BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang
memiliki tingkat keaslian serta keluasan pembahasan dalam ilmu pengetahuan
tidak akan pernah kering dari panafsiran, ibarat lautan tanpa batas yang tidak
akan pernah kering di minum oleh zaman, oleh karena itu penafsiran dalam Al
Qur’an tidak akan pernah mencapai titik akhir kecuali atas kehendak Allah, Al
Qur’an sendiri diturunkan Allah sebagai kitab terakhir bagi umat di alam
semesta artinya tidak akan ada lagi kitab suci yang akan di turunkan oleh Allah
SWT. Walaupun Allah mampu untuk menurunkannya, itulah janji Allah.
Akhir-akhir ini, kita disuguhkan dengan
slogan-slogan baik di media cetak, elektronik, atau spanduk yang bertebaran di
jalan-jalan, yang berisi ajakan, seruan dari para calon pemimpin untuk
mempercayai dan memilih mereka dalam pemilu yang akan datang. Mereka memberikan
janji bahwa mereka adalah orang yang dapat dipercaya untuk mengemban amanah
rakyat dan berlaku adil jika terpilih. Meskipun pada kenyataannya, setelah
terpilih banyak yang terkena amnesia sesaat, yaitu lupa dengan janji dan amanah
yang telah diberikan kepada mereka. Selain itu, akhir-akhir ini pun kita
disuguhkan dengan berita-berita terkait kasus suap dan korupsi yang melibatkan
banyak pejabat Negara. Jumlah uang suap dan yang dikorupsi pun sangat
mencengangkan. Kasus tersebut membuka mata kita, bahwa tidaklah mudah untuk
menjalankan amanah dan berlaku adil.
B. Rumusan
Masalah
1. Tafsir
Surat Fussilat [41]: 9-12
2. Tafsir
Surat Hud [11]: 112-113
3. Tafsir
Surat An nahl [16]: 90
4. Tafsir
Surat Annisa [4]: 58
5. Tafsir
Surat Luqman [31] : 32
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Surat
Fussilat [41]: 9-12
*
ö@è% öNä3§Yάr& tbrãàÿõ3tGs9 Ï%©!$$Î/ t,n=y{ uÚöF{$# Îû Èû÷ütBöqt tbqè=yèøgrBur ÿ¼ã&s! #Y#yRr& 4 y7Ï9ºs >u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÒÈ @yèy_ur $pkÏù zÓźuru `ÏB $ygÏ%öqsù x8t»t/ur $pkÏù u£s%ur !$pkÏù $pksEºuqø%r& þÎû Ïpyèt/ör& 5Q$r& [ä!#uqy tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9 ÇÊÉÈ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$uK¡¡9$# }Édur ×b%s{ß tA$s)sù $olm; ÇÚöF|Ï9ur $uÏKø$# %·æöqsÛ ÷rr& $\döx. !$tGs9$s% $oY÷s?r& tûüÏèͬ!$sÛ ÇÊÊÈ £`ßg9Òs)sù yìö7y ;N#uq»yJy Îû Èû÷ütBöqt 4ym÷rr&ur Îû Èe@ä. >ä!$yJy $ydtøBr& 4 $¨Zyur uä!$yJ¡¡9$# $u÷R9$# yxÎ6»|ÁyJÎ/ $ZàøÿÏmur 4 y7Ï9ºs ãÏø)s? ÍÍyèø9$# ÉOÎ=yèø9$# ÇÊËÈ
Artinya: “[1]Katakanlah, "Pantaskah kamu ingkar
kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua hari[2] dan kamu adakan sekutu-sekutu
bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam.” Dan Dia ciptakan padanya (bumi)
gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan Dia berkahi[3],
dan Dia tentukan padanya makanan-makanan (bagi penghuni)nya[4] dalam empat hari[5].
Memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya[6]. Kemudian[7] Dia menuju ke langit dan (langit) itu
masih berupa asap[8],
lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu berdua
menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, "Kami
datang dengan patuh.” Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua hari[9].
Dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing[10].
Kemudian langit yang dekat (dengan bumi) Kami hiasi dengan bintang-bintang[11],
dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah[12] ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa[13] lagi Maha Mengetahui[14].”
(Q. S Fussilat: 9-12)
Tafsirnya:
1.
