“Katakanlah: “Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi
dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian
itu adalah Rabb semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung
yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi
orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan
langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:
“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”.
keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh
langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami
hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa
lagi Maha mengetahui.”
Tafsir Al-Maraghi
Setelah Allah menyuruh Rasul-Nya agar berkata kepada orang-orang musyrik:
Sesungguhnya apa yang aku terima lewat wakyu ialah, bahwasanya Tuhanmu adalah
Tuhan Yang Maha Esa, maka murnikanlah untuk-Nya ibadahmu, lalu dilanjutkan
dengan keterangan yang menunjukkan atas kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya
daam menciptakan langit dan bumi pada tahapan tahapan yang berbeda-beda secara
berurut-urut,dan Bahwa Dia telah menyempurnakan bagi masing-masing langit itu
hal-hal yang mereka siap melaksanakannya, dan Dia menghiasi langit dengan
bintang-bintang dan planet-planet, baik yang tetap maupun yang berlayar. Dan
itu tidak mengherankan, karena itu semua adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Menang atas urusan-Nya, lagi Maha Mengetahui atas segala
sesuatu yang ada dilangit maupun dibumi, tidak ada sesuatupun pada keduanya
yang tersembunyi bagi Allah. Maka, kamu mudah saja menganggap patung-patung dan
berhala-berhala sebagai sekutu-sekutu Allah, padahal patung-patung dan
berhala-berhala itu tidak mempunyai sati andil pun dalam menciptakan dan
menakdirkan langit dan bumi.
Tuhan yang telah menciptakan bumi dalam dua tahapan itu, yakni setahap
dimana Dia menciptakan bumi itu padat setelah asalnya merupakan bola gas, dan
tahapan berikutnya Dia menjadikan bumi itu menjadi 26 lapisan dalam 6 periode,
sebagaimana diterangkan oleh para ahli geologi. Itulah Tuhan alam semesta,
bukan semata-mata Tuhan bumi saja. Karena Dia-lah yang mengasuh makhluk
seluruhnya. Jika Allah yang menciptakan bumi dalam dua tahap, maka Dialah yang
mengetahui berapa bilangannya. Maka, bagaimanakah sesuatu dari makhluk-makhluk
itu bisa menjadi tandingan dan sekutu bagi Allah.
Dan Dia menjadikan pada bumi itu gunung-gunung yang kokoh yang menjulang
tinggi di atasnya, sedang pokoknya ada dalam tanah yaitu lapisan batu api. Dari
lapisan inilah gunung-gunung muncul. Jadi, gunung-gunung itu pangkalnya jauh
ada di dalam tanah, sama melewati semua lapisan hingga sampai ke lapisan yang
pertama, yaitu lapisan batu api yang sekiranya tidak ada lapisan ini maka bumi
ini takkan menjadi tanah dan tak bisa menjadi tempat tinggal.
Jadi bumi kita ini sebenarnya merupakan bola api yang dibungkus dengan
lapisan batu api, kemudian di atasnya terdapat lapisan-lapisan yang lebih
lembut, dan disanalah terbentuknya binatang dan tumbuh-tumbuhan setelah
melewati masa yang panjang. Gunung-gunung itu merupakan tonjolan-tonjolan yang
muncul dari lapisan batu api tersebut, lalu menjulang tinggi di atasnya puluhan
ribu kilometer, dan menjadi gudang-gudang air dan bahan-bahan mineral, di
samping sebagai rambu-rambu jalan serta pengendali udara dan awan.
Dan Allah menjadikan gunung-gunung itu penuh berkah dengan banyaknya
kekayaan di sana karena Allah menciptakan disana bahan-bahan yang bermanfaat.
Artinya, bahwa Allah menciptakan gunung-gunung dibumi sebagai pangkal aliran
sungai dan gudang bahan-bahan mineral.
Sesungguhnya penciptaan bumi da dijadikannya gunung-gunung padanya dalam
dua tahapan, sedang dijadikannya kekayaan-kakayaan bumi yang banyak dan
ditentukannnya kadar bahan makanan disana adalah dalam dua tahapan pula. Jadi,
seluruhnya dalam 4 tahapan. [ tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9ä!#uqy : Dalam 4 tahapan yang
sempurna sesuai dengan yang dikehendaki oleh pencari bahan makan dan apa saja
yang membutuhkannya. Yaitu segala binatang yang ada di atas permukaan bumi,
sebagaimana Allah firmankan:
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. setiap
waktu dia dalam kesibukan”.[1]
Jadi manussia dan binatang seluruhnya meminta kepada Tuhan mereka apa yang
mereka butuhkan. Dan oleh karena manusia memperhatikan keadaan bumi yang ada di
sekelilingnya, maka penyebutan tentang bumi didahulukan, dan Allah terangkan
bahwa bumi dengan segala yang ada di atas permukaannya telah Allah ciptakan
dalam 4 tahapan: satu tahap untuk memadatkan materi bumi setelah asalnya berupa
gas, dan setahap lagi untuk menyempurnakan lapisan-lapisan bumi selebihnya,
setahap lagi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan setahap lagi untuk
pembentukan binatang.
Penciptaan bumi langit ini tidaklah hanya dalam satu tahap saja, tetapi
dalam beberapa tahap sesuai dengan hikmat dan urutan. Sedang sebagai kitab
suci, maka Al-Qur’an cukup mengatakan bahwa Allah telah menciptakan bumi dalam
dua tahapan sedang menciptakan apa-apa yang ada di atasnya dalam dua tahapan
pula, dan begitu pula dalam menciptakan tujuh langit.[2]
Tafsir Ibnu Katsir
Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir ayat 9 merupakan bentuk pengingkaran
Allah terhadap orang-orang musyrik yang menyembah selain-Nya, padahal Dia-lah
Yang Maha pencipta, Maha memaksa dan Maha menguasai segala sesuatu. Ayat ini
mengandung rincian tentang firman Allah Ta’ala:
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.”(QS.
