Thursday, 16 January 2014

MAKALAH TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG IBADAH

MAKALAH TAFSIR TARBAWI



AYAT-AYAT TENTANG IBADAH



DI
S
U
S
U
N

OLEH


NURUL HIDAYANI
(141100649)

                 JURUSAN                          :      TARBIYAH
                 PRODI                              :      PBI
                 SEMESTER / UNIT          :      III (TIGA)/ 1
                 DOSEN PENGASUH         :      Drs. Legiman, MA
 






SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA

T.A. 2012-2013


KATA  PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat  Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "AYAT-AYAT TENTANG IBADAH" tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini. Wassalam.


Langsa, 21 Desember 2012




Pemakalah







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................          i
DAFTAR ISI..........................................................................................................         ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................         1
A.    Latar Belakang.............................................................................................         1
B.    Rumusan Masalah........................................................................................         1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................         2
A.    Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat [2] : 21...................................................              2
B.     Tafsir Surat Ar-Rum Ayat [30] : 30......................................................               3
C.     Tafsir Surat Luqman Ayat [31] : 31, 23 & 24 ........................................             4
BAB III PENUTUP...............................................................................................         9
A.    Kesimpulan..................................................................................................         9
B.    Saran............................................................................................................         9
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ibadah adalah tindakan untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju kepada tuhan (Allah) saja. Manusia diciptakan oleh tuhan dan hanya berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang pencipta yang menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara, menjaga dan mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia, oleh karena itu hanya kepada Dia manusia menyembah
Terkait dengan masalah ibadah, terdapat beberapa golongan hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah. Diantaranya ada golongan yang berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat dan ketertundukan seorang hamba kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud kepada-Nya. Akan tetapi mereka kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu yang terkait dengan ibadah sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam sitiap situasi. Ada pula yang berpendapat bahwa dalam ibadah yang menjadi titik tekan adalah bagaimana seorang hamba bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan sesuatu, dan sesuatu tersebut bernilai ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi mereka acapkali menyepelekan ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa dan lain-lain.
Kemudian golongan yang terakhir adalah golongan yang dapat menserasikan antara golongan yang pertama dan kedua, mereka dapat mensinergikan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.Akhir-akhir ini marak para kaum yang mengkaji masalah tersebut dan memunculkan kesimpulan yang aneh ke dalam telingga kita, kemudian bagaimana sikap kita sebagai seorang terpelajar menyikapinya? Oleh karena itu, Makalah ini akan membahas tafsir ayat-ayat ibadah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat [2] : 21
2.      Tafsir Surat Ar-Rum Ayat [30] : 30
3.      Tafsir Surat Luqman Ayat [31] : 31, 23 & 24

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat Al-Baqarah [2] : 21
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3­/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ  
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Tafsirnya
Hai manusia
يَاأَيُّهَا النَّاسُ
sembahlah Tuhanmu
اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
yang telah menciptakanmu
الَّذِي خَلَقَكُمْ
dan orang-orang yang sebelummu
خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
agar kamu bertakwa
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Tafsirnya
Ayat  ini adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah Allah ta'ala. Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik  manusia terdahulu ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah saja, melainkan ibdah dalam arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribdah kepadaNya saja.
Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Alloh adalah Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam, berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah menciptakan langit sebagai sebuah atap bangunan yang telah Dia letakan padanya matahari, bulan dan bintang. 
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyatakan bahwa perintah dalam ayat ini bersifat umum untuk seluruh manusia. Sifat perintahnya sendiri umum yaitu untuk beribadah dengan segala bentuk ibadah, yaitu melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi yang dilarangNya serta membenarkan kabar-kabarnya. Hal ini sebagaimana perintah Alloh ta'ala dalam QS Adz-Dzariyat : 56. Allah ta'ala berfirman :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzaariyat : 56.[1]
Ayat ini menegaskan tentang tujuan diciptakannya jin dan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepadaNya. Makna ibdah dalam pengertian yang komprehensif disebutkan oleh Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyebutkan : 

العبادة هى اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والاعمال الباطنة والظاهرة

Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Alloh dan yang diridhaiNya berupa perkataan atau perbuatan baik yang berupa amalan batin ataupun yang dhahir (nyata).[2]

B.     Surat Ar-Rum [30] : 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,[3]
Tafsir Ayat
C.    Surat Luqman [31] : 13, 23 dan 24
1.      Surat Luqman Ayat 13

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ  
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Asbabun Nuzul
Ketika ayat ke-82 dari surat Al-An’am diturunkan, para sahabat merasa keberatan. Maka mereka datang menghadap Rasulullah SAW,seraya berkata “ Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang dapat membersihkan keimanannya dari perbuatan zalim ?”.Jawab beliau “ Bukan begitu,bukanlah kamu telah mendengarkan wasiat Lukman Hakim kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. ( HR.Bukhori dari Abdillah)[4]

Tafsirnya
Allah Swt. berfirman: Wa idz qâla luqmân li [i]bnih wahuwa ya’izhuh (Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya).
Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa Luqman yang dimaksud dalam ayat ini. Sebagian mufassir menyatakan, ia adalah cicit Azar (bapak Nabi Ibrahim as). Sebagian lagi berpendapat, ia adalah keponakan Ayyub dari saudara perempuannya. Yang lainnya menyebutkan, ia adalah sepupu Ayyub dari bibinya.[5] Adapun menurut Ibnu Katsir, ia adalah Luqman bin Anqa bin Sadun.[6] Para mufassir juga berbeda pendapat tentang asal-usul, tempat tinggal, dan pekerjaannya.
Tidak bisa dipastikan pendapat mana yang paling benar. Sebab, al-Quran tidak merinci siapa sesungguhnya Luqman yang dimaksud. Sebagai kitab yang berfungsi menjadi hudâ wa maw’izhah (petunjuk dan pelajaran) bagi manusia, penjelasan tentang hal itu tidak terlampau penting.  Yang lebih penting justru pelajaran apa yang dapat dipetik dari kejadian itu.
Di dalam al-Quran banyak kisah yang hanya diceritakan peristiwanya, tanpa dirinci waktu, tempat terjadinya, kronologi dan pelakunya; layaknya buku sejarah. Demikian pula dengan kisah Luqman dalam ayat ini. Al-Quran hanya memberitakan bahwa dia termasuk orang yang mendapat limpahan al-hikmah dari-Nya. Allah Swt. berfirman:
]وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ ِللهِ[
Sesungguhnya telah Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah." (QS Luqman [31]: 12).
Secara bahasa al-hikmah berarti ketepatan dalam ucapan dan amal.[7]  Menurut ar-Raghib, al-hikmah berarti mengetahui perkara-perkara yang ada dan mengerjakan hal-hal yang baik.[8] Menurut Mujahid, al-hikmah adalah pemahaman, akal, dan kebenaran dalam ucapan selain kenabian.[9] Hikmah dari Allah Swt. bisa berarti benar dalam keyakinan dan pandai dalam dîn dan akal.[10]
Pendapat agak berbeda dikemukakan Ikrimah, as-Sudi, dan asy-Sya'bi. Mereka menafsirkan al-hikmah sebagai kenabian. Karena itu, menurut mereka, Luqman adalah seorang nabi.[11] Pendapat ini berbeda dengan jumhur ulama yang berpandangan bahwa dia seorang hamba yang salih, bukan nabi.[12]
Kendati bukan nabi, Luqman juga menempati derajat paling tinggi. Sebab, manusia yang derajatnya paling tinggi adalah orang yang kâmil fî nafsih  wa mukmil li ghayrih, yakni orang yang dirinya telah sempurna sekaligus berusaha menyempurnakan orang lain. Kesempurnaan Luqman ditunjukkan dalam ayat sebelumnya, bahwa dia termasuk hamba Allah Swt. yang mendapat hikmah dari-Nya. Adapun upayanya untuk membuat orang lain menjadi sempurna terlihat pada nasihat-nasihat yang disampaikan kepada putranya.[13]
Dalam ayat itu disebutkan wa huwa ya‘izhuh. Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh atau al-‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang bisa melunakkan hati.[14] Karena itu,  dalam mendidik anaknya, Luqman menempuh cara yang amat baik, yang bisa meluluhkan hati anaknya sehingga mau mengikuti nasihat-nasihat yang diberikan.
Yâ bunayya lâ tusyrik billâh (Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah). Luqman memanggil putranya menggunakan redaksi tasghîr: ya bunayya.  Hal itu bukan untuk mengecilkan atau merendahkan, namun untuk menunjukan rasa cinta dan kasih sayang kepada anaknya.[15] Dengan panggilan seperti itu, diharapkan nasihat yang disampaikan lebih mudah diterima.
Nasihat pertama yang disampaikan kepada putranya itu adalah la tusyrik billâh (jangan mempersekutukan Allah). Mempersekutukan Allah adalah mengangkat selain Allah Swt. sebagai tandingan yang disetarakan atau disejajarkan dengan-Nya. Ketika Rasulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabatnya, Wail bin Abdullah ra., mengenai dosa apa yang paling besar, beliau menjawab:

