MAKALAH TAFSIR TARBAWI
AL-QUR'AN DAN ALAM SEMESTA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
NURUL
HIDAYANI
(141100649)
Jurusan / Prodi : Tarbiyah/ PBI
Semester / Unit : III / 1
DosenPembimbing : Drs. Legiman, M.Ag
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
ZAWIYAH COT KALA LANGSA
T.A 2012 / 2013
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "AL-QUR’AN DAN ALAM
SEMESTA" tepat pada
waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad
SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang
benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini.
Wassalam.
Langsa, 9
November 2012
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang......................................................................................................... 2
B.
Rumusan
Masalah.................................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan...................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 3
A.
Alam Semesta Dalam Perspektif Klasik dan Modern................................................... 3
B.
Alam Semesta
Perspektif Islam.................................................................................. 5
C.
Ayat-ayat
yang Berhubungan Dengan Alam Semesta................................. ................. 7
BAB III PENUTUP............................................................................................... 15
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 15
B.
Saran............................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Alam
semesta merupakan realitas yang dihadapi oleh manusia, yang sampai kini baru
sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan diungkap oleh manusia. Bagi
seorang ilmuwan akan menyadari bahwa manusia diciptakan bukanlah untuk
menaklukkan seluruh alam semesta, akan tetapi menjadikannya sebagai fasilitas
dan sarana ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan dari potensi manusia yang
sudah ada saat ajali.
Proses
pendidikan yang berlangsung di dalam interaksi yang pruralistis (antara subjek
dengan lingkungan alamiah, sosial dan cultural) amat ditentukan oleh aspek
manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subyek didalam masyarakat, bahkan
didalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi
diri manusia. Manusia mengemban amanat untuk membimbing masyarakat, memelihara
alam lingkungan hidup bersama. bahkan manusia terutama bertanggung jawab atas
martabat kemanusiaannya (human dignity).
Di
dalam perspektif Islam, alam semesta merupakan sesuatu selain Allah Swt. Oleh
sebab itu, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, namun meliputi seluruh
yang ada dan berada di antara keduanya. Bukan hanya itu, di dalam perspektif
Islam alam semesta tidak saja mencakup hal-hal yang konkrit yang dapat diamati
melalui panca indera manusia, tetapi alam semesta juga merupakan segala sesuatu
yang keberadaaannya tidak dapat diamati oleh panca indera manusia.
Alam
semesta merupakan ciptaaan Allah Swt yang diperuntukkan kepada manusia yang
kemudian diamanahkan sebagai khalifah untuk menjaga dan memeliharaan alam
semesta ini, selain itu alam semesta juga merupakan mediasi bagi manusia untuk
memperoleh ilmu pengetahuan yang terproses melalui pendidikan. Dari itulah
pemakalah khusus membahas tentang Esensi Alam Semesta menurut Persfektif
Filsafat Pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian, proses penciptaan Alam
Semesta, tujuan dan fungsi penciptaan Alam Semesta dan implikasi Alam Semesta
terhadap pendidikan islam.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
tafsir surat Al-Baqarah ayat 2?
2. Bagaimana
tafsir surat Al-Mulk ayat 1-4?
3. Bagaimana
tafsir surat Al-A’raf ayat 54?
4. Bagaimana
tafsir surat Ali Imran ayat 190?
5. Bagaimana
tafsir surat Ibrahim ayat 32-34?
C.
Tujuan
Penulisan
Untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir.
D.
Metode
Penulisan
1.
Pengambilan data dari sumber-sumber
bacaan.
2.
Mencari bahan dari internet.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
SURAT
AL-BAQARAH AYAT 2
y7Ï9ºs Ü=»tGÅ6ø9$# w |=÷u ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`É)FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Artinya: “ Kitab[1]
(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[2]”,
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2
1). “7Ï9ºs”[3]
adalah kata tunjuk jauh (isim isyārah lil ba’id), “itu”;
“hādza” adalah kata tunjuk dekat (isim isyārah lil qaryb), “ini”.
