“Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami
benar-benar meluaskannya.”
Tafsir Al-Maraghi
اَلْاَيْدِ
– Al-Aidi : Kekuatan
لَمُوْسِعُوْنَ
– Lamusi’un : Benar-benar mempunyai
kemampuan untuk menciptakan langit dan menciptakan lainnya. Berasal dari kata
Al-Wus’u yang berarti tenaga.
Secara umum, setelah Allah SWT memasukkan terjadinya penghimpunan dan
memberikan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa penghimpunan itu pasti terjadi
tanpa diragukan lagi, maka Allah menunjukkan keesaan dan kebesaran
kekuasaan-Nya. Diterangkan bahwa Allah telah menciptakan langit tanpa tiang,
dan menghamparkan serta membentangkan bumi ini supaya bisa didiami oleh manusia
maupun binatang, dan Dia telah menciptakan pula masing-masing jenis binatang
sejodoh-sejodoh, jantan atau betina, supaya kebaradaan segala jenis binatang
tetap berlangsung sampai dengan kebinasaan alam ini, sesuai dengan yang
dikehendaki Allah.
Dan sesungguhnya Allah telah membangun langit dengan kemampuan-Nya yang
mengagumkan dan kekuasaan Yang Maha Besar. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
Maha kuasa untuk melakukan hal itu tanpa mengalami keletihan maupun kepayahan.
Pernyataan ini merupakan sindiran terhadap kaum Yahudi yang mengatakan bahwa
Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Lalu beristirahat pada hari
ketujuh dengan berbaring di atas ‘Arsy.[1]
Tafsir Ibnu Katsir
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat ini Allah berfirman seraya
mengingatkan penciptaan alam uluwwi (bagian atas) dan
alam sufli (bagian bawah). Allah telah menjadikan langit itu
sebagai atap yang terpelihara dan tinggi dengan kekuatan-Nya. Demikian itu
dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah Ats-Tsauri dll. dan Allah
juga yang telah menjadikan seluruh penjurunya luas, kemudian Kami meninggikan
tanpa menggunakan tiang, sehingga ia menggantung sebagaimana adanya.[2]
Tafsir Al-Mishbah
Dan langit itu kami bangun yaitu ciptakan dengan
kekuasaan (kami) yang Maha Dahsyat atau berdasar nikmat Kami yang
melimpah dan Sesungguhnya kami benar-benar Maha Luas dalam
kekuasaan kami tanpa ada sesuatupun yang menghalangi.
Ayat 47 ini, mengisyaratkan beberapa rahasia ilmiah. Diantaranya bahwa
Allah SWT menciptakan alam yang luas ini dengan kekuasaanNya. Dia maha kuasa
atas segala sesuatu. Kata sama’ (langit) pada ayat tersebut
dimaksudkan sebagai segala sesuatu yang ada disekitar benda-benda langit
seperti plenet, bintang, tata surya dan galaksi juga disebut langit. Bagian
alam raya yang terlihat ini amatlah luas, tak terbayangkan dan tak terbatas,
sebab jaraknya bisa mencapai jutaan tahun cahaya. Menurut ilmu pengetahuan
modern, satu tahun cahaya berarti jarak yang dilalui cahaya dengan kecepatan
300.000 km/s. Frase “Wa Inna Lamusi’un” sesungguhnya kami benar-benar
maha meluaskan. Artinya, Kami meluaskan alam tersebut yang berlangsung
sepanjang masa. Ini juga telah ditemukan dalam ilmu pengetahuan modern yang
dikenal dengan teori ekspansi. Menurut teori tersebut, nebula di luar galaksi
tempat kita tinggal menjauh dari kita dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Bahkan banda-benda langit dalam satu galaksi pun saling menjauh satu sama
lainnya.[3]
Tafsir Jalalain
Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dengan kekuatan
kami. dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa dikatakan
adar rajulu ya-idu qawiyyu artinya lelaki itu menjadi kuat. Dikatakan awsa’ar
rajulu, artinya ia menjadi orang yang memiliki pengaruh dan kekuatan.[4]
[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi,
(Semarang: CV. Toha Putra), 1989, Hlm. 15-17.
[2] DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu
Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7, (Jakarta: Pustaka Imam
Asy-Syafi’i), 2005, hlm. 543-544.
[3] M. Quiaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan
Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm. 350-352.
[4] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan
Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo), 2008, hlm. 931.







Terimakasih, senang bisa membaca dengan sumber di cantumkan.
ReplyDelete