«الشِّرْكُ أَنْ تَجْعَلَ ِللهِ نِدًّا»
Syirik, yakni kamu menjadikan tandingan bagi Allah (HR an-Nasa'i).
            Larangan syirik ini berlaku abadi. Bahkan tidak seorang rasul pun yang diutus Allah Swt. kecuali menyampaikan larangan tersebut. (Lihat: QS az-Zumar [39]: 65).
Inna asy-syirk la zhulm ‘azhîm  (Sesungguhnya mempersekutukan Allah  adalah benar-benar kezaliman yang besar). Dalam nasihatnya, Luqman tidak saja melarang syirik, namun juga menjelaskan alasan dilarangnya perbuatan tersebut.[16]
Secara bahasa azh-zhulm (kezaliman) berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.[17] Syirik disebut azh-zhulm karena menempatkan Pencipta setara dengan ciptaan-Nya, menyejajarkan Zat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak disembah,[18] atau melakukan penyembahan kepada makhluk yang tidak berhak disembah.[19] Banyak ayat al-Quran yang menyebut perbuatan syirik sebagai azh-zhulm (Lihat, misalnya: QS al-An‘am [6]: 82).
Selain kezaliman besar, dalam ayat lain, syirik juga disebut sebagai kesesatan yang nyata (QS. Saba’ [34]: 24) dan amat jauh (QS. an-Nisa' [4]: 116). Karena itu, wajar jika syirik dinilai sebagai dosa terbesar dan tidak ada dosa yang melebihinya. Jika dosa-dosa lain, manusia masih bisa berharap mendapat ampunan dari Allah Swt., tidak demikian dengan syirik. Siapa pun yang telah melakukan perbuatan syirik, dan tidak bertobat, lalu meninggal dalam kesyirikan, maka tidak akan diampuni Allah Swt. (QS an-Nisa' [4]: 48, 116). Lebih dari itu, syirik akan menyebabkan terhapusnya semua amal yang dikerjakan manusia (QS az-Zumar [39]: 65). Pelakunya diharamkan masuk surga (QS al-Maidah [5]: 72), sebaiknya ia kekal di dalam neraka (QS al-Bayyinah [98]: 6). Oleh karenanya, syirik menyebabkan penyesalan yang tak terbayarkan bagi pelakunya (QS al-Kahfi [18]: 42).
           