Yang menggelitik, kenapa Allah di sini menggunakan “Dzālika” dan bukan
“hādza”? Bukan hanya di sini, tetapi semua surat yang diawali huruf muqattha’ah
yang disusul oleh isim isyārah selalu menggunakan kata tunjuk jauh (lil
ba’id). Bedanya, ada bentuk laki-laki (dzālika) ada bentuk
perempuan (tilka)—misal pada S.10, S.12, S.13. Jawaban yang mungkin: Pertama,
begitu terucap oleh Nabi dan tertulis dalam bentuk al-Kitab maka al-Qur’an
‘turun’ dari ‘langit’ menuju ke ‘bumi’. Konsekuensinya, selain harus
menggunakan bahasa ‘bumi’, bahasa manusia, yaitu Bahasa Arab, juga harus
menggunaan kata tunjuk jauh (dzālika, tilka). Karena serta-merta
muncul ‘jarak’ antara Yang Mewahyukan (Allah) dan wahyu yang terbukukan
(al-Kitab). Kedua, Allah dari ‘atas’
sana memenuhi permohonan kita di Surat al-Fatihah ayat 6 yang meminta PETUNJUK
(hudan). Saat kita sedang ‘memegang’ al-Qur’an, Allah menjawab: “Itulah
al-Kitab…… petunjuk (hudan) bagi orang-orang bertaqwa”. Sehingga, dengan
begitu, petunjuk (hudan atau hidayah) bukanlah sesuatu yang
misterius, yang datang ujug-ujug dan acak kepada sesorang.
2). y Ü=»tGÅ6ø9$# berasal dari kata ka-ta-ba,
yak-tu-bu (to write, pen, compile, write down; to compose, draw up,
draft; to predestine) yang sepadan dengan har-ra-ra (to edit)
dan al-la-fa (to form, set up, establish; to constitute, make up).
Dari semua itu, arti kitāb bisa disimpulkan sebagai “buku” (book),
“kompilasi” (compolation), “surat” (letter), “catatan” (note),
dan “risalah” (message). Kelima pengertian tersebut
meniscayakan adanya “penyusun” atau “pengarang”. Ketika merujuk kepada
al-Kitab, penyusun atau pengarang tersebut adalah Allah. Dan sebagaimana buku
karangan yang lain yang mencerminkan pikiran pengarangnya, al-Kitab pun juga
berisi pikiran Pengarangnya. Dan karena seluruh realitas merupakan jelmaan dari
Rahman-Nya yang memancar dari ‘pikiran’-Nya, maka dapat dipastikan bahwa
seluruh realitas itu sepadan dengan al-Qur’an. Sehingga bisa dibilang bahwa
al-Kitab adalah al-Qur’an yang tertulis sementara seluruh realitas adalah al-Qur’an
yang tercipta. Keduanya tidak mungkin saling bertentangan apalagi saling
menegasikan. Karena keduanya mempunyai hakikat yang sama: ‘pikiran’ Allah.
Sehingga baik membaca al-Qur’an ataupun membaca realitas (termasuk alam semesta
ini) sama dengan membaca pikiran Allah. “Al-Rahman. Dia
(yang) mengajarkan al-Qur’an. Dia (juga yang) menciptakan manusia. Dia (pula)
yang mengajarkan penjelasan(nya).” (55:1-4).
3). Lā rayba fyhi (tidak ada
keraguan di dalamnya). Lā rayba (tidak ada keraguan) adalah nama lain
dari yaqyn (yakin). Jika masih ada sedikit saja—walau hanya sebesar
zarah—keraguan, maka belum berhak disebut yakin. (Bolehkah kita meragukan
pernyataan itu? Boleh, tapi argumennya nanti kita bangun saat membahas ayat
23). Allah ingin mengatakan, dalam al-Qur’an ini tidak tersisa sedikit pun
celah sebagai pintu masuknya keraguan. Kalau kita ada keraguan padanya, maka
masalahnya bukan pada yang dibaca tapi pada yang membaca. Inilah yang menjadi
alasan kalau al-Qur’an untuk bisa berperan sebagai petunjuk (hudan),
sebab syarat pertama yang mutlak dipenuhi oleh sesuatu yang akan menjadi
petunjuk ialah meyakinkan. Manakala syarat ini gagal dipenuhi maka seribu satu
syarat berikutnya tidak bernilai sama sekali.
4). Di sini disebut hudan lilmuttaqiyn
(petunjuk untuk orang bertaqwa), sementara di tempat lain (2:185) disebut hudan
linnāsi [petunjuk untuk (seluruh) manusia]. Bukankah ini bertentangan?