Tafsir Al-Maraghi
Setelah
Allah menyuruh Rasul-Nya agar berkata kepada orang-orang musyrik: Sesungguhnya
apa yang aku terima lewat wakyu ialah, bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang
Maha Esa, maka murnikanlah untuk-Nya ibadahmu, lalu dilanjutkan dengan
keterangan yang menunjukkan atas kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya daam
menciptakan langit dan bumi pada tahapan tahapan yang berbeda-beda secara
berurut-urut,dan Bahwa Dia telah menyempurnakan bagi masing-masing langit itu
hal-hal yang mereka siap melaksanakannya, dan Dia menghiasi langit dengan
bintang-bintang dan planet-planet, baik yang tetap maupun yang berlayar. Dan
itu tidak mengherankan, karena itu semua adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Menang atas urusan-Nya, lagi Maha Mengetahui atas segala
sesuatu yang ada dilangit maupun dibumi, tidak ada sesuatupun pada keduanya
yang tersembunyi bagi Allah. Maka, kamu mudah saja menganggap patung-patung dan
berhala-berhala sebagai sekutu-sekutu Allah, padahal patung-patung dan
berhala-berhala itu tidak mempunyai sati andil pun dalam menciptakan dan
menakdirkan langit dan bumi.
Tuhan yang
telah menciptakan bumi dalam dua tahapan itu, yakni setahap dimana Dia
menciptakan bumi itu padat setelah asalnya merupakan bola gas, dan tahapan
berikutnya Dia menjadikan bumi itu menjadi 26 lapisan dalam 6 periode, sebagaimana
diterangkan oleh para ahli geologi. Itulah Tuhan alam semesta, bukan
semata-mata Tuhan bumi saja. Karena Dia-lah yang mengasuh makhluk seluruhnya.
Jika Allah yang menciptakan bumi dalam dua tahap, maka Dialah yang mengetahui
berapa bilangannya. Maka, bagaimanakah sesuatu dari makhluk-makhluk itu bisa
menjadi tandingan dan sekutu bagi Allah.
Dan Dia
menjadikan pada bumi itu gunung-gunung yang kokoh yang menjulang tinggi di
atasnya, sedang pokoknya ada dalam tanah yaitu lapisan batu api. Dari lapisan
inilah gunung-gunung muncul. Jadi, gunung-gunung itu pangkalnya jauh ada di
dalam tanah, sama melewati semua lapisan hingga sampai ke lapisan yang pertama,
yaitu lapisan batu api yang sekiranya tidak ada lapisan ini maka bumi ini
takkan menjadi tanah dan tak bisa menjadi tempat tinggal.
Jadi bumi
kita ini sebenarnya merupakan bola api yang dibungkus dengan lapisan batu api,
kemudian di atasnya terdapat lapisan-lapisan yang lebih lembut, dan disanalah
terbentuknya binatang dan tumbuh-tumbuhan setelah melewati masa yang panjang.
Gunung-gunung itu merupakan tonjolan-tonjolan yang muncul dari lapisan batu api
tersebut, lalu menjulang tinggi di atasnya puluhan ribu kilometer, dan menjadi
gudang-gudang air dan bahan-bahan mineral, di samping sebagai rambu-rambu jalan
serta pengendali udara dan awan.
Dan Allah
menjadikan gunung-gunung itu penuh berkah dengan banyaknya kekayaan di sana
karena Allah menciptakan disana bahan-bahan yang bermanfaat. Artinya, bahwa
Allah menciptakan gunung-gunung dibumi sebagai pangkal aliran sungai dan gudang
bahan-bahan mineral.
Sesungguhnya
penciptaan bumi da dijadikannya gunung-gunung padanya dalam dua tahapan, sedang
dijadikannya kekayaan-kakayaan bumi yang banyak dan ditentukannnya kadar bahan
makanan disana adalah dalam dua tahapan pula. Jadi, seluruhnya dalam 4 tahapan.
Dalam 4 tahapan yang sempurna sesuai dengan yang dikehendaki oleh pencari bahan
makan dan apa saja yang membutuhkannya. Yaitu segala binatang yang ada di atas
permukaan bumi, sebagaimana Allah firmankan:
“Semua
yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. setiap waktu dia dalam
kesibukan”.[15]
Jadi
manussia dan binatang seluruhnya meminta kepada Tuhan mereka apa yang mereka
butuhkan. Dan oleh karena manusia memperhatikan keadaan bumi yang ada di
sekelilingnya, maka penyebutan tentang bumi didahulukan, dan Allah terangkan
bahwa bumi dengan segala yang ada di atas permukaannya telah Allah ciptakan
dalam 4 tahapan: satu tahap untuk memadatkan materi bumi setelah asalnya berupa
gas, dan setahap lagi untuk menyempurnakan lapisan-lapisan bumi selebihnya,
setahap lagi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan setahap lagi untuk
pembentukan binatang.
Penciptaan
bumi langit ini tidaklah hanya dalam satu tahap saja, tetapi dalam beberapa
tahap sesuai dengan hikmat dan urutan. Sedang sebagai kitab suci, maka
Al-Qur’an cukup mengatakan bahwa Allah telah menciptakan bumi dalam dua tahapan
sedang menciptakan apa-apa yang ada di atasnya dalam dua tahapan pula, dan
begitu pula dalam menciptakan tujuh langit.[16]
2.