2.      Sarat Luqman Ayat 23 & 24

`tBur txÿx. Ÿxsù šRâøts ÿ¼çnãøÿä. 4 $uZøs9Î) öNßgãèÅ_ötB Nßgã¥Îm7t^ãZsù $yJÎ/ (#þqè=ÏHxå 4 ¨bÎ) ©!$# 7LìÎ=tæ ÏN#xÎ/ ÍrߐÁ9$# ÇËÌÈ   öNßgãèÏnFyJçR WxÎ=s% §NèO öNèdsÜôÒtR 4n<Î) >U#xtã 7áŠÎ=xî ÇËÍÈ  
23. dan Barangsiapa kafir Maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.
24. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.
Tafsirnya
         Bahwasanya hikmah dari Allah ciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya. Sedangkan pengertian ibadah adalah ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh rasa cinta, pengagungan dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dengan cara sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla ajarkan dalam syari’at yang dibawa oleh utusanNya. Maka hikmah/tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan barangsiapa yang durhaka terhadap Robbnya dan enggan dari beribadah kepada Robbnya maka sesungguhnya dia telah melanggar/keluar dari tujuan penciptaannya yang Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mereka untuk tujuan beribadah kepadaNya.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ayat-ayat di atas adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah Allah ta'ala. Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik  manusia terdahulu ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah saja, melainkan ibdah dalam arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribdah kepadaNya saja.
Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Alloh adalah Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam, berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah menciptakan langit sebagai sebuah atap bangunan yang telah Dia letakan padanya matahari, bulan dan bintang. 

B.     Saran
Agar pesertadidik dapat menerapkan ajaran yang terdapat pada surat al-luqman dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kepada Allah SWT, kedua orang tua, serta kepada manusia-manusia yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
A.Mudjab Mahali, 2002, Asbabun Nuzul : studi pendalaman Al-quran surat Al-Baqarah Annas, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, h. : 660.
Aal-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, III/421, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
Aath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, xi/208, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1992.
Abd al-Haqq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, IV/347, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, IV/41, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
Abu al-Hasan al-Naysaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, III/442, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994; Abu ‘Ali al-Fadhl, Majma’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, III/491, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994.
Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fi Ma’âni at-Tanzîl, III/398, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995
Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl, III/398.
Ash-Shabuni, Shafwat at-Tafâsîr, II/451.
Burhan al-Din al-Baqa’i, Nazhm ad-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa as-Suwar, VI/13, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995.
Fakhr ad-Din al-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, XIII/128, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1990.
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/ 1445; AbuThayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, X/281, Idarat Ihya’ al-Turats al-Islami, Qathar. 1989
Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/1446, Dar al-Fikr, Beirut. 2000.
Mahmud  Hijazi, at-Tafsîr al-Wâdhîh, III/47, an-Nashir, 1992.
Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, XI/82, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993
Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, xi/84; Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143.
Tafsir Al-Maragi,Ahmad Mustafa Al Maragi,1993,semarang:CV Toha putra,halm 152-154.
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003,halm : 121
Taisir Karim Ar-Rohman Fi Tafsir Kalam Al-Manan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir  AsSa'di.
Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143, Dar al-Fikr, Beirut. 1991. ar-Raghib al-AshfahaniMu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 564, Dar al-Fikr, Beirut., tt.


[1] Taisir Karim Ar-Rohman Fi Tafsir Kalam Al-Manan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir  As-Sa'di.
[2]Al-Ubudiyyah, Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah
[3] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
[4]A.Mudjab Mahali, 2002, Asbabun Nuzul : studi pendalaman Al-quran surat Al-Baqarah Annas, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, h. : 660.
[5] Aal-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, III/421, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
[6] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/1446, Dar al-Fikr, Beirut. 2000.
[7] Ash-Shabuni, Shafwat at-Tafâsîr, II/451.
[8] Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, XI/82, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993
[9] Aath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, xi/208, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1992.
[10] Abd al-Haqq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, IV/347, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, IV/41, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
[11] Abu al-Hasan al-Naysaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, III/442, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994; Abu ‘Ali al-Fadhl, Majma’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, III/491, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/ 1445; AbuThayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, X/281, Idarat Ihya’ al-Turats al-Islami, Qathar. 1989
[13]Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fi Ma’âni at-Tanzîl, III/398, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995
[14] Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143, Dar al-Fikr, Beirut. 1991. ar-Raghib al-AshfahaniMu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 564, Dar al-Fikr, Beirut., tt.
[15] Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, xi/84; Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143.
[16] Burhan al-Din al-Baqa’i, Nazhm ad-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa as-Suwar, VI/13, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995.
[17] Mahmud  Hijazi, at-Tafsîr al-Wâdhîh, III/47, an-Nashir, 1992.
[18] Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl, III/398.
[19] Fakhr ad-Din al-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, XIII/128, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1990.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com