Bukan. Tidak semua yang berbeda, secara otomatis bertentangan. Terma “umum” dan
terma “khusus” bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya hanya menjelaskan
strata inklusivitas (cakupan keterlibatan). Hudan linnāsi menjelaskan
bahwa al-Qur’an cocok dan sesuai untuk seluruh manusia. Baik dalam pengertian
isinya bisa difahami oleh seluruh manusia berakal, ataupun dalam pengertian
bahwa hukum-hukum dan ajaran-ajarannya sejalan dengan akal pikiran manusia.
Inilah sifat “umum” dari al-Qur’an. Kendati demikian, karena kitab ini
merupakan ‘pikiran’ Tuhan, maka untuk memahaminya secara menyeluruh dan
sempurna, syaratnya tidak boleh ada jedah antara pembaca dan pengarang.
Pembaca, karenanya, mutlak mendekati pengarangnya. Keadaan mendekat kepada
pengarang inilah yang disebut takwa. Kedekatan ini berproses sesuai dengan
derajat kesucian jiwa. Hingga pada tingkat la yamassuhu illal muthahharun [tidak
ada yang bisa menyentuhnya (secara sempurna dan menyeluruh) kecuali orang-orang
yang tersucikan] (56:79).[4]
Makna Ayat Secara Keseluruhan
Allah
Ta’ala memberitahukan bahwa Al-Quran yang diturunkanNya kepada hamba dan
RasulNya adalah merupakan kitab yang sangat besar dan agung yang sama sekali
tidak mengandung keraguan dan dugaan bahwa ia adalah bukan wahyu Allah dan
kitabNya. Hal itu disebabkan ia adalah sebagai mukjizat, disamping petunjuk dan
cahaya yang dibawanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa hal mana
dengan keduanya (iman dan taqwa) dapat mengantarkan mereka kepada jalan-jalan
kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan.
B. SURAT AL-MULK AYAT 1-4
x8t»t6s?
Ï%©!$#
ÍnÏuÎ/
à7ù=ßJø9$#
uqèdur
4n?tã
Èe@ä.
&äóÓx«
íÏs%
ÇÊÈ Ï%©!$#
t,n=y{
|NöqyJø9$#
no4quptø:$#ur
öNä.uqè=ö7uÏ9
ö/ä3r&
ß`|¡ômr&
WxuKtã
4 uqèdur
âÍyèø9$#
âqàÿtóø9$#
ÇËÈ Ï%©!$#
t,n=y{
yìö7y
;Nºuq»yJy
$]%$t7ÏÛ
( $¨B
3ts?
Îû
È,ù=yz
Ç`»uH÷q§9$#
`ÏB
;Nâq»xÿs?
( ÆìÅ_ö$$sù
u|Çt7ø9$#
ö@yd
3ts?
`ÏB
9qäÜèù
ÇÌÈ §NèO
ÆìÅ_ö$#
u|Çt7ø9$#
Èû÷üs?§x.
ó=Î=s)Zt
y7øs9Î)
ç|Çt7ø9$#
$Y¥Å%s{
uqèdur
×Å¡ym
ÇÍÈ
1. Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah
segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
2. yang menjadikan mati dan hidup, supaya
Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun,
3. yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah
sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat
sesuatu yang tidak seimbang?
4. kemudian pandanglah sekali lagi niscaya
penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.[5]
Tafsir Surat Mulk Ayat 1-4
Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat yang berbunyi
“tabaaraka………….syin’in qadir”, maksudnya adalah bahwa di tangan (kekuasaan)
Allah-lah kerajaan dunia dan akhirat. Selanjutnya potongan ayat “al-ladzi
khalaqa al ma utu wal hayata”, maksudnya adalah Allah-lah yang menentukan hidup
dan mati melalui batas-batas yang tidak dilampaui dan tidak pula diketahui,
melainkan Dia saja yang dapat mengetahuinya. Dari penjelasan tersebut terlihat
jelas bahwa materi pendidikan yang terkandung di dalamnya adalah berkaitan erat
dengan posisi alam semesta dan segala isinya untuk di pelajari supaya manusia
dapat mengambil manfaatnya, dan supaya manusia mengetahui segala apa yang ada
di muka bumi ini adalah ciptaan dan kekuasan-Nya, sehingga manusia itu dapat
meningkatkan keimanan dan ketakwaanya.[6]
A.