Huud: 7). Maka, di dalam ayat ini dirinci apa yang berkenaan khusus dengan bumi
dan langit. Dia menyebutkan bahwa pertama kali Dia menciptakan bumi. Karena
bumi sebagai asas (pondasi). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru
kemudian atap. Dan Allah menciptakan bumi ini dalam dua hari yaitu hari Ahad
dan Senin.
Dalam ayat 10 dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan gunung-gunung yang
kokoh dan menjadikan bumi penuh dengan berkah yang siap menerima kebaikan,
bibit dan tanam-tanaman. Dan Dia telah menentukan apa-apa yang dibutuhkan oleh
penghuninya, berupa berbagai rizki dan tempat-tempat yang dapat ditanami dan
diolah. Hal tersebut terjadi pada hari Selasa dan Rabu, sehingga kedua hari
tersebut dengan dua hari sebelumnya menjadi empat hari. Hal ini dapat menjadi
jawaban bagi orang-orang yang bertanya.
Ayat 11 yaitu menuju pada penciptaan langit yang masih berupa asap yaitu
asap air yang mengepul katika bumi diciptakan. Kemudian Allah menanyakan kepada
langit dan bumi:“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka
hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Artinya,
patuhilah perintah-perintah Allah dengan suka hati atau terpaksa.
Pada ayat 12, Dia telah menjadikan tujuh langit dalam dua masa, yaitu masa
terakhir, hari Kamis dan hari Jum’at. Kemudian Dia tetapkan ketentuan pada
setiap langit apa yang diperlukan, berupa para malaikat dan makhluk-makhluk
lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Serta menghiasi langit dengan
bintang-bintang yang bersinar terang di atas bumi. “Dan Kami
memeliharanya”. Yaitu, menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan
berita alam atas (langit).[3]
Tafsir Al-Mishbah
Dalam ayat 9 dan 10 berisikan proses penciptaan bumi serta memperindahnya
dengan gunung-gunung yang kukuh agar bumi yang terus beredar itu tidak oleng.
Dan Allah juga melimpahkan aneka kebajikan sehingga bumi dapat berfungsi sebaik
mungkin dan dapat menjadi tempat hunian yang nyaman buat manusia dan hewan.
Semua itu terlaksana dalam waktu empat hari yang terbagi secara adil yakni dua
hari penciptaan bumi dan dua hari sisanya buat pemberkahan dan penyiapan
makanan bagi para penghuninya.
Pada ayat 11 dan 12 yaitu pada proses penciptaan langit yang masih
berupa dukhan atau asap. Para ilmuan memahami kata dukhan dalam
arti satu benda yang terdiri pada umumnya dari gas yang mengandung benda-benda
yang sangat kecil namun kukuh. Berwarna hitam atau gelap dan mengandung panas.
Sedangkan menurut tafsir ini bahwa sebelum terbentuknya bintang-bintang ada
sesuatu yang angkasa raya dipenuhi oleh gas dan asap, dan bahan inilah
terbentuk bintang-bintang. Hingga kini, sebagian dari gas dan asap itu masih
tersisa dan tersebar diangkasa raya.
Ayat-ayat Al-Qur’an melukiskan adanya enam hari atau periode bagi
penciptaan alam raya. Periode dukhan ini menurut ilmuan adalah periode ketiga
yang didahului oleh periode kedua yaitu masa terjadinya ledakan dahsyat “Big
Bang” dan inilah yang mengakibatkan terjadinya asap itu. Pada periode dukhan
inilah tercipta unsur-unsur pembentukan langit yang terjadi melalui gas
Hidrogen dan Helium. Pada periode pertama, langit dan bumi merupakan gumpalan
yang menyatu yang dilukiskan oleh Al-Qur’an dengan nama ar-ratq. Periode pertama
dan kedua itu diisyaratkan oleh QS. Al-Anbiya’ ayat 30.[4]
Tafsir Jalalain
Menurut Tafsir Jalalain, Allah telah menciptakan bumi dalam dua hari yaitu
hari Ahad dan hari Senin. Dan Dia telah menjadikan gunung-gunung yang kokoh dan
kuat denga air yang banyak dan tanam-tanaman serta pohon-pohon yang banyak
pula. Dan Allah telah enetapkan kadar-kadar makanan bagi manusia dan fauna.
Sesungguhnya masa penciptaan selama empat hari adalah masa yang paling
sempurna. Hal ini dijadikannya pada hari Selasa dan rabu.
Kemudian menuju pada penciptaan langit yang masih berupa asap yang
membumbung tinggi. Allah menciptakan langit dalam dua hari yaitu hari Kamis dan
Jum’at. Dan pada hari itu juga diciptakan Nabi Adam dan sesuai dengan makna
ayat ini, yaitu ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari.
Dan Dia perintahkan kepada penduduk yang ada di dalamnya, yaitu taat dan
beribadah kepada-Nya. Kemudian dihiasilah langit bintang-bintang yang
cemerlang. Dan Allah telah menjaganya dengan meteor-meteor dari setan-setan
yang mau mencuri-curi pembicaraan para malaikat. Demikianlah ketentuan yang
Maha Perkasa di dalam kerajaan-Nya.[5]
[1]Maksudnya: Allah senantiasa dalam keadaan Menciptakan, menghidupkan,
mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain.
[2] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi,
(Semarang: CV. Toha Putra), 1989, Hlm……….
[3] DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu
Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i),
2005, hlm. 197-200.
[4] M. Quiaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan
Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm. 381-390.
[5] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan
Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo), 2008, hlm. 737-739.







0 comments:
Post a Comment