Tafsir Ibnu Katsir
Berdasarkan
penafsiran Ibnu Katsir ayat 9 merupakan bentuk pengingkaran Allah terhadap
orang-orang musyrik yang menyembah selain-Nya, padahal Dia-lah Yang Maha
pencipta, Maha memaksa dan Maha menguasai segala sesuatu. Ayat ini mengandung
rincian tentang firman Allah Ta’ala:
“Dan
Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.”(QS. Huud:
7). Maka, di dalam ayat ini dirinci apa yang berkenaan khusus dengan bumi dan
langit. Dia menyebutkan bahwa pertama kali Dia menciptakan bumi. Karena bumi
sebagai asas (pondasi). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru
kemudian atap. Dan Allah menciptakan bumi ini dalam dua hari yaitu hari Ahad
dan Senin.
Dalam ayat
10 dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan gunung-gunung yang kokoh dan
menjadikan bumi penuh dengan berkah yang siap menerima kebaikan, bibit dan
tanam-tanaman. Dan Dia telah menentukan apa-apa yang dibutuhkan oleh
penghuninya, berupa berbagai rizki dan tempat-tempat yang dapat ditanami dan
diolah. Hal tersebut terjadi pada hari Selasa dan Rabu, sehingga kedua hari
tersebut dengan dua hari sebelumnya menjadi empat hari. Hal ini dapat menjadi
jawaban bagi orang-orang yang bertanya.
Ayat 11
yaitu menuju pada penciptaan langit yang masih berupa asap yaitu asap air yang
mengepul katika bumi diciptakan. Kemudian Allah menanyakan kepada langit dan
bumi:“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau
terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Artinya,
patuhilah perintah-perintah Allah dengan suka hati atau terpaksa.
Pada ayat
12, Dia telah menjadikan tujuh langit dalam dua masa, yaitu masa terakhir, hari
Kamis dan hari Jum’at. Kemudian Dia tetapkan ketentuan pada setiap langit apa
yang diperlukan, berupa para malaikat dan makhluk-makhluk lain yang tidak
diketahui kecuali oleh Allah. Serta menghiasi langit dengan bintang-bintang
yang bersinar terang di atas bumi. “Dan Kami memeliharanya”. Yaitu,
menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita alam atas (langit).[17]
3.
Tafsir Al-Mishbah
Dalam ayat 9
dan 10 berisikan proses penciptaan bumi serta memperindahnya dengan
gunung-gunung yang kukuh agar bumi yang terus beredar itu tidak oleng. Dan
Allah juga melimpahkan aneka kebajikan sehingga bumi dapat berfungsi sebaik
mungkin dan dapat menjadi tempat hunian yang nyaman buat manusia dan hewan.
Semua itu terlaksana dalam waktu empat hari yang terbagi secara adil yakni dua
hari penciptaan bumi dan dua hari sisanya buat pemberkahan dan penyiapan
makanan bagi para penghuninya.
Pada ayat 11
dan 12 yaitu pada proses penciptaan langit yang masih berupa dukhan atau
asap. Para ilmuan memahami kata dukhan dalam arti satu benda
yang terdiri pada umumnya dari gas yang mengandung benda-benda yang sangat
kecil namun kukuh. Berwarna hitam atau gelap dan mengandung panas. Sedangkan
menurut tafsir ini bahwa sebelum terbentuknya bintang-bintang ada sesuatu yang
angkasa raya dipenuhi oleh gas dan asap, dan bahan inilah terbentuk
bintang-bintang. Hingga kini, sebagian dari gas dan asap itu masih tersisa dan
tersebar diangkasa raya.
Ayat-ayat
Al-Qur’an melukiskan adanya enam hari atau periode bagi penciptaan alam raya.
Periode dukhan ini menurut ilmuan adalah periode ketiga yang didahului oleh
periode kedua yaitu masa terjadinya ledakan dahsyat “Big Bang” dan inilah yang
mengakibatkan terjadinya asap itu. Pada periode dukhan inilah tercipta
unsur-unsur pembentukan langit yang terjadi melalui gas Hidrogen dan Helium.
Pada periode pertama, langit dan bumi merupakan gumpalan yang menyatu yang
dilukiskan oleh Al-Qur’an dengan nama ar-ratq. Periode pertama dan kedua itu
diisyaratkan oleh QS. Al-Anbiya’ ayat 30.[18]
Menurut
penulis, ada tiga poin yang dapat diambil dari ayat di atas yaitu amanat
Allah terhadap hamba-Nya yang harus dilaksanakan adalah antara lain :
melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjahui larangan-Nya. Semua nikmat
Allah berupa apa saja hendaklah kita manfaatkan untuk taqarraub kepada-Nya. Amanat
seseorang terhadap hambanya yang harus dilaksanakan antara lain; mengembalikan
titipan kepada yang punya dengan tidak kurang suatu apapun, tidak menipunya,
memelihara rahasia dan lain sebagainya dan termasuk juga di dalamnya:
a.