SURAT
AL-A’RAF AYAT 54
cÎ) ãNä3/u ª!$# Ï%©!$#
t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$#
uÚöF{$#ur Îû
ÏpGÅ 5Q$r&
§NèO 3uqtGó$# n?tã
ĸóyêø9$# ÓÅ´øóã
@ø©9$# u$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜt
$ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur
tyJs)ø9$#ur tPqàfZ9$#ur ¤Nºt¤|¡ãB
ÿ¾ÍnÍöDr'Î/ 3
wr& ã&s! ß,ù=sø:$# âöDF{$#ur 3
x8u$t6s?
ª!$# >u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah
yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di
atas 'Arsy[7].
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.[8]
Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 154
v
Menurut
Sayyid Quthb: Akidah
tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun lapangan bagi manusia untuk
merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana ia berbuat, maka, Allah itu
Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk menggambarkan dan melukiskan
zat Allah. Adapun enam hari saat Allah menciptakan langit dan bumi, juga
merupakan perkara ghaib yang tidak ada seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah
telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai
alam ini mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan
kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat
dalam putaran yang abadi ini yaitu putaran malam mengikuti siang dalam peredaran
planet ini. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semuanya tunduk
kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Pelindung, Pengendali
dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang memelihara kalian dengan manhaj-Nya,
mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya, membuat syariat bagi kalian dengan
izin-Nya dan memutuskan perkara kalian dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak
menciptakan dan memerintah. Inilah persoalan yang menjadi sasaran pemaparan ini
yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta manunggalnya Allah SWT.
Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah manusia di dalam syariat
hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan konteks surat ini yang
tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang dihadapi surat Al-An’am dalam
masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan syiar-syiar.[9]
v Menurut Thahir Ibnu
Asyur: Bahwa
hubungan surat ini sangat serasi. Ia memulai dengan menyebut al-Qur’an,
perintah mengikutinya serta larangan mendekati apa yang bertentanngan
dengannya. Selain itu juga memperingatkan ttentang apa yang menimpa umat-umat
yang dahulu, yang enggan mengakui keesaan Allah serta mendurhakai rasul-rasul
mereka . Setelah itu semua kumpulan ayat ini menjelaskan tentang tauhid beserta
bukti kebenarannya dan mengajak untuk tunduk dan patuh kepadanNya.[10]
v Menurut Al-Biqa’i: Bahwa
tema pokok yang berkisar pada uraian al-Qur’an tentang tauhid, Nubullah
(kenabian), hari kemudian, dan pengetahuan. Ayat ini juga menegaskan bahwa
sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbing, serta yang menciptakan kamu dari
tiada dan akan membangkitkan kamu ialah Allah Yang Maha Esa yang telah
mneciptakan semua langit dan bumi yakni alam raya dalam enam hari (enam masa). Informasi
tentang penciptaan alam dalam enam hari mengisyaratkan tentang qudrat, dan
ilmu, serta hikmah Allah swt . Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia
berkuasa dan mengatur segala yang diciptakan-Nya, sehingga berfungsi sebagaiman
ynag ia kehendaki yaitu Dia menutupkan malam dengan kegelapannya kepada siang
ataupun sebaliknya dan silih berganti dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan
dan bintang masing-masig tunduk kepada perintah-Nya, yakni alah menetapkan
hukkum yang berlaku atasnnya dan benda-benda itu tidak dapat mengelak dari
hokum-hukum yang ditetapkan Allah itu.
v Menurut Muhammad
Ali Ash-Shabuny: Di
dalam ayat ini Alah menyebutkan beberapa dalil dan bukti tentang keEsaanNya:
- Penciptaan langit tujuh
tingkatan, yang merupakan bukti penciptaan dan kemukjizatan
- Arsy ar-Rahman yang tidak dapat
dicakup oleh langit dan bumi, yang tak dapat dibayangkan oleh hayalan
karena besarnya.
- Bintang, matahari, rembulan,
dan berbagai planet, yang semua ada di bawah kekuasaan Allah.
Tujuan
pemaparan ayat ini adalah jangan menjadikan kita lupa untuk
berhenti beberapa saat di depan
pemandangan yang indah, hidup, bergerak
dan memberikan isyarat/kesan yang
mengagumkan.[11]
E.
