-Baghawi, Ma’âlim
at-Tanzîl, III/421, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
Aath-Thabari, Jâmi’
al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, xi/208, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut.
1992.
Abd al-Haqq
al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, IV/347,
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, IV/41,
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
Abu al-Hasan
al-Naysaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, III/442, Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994; Abu ‘Ali al-Fadhl, Majma’ al-Bayân fî
Tafsîr al-Qur’ân, III/491, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994.
Al-Khazin, Lubâb
al-Ta’wîl fi Ma’âni at-Tanzîl, III/398, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut.
1995
Al-Khazin, Lubâb
at-Ta’wîl, III/398.
Ash-Shabuni, Shafwat
at-Tafâsîr, II/451.
Burhan al-Din
al-Baqa’i, Nazhm ad-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa as-Suwar, VI/13, Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995.
Fakhr ad-Din
al-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, XIII/128, Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1990.
Ibnu Katsir, Tafsir
al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/ 1445; AbuThayyib al-Qinuji, Fath
al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, X/281, Idarat Ihya’ al-Turats al-Islami,
Qathar. 1989
Ibnu Katsir, Tafsîr
al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/1446, Dar al-Fikr, Beirut. 2000.
Mahmud Hijazi, at-Tafsîr
al-Wâdhîh, III/47, an-Nashir, 1992.
Shihab al-Din al-Alusi,
Rûh al-Ma’ânî, XI/82, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993
Shihab al-Din al-Alusi,
Rûh al-Ma’ânî, xi/84; Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143.
Tafsir Al-Maragi,Ahmad Mustafa Al Maragi,1993,semarang:CV Toha putra,halm
152-154.
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003,halm : 121
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003,halm : 121
Taisir
Karim Ar-Rohman Fi Tafsir Kalam Al-Manan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir
AsSa'di.
Wahbah
az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143, Dar al-Fikr, Beirut. 1991.
ar-Raghib al-AshfahaniMu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 564, Dar
al-Fikr, Beirut., tt.
[2]Al-Ubudiyyah,
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah
[3] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
[4]A.Mudjab Mahali, 2002, Asbabun
Nuzul : studi pendalaman Al-quran surat Al-Baqarah Annas, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, h. : 660.
[5] Aal-Baghawi, Ma’âlim
at-Tanzîl, III/421, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
[6] Ibnu Katsir, Tafsîr
al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/1446, Dar al-Fikr, Beirut. 2000.
[7] Ash-Shabuni, Shafwat
at-Tafâsîr, II/451.
[9] Aath-Thabari, Jâmi’
al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, xi/208, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut.
1992.
[10] Abd al-Haqq
al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, IV/347,
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm
al-Qur’ân, IV/41, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
[11] Abu al-Hasan
al-Naysaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, III/442, Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994; Abu ‘Ali al-Fadhl, Majma’ al-Bayân fî
Tafsîr al-Qur’ân, III/491, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir
al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/ 1445; AbuThayyib al-Qinuji, Fath
al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, X/281, Idarat Ihya’ al-Turats al-Islami,
Qathar. 1989
[14] Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr
al-Munîr, XI/143, Dar al-Fikr, Beirut. 1991. ar-Raghib al-AshfahaniMu’jam
Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 564, Dar al-Fikr, Beirut., tt.
[16] Burhan al-Din al-Baqa’i, Nazhm
ad-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa as-Suwar, VI/13, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
Beirut. 1995.
[19] Fakhr ad-Din al-Razi, at-Tafsîr
al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, XIII/128, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
Beirut. 1990.








0 comments:
Post a Comment