Sifat adil penguasa terhadap rakyat
dalam bidang apapun dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain
di dalam pelaksanaan hokum, sekalipun terhadap keluarga dan anak sendiri,
sebagaimana di tegaskan Allah dalam ayat ini. “dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil.”
b.
Sifat adil ulama terhadap orang awam,
seperti menanamkan kedalam hati mereka aqidah yang benar, membimbingnya kepada
mal-amal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, memberikan pendidikan
yang baik, menganjurkan usaha yang halal, memberikan nasehat-nasehat yang
menambah kuat imannya, menyelamatkannya dari perbuatan dosa dan maksiat, membangkitkan
semangat untuk berbuat baik dan melakukan kebajikan mengeluarkan fatwa yang
berguna dan bermanfaat di dalam melaksanakan syariat dan ketentuan Allah SWT.
c.
Sifat adil seorang suami terhadap
istrinya, begitupun sebaliknya, seperti melaksanakan kewajiban masing-masing
terhadap yang lain, tidak membeberkan rahasia pihak yang lain, terutama rahasia
khusus antara keduanya yang tidak baik diketahui orang lain.
Amanat seorang terhadap dirinya sendiri; seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya. Janganlah ia berbuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya.
Amanat seorang terhadap dirinya sendiri; seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya. Janganlah ia berbuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya.
B. Surat Hud [11]: 112-113
öNÉ)tGó$$sù !$yJx. |NöÏBé& `tBur z>$s? y7yètB wur (#öqtóôÜs? 4 ¼çm¯RÎ) $yJÎ/ cqè=yJ÷ès? ×ÅÁt/ ÇÊÊËÈ wur (#þqãZx.ös? n<Î) tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß ãNä3¡¡yJtGsù â$¨Y9$# $tBur Nà6s9 `ÏiB Èbrß «!$# ô`ÏB uä!$uÏ9÷rr& ¢OèO w crç|ÇZè? ÇÊÊÌÈ
Artinya: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di
jalan yang benar[19],
sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat
bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas[20].
Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan[21].
-Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim[22]
yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai
seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi
pertolongan.”(Q.S Hud : 112-113)
Tafsirnya:
Pada
ayat surat Hud ke 112 ini Allah SWT memberikan tuntutan kepada Nabi Muhammad SAW
terhadap apa yang semestinya ia perbuat di kala umatnya melancarkan tantangan
dan meragukan Alquran yang dibawanya, yaitu supaya Nabi Muhammad SAW. tetap
pada pendiriannya berjalan di atas jalan yang lurus dan benar menyampaikan
syariat yang diamanatkan kepadanya, melaksanakan risalahnya dan jangan sampai
terlintas di dalam hatinya akan meninggalkan sebahagian dari apa yang telah
diwahyukan kepadanya, karena kekejaman fitnahan umatnya sebagaimana firman
Allah swt.: Artinya: Maka
boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu
dan sempit karenanya dadamu.
(Q.S. Hud: 12)
Begitu
pula orang-orang yang telah sadar dan insaf serta bertobat dari kemusyrikan dan
kekafirannya dan telah beriman bersama Muhammad saw. supaya tetap dalam
pendiriannya mempertahankan akidah tauhidnya dan jangan sekali-kali bergeser
dari jalan yang lurus dan benar yang telah diimani dan diyakininya, karena
Allah swt. melihat dan mengetahui semuanya itu. Sejalan dengan ayat ini firman
Allah swt.: Artinya: Maka
karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana
diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan
katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku
diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu; Allahlah Tuhan kami dan Tuhan
kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada
pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan antara kita dan
kepada-Nyalah kembali (kita). (Q.S.
Asy Syura: 15)
Pada
ayat surat Hud ke 113 ini Allah swt. menandaskan bahwa orang-orang yang beriman
kepada Nabi Muhammad saw. dan menganut agamanya supaya jangan sekali-kali
cenderung kepada orang-orang lalim, yaitu musuh-musuh kaum muslimin yang selalu
menyakitinya dan orang-orang musyrik yang selalu berusaha mengembalikannya
kepada kemusyrikan. Jangan sekali-kali minta bantuan dan pertolongan dari
mereka, seakan-akan mereka telah dijadikan pemimpinnya, karena bila hal itu
sudah sampai kepada derajat yang demikian, maka termasuklah orang-orang mukmin
itu seperti mereka juga yang tidak akan mendapat petunjuk sebagaimana firman
Allah swt.: Artinya: Barangsiapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang lalim.
(Q.S. Al-Ma'idah: 51)
(Q.S. Al-Ma'idah: 51)
Satu-satunya
yang dapat dijadikan pemimpin dan diminta bantuan dan pertolongannya hanya
kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat selain dari itu, maka ia termasuk orang
yang lalim yang tak mempunyai penolong sebagaimana firman Allah swt.: Artinya: Tidaklah
ada bagi orang-orang yang lalim itu seorang penolong pun. (Q.S. Al-Ma'idah: 72)
C.
Surat
An Nahl [16]: 90
*
¨bÎ) ©!$# ããBù't ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGÎ)ur Ï 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# Ìx6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏèt öNà6¯=yès9 crã©.xs? ÇÒÉÈ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah
melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q. S An Nahl: 90)
Tafsirnya:
Tafsir
Jalalain
Sesungguhnya Allah
menyuruh kalian berlaku adil) bertauhid atau berlaku adil dengan sesungguhnya
(dan berbuat kebaikan) menunaikan fardu-fardu, atau hendaknya kamu menyembah
Allah seolah-olah kamu melihat-Nya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis
(memberi) bantuan (kepada kaum kerabat) famili; mereka disebutkan secara khusus
di sini, sebagai pertanda bahwa mereka harus dipentingkan terlebih dahulu (dan
Allah melarang dari perbuatan keji) yakni zina (dan kemungkaran) menurut hukum
syariat, yaitu berupa perbuatan kekafiran dan kemaksiatan (dan permusuhan)
menganiaya orang lain. Lafal al-baghyu disebutkan di sini secara khusus sebagai
pertanda, bahwa ia harus lebih dijauhi; dan demikian pula halnya dengan
penyebutan lafal al-fahsyaa (Dia memberi pengajaran kepada kalian) melalui
perintah dan larangan-Nya (agar kalian dapat mengambil pelajaran) mengambil
pelajaran dari hal tersebut. Di dalam lafal tadzakkaruuna menurut bentuk
asalnya ialah huruf ta-nya diidghamkan kepada huruf dzal. Di dalam kitab
Al-Mustadrak disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Masud yang telah
mengatakan, bahwa ayat ini yakni ayat 90 surah An-Nahl, adalah ayat yang paling
padat mengandung anjuran melakukan kebaikan
dan menjauhi keburukan di dalam Alquran.[23]
Berdasarkan
kepada kandungan ayat tadi, terdapat tiga prinsip yang ditawarkan Al Quran
dalam membangun dan menata sesebuah masyrakat .
1.
Prinsip keadilan
2. Prinsip
Ihsan
3.
Prinsip takaful (yang dicontohkan dengan memberikan kepada kaum kerabat) Adil
ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya, Ihsan, kalau didifinesikan secara umum
adalah berbuat baik dalam segala hal, dan takaful ialah prinsip saling tolong
menolong.
D.
Surat
An Nisa [4]: 58
*
¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù't br& (#rxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #n<Î) $ygÎ=÷dr& #sÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAôyèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $KÏèÏR /ä3ÝàÏèt ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $JèÏÿx #ZÅÁt/ ÇÎÑÈ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Q. S
An Nisa: 58)
Tafsirnya:
Allah
Swt. berfirman: Inna Allâh ya‘murukum an tu’addû al-amânât ilâ ahlihâ
(Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya). Menurut sebagian mufassir, seperti Zaid bin Aslam dan
Syahr bin Khausyab, khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada penguasa kaum
Muslim.[24]
Pendapat ini juga didukung ath-Thabari dan an-Nasafi.[25]
Sebagian
mufassir lain berpendapat, pihak yang diseru ayat ini bukan hanya penguasa,
namun seluruh mukallaf tanpa terkecuali. Pendapat ini dipilih kebanyakan
mufassir seperti al-Qurthubi, az-Zamakhsyari, Abu Hayyan al-Andalusi,
asy-Syaukani, al-Baidhawi, al-Jashshash, Ibnu Athiyah, al-Jazairi,
al-Samarqandi, dan al-Ajili.[26]
Tampaknya, pendapat kedua lebih tepat. Kendati penguasa merupakan pihak yang
paling utama untuk diseru, hal itu tidak bisa membatasi seruan ini hanya untuk
mereka. Sebab, dhamîr kum (kalian) dalam ayat ini bersifat umum sehingga
berlaku untuk seluruh mukallaf. Dalam hal ini, tidak ada dalil yang
membatasinya.
Memang
benar, seruan selanjutnya dalam ayat ini, yakni ‘wa idzâ hakamtum bayna an-nâs
an tahkumû bi al-‘adl’, ditujukan kepada penguasa. Namun, itu tidak dapat dijadikan
sebagai alasan untuk membatasi seruan sebelumnya. Sebab, sebagaimana dinyatakan
al-Jashshash, suatu khithâb bisa saja di awalnya bersifat umum untuk seluruh
manusia, lalu dilanjutkan dengan khithâb yang bersifat khusus untuk penguasa.[27]
Oleh
ayat ini, seluruh mukallaf itu diperintahkan an tuaddû al-amânât (menyampaikan
amanat). Kata al-amânât (jamak dari kata al-amânah) merupakan bentuk mashdar
yang bermakna maf‘ûl.[28]
Al-Jazairi menuturkan, amanah adalah segala yang dipercayakan kepada seseorang,
baik berupa perkataan, perbuatan, atau harta benda.[29]
Al-Biqa’i memaknainya sebagai semua kewajiban yang harus Anda tunaikan terhadap
orang lain.[30]
Amanah
yang diperintahkan ayat ini meliputi semua jenis amanah.[31]
Sebab, kata al-amânât merupakan kata benda jamak yang berbentuk ma‘rifah
(ditandai dengan huruf al-alif wa al-lâm di depannya). Secara bahasa, bentuk
kata demikian menunjukkan makna umum.
Menurut penulis, dalam ayat
ini dijelaskan yang paling menonjol dalam beramal adalah menyampaikan Amanat
dan menetapkan perkara di antara manusia dengan cara yang Adil. Allah
memerintahkan kedua amal tersebut. Khusus untuk ayat ini para mufasir banyak
yang mengaitkannya dengan masalah pemerintahan atau urusan Negara. Orang yang
diberi amanah kekuasaan, haruslah yang ahli di bidangnya. Jika bukan ahlinya
kekuasaan yang dikelola tersebut akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu,
apabila seseorang telah diserahi amanat tertentu, ia harus melaksanakan amanat
tersebut dengan Adil. Hal ini penting karena diri kita pasti akan berhadapan
dengan Masyarakat dari berbagai kelompok yang beragam. Selanjutnya banyak ayat
yang memerintahkan supaya kita menegakkan keadilan. Di antaranya seperti di
dalam Surah Al-Maidah Ayat 8 : ''Berlaku adilah, karena adil itu lebih
dekat kepada Taqwa''. Dalam Surah Al-Hujurat Ayat 9 yang
menyatakan ''Maka damaikanlah keduanya dengan adil dan berlaku adillah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berlaku adil''.
E.
Surat
Luqman [31]: 32
#sÎ)ur Nåkuϱxî Ólöq¨B È@n=à9$$x. (#âqtãy ©!$# tûüÅÁÎ=øèC ã&s! tûïÏe$!$# $£Jn=sù öNßg8¯gwU n<Î) Îhy9ø9$# Nßg÷YÏJsù ÓÅÁtFø)B 4
$tBur ßysøgs !$uZÏF»t$t«Î/ wÎ) @ä. 9$Fyz 9qàÿx. ÇÌËÈ
Artinya:
“Dan apabila mereka[32]
digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus
ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di
daratan, lalu sebagian mereka bersikap pertengahan[33].
Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami[34]
hanyalah pengkhianat[35]
yang tidak berterima kasih[36].”(Q. S Luqman: 32)
Tafsirnya:
Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang-orang musyrik dengan melukiskan
mereka: "Apabila orang-orang musyrik penyembah patung dan pemuji dewa itu
berlayar ke tengah lautan, kemudian tiba-tiba datang gelombang besar dan
menghempaskan bahtera mereka ke kiri dan ke kanan, dan mereka merasa bahwa
mereka tidak akan selamat, bahkan akan mati ditelan gelombang, maka di saat
itulah mereka kembali kepada fitrahnya, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha
Esa dengan setulus-tulusnya. Pada saat serupa itu mereka berkeyakinan bahwa
tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan mereka kecuali Allah semata,
seperti yang pernah dilakukan Firaun di saat-saat ia akan tenggelam ke dasar
laut.
Setelah Allah SWT menerima doa mereka, menyelamatkan mereka dari amukan gelombang itu dan mereka telah selamat sampai ke darat, maka di antara mereka hanya sebagian saja yang tetap mengakui keesaan Allah, adapun yang lain mereka kembali memperserikatkan Tuhan.
Setelah Allah SWT menerima doa mereka, menyelamatkan mereka dari amukan gelombang itu dan mereka telah selamat sampai ke darat, maka di antara mereka hanya sebagian saja yang tetap mengakui keesaan Allah, adapun yang lain mereka kembali memperserikatkan Tuhan.