SURAT ALI IMRAN AYAT 190
¨cÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,[12]
Tafsir
Surat Ali Imran Ayat 190
v Menurut Al-Imam Abul Fida
Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi
¨cÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur
Yaitu yang
ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya,
kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa
tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti lautan gunung,
pepohonan, hewan, tumbuhan, barang tambang serta berbagai macam manfaat yang
beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau dan kegunaannya.
É#»n=ÏF÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur
Yaitu
saling bergiliran dan mengurangi panjang dan pendeknya; ada kalanya yang ini
panjang dan yang lain pendek, kemudian keduanya sama. Setelah itu yang ini
mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya,
yang sebelum itu pendek dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya
itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui.
Karena itu
dalam firman selanjutnya disebutkan:
;M»tUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$#
Maksudnya
yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang
demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing
secara jelas dan gamblang.[13]
v Menurut Sayyid Quthb terjemahan
Aunur Rafiq Shaleh Thamhid dari Tafsir Fi Dzilalil Qur’an bahwa makna :
Ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki kesadaran yang benar, membuka mata
hati mereka untuk menerima ayat-ayat kauniyah Allah tanpa memasang berbagi
penghalang dan tidak menutup berbagai pintu yang menghubungkan antara diri
mereka dan ayat-ayat tersebut. Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa
kontek al-Quran disini menggambarkan secara cermat tahap-tahap getaran
jiwa yang ditumbuhkan oleh tatapan terhadap pemandangan langit dan bumi serta
pergantian malam dan siang didalam perasan ulul albab. Menjadikan kitab alam
yang terbuka ini sebagai kitab penngetahuan bagi manusia dengan Tuhan dan
ciptaannya. Kontek ini juga menggabungkan antara perenungan makhluk ciptaan
tuhan dan ibadah kepadaNya, sehingga perenungan ini bernilai ibadah dan
menjadikanya sebagai bagian dari manifestasi dzikir . Penggabungan tersebut
mengisyaratkan dua hal penting yaitu perenungan tentang ciptaan Tuhan,
pencermatan terhadap tangan Allah Yang Maha Pencipta, ketika menggerakkan alam ini dan lembarankitab ini
merupakan ibadah yang sejati kepada Alah dan dzikir yang utama kepadanya. Bahwa
ayat-ayat Allah di alam ini tidak akan terlihat jelas sesuai hakikatnya yang
sarat inspirasi, kecuali oleh hati ynag senantiasa beribadah dan berdzikir.[14]
Asbabun
Nuzul Ali Imran Ayat 190
Ibnu Abbas mengatakan , bahwa ayat
ini diturunkan berkenaan dengan kaunm Qurays yang suatu ketika mendatangi
Rasulullah dan berkata, “berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, agar bukit syafa berubah menjadi emas.” (H.R. Thabrani dan Ibnu Abu Hatim)[15]
F.
SURAT IBRAHIM AYAT 32-34
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur tAtRr&ur ÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( t¤yur ãNä3s9 ù=àÿø9$# yÌôftGÏ9 Îû Ìóst7ø9$# ¾ÍnÌøBr'Î/ ( t¤yur ãNä3s9 t»yg÷RF{$# ÇÌËÈ t¤yur ãNä3s9 }§ôJ¤±9$# tyJs)ø9$#ur Èû÷üt7ͬ!#y ( t¤yur ãNä3s9 @ø©9$# u$pk¨]9$#ur ÇÌÌÈ Nä39s?#uäur `ÏiB Èe@à2 $tB çnqßJçGø9r'y 4 bÎ)ur (#rãès? |MyJ÷èÏR «!$# w !$ydqÝÁøtéB 3 cÎ) z`»|¡SM}$# ×Pqè=sàs9 Ö$¤ÿ2 ÇÌÍÈ
32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan
itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan
bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan
Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
33.
dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus
beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.
34.
dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu
mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah).[16]
Tafsir
Surat Ibrahim Ayat 32
Menurut
Sayyid Quthb makna ayat:
الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء
yaitu: Maksudnya adalah bahwasannya Allah menciptakan langit
dan bumi untuk manusia. Langit diturunkan darinya air (hujan) dan bumi menerima
air hujan itu.
ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم
yaitu: Bahwa berbagai buah-buahan
keluar dari keduanya (langit dan bumi). Tanaman-tanaman adalah sumber rizki
yang pertama dan sumber kenikmatan yang nyata. Hujan dan penumbuhan keduanya
mengikuti sunnah yang telah diciptakan padanya alam semesta ini. Juga mengikuti
undang-undang yang menetapkan turunnya hujan, tumbuhnya tanaman-tanaman, dan itu
berbicara tentang nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Halaman-halaman yang
luas lagi besar menampilkan berbagai warna kenikmatan-kenikmatan itu sejauh
mata memandang.
وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره
yaitu: Bahwa Allah menundukkannya
dengan apa yang telah Dia titipkan pada berbagai unsur kekhususan-kekhususan
yang dapat menjalankan bahtera pada permukaan air. Juga dengan apa yang telah
Dia titipkan pada manusia berupa spesialisasi-spesialisasi yang berhasil
ditemukan oleh hukum segala sesuatu. Semua itu ditundukkan dengan kehendak
Allah.
وسخر لكم الأنهار
yaitu: Sungai-sungai mengalir, maka mengalirlah kehidupan
dengan membawa berbagai rizki. Air sungai melimpah, maka melimpahlah kebajikan,
dengan membawa apa yang terkandung di dalamnya berupa ikan, rumput-rumputan,
dan manfaat-manfaat lainnya. Semua itu untuk manusia dan untuk apa yang
dipelihara dan didayagunakan manusia, yakni sebangsa burung dan hewan-hewan
lainnya.[17]
Tafsir
Surat Ibrahim Ayat 33
Menurut
M. Quraisy Shihab makna
ayat:
v Kata سخر digunakan dalam arti
menundukkan sesuatu agar mudah digunakan oleh pihak lain. Sesuatu yang
ditundukkan Allah tidak lagi memiliki pilihan, dan dengan demikian, manusia
yang mepelajari dan mengetahui sifat sesuatu itu akan merasa tenang
menghadapinya karena yang ditundukkan tidak akan membangkang. Dari sini
diperoleh kepastian hukum-hukum alam. Penundukkan bahtera adalah kemampuan
manusia membuatnya sehingga dapat digunakan untuk berlayar dan mengangkut
barang-barang menuju arah yang mereka kehendaki. Ayat ini menyatakan
menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia berlayar karena kontek ayat ini
menyebut nikmat Tuhan sedang alat transportasi laut merupakan salah satu nikmat
dari kelautan.
v Kata دائبين yaitu:
bentuk dual dari kata da’b. kata ini mengandung makna berkelanjutnya
suatu aktifitas tertentu secara teratur dan terus menerus. Perurutan penyebutan
anugerah Tuhan diatas sungguh serasi.[18]
Tafsir
Surat Ibrahim Ayat 34
Menurut
Sayyid Qutuhb makna
ayat:
v
وءاتكم من
كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها
yaitu: Inilah i’jaz yang di dalamnya serasi dan
harmonis semua sentuhan, tulisan, warna dan bayangan dalam pagelaran alam
semesta dan pertunjukkan kenikmatan-kenikmatan. Bahwasannya Allah telah
memberikan segala nikmatnya kepada kita, yakni harta, keturunan, kesehatan,
perhiasan dan kesenangan. Nikmat Allah itu lebih besar dan lebih banyak dari
penghitungan yang dilakukan oleh sekelompok manusia (seluruh manusia).
Mereka semua terbatasi di antara dua batas waktu : permulaan dan penghabisan.
Juga di antara batas-batas pengetahuan, mengikuti batas-batas waktu dan tempat.
Nikmat-nikmat Allah itu mutlak sehingga pengetahuan dan pengamatan manusia
tidak bisa melingkupinya.
v
إن الإنسان
لظلوم كفار
yaitu: Setelah itu semua, mereka
menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu. Bahkan semua itu pula, kamu tidak
menyukuri nikmat Allah, tetapi justru menukarnya dengan kekafiran dan melakukan
kedzaliman dalam takdir maupun dalam ibadah.[19]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Allah telah menciptakan alam semesta
ini dengan segala kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan
perintah-Nya ,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini.
Yaitu, putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia
menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semula tunduk kepada
perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pencipta dan Tuhan sekalian alam.
