“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara
keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah
mereka tiada juga beriman?”
Tafsir Al-Maraghi
Secara umum ayat ini membahas tentang keesaan Allah yang terdapat pada
penciptaan langit dan bumi. Allah mencela orang-orang musyrik yang menyembah
tuhan-tuhan selain-Nya karena tidak memikirkan tanda-tanda keesaan-Nya yang
dipancangkan di dalam alam. Kemudian, Allah mengarahkan perhatian mereka, bahwa
mereka tidah patut menyembah berhala dan patung, karena Tuhan yang Kuasa atas
seluruh makhluk ini Dialah yang berhak disembah, bukan batu atau pohon yang
tidak dapat mengelakkan kemudharatan, tidak pula kuasa mendatangkan manfaat.
Sesuai dengan ayat pertama yang artinya “Apakah orang-orang kafir
tidak mengetahui bahwa dahulu langit dan bumi itu berpadu dan saling
berhubungan, kemudian Kami memisahkan keduanya dan menghilangkan kesatuannya”. Ahli
astonomi dewasa ini juga mengatakan hal yang sama. Mereka menetapkan bahwa
matahari adalah bola api yang berotasi (berputar pada sumbunya) selama jutaan
tahun. Ditengah-tengah perjalanannya yang cepat, planet kita (bumi) dan
planet-planet lain dari garis khatulistiwa matahari terpisah daripadanya dan
menjauh. Hingga kini bumi kita tetap berotasi dan berevolusi menurut sistem
tertentu, sesuai dengan hukum daya tarik.
Prof. Abbul Hamid, wakil peneropong bintang Kerajaan Mesir (dahulu),
mengatakan: Teori modern mengenai lahirnya bumi dan planet-planet
(bintang-bintang beredar) lainnya dari matahari, bermula dari dekatnya sebuah
bintang besar kepada matahari pada masa yang silam. Lalu, dari permukaannya
tertarik timbunan kabut yang tidak lama kemudian terpisah dari matahari dalam
bentuk anak panah yang kedua tepinya berhias dan tengahnya dalam. Kemudian
timbunan kabut ini menebal di angkasa yang dingin hingga menjadi
timbunan-timbunan terpisah, yang kemudian menjadi bumi kita dan planet-planet
lainnya.
“dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup” demikian pula dengan
air itu, Dia menghidupkan dan menumbuhkan setiap tumbuhan. Qatadah mengatakan:
“Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air”. Maka setiap yang tumbuh itu
ialah hewan dan tumbuhan. Sebagian kaum cendekia dewasa kini berpendapat bahwa
setiap hewan pada mulanya diciptakan di laut. Maka seluruh jenis burung,
binatang melata dan binatang darat itu berasal dari laut. Kemudian setelah
melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai
hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis. Untuk membuktikan hal itu, mereka
mempunyai banyak bukti.
Apakah mereka tidak beriman dengan jalan memikirkan dalil-dalil ini,
sehingga mereka mengetahui Pencipta yang tidak ada sesuatu pun menyerupai-Nya,
dan mereka meninggalkan jalan kemusyrikan.[1]
Tafsir Ibnu Katsir
Allah Ta’ala berfirman mengingatkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna dan
kerajaan-Nya yang agung. “Dan apakah orang-orang yang kafir itu tidak
mengetahui”, yaitu orang-orang yang mengingkari kekuasaan Allah.
Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah adalah Rabb Yang Maha Esa dalam
penciptaan lagi bebas dalam penataan, maka bagaimana mungkin Dia layak
disekutukan bersama yang lain-Nya? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa langit
dan bumi dahulunya adalah bersatu? Lalu berpecah-belah, maka langit menjadi
tujuh dan bumi menjadi tujuh serta antara langit dan bumi dipisahkan oleh
udara, hingga hujan turun dari langit dan tanah pun menumbuhkan tanam-tanaman.
Untuk itu Dia berfirman: “Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu
yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” yaitu, mereka
menyaksikan berbagai makhluk, satu kejadian demi kejadian secara nyata. Semua
itu adalah bukti tentang adanya Maha Pencipta yang berbuat secara bebas lagi
Maha kuasa atas apa yang dikehendaki-Nya.[2]
Tafsir Al-Mishbah
Berbeda-beda pendapat ulama tentang firman-Nya ini. Ada yang memahaminya
dalam arti langit dan bumi tadinya merupakan gumpalan yang terpadu. Hujan tidak
turun dan bumipun tidak ditumbuhi pepohonan, kemudian Allah membelah langit
dan bumi dengan jalan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan di bumi. Ada lagi yang berpendapat bahwa bumi dan langit
tadinya merupakan sesuatu yang utuh tidak terpisah, kemudian Allah pisahkan
dengan mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi tetap ditempatnya berada
dibawah lalu memisahkan keduanya dengan udara.
Ayat ini dipahami oleh sementara ilmuan sebagai salah satu mukjizat
Al-qur’an yang mengungkap peristiwa penciptaan planet-planet. Banyak
teori ilmiah yang dikemukakan oleh para pakar dengan bukti-bukti yang
cukup kuat, yang menyatakan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu
gumpalan atau yang diistilahan oleh ayat ini dengan ratqan. Lalu
gumpalan itu berpisah sehingga terjadilah pemisahan antar bumi dan langit. [3]
Tafsir Jalalain
Menurut Tafsir Jalalain, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui
bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu.
Kemudian Allah telah menjadikan langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis pula.
Kemudian langit itu dibuka sehingga dapat menurunkan hujan yang sebelumnya
tidak dapat menurunkan hujan. Kami buka pula bumi itu sehingga dapat
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, yang sebelumnya tidak dapat menumbuhkannya.
“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah
yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun
tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap
keesaan Allah.[4]
[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi,
(Semarang: CV. Toha Putra), 1989, Hlm. 37-41.
[2] DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 8, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i), 2005, hlm.
446-448.
[3] M. Quiaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan
Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm 442-445.
[4] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan
Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo), 2008, hlm. 126-127.







0 comments:
Post a Comment