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa yang mengingkari
ayat-ayat Kami itu dan kembali mempersekutukan Tuhan ialah orang-orang yang
dalam hidupnya penuh dengan tipu daya dan kebusukan, lagi mengingkari nikmat
Allah.[37]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Allah mewajibkan kepada
setiap muslim yang memikul amanat, supaya melaksanakannya dengan
sebaik-baiknya, baik amanat yang diterimanya dari Allah SWT. Atau amanat sesama
manusia. Allah SWT memerintahkan kepada setiap muslim supaya berlaku adil,
dalam setiap tindakannya. Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang
beriman, supaya selalu cermat, jujur dan ikhlas karena Allah, baik dalam
mengerjakan pekerjaan yang bertalian dengan Agama Allah maupun dengan urusan
duniawi.
Kebencian terhadap
sesuatu kaum, tidak boleh mendorong seseorang untuk tidak berbuat jujur atau
berlaku tidak adil. Harus adil dalam memberikan persaksian tanpa melihat siapa
orangnya, walaupun akan merugikan diri sendiri, sahabat dan kerabat. Keadilan
wajib di tegakkan dalam segala hal, karena keadilan menimbulkan ketentraman,
kemakmuran dan kebahagiaan, dan ketidak adilan akan menimbulkan sebaliknya. Pada dasarnya, seluruh manusia
diperintahkan untuk menunaikan amanah dan berlaku adil.
B. Saran
Kepada para pembaca, penulis
menyadari banyaknya kekurangan dari penulisan makalah ini, oleh karena itu
disarankan kepada seluruh pembaca, supaya mencari dan dan membaca
referensi-referensi lain yang terkait dengan materi yang berkaitan dengan
tafsir ayat-ayat hubungan antar agama.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Mahalli,
Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Terjemahan Tafsir Jalalain
Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2008.
Al-Maraghi,
Ahmad Mushthafa. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra.
1989
Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî, vol. 4, 147-148; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr,
vol. 2. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1994.
Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol.
4, 148; an-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa
Haqâiq al-Ta’wîl, vol 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 2001.
Shihab, M.
Quiaish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an.
Jakarta: Lentera Hati. 2002.
Syaikh,
Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu. Tafsir Ibnu Katsir.Jakarta:
Pustaka Imam Asy-Syafi’i. 2005.
Tafsir Departemen Agama
Republik Indonesia
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala
mengingkari dan menganggap aneh kekafiran orang-orang kafir yang mengadakan
tandingan bagi-Nya, yang menyekutukan Allah dengan mereka (tandingan-tandingan)
serta berani mengorbankan sesuatu untuk mereka serta menyamakan mereka (tandingan-tandingan)
itu dengan Rabbul ‘aalamin; Tuhan Yang Maha Pemurah Yang menciptakan bumi yang
besar dalam dua hari lalu membentangkannya dalam dua hari, yaitu dengan
menjadikan gunung-gunung di atasnya agar bumi tidak goyang, menyempurnakan
penciptaannya serta menyiapkan makanan-makanan bagi penghuninya dan keperluan
lainnya, sehingga jumlah hari keseluruhannya adalah empat hari (hari Ahad,
Senin, Selasa dan Rabu).
[2] Yaitu hari Ahad dan hari Senin.
[3] Seperti dengan banyak air,
tanaman, dan lain-lain.
[4] Manusia dan hewan.
[5] Yaitu hari Selasa dan hari Rabu,
ditambah dengan dua hari sebelumnya (hari Ahad dan Senin).
[6] Kalimat “Sawaa’allis saa’iliin”
bisa juga diartikan, “sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya tentang
itu.” Oleh karena itu, tidak ada yang dapat memberitakan seperti pemberitaan
Allah Yang Maha Mengetahui, berita tersebut adalah berita yang benar yang tidak
ditambah dan tidak dikurang.
[7] Setelah Allah menciptakan bumi.
[8] Yang membumbung di atas
permukaan air.
[9] Yaitu hari Kamis dan Jum’at.
Dengan demikian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan langit dan bumi dalam
enam hari (dimulai dari hari Ahad dan berakhir sampai hari Jum’at), sebagaimana
firman-Nya, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit
dan bumi dalam enam hari.” (Terj. Al A’raaf: 54) Meskipun begitu, Allah
Subhaanahu wa Ta'aala mampu menciptakan semua itu hanya sekejap, akan Dia
Mahabijaksana lagi Mahalembut. Oleh karena kebijaksanaan dankelembutan-Nya,
maka Dia menciptakannya dalwam waktu tersebut.
[10] Maksudnya menurut Jalaaluddin Al
Mahalliy adalah, bahwa Dia memerintahkan penghuni masing-masingnya agar taat
dan beribadah kepada-Nya. Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa Allah mewahyukan
perintah dan aturan yang layak baginya yang sesuai dengan kebijaksanaan Allah
Tuhan yang Mahabijaksana, wallahu a’lam.