2. Al-Qur’an telah menghubungkan semua
pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia
mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin
manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta
segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang
dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak
nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang
didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini
sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.
3. Alam semesta bukanlah produk dari
hasil pemikiran manusia melainkan produk dari hasil pemikiranTuhan. Berdasarkan
bukti yang kongkrit dan valid yang berupa ayat-ayat al-Qur’an seperti surat
al-Baqoroh: 29, al-A’raf: 54, Ibrahim: 32-34, Fushilat: 9-11, al-Anbiya’: 31,
ali-Imran:190-194 dan al-Mulk: 1-4 serta ayat-ayat yang lain dalam al-Qur’an.
Perdebatan yang terjadi dikalangan Teolog Muslim menyangkut ungkapan-ungkapan
al-Qur’an itu, tidak lain kecuali salah satu dampak buruk dari sekian dampak
buruk filsafat Yahudi dan Nashrani yang bercampur dengan akal Islam yang murni.
Tidaklah wajar bagi kita dewasa ini terjerumus dalam kesalahan tersebut
sehingga memperburuk keindahan akidah Islam dan keindahan al-Qur’an.
4. Allah menciptakan alam semsta ini
dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk.
Allah telah menjadikannya baik, memerintahkan hamba-hambanya untuk
memperbaikinya. Dalam ayat ini Tuhan menerangkan dalil-dalil yang terdapat
dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar mensyukuri Allah dan tetap
mentaati-Nya.
B.
Saran
Kita sebagai umat Islam harus lebih
mengembangkan pengetahuan kita akan alam ciptaan ALLAH
yang sangat luas ini. Dan kita harus dapat
pula membaca tanda-tanda kebesarannya melalui ciptaan
Nya. Sehingga kita dapat
benar-benar menjadi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya.
[1]
Tuhan menamakan Al Quran
dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al
Quran diperintahkan untuk ditulis.
[2]
Takwa
Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala
perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup
diartikan dengan takut saja.
[3] Departemen Agama RI, Al Hidayah Al-Quran Tafsir Perkata Tajwid
Kode Angka, (Tangerang: Kalim, 2010), hlm. 3.
[4]
http://www.mafatihuljinan.org/index.php?option=com_content&view=article&id=106:surat-al-baqarah-2-ayat-2&catid=50:tafsir-al-barru&Itemid=93.
Diposting pada Oktober 2009 oleh Komunitas Mafatihul Jinan.
[5]
Departemen Agama RI, Op
Cit, hlm.563.
[6]Al
Maraghi, Ahmad Musthofa, penerjemah Bahrun Abubakar, Terjemah Tafsir Al Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha Putera,
1986), Cet. I.
[7]
Bersemayam di atas
'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran
Allah dsan kesucian-Nya.
[8]
Departemen Agama RI, Op
Cit, hlm.152.
[9]
Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di Bawah Naungan
al-Qur’an ( Surah al-An’am-Surah al-A’raf 137), (Jakarta: Gema Insani,
2002), 323-324.
[10]
M. Quraish Shihab. TafsirAl-
Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta:
Lentera Hati, 2002), 111-117.
[11]Muhammad Ali Ash-Shabuny, Terjemahan Kathur Suhardi. Cahaya
al-Qur’an Tafsir Tematik Surat al-a’raf-surat Yunus, (Jakarta: Pustaka
al-Kautsar, 2000), 37.
[13]
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Terjemahan
Bahrun Abu bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz 4 (ali-Imron-an-Nisa’ 23),
(Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 357-359.
[14]
Sayyid Quthb, Terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid L.C. Tafsir
Fi Zhilalil Qur’an; Dilengkapi Dengan Tarikh Hadits dan Indeks Tematik Jilid 2
Juz 3 dan 4, (Jakarta: Robbani Press, 2001), 575-576
[15]
Departemen Agama RI, Loc.
Cit.
[16]
Departemen Agama RI, Op
Cit, hlm.260-261.
[17]
Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan
al-Qur’an (Surat Yusuf 102-Surat Thahaa 56), Jilid 7, (Jakarta: Gema
Insani, 2003), 105-106
[18]
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan
Keserasian al-Qur’an Volume 7 (Surah Ibrahim-Surah al-Isra’), (Jakarta:
Lentera Hati, 2002), 61-65








izin copas min
ReplyDelete