[11] Yaitu bintang-bintang yang
bersinar serta dapat dipakai petunjuk, sebagai penghias langit luar dan dalam,
luarnya tampak indah dengan kilauan bintang-bintang, dan dalamnya sebagai
pelempar bagi setan yang hendak mencuri berita di langit.
[12] Yakni bumi dan apa saja yang ada
di dalamnya serta langit dan apa saja yang ada di dalamnya.
[13] Dengan keperkasaan-Nya, Dia
tundukkan segala sesuatu, Dia atur dan Dia ciptakan semua makhluk.
[14] Ilmu-Nya meliputi semua makhluk,
yang tersembunyi maupun yang tampak.
[15] Maksudnya: Allah senantiasa dalam keadaan Menciptakan, menghidupkan,
mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain.
[17]
DR.
‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 9, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i), 2005, hlm.
197-200.
[18] M. Quiaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm. 381-390.
[19] Yakni tetap mengerjakan perintah
Tuhanmu, jangan malas mengerjakannya atau meremehkannya, dan tetaplah mengajak
manusia kepadanya meskipun banyak yang mendustakan.
[20] Yakni melewati batasan-batasan
Allah, atau melewati aturan. Dalam ayat ini terdapat perintah agar berjalan di
atas Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak menambah-nambah
atau berbuat bid’ah dalam agama.
[21] Oleh karena itu, Dia akan memberikan
balasan terhadapnya.
[22] Cenderung kepada orang yang
zalim maksudnya bergaul dengan mereka serta meridhai perbuatannya dan
mengadakan pendekatan atau bahkan sepakat dengan kezaliman mereka. Akan tetapi
jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar
mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri (dari gangguan mereka),
maka diperbolehkan.
[23] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan
Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo), 2008.
[24] Ath-Thabari,
Jâmi’ al-Bayân fî, vol. 4, 147-148; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 607.
[25] Ath-Thabari,
Jâmi’ al-Bayân, vol. 4, 148; an-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta’wîl, vol
1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), 260
[26] Al-Qurthubi,
al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân,vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993),
166; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
1995), 512; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, vol. 3 (Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 289; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2, 607;
al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah, 1998), 220; al-Jashshash, Ahkâm al-Qur’ân, vol. 2 (Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 293; Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 2
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 70; al-Jazairi, Aysâr al-Tafâsîr,
vol. 1 (tt: Nahr al-Khair, 1993), 497; as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 1
(Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 362; al-Ajili, al-Futûhât al-Ilâhiyyah, vol.
2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), 74
[27] Al-Jashshash,
Ahkâm al-Qur’ân, vol. 2, 293
[28] Al-Qurthubi,
al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân,vol. 3, 166; Nizhamuddin al-Naisaburi, Tafsîr
Gharâib al-Qur’ân, vol. 2, 433
[29] Al-Jazairi,
Aysâr al-Tafâsîr, vol. 1, 497
[30] Al-Biqa’i,
Nazhm al-Durar, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 271
[31] Al-Qurthubi,
al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân,vol. 3, 166; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân
al-‘Azhîm, vol. 1 (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1997), 629; asy-Syaukani, Fath
al-Qadîr, vol. 2, 607. Pendapat tersebut juga dikemukakan oleh Ibnu Abbas.
Lihat: al-Wahidi al-Naisaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, vol. 2
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 70; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl,
vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 177.
[32] Yakni orang-orang kafir.
[33] Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menyebutkan keadaan manusia ketika menaiki kapal, lalu mereka diterjang
oleh ombak besar, maka ketika itu mereka berdoa kepada Allah saja, tetapi
setelah Allah menyelamatkan mereka, maka mereka terbagi menjadi dua bagian; ada
yang bersikap pertengahan, yakni mereka tidak bersyukur kepada Allah secara
sempurna, tetapi mereka dalam keadaan berdosa dan menzalimi diri mereka, dan
ada pula yang kufur kepada nikmat Allah lagi mengingkari nikmat itu. Ada pula
yang mengartikan “sikap pertengahan”, bahwa di antara mereka ada yang mengakui
keesaan Allah, dan di antara mereka ada yang tetap
di atas kekafirannya.
[34] Termasuk di antaranya adalah
penyelamatan-Nya dari ombak yang besar.
[35] Dia mengkhianati perjanjian
dengan Tuhannya, di mana dia berjanji bahwa jika Allah menyelamatkannya, dia
akan bersyukur dan akan mengesakan-Nya. Tetapi, ternyata dia tidak memenuhi
janjinya.
[36] Padahal tidak ada sikap yang
pantas dilakukan bagi orang yang telah diselamatkan Allah selain bersyukur.
[37] Tafsir Departemen Agama Republik
Indonesia







0 comments:
